
Vincent melepaskan ciumannya dari bibir Amira, kemudian meletakkan keningnya di kening Amira. Berusaha mencari udara di sekitarnya. Vincent tersenyum lembut, ia merasa sangat bahagia saat ini.
"Terima kasih sayang. Terima kasih karena kamu memilihku," ucap Vincent dengan lembut.
Amira menanggapinya dengan tersenyum malu.
"Sini, tanganmu. Aku pasangin gelangnya" ucap Vincent memegang pergelangan tangan Amira.
Ia membuka gembok berbentuk hati tersebut dengan kunci kalung miliknya dan memasangnya di pergelangan tangan Amira. Ia tersenyum puas melihat gelang yang terpasang di tangan Amira.
"Jadi aku gak bisa buka gelangku dong kalau gak ada kunci dari kamu?" tanya Amira sebal.
"Jadi aku diborgol nih?" tanyanya lagi sambil memanyunkan bibirnya. Vincent tersenyum kecil mendengar pertanyaan Amira.
"Memang itu mauku, supaya kamu gak bisa jauh dariku," jawab Vincent santai. Amira mendengus pelan.
Setelah itu, Amira juga mengalungkan Vincent dengan kalung liontin berbentuk kunci. Ia tersenyum menatap kalung tersebut, "Awas ya kalau sampai hilang kuncinya!" ancam Amira kepada Vincent yang ditanggapi dengan tanda oke di jari Vincent.
"Aku gak sedang bermimpi kan, Vin?" tanya Amira seakan tak percaya. "Jadi sekarang kita sepasang kekasih?"
Vincent mencubit pipi Amira dengan lembut, "Nggak sayang. Kamu sekarang adalah milikku," balas Vincent mengerlingkan matanya.
"Iiiih apaan sih. Siapa bilang milikmu? Nikah aja belum," balas Amira sambil memanyunkan bibirnya.
"Ya udah. Kita nikah aja sekarang," balas Vincent santai.
Amira melongo mendapat jawaban dari Vincent, ia menjulurkan lidahnya, "Siapa yang mau nikah sama kamu? Wek."
"Oke gak pa-pa. Masih banyak kok yang antri di belakangmu, Sayang," balas Vincent santai. Amira mendelikkan matanya, "Kamu berani?"
Vincent tersenyum dan mengangkat kedua tangannya tanda ia menyerah, "Maaf Sayang."
"I only love you, only you in my heart," ucap Vincent dengan lembut. Amira tersenyum bahagia.
"Sekarang makin pintar ngerayu ya, belajar dari mana sih?" tanya Amira curiga tapi masih mengembangkan senyum bahagianya. Vincent yang terkenal dingin dengan wanita malah menjadi perayu wanita, tetapi hanya terhadap Amira ia berlaku demikian.
Vincent tertawa, ia sebenarnya juga merasa geli dengan ucapannya sendiri. Vincent sering tanpa sengaja mendengar Jason menggoda karyawan wanita di kantornya, dengan rayuan gombalnya. Dulu ia sering mencibir Jason bahwa dirinya terlalu berlebihan dalam menggoda wanita, tetapi sekarang Vincent termakan perkataannya sendiri. Ia sekarang merasa ia adalah copy-annya Jason.
"Kenapa malah tertawa sendiri, mikiran apa hayo?" tanya Amira makin curiga.
"Nggak. Aku belajar semua itu dari saudaraku, Jason. Kalau ada waktu nanti aku perkenalkan dia kepadamu," jawab Vincent.
"Jason? Ia segombal itu merayu wanita?" tanya Amira.
Vincent menganggukkan kepalanya dan berucap, "Lebih parah malah." (di sisi lain, Jason terus bersin-bersin karena digosipin hahahaha 🤭🤭)
"Sudahlah, gak usah dibahas lagi. Yuk kita pergi makan dulu, kamu pasti lapar kan?" ucap Vincent dan mulai menstarter mobilnya tanpa mendengar jawaban Amira terlebih dahulu. Ia kemudian melajukan mobilnya.
°
°
°
°
°
°
Setelah selesai makan malam, Amira dan Vincent kembali ke apartemen. Amira berdiri di depan pintu apartemen Vincent, ia mengernyitkan dahinya melihat Amira mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu gak kembali ke tempatmu?" tanya Vincent.
Amira mengerucutkan bibirnya, "Bukankah kamu bilang aku disuruh kerja di tempatmu buat bayar hutang-hutangku?" tanya Amira cemberut.
Vincent mengacak-acak rambut Amira, "Kamu itu sekarang pacarku," ucap Vincent.
"Dulu aku suruh kamu kerja di sini, supaya aku bisa lebih dekat denganmu, Sayang," lanjut Vincent lagi.
"Terus hutangku? Lunas dong?!" tanya Amira sambil senyum sumringah. Vincent mengangguk pelan.
