Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 72


__ADS_3

"Keadaan Nona Lin sudah mulai membaik. Hari ini sudah boleh pulang," ucap dokter yang menangani Amira yang saat ini sedang melakukan kunjungan pasien. Kondisi Amira sudah mulai membaik. Hanya ruam-ruam di tubuhnya yang masih belum pulih sepenuhnya.


"Jangan lupa untuk lebih hati-hati dalam memilih makanan!" pesan dokter itu.


"Baiklah. Terima kasih, Dok," sahut Vincent.


"Silahkan pihak keluarga dari Nona Lin untuk melakukan pelunasan administrasi rawat inap ke bagian kasir agar bisa segera keluar siang ini," ucap perawat yang di samping dokter itu dan segera keluar dari ruangan mengikuti dokter.


"Kamu tunggu di sini ya. Aku keluar menyelesaikan administrasi dulu," pesan Vincent kepada Amira sebelum ia keluar meninggalkan Amira di ruangan.


Setelah melunasi biaya rawat rumah sakit, Vincent segera kembali ke ruangan Amira. Ketika ia berjalan menuju ruangan Amira, Vincent bertemu seseorang yang ia kenal di lorong rumah sakit.


"Eva?" panggil Vincent kepada seorang wanita cantik dengan porsi tubuh tinggi semampai, berkulit putih dengan kaki yang jenjang bak seorang model catwalk. Wanita itu adalah Evangeline Mo.


Eva yang dipanggil oleh Vincent menoleh dan raut wajahnya sedikit kaget melihat Vincent yang berdiri di depannya. "Vincent? Ka-Kamu ... kenapa bisa ada di sini?"


"Ah, pacarku sedang dirawat di sini," jelas Vincent kepada Eva.


Eva sedikit tercengang mendengarkan jawaban Vincent, ia memaksakan senyumannya, "Oh begitu," ucapnya singkat terdengar sedikit kekecewaan dalam suaranya.


"Kamu sendiri kenapa bisa di sini?" tanya Vincent.


"Aku sedang melakukan check up medis tahunan saja," ucap Eva datar.


"Baiklah, kalau begitu aku duluan ya," sahut Vincent segera pamit dari hadapan Eva.


Eva menatap punggung Vincent hingga menghilang dari pandangannya.


'Vin, ternyata kamu sudah menghapus keberadaanku di hatimu,' batin Eva sedih dan kecewa.


Vincent kembali ke dalam ruang rawat Amira dan membantu Amira mengurus perlengkapannya dan mereka kembali pulang ke apartemen.


°


°


°


°

__ADS_1


Amira dan Vincent sampai di depan lobby Apartemen Riverside. Amira menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia merasa malu dengan kondisinya sekarang, karena ruam-ruam di wajah dan tubuhnya.


Vincent tersenyum tipis melihat sikap Amira. Ia menurunkan tangan Amira dari wajahnya dan menggandengnya masuk ke dalam.


"Vin ... Aku malu," ujar Amira setengah berbisik.


Vincent tidak mengacuhkan ucapan Amira dan tetap menggandeng tangan Amira. Amira berjalan mendekati Vincent dan menutup wajahnya di belakang lengan Vincent hingga masuk ke dalam lift.


Mereka tidak sendiri di dalam lift. Ada sepasang lansia yang berada di dalam, seorang nenek dan kakek. Nenek tersebut melihat Amira dan Vincent dan berucap, "Kek, kamu lihat pasangan muda-mudi ini, mereka begitu mesra seperti kita dulu."


"Sekarang juga kita masih mesra," timpal kakek itu dengan suara seraknya dan menggandeng tangan istrinya.


Amira dan Vincent memperhatikan pasangan lansia itu dan tersenyum kecil.


"Anak muda, kalau kamu mencintai gadis ini. Kamu harus menjaganya dengan baik. Jangan nanti baru menyesal!" pesan nenek tersebut kepada Vincent sebelum nenek itu keluar dari lift. Vincent hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan nenek itu.


"Tuh kamu dengerin amanat orang tua," sindir Amira sambil tertawa terkekeh-kekeh.


Vincent mendorong dahi Amira dengan telunjuknya dan berbalik memojokkan Amira di sudut lift. Ia mengepung tubuh Amira dengan kedua telapak tangannya berada di dinding lift.


"Aku akan selalu menjagamu sampai kamu pun tidak akan bisa lari dariku," bisik Vincent menggoda di telinga Amira.


Vincent menyingkirkan tangan Amira dari bibirnya, "Terus kenapa?" ucapnya tersenyum nakal.


"Malu kan ada CCTV, Vin," balas Amira sambil melirik ke atas melihat CCTV di depannya.


"Baiklah. Kalau begitu kita lanjutkan di apartemen nanti," balas Vincent masih tersenyum nakal.


Amira membelakakan matanya mendengarkan ucapan Vincent dan segera berlari keluar dari lift setelah pintu lift terbuka.


Vincent tersenyum melihat tingkah kekasihnya yang menggemaskan itu dan berjalan keluar mengikutinya dari belakang.


