Terjebak Cinta Sang Presdir

Terjebak Cinta Sang Presdir
Bab 28


__ADS_3

Selama perjalanan pulang ke Apartemen Riverside, Leon hanya diam sambil menyetir mobilnya, seperti sedang memikirkan sesuatu. Amira juga tidak banyak bicara seperti biasanya.


"Amira."


"Kak Leon."


Amira dan Leon memanggil satu sama lain secara bersamaan.


"Hahahaha." Amira dan Leon tertawa geli bersama melihat kelakuan diri mereka masing-masing.


"Ah, Kak Leon duluan aja," ucap Amira tersenyum malu.


"Tidak, kamu dulu aja. Ada apa?" tanya Kak Leon.


"Ha? Mm ..." Amira meremas tangannya merasa gugup, dia ingin mengatakan perasaannya, tetapi dia bingung ingin memulainya.


"Ah, tidak jadi, Kak. Bukan hal penting," ucap Amira akhirnya memutuskan untuk nanti saja mengatakannya.


"Ooh." Hanya itu yang terucap di bibir Leon.


"Kak Leon tadi mau bilang apa?" tanya Amira memecahkan keheningan.


Leon terdiam sebentar, seperti ragu untuk mengatakannya, kemudian dia menepikan mobilnya di sisi jalan.


"Lho, kok berhenti kak?" tanya Amira heran.


Leon menatap Amira dengan wajah serius, "Aku sudah baca berita mengenai kamu dengan Vincent, Ami," ucapnya yang membuat Amira kaget dan menggigit bibirnya.


"Apa hubunganmu dengan Vincent itu benar? Bagaimana kamu bisa mengenalnya?" cecar Leon


Amira meremas ujung bajunya dan menatap Leon, "Itu tidak benar, Kak. Semuanya hanya gosip. Aku dan Vincent tidak ada hubungan apa-apa."


"Benarkah?" tanya Leon memastikan, tetapi masih tampak keraguan di hatinya.


"Lebih baik kamu menjauhinya, Ami," ucap Leon dengan serius.


Amira bingung dengan perkataan Leon, "Maksudnya Kak Leon? Kak Leon kenal dengan Vincent?"


'Kenapa semua orang memintaku untuk menjauhi Vincent? Dulu Ibu dan sekarang Kak Leon.'

__ADS_1


Leon diam, tetapi Amira terus menatapnya menuntut jawaban. Leon menghela nafasnya dan berucap, " Iya, aku mengenalnya. Dia dan aku adalah teman lama, tetapi karena sesuatu hal, kami sudah lama tidak berkomunikasi."


Amira mendengarkan ucapan Leon dengan seksama, "Tapi apa maksud Kak Leon agar aku menjauhinya?" tanya Amira heran.


"Aku hanya tidak ingin kamu terluka, karena dia bukan orang yang bisa didekati begitu saja," jawab Leon memalingkan wajahnya.


"Oh." Hanya itu yang bisa Amira ucapkan. Amira merasa Kak Leon sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Tidak ada percakapan lagi di antara mereka. Leon melajukan mobilnya kembali ke jalan dan menuju ke apartemen Amira. Setelah sampai di depan apartemen, Leon memarkirkan mobilnya di tempat parkir, kemudian menuntun Amira sampai ke depan unit apartemennya.


"Terima kasih, Kak Leon."


"Maaf, jadinya malah merepotkanmu seperti ini." ucap Amira merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa. Kamu istirahatlah, jangan keluyuran lagi, sudah malam. Jangan lupa untuk mengoles obatnya." Leon mengingatkan Amira.


"Oke, Kak." Amira mengangguk dan tersenyum.


"Kak Leon juga hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai, kabarin aku."


Leon hanya mengangguk dan menuju ke lift.


Leon mengepalkan tangannya erat dan masuk ke dalam lift.


Sebelum memasuki unitnya, Amira melihat ada beberapa petugas delivery barang yang sibuk mengangkat beberapa perabot rumah tangga di unit sebelah, berdampingan dengan unit apartemen Amira.


"Kok pindahan malam-malam begini sih? Aneh!" gumamnya yang kemudian melangkah masuk ke unitnya sendiri.


Sementara itu di Dream Studio


"Silk Cream membuat kulitku lembut seperti sutra," ucap Anna Lee mengucapkan dialog terakhir iklannya di depan kamera yang mengarah kepadanya.


