
Nyonya Merina menatap gadis polos di sampingnya itu dengan tatapan serius. Ia benar-benar tidak menyukai gadis pilihan putranya itu, "Ami ... "
Amira menoleh dan melihat tatapan tajam yang dilemparkan kepadanya. Nyonya Thalia menghela nafas pelan sebelum melanjutkan ucapannya.
" … sebaiknya kamu putus dengan Vincent," pintanya kepada gadis itu.
Mata gadis itu membulat seakan tak percaya dengan pendengarannya, "Ma-maksud Tante?" ucap Amira terbata-bata. Ia tak menyangka Nyonya Thalia memperlihatkan rasa tidak sukanya begitu jelas terhadapnya, bahkan sama sekali tidak memberikan kesempatan untuk mengenal dirinya lebih jauh.
"Tante jujur saja sama kamu. Sebenarnya hari ini Tante ingin menjodohkan Vincent dengan seorang gadis yang lebih cantik dan lebih hebat. Yah well … tentu saja memiliki derajat yang sama dengan Keluarga Zhang," ucap Nyonya Thalia yang enggan menceritakan alasan sebenarnya ia tidak menyetujui hubungan Amira dengan putranya. Sebenarnya kalau bukan karena Merina, mungkin ia bisa menerima gadis di depannya ini sebagai calon istri putranya itu, tetapi kenyataannya tidak.
Amira terdiam mendengarkan ucapan yang keluar dari bibir ibunya Vincent. Manik matanya mulai basah, tetapi ia menahannya.
"Yah walaupun Lin Corp juga tidak begitu buruk, tetapi tidak bisa membantu Royal Group, bukan? Kamu paham kan maksudku, Ami?" lanjut Nyonya Thalia lagi.
Amira hanya mengangguk menanggapinya. Gadis itu tau, baik dirinya atau keluarganya memang tidak bisa membantu Vincent ataupun Royal Group saat ini.
"Baguslah kalau kamu paham," ucap Nyonya Thalia lega.
"Tapi Tante … aku tidak akan putus dari Vincent!" ucap Amira tegas dan memberanikan diri untuk menatap ibu kekasihnya itu dengan tajam.
"Kamu!" Wajah Nyonya Thalia berubah, ia menatap Amira dengan sinis.
"Maaf, bukan saya ingin bersikap tidak sopan, tapi Tante mungkin sudah salah menilaiku. Saya bukan wanita yang seperti Tante pikirkan. Saya benar-benar mencintai Vincent apa adanya," terang Amira yang mengira Nyonya Thalia tidak menyukainya karena hanya ingin memanfaatkan Vincent.
"Hahahaha … cinta katamu?" ejek Nonya Thalia.
"Hubunganmu dengan putraku hanya seumur jagung, apa pantas kamu bilang kamu cinta sama dia? Saya rasa setelah kamu putus darinya, putraku itu mungkin tidak akan pernah mengingat ataupun mengenal kamu lagi," ucap Nyonya Thalia dingin dan meremehkan hubungan Amira dengan putranya. Ia menganggap putranya itu hanya mencari kesenangan sementara, seperti yang pernah suaminya lakukan terhadap dirinya dulu.
__ADS_1
Wajah Nyonya Thalia berubah gelap dan dingin. Ia benar-benar tidak suka dibantah, apalagi oleh putri dari wanita yang ia benci.
"Terserah kamu! Saya harap kamu tidak mengacaukan perjodohan malam ini, kalau kamu memang benar mencintai putraku, seharusnya kamu memikirkan masa depannya bukan hanya memikirkan dirimu sendiri!" ucap Nyonya Thalia sinis.
"Asal kamu tau saja, gadis yang akan saya jodohkan hari ini adalah seseorang yang berarti di dalam hidup Vincent. Aku ingin lihat apa Vincent akan memilihmu atau gadis ìtu," ucap Nyonya Thalia sinis.
Amira terdiam dan mematung. Pikirannya bergerilya memikirkan sosok wanita yang disebut oleh Nyonya Thalia. Apalagi Nyonya Thalia mengatakannya dengan begitu percaya diri. Nyali Amira yang tadi berkobar-kobar, seketika menjadi ciut mendengarnya.
"Ayo keluar. Saya tidak mau putraku dan calon istrinya menunggu di bawah," ucap Nyonya Thalia dingin dan menusuk seperti sebuah belati menancap ke jantung Amira. Ia segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke ambang pintu.