"Asyiiiiikkk.. Tau gini aku pacarin aja dari dulu," ucap Amira sambil menjulurkan lidahnya. Vincent menggeleng-geleng kepalanya, "Jadi maksud kamu kalau kamu ada hutang sama pria lain, terus kamu jadi pacarnya aja? Gitu?" tanya Vincent sambil berkacak pinggang.
"Bercanda.. cuma bercanda. Serius amaattt," ucap Amira memanyunkan bibirnya.
Vincent menatap bibir mungil itu, rasanya ia ingin mengecupnya lagi. Ia segera mengenyahkan pikiran mesumnya, dan berbalik masuk ke dalam apartemennya.
"Sudah kamu pulang sana. Sudah malam besok kamu kerja kan?" ucap Vincent tanpa berbalik menatap Amira.
Amira heran dengan sikap Vincent yang tiba-tiba berubah, ia hanya menghela nafas dan berbalik masuk ke dalam apartemennya.
°
°
°
°
°
°
Vincent segera masuk ke dalam kamarnya, membuka pakaiannya dan mengambil handuknya. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi, dan segera mengguyur kepala dan tubuhnya dengan air dingin.
Ia melihat juniornya yang merespon, segera ia membasuh wajahnya dan berusaha menghapus bayang-bayang wajah Amira di pikirannya.
"Nilai Pi ( π )adalah 3,14159265358979323846 ," ucap Vincent.
Ia terus mengulang angka-angka itu untuk menenangkan pikirannya. Setelah membersihkan dirinya dan menenangkan pikirannya, ia keluar kamar mandi dengan mengenakan jubah mandinya.
Vincent teringat dengan pakaian yang dikenakan Amira tadi, yang terus menjadi beban pikirannya dari tadi, rok mini!
Vincent segera mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas nakas sebelum masuk ke kamar mandi tadi. Ia menekan nomor telepon seseorang dan menunggu panggilannya dijawab.
"Halo, Bos," jawab orang tersebut, yang tidak lain adalah Lucas, asistennya.
"Kamu infokan kepada seluruh cabang agar mulai besok setiap karyawan wanita dilarang untuk memakai rok mini ke kantor, termasuk mahasiswi magang!" perintah Vincent yang membuat Lucas terheran-heran.
"Ada apa lagi ini?" batin Lucas.
Lucas tidak dapat membantah perintah atasannya dan hanya bisa menjawab, "Baik Bos."
Vincent menutup teleponnya dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Ia memegang liontin kalungnya dan tersenyum sambil menatap foto Amira di ponselnya.
Ding!
Bunyi pesan masuk di ponsel Vincent. Vincent membukanya.
My Chubby ❤
__ADS_1
My Bear, lagi apa?
Vincent membaca pesan masuk yang dikirim Amira dan tersenyum kemudian membalas pesannya.
My Bear ❤ (nama kontak Vincent di ponsel Amira sekarang)
Lagi mikirin kamu...
My Chubby ❤
Gombal bangettt.. Nih aku kirimin fotoku, biar makin kangen..
Amira mengirimkan fotonya yang sedang mengerucutkan bibirnya seolah ingin mencium seseorang.
Vincent membuka foto itu dan tertawa melihat kelakuan kekasihnya itu. "Sungguh menggemaskan," gumamnya.
Ia mengelus ponselnya,dan meletakkannya di bibirnya seakan-akan ia sedang mengecup kekasihnya itu.
Ding!
Bunyi pesan masuk lagi dari Amira.
My Chubby ❤
Kenapa gak dibalas? Sudah tidur?
My Bear ❤
Belum.. Aku makin kangen lihat kamu langsung 😘
My Chubby ❤
Ya udah aku ke tempatmu deh..
Vincent membaca pesan Amira, ia menjadi panik Amira ingin ke tempatnya. Padahal ia hanya bercanda, ia segera membalas pesan Amira.
My Bear ❤
Gak usah, sudah malam!
My Chubby ❤
Iiiih.. gak pa pa kok. Lagian cuma sebelahan.
My Bear ❤
Jangan!
Tidak berapa lama, bel apartemen Vincent berbunyi. Vincent menepuk keningnya dengan ponsel. Hasrat yang berhasil ia tahan dari tadi bisa-bisa meluap lagi melihat kekasihnya itu.
Vincent menghela nafas panjang dan mencoba mengatur nafasnya. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan keluar menuju pintu masuk.
Vincent membuka pintu tersebut tanpa melihat dahulu siapa yang memencet bel apartemennya, "Kan aku sudah bilang gak usah datang," ucap Vincent sambil membuka pintunya.
"Mama?" Vincent mengernyitkan keningnya melihat seseorang yang berdiri di depan pintu masuknya.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
To be continue..
__ADS_1