
Setelah menutup teleponnya, Amira bernafas lega dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Adrian yang sedari tadi memperhatikan Amira hanya berdiam diri. Amira menatap ke arah Adrian, tetapi matanya terus tertuju ke bibir pria itu. Ia segera mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela. Masih dengan kondisi yang tidak nyaman, dirinya berusaha mengontrol pikirannya yang mulai kacau.
"Ma-maaf," ucap Amira kepada Adrian tanpa menatap pria itu sekarang. Ia terus menatap ke jendela luar dan mengalihkan pikirannya.
"Aku juga minta maaf, Nona Lin," ucap Adrian merasa sedikit menyesal atas perbuatannya tadi, walaupun sebenarnya di dalam dirinya merasa senang melakukannya.
"Apa kamu tidak apa-apa? Sebaiknya kita ke rumah sakit aja, Nona Lin," ucap Adrian memberikan sarannya karena khawatir dengan keadaan Amira.
Amira menggeleng pelan, "Aku pulang saja. Kekasihku sedang menungguku," sahut Amira menolak saran Adrian. Ucapan yang dikeluarkan dari bibir Amira seperti sebuah godam besar yang menghantam dada Adrian saat ini.
"Baiklah," balas Adrian dengan dada yang terasa sakit.
Semakin lama tubuh Amira semakin panas, rasanya ia sudah tidak dapat mengontrol dirinya sendiri. Ia sengaja mengigit bibirnya dengan kuat sehingga mengeluarkan darah segar, agar pikirannya tetap terjaga.
Adrian menarik wajah gadis itu dan memperhatikan bibirnya, "Amira! Apa yang kamu lakukan, hah?!" teriak Adrian cemas melihat bibir Amira yang berdarah.
"Aku ... aku ...."
Bibir Amira bergetar, rasanya ia tidak mampu berkata-kata. Hasrat dari dalam tubuhnya begitu besar yang ia bendung.
"PETER! KEMBALI KE VILLA!" perintah Adrian dan dengan cepat Peter memutar kendali setirnya berbalik arah.
Adrian segera mengambil ponselnya dan menghubungi dokter pribadinya memintanya untuk segera datang ke villanya.
Amira memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya dengan erat. Adrian menarik tubuh Amira sehingga Amira masuk ke dalam pelukannya.
"Vin ..." gumam Amira pelan, tetapi masih terdengar di telinga Adrian saat ini. Ia mengernyitkan keningnya mendengarkan gumaman gadis itu.
°
°
°
°
"Bagaimana dia, Dok?" tanya Adrian cemas melihat Amira yang sekarang berbaring di atas tempat tidurnya dengan seluruh tubuhnya dibungkus dengan kain spreinya. Adrian sengaja memperlakukan Amira seperti itu, karena gadis itu sudah meracau tidak jelas dan bertindak di luar akal sehatnya.
"Tenang, Tuan Song. Gadis ini sudah meminum obat penawarnya, mungkin beberapa menit lagi dirinya baru bisa lebih tenang," ucap dokter pribadi yang dipanggil Adrian ke villanya. Adrian mengangguk menanggapi ucapan dokter itu.
"Sebaiknya gadis itu dibawa ke bathup yang berisi air dingin saja," saran dokter itu lagi dan segera pamit dari ruangan Adrian.
Adrian mendekati Amira yang wajahnya penuh dengan keringat dan memerah seperti tomat. Ia membuka penutup kain yang mengelilingi Amira dan menggendongnya ala bridal style.
Amira yang masih dalam pengaruh obat, melingkarkan lengannya di leher Adrian dan menempelkan bibirnya di tulang selangka pria itu. Ia terus menelusuri dan sekali-kali mengigit kecil di area itu membuat Adrian sedikit mendesah.
'Sabar Adrian! Tahan!' gumam Adrian di dalam hati, karena Amira sudah membangunkan harimau di dalam dirinya. Benar-benar sebuah ujian besar untuknya.
Adrian meletakkan tubuh Amira di dalam bathup dan mengisi bathup itu dengan air dingin, kemudian meninggalkan gadis itu karena ia juga perlu mendinginkan kepalanya sekarang.
__ADS_1
Tidak lupa, Adrian meminta pembantu wanita di villanya untuk membantu Amira setelah Amira selesai mendinginkan tubuhnya di bathup.
°
°
°
°
°
Tiffany yang masih berada di bar mencari Amira dengan panik, ia berusaha menelpon Amira tetapi panggilannya tidak ada yang menjawab. Ia mencari Amira di setiap sudut bar, tetapi tidak menemukannya.
Tiffany menggigit bibirnya dengan cemas. Setelah memantapkan hatinya, ia memberanikan diri untuk menghubungi Vincent. Sebenarnya dirinya takut dimarahi, tetapi kalau tidak memberitahu kepada Vincent, hatinya juga tidak tenang.
"Aduh kenapa gak diangkat sih!" gumam Tiffany. Air mata di pelupuk matanya hampir tumpah, karena menahan rasa panik dan takut yang ia rasakan sekarang.
°
°
°
°
°
Vincent yang sudah kembali lebih dulu ke apartemen mencari sosok kekasihnya di setiap sudut ruangan, tetapi ia tidak menemukannya. Vincent mengerutkan keningnya heran dan menatap layar ponselnya. Tidak ada panggilan masuk.
Vincent meletakkan ponselnya di atas tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi dahulu untuk membersihkan dirinya karena badannya terasa gerah. Dirinya berpikir mungkin kekasihnya itu sedang dalam perjalanan pulang ke apartemen. Ketika Vincent berada di kamar mandi, ponsel Vincent berdering. Nama 'Tiffany' tertera di layar ponselnya.
Setelah keluar dari kamar mandi, Vincent berjalan keluar kamar dan melihat ruangan yang masih kosong.
'Ke mana dia? Kenapa masih belum sampai?' batin Vincent tidak tenang.
Ia kembali ke kamarnya dan mengambil ponselnya di atas tempat tidur. Dilihatnya ada lima panggilan masuk dari Tiffany. Ia mengerutkan keningnya heran dan menghubungi Tiffany kembali.
Tidak perlu menunggu lama, Tiffany langsung menjawab panggilannya.
"Halo, Kak Vincent!" jawab Tiffany dengan suara yang panik.
"Ada apa, Tif?" tanya Vincent yang juga mulai cemas mendengarkan suara gadis itu yang hampir menangis. Pikirannya sekarang tertuju kepada kekasihnya yang belum pulang sampai saat ini.
"Amira, Kak ..." ucap Tiffany dengan suara terputus karena berusaha menahan tangisnya.
"KENAPA DENGAN AMIRA?" tanya Vincent histeris.
"Ami ... Amira hilang, Kak!" teriak Tiffany mulai menangis dan ketakutan.
Vincent kaget mendengarkan ucapan Tiffany. Bagaikan suara petir yang menggelegar di atas kepalanya sekarang. Vincent mengenggam ponselnya di tangan dengan erat dan berusaha menenangkan dirinya yang hampir limbung. Ia mendudukkan dirinya di atas tempat tidur, berusaha mencerna ucapan gadis yang masih menangis di seberang telepon.
__ADS_1
"Tenanglah. Ceritakan padaku secara rinci," tutur Vincent berusaha menenangkan gadis itu yang panik dan takut.
Tiffany sedikit kaget mendengar Vincent yang tidak memarahinya. Ia menghapus air matanya dan menceritakan kejadian beberapa menit sebelumnya kepada Vincent secara detail. Vincent mendengarkannya dalam diam. Tidak ada suara sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Tatapan matanya dingin menghadap ke depan.
"Maafkan aku, Kak. Seharusnya aku tidak mengajak Ami ikut denganku," sesal Tiffany berusaha menahan tangisnya yang akan pecah lagi.
Vincent memijat keningnya pelan, "Sekarang kamu segera pergi dari sana. Aku yang akan mencari Ami," ucap Vincent dan menutup teleponnya.
Vincent segera menghubungi Lucas dan memintanya segera menyebarkan bawahannya mencari Amira. Ia juga meminta Lucas untuk segera ke Kota Amigos untuk membantunya.
Setelah memberikan perintahnya, Vincent mencoba menghubungi Amira. Dirinya masih merasa bingung dengan kejadian yang terjadi saat ini, karena setengah jam yang lalu kekasihnya itu masih bisa mengabarinya bahwa ia akan segera pulang ke apartemen.
'Semoga tidak terjadi apa-apa padamu, Ami!' batin Vincent merasa cemas dan takut.
°
°
°
°
°
°
Adrian masuk ke dalam kamarnya setelah membersihkan dirinya di kamar mandi luar. Ia menatap gadis yang sedang tertidur di tempat tidurnya saat ini.
Ia tersenyum lembut melihat wajah manis gadis itu. Matanya menatapnya dengan penuh kasih.
'Seandainya kamu milikku, Amira,' batin Adrian kecewa karena Amira sudah menjadi kekasih pria lain.
Suara deringan telepon di atas nakas membuyarkan lamunan Adrian. Ponsel Amira sejak tadi berdering, tetapi tidak direspon oleh Adrian karena ia merasa tidak berhak mengangkat telepon itu.
Adrian mengambil ponsel itu dan membaca nama di layar ponsel itu 'My Bear ❤'.
'My Bear? Apa ini kekasihnya Amira?' batin Adrian karena sejak tadi yang menelepon Amira adalah Tiffany.
Dering telepon itu berhenti sebelum Adrian sempat menjawabnya. Adrian menghela nafasnya dan meletakkan ponsel itu kembali ke atas nakas.
Gadis di depannya masih tertidur lelap. Adrian mengusap wajahnya dengan punggung tangannya secara perlahan. Rasanya ia tidak rela melepaskan gadis itu kepada siapapun.
°
°
°
°
To be continue ....
__ADS_1