Vincent menarik kerah baju Amira dari belakang ketika ia melihat Amira akan menekan sandi apartemennya sendiri, "Kamu mau ke mana, Sayang?" bisik Vincent sambil merangkul leher Amira dari belakang.


"Ya mau pulang dong," balas Amira santai.


"Ikut aku," sahut Vincent sambil menarik tangan Amira menuju ke depan pintu apartemen Vincent. Amira menatap Vincent heran karena ia membawanya masuk ke dalam apartemennya.


Vincent masuk sambil menggandeng Amira dan melepaskan sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah. Ia mengambil sepasang sandal rumah dengan motif telinga kelinci di atasnya dan meletakkannya di lantai. Amira hanya memperhatikan gerak-gerik Vincent.

__ADS_1


"Kenapa bengong?"


"Ganti sepatumu dengan sandal itu!" perintah Vincent.


"Ini kamu beli buat aku?" tanya Amira dengan tatapan tak percaya menatap sandal dengan motif yang sangat imut.


"Gak mungkin kan buat aku?" balas Vincent datar dan meninggalkan Amira sambil berjalan masuk membawa tas perlengkapan Amira saat di rumah sakit.


Amira tertawa kecil ketika membayangkan ekspresi Vincent ketika ia membeli barang selucu ini. Ia segera mengganti sepatu sneakernya dengan sandal rumah yang disiapkan Vincent untuknya dan masuk mengikuti Vincent dari belakang.


Vincent masuk ke dalam kamarnya dan meletakkan tas di tangannya di atas tempat tidurnya. Amira masuk dan menatap Vincent heran.


"Vin, kenapa kamu mengajak aku ke apartemenmu?" tanya Amira penasaran.


"Sekarang kamu tinggal dan tidur di kamar ini," jawab Vincent santai dan berjalan mendekati Amira.


"Kenapa? Bukankah waktu itu kamu bilang aku sudah gak perlu bekerja untuk melunasi hutangku padamu? Apa kamu berubah pikiran?" cecar Amira dengan pertanyaan di kepalanya.


Vincent mendekati Amira dan melingkarkan tangannya di pinggang Amira, "Iya aku berubah pikiran," jawab Vincent tersenyum nakal.


"Kau ...." Belum sempat Amira mengucapkan kalimatnya, bibirnya dibungkam oleh bibir Vincent. Amira membulatkan matanya mendapatkan serangan yang tiba-tiba, tetapi perlahan ia memejamkan matanya mengikuti alur permainan bibir Vincent terhadap bibirnya. Mereka saling menautkan bibir mereka tanpa jeda.


Ciuman yang awalnya lembut penuh kasih perlahan semakin memburu. Amira mengaitkan lengannya di leher Vincent. Ia berusaha mengikuti bibir Vincent yang terus menuntut dan lidahnya yang agresif menelusuri setiap sudut rongga mulut Amira membuat Amira kewalahan. Tubuh Amira semakin terdorong hingga ke dinding di belakangnya.


Vincent melepaskan pagutan bibir mereka sebentar dan memberikan udara di setiap rongga paru-parunya. Ia menatap Amira dengan penuh kasih dan menangkup wajah Amira dengan kedua telapak tangannya, "Aku mencintaimu ... Ami. Aku ... ingin memilikimu," bisik Vincent lembut dan sedikit terputus-putus karena berusaha mencari udara di sekitarnya.


Awalnya Vincent hanya ingin sedikit mengerjai Amira, tetapi akhirnya malah membuat dirinya tidak dapat mengontrol tubuh dan pikirannya saat ini, ia tidak dapat lagi membendung hasrat yang sudah lama ia tahan.


Amira sedikit terkejut mendengarkan ucapan Vincent, tetapi ia tau cepat atau lambat dirinya tidak akan bisa menolak keinginan Vincent itu. Amira berusaha untuk mengucapkan kalimat dari bibirnya, tetapi Vincent segera membungkamnya lagi.


Tanpa menunggu jawaban dari bibir Amira, Vincent meluncurkan kembali bibirnya di bibir Amira dan perlahan turun ke tengkuk lehernya dan menyesapnya dengan lembut dan lama di sana. Amira mendongakkan kepalanya dan menggigit bibirnya berusaha menahan desahan yang akan keluar dari bibirnya itu, membuat Vincent semakin leluasa melakukan serangan.


Vincent mendongak ke atas melirik Amira sekilas dan tersenyum kecil, kemudian melanjutkan aktivitasnya di area leher Amira yang lain meninggalkan tanda yang lain di sana.


Perlahan tapi pasti Vincent menyusupkan tangan ke dalam pakaian yang dikenakan Amira. Tindakan itu membuat Amira sedikit tersentak dan mendorong Vincent pelan, tetapi tindakannya itu tidak menghentikan Vincent hingga dering ponsel Amira di atas tempat tidur membuat Vincent menghentikan aktivitasnya sebentar.


'Sial! Kali ini brengsek mana yang mengganggu kami!'' umpat Vincent di dalam hati dan mencoba meneruskan pagutan bibirnya di bibir Amira dan tidak menggubris deringan ponsel itu.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2