Amira juga segera berdiri dari duduknya dan mengikuti Nyonya Thalia. Ia berjalan di belakangnya. Tiba-tiba ketika berada di depan tangga, langkah Nyonya Thalia berhenti dan menoleh sambil menampilkan senyum terindahnya kepada Amira.
"Kamu bisa lihat dengan mata kepalamu sendiri sekarang. Apa yang aku ucapkan tadi benar atau salah? Silahkan kamu menilainya," ucap Nyonya Thalia sambil menunjuk ke lantai bawah.
Amira menundukkan wajahnya dan membulatkan matanya tak percaya melihat kekasihnya sedang memeluk seorang wanita yang begitu cantik dan anggun. Wanita itu memiliki penampilan yang begitu menarik dengan tubuh yang hampir sempurna dan kaki yang jenjang bak seorang model. Air mata yang ia tahan sejak tadi tumpah dan mengalir membasahi pipinya.
Nyonya Thalia melihat raut wajah sedih dari Amira, ia tersenyum menyeringai, "Sebaiknya kamu membasuh wajahmu, kamu tidak mau kan Vincent melihatmu begini," ucap Nyonya Thalia sembari meninggalkan Amira dan turun untuk menyambut tamu kehormatannya.
Amira hanya melihat sepotong adegan akhir tanpa tahu kejadian sebenarnya ….
Flashback beberapa saat lalu.
Setelah menemui ayahnya, Vincent menunggu Amira dan ibunya di ruang tengah. Ia tidak ingin mengganggu kedekatan kedua wanita itu saat ini. Ia berharap ibunya dapat menerima dengan baik gadis pilihannya sendiri.
Vincent menyilangkan kakinya dan menyenderkan punggungnya di sofa yang mewah dan elegan dengan ukiran di senderan sofa itu. Ia mengeluarkan ponselnya sambil mengecek email masuk yang belum ia baca.
Tidak berapa lama masuk, Alfred masuk dan mempersilahkan beberapa tamu yang diundang malam oleh majikannya ke dalam mansion. Vincent yang masih sedang asyik membaca tidak memperhatikan kehadiran tamu itu hingga suara seorang wanita menyapanya.
__ADS_1
"Vin …" panggil wanita itu.
Vincent menengadahkan wajahnya dan melihat seorang wanita cantik berdiri di depannya, Evangeline Mo. Eva tersenyum dengan lembut dan menghampiri Vincent yang sudah berdiri dari duduknya. Ia datang bersama kedua orangtuanya, Jonathan Mo dan Vanessa Lu.
"Om, Tante," sapa Vincent kepada kedua orangtua Eva. Mereka mengangguk dan tersenyum.
"Apa kabar, Nak Vincent?" tanya Jonathan Mo.
"Baik, Om," sahut Vincent.
"Ada keperluan apa Om ke sini?" tanya Vincent yang heran dengan kedatangan Eva dan orangtuanya saat ini.
"Kami diundang sama Tante Thalia," jawab Eva sambil tetap tersenyum walaupun ia heran kalau Vincent tidak tahu alasan mereka datang malam ini. Vincent hanya mengangguk pelan.
'Aneh, Mama kok gak bilang-bilang?' batin Vincent.
Vincent mempersilahkan Tuan dan Nyonya Mo untuk duduk di sofa, begitu juga dengan Eva. Akan tetapi saat Eva akan berjalan ke tempat duduknya, seorang pelayan wanita yang akan menghidangkan minuman kepada para tamu tidak sengaja menyenggol punggung Eva, sehingga membuat tubuh Eva limbung ke depan.
"Kyaaa …" jerit Eva yang hampir terjatuh.
Vincent dengan cepat menangkap tubuh Eva, sehingga wajah Eva jatuh tepat di dada Vincent. Lengan Vincent menarik pinggang Eva agar wanita itu dapat berdiri stabil, tetapi malah membuat dirinya memeluk wanita itu tanpa sengaja.
Eva menengadahkan wajahnya menatap Vincent yang menolongnya saat ini. Tatapan mata mereka bertemu. Jantung Eva berdegup kencang mendapatkan tatapan dari pria yang pernah mengisi hari-harinya dulu. Tak bisa dipungkiri bahwa dirinya masih menyimpan rasa yang sama di dalam hatinya, tetapi ia tahu bahwa pria itu sudah tidak memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Namun ia masih berharap, pria di depannya ini dapat berpaling lagi kepadanya.
Berbeda dengan Vincent yang hanya menatap Eva datar, tidak ada perasaan sedikit pun yang terlintas di hatinya. Ia hanya menganggap Eva sebagai seorang teman saja saat ini.
*****
__ADS_1
To be continue ....