Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 88


__ADS_3

Setelah Steve meninggalkan ruangan, Vincent menatap layar ponselnya dan mengirim pesan kepada Amira bahwa dirinya akan pulang larut malam hari ini.


Kemudian Vincent menghubungi Tiffany memintanya untuk menemani kekasihnya itu di apartemen. Tidak lupa ia meminta bawahannya untuk menjaga keselamatan Amira. Ia tidak ingin kejadian seperti kemarin malam terulang kembali.


Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk pelan. "Masuk," ujar Vincent masih sibuk membalas pesan kekasihnya.


Lucas berjalan masuk ke dalam ruangan dan mendekati meja Vincent, "Bos," sapa Lucas mengalihkan perhatian atasannya.


Vincent melirik Lucas sekilas dan masih mengetik ponselnya sebentar, kemudian meletakkannya di atas meja. Ia menatap Lucas datar ,"Ada apa?" tanya Vincent.


"Saya sudah mengecek CCTV di dalam dan luar area Devil Kiss. Kita juga sudah menangkap pria yang mengganggu Nona Lin dan sesuai perintah Anda, kami sudah membereskannya," ucap Lucas dan menyodorkan ponselnya kepada Vincent.


Vincent mengambil ponsel tersebut dan melihat cuplikan rekaman CCTV yang terjadi malam itu, ketika Amira hampir dilecehkan oleh pria brengsek itu. Ia meremas ponsel Lucas dengan erat, matanya menyalang marah melihat cuplikan itu. Lucas hanya diam melihat respon atasannya itu.


Kening Vincent berkerut ketika rekaman CCTV itu beralih kepada sosok Anna yang mendekati pria brengsek yang berani melecehkan kekasihnya itu. Ia melihat Anna menyodorkan sesuatu kepada pria itu. Vincent menajamkan matanya dan melihat sebuah pil yang berada di tangan Anna saat itu.


"ANNA LEE!" teriak Vincent marah setelah mengetahui dalang di balik kejadian itu.


"Lucas! Segera putuskan kerja sama dengan Lee Construction, bayar kompensasi sesuai kontrak! Untuk Anna Lee, buat dia menjadi seekor tikus jalanan yang bahkan untuk merangkak pun tidak bisa lagi!" perintah Vincent dingin dan sinis.


Lucas tidak terkejut dengan respon yang diberikan atasannya itu. Sudah sewajarnya atasannya itu marah, karena perbuatan Anna benar-benar keterlaluan dan tidak bisa dimaafkan lagi, tetapi ia terkejut dengan Vincent yang ingin memutuskan kerja sama dengan Lee Construction. Kali ini Vincent melanggar prinsipnya sendiri, ia mencampuradukkan masalah pekerjaan dengan pribadinya.


"Bos, apa sebaiknya dipikirkan dahulu untuk pemutusan kerja sama dengan Lee Construction? Saya rasa Tuan Calvin juga tidak mengetahui perbuatan adiknya itu," saran Lucas mencoba mengingatkan Vincent yang sedang dikendalikan oleh amarahnya saat ini.


Vincent menatap Lucas dengan tajam dan dingin. Lucas mengerti arti tatapan atasannya saat itu yang tidak ingin dibantah lagi, ia segera mematuhi perintah atasannya tadi dan segera beranjak meninggalkan ruangan. Tidak lupa ia mengambil ponselnya yang berada di tangan Vincent sebelum menjadi sasaran kemarahan atasannya itu.


"Lucas!" panggil Vincent sebelum Lucas sampai ke depan pintu.


Lucas segera berbalik dan berjalan mendekat menunggu perintah atasannya.


"Nanti malam kamu ikuti Steve ke Pelabuhan Marson. Pastikan keselamatan Steve dan adiknya!" perintah Vincent.


"Baik Bos!" jawab Lucas dan berlalu meninggalkan ruangan.


Vincent menyenderkan kepalanya di sandaran kursi. Ia memijat pelipisnya pelan dan memejamkan matanya. Ia ingin segera pulang bertemu dengan kekasihnya, tetapi ia masih perlu menunggu laporan dari Lucas dan Steve serta memastikan rencananya malam ini berhasil, baru dirinya bisa tenang.


°

__ADS_1


°


°


°


°


Pelabuhan Marson, jam 9 malam.


Sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di depan sebuah gudang tua yang bertuliskan angka 19 di depan pintunya. Seorang pria memakai stelan jas rapi dengan dasinya turun dari mobil itu sambil menenteng sebuah tas kerja di tangannya.


Pria itu, Steven Liu, berjalan ke arah pintu gudang yang tertutup. Ia menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Dirinya begitu tegang dan cemas, ia menarik dasinya dan melonggarkan ikatannya. Ia melirik ke kanan dan ke kiri, keadaan di sekitarnya begitu sunyi.


Perlahan ia mendorong pintu gudang tua itu yang memang sengaja tidak dikunci oleh pemiliknya. Ia membukanya dengan lebar. Hening dan gelap. Tidak terdengar suara selain derap langkahnya sendiri dan suara pintu tua yang berderit.


Steve memasuki ruangan itu dengan pelan dan berusaha menajamkan matanya di dalam ruangan yang gelap itu. Tiba-tiba cahaya lampu di ruangan itu menyala dan menyilaukan matanya. Refleks Steve memejamkan matanya dan perlahan membukanya. Ia menyipitkan matanya mengurangi cahaya yang masuk ke dalam. Setelah terbiasa dengan keadaan di ruangan itu, Steve terkejut dengan kehadiran tiga orang bertopeng di depannya.


"Periksa dia!" perintah salah satu orang bertopeng yang memiliki kepala plontos kepada rekan di sampingnya.


Rekannya itu mendekati Steve dan memeriksa tubuh Steve dari atas hingga ke bawah. Steve hanya pasrah dan mengangkat tangannya karena pria berkepala botak itu memegang senjata api di tangannya.


"Di-di mana adikku?" tanya Steve sedikit gugup.


Pria bertopeng yang lain merebut tas dari tangan Steve dan menyeringai, "Tenang saja. Adik Anda aman bersama kami. Asal Anda membawa yang kami inginkan," ucapnya dan membawa tas itu kepada bosnya.


Mereka membuka tas kerja Steve yang hanya berisi laptop dan flashdisk di dalamnya.


"Mana barang yang kami minta?" tanya mereka yang tidak menemukan dokumen yang mereka cari di dalam tas kerja Steve.


"Ada di dalam laptop itu, tetapi aku ingin bertemu dengan adikku dulu. Setelah melihatnya, aku akan memberikan password laptopku," ucap Steve mengajukan permintaannya.


Bos dari komplotan itu memegang telinganya yang dipasang bluetooth headset, sepertinya ada seseorang yang memberikan perintah kepadanya dari jarak jauh.


Steve melirik ke sekeliling ruangan itu, dan benar saja di setiap sudut ruangan itu terpasang kamera pengawas. Ia menelan salivanya pelan, rasa takut mulai menjalar di dalam dirinya, tetapi ia berusaha tetap tegar agar rencananya menyelamatkan adiknya tidak hancur.


Tidak berapa lama, seorang pria bertopeng yang lain masuk dengan membawa seorang gadis bertubuh mungil. Gadis itu adalah Helen Liu, adik Steve.

__ADS_1


Tangan gadis itu diikat dan mulutnya diperban. Gadis itu meronta melihat kehadiran kakaknya di sana, air matanya tumpah seketika.


"HELEN!" teriak Steve berusaha berjalan mendekati adiknya, tetapi pria yang membawa adiknya itu mengacungkan senjata apinya di pelipis Helen, membuat Steve menghentikan langkahnya.


"Tuan Liu, jangan tergesa-gesa … Selesaikan dahulu misimu, setelah itu kami akan melepaskan adikmu itu," ucap bos komplotan itu.


Steve menghadap kepada pria berkepala botak itu dan membuka laptopnya di atas meja kecil di depannya. Setelah memasukkan kode sandinya, ia membuka dokumen yang mereka inginkan dan memperlihatkannya kepada pria itu.


Pria botak itu hanya melihatnya sekilas, tampak dari matanya kalau ia tidak paham dengan dokumen di hadapannya, tetapi ia hanya mengangguk pelan dan akan merebut laptop itu dari tangan Steve.


"Laptop ini punya perusahaan, sebaiknya Anda meng-copy dokumennya saja ke dalam flashdisk ini. Kalau laptop ini hilang, saya takutnya Tuan Vincent akan curiga kalau proyek rancangannya telah dicuri," ucap Steve cepat dan memasang flashdisk itu ke dalam laptopnya.


"Tunggu dulu! Kamu copy datanya ke dalam sini!" ucap pria yang menyandera adiknya sambil melemparkan sebuah flashdisk lain ke hadapan Steve.


Steve menatap flashdisk di atas lantai di dekatnya dan mengambilnya. Ia memasukkan flashdisk itu tanpa mencabut flashdisk miliknya dan meng-copy dokumen yang mereka inginkan.


Setelah selesai, ia memperlihatkan hasilnya kepada pria botak di depannya dan pria itu tersenyum puas. Pria botak itu mengambil flashdisk miliknya dan memasukkannya ke dalam saku kemejanya.


"Lepaskan gadis itu!" perintah pria berkepala botak itu kepada anak buahnya. Mereka segera berlalu dari tempat itu meninggalkan Steve dan adiknya.


Steve segera menghampiri adiknya, membuka ikatan di tangannya dan perban di mulutnya.


"KAKAK!" teriak Helen sambil menangis setelah perban di mulutnya dibuka. Steve memeluk adiknya erat, ia mengusap rambutnya pelan dan melepaskan pelukannya.


"Ayo kita segera pergi dari sini!" ucap Steve membereskan laptopnya dan memasukkannya kembali ke dalam tasnya. Ia menggendong tubuh adiknya yang lemah sambil membawa tasnya dan masuk ke dalam mobil.


Keringat dingin bercucuran di keningnya. Tangannya gemetaran ketika memasukkan kunci mobilnya ke dalam starter-nya. Helen hanya diam melihat sikap kakaknya itu dengan heran.


Setelah berhasil menyalakan mobilnya, Steve segera melajukan mobilnya itu dengan kencang dan meninggalkan tempat itu.


Tidak jauh dari sana, sebuah van hitam berdiri sejak lama sebelum Steve di sana. Di dalamnya ada sesosok pria yang terus mengawasi mereka melalui monitor kecil yang terhubung dengan kamera pengawas di dalam ruangan. Adrian Song sejak tadi melihat situasi mereka di balik layar, ia duduk dengan santainya sambil memperhatikan layar di depannya.


Pintu mobil van diketuk, Adrian menurunkan jendela kacanya sedikit. Seorang pria berkepala botak menyerahkan sebuah flashdisk di tangannya dan Adrian mengambilnya. Dengan cepat ia memasukkan flashdisk itu ke dalam laptop yang ia biasa ia bawa. Tanpa menaruh curiga, ia menekan tombol kursor pada dokumen yang bertuliskan 'GREEN RESORT' yang menampilkan beberapa halaman rancangan proyek yang ia inginkan.


Ia tersenyum puas tetapi beberapa detik kemudian garis lengkung di bibirnya berubah menjadi datar. Layar laptopnya mengirimkan warning bahwa sistemnya sudah dirusak karena adanya malware yang masuk ke jaringan.


"SIAL! KEJAR MEREKA!" seru Adrian yang sudah tertipu dan kesal. Ia mencabut flashdisk tersebut dan melemparnya ke lantai mobil.

__ADS_1


Bawahan Adrian segera mematuhi perintah atasannya itu dan masuk ke dalam mobil mereka. Tanpa Steve ketahui, ketika Steve digeledah waktu pertama kali oleh anak buah Adrian, mereka memasukkan alat pelacak ke dalam saku jas Steve. Sekarang mereka mengikuti jejak yang ditunjukkan oleh GPS dari alat pelacak mereka.


To be continue ….


__ADS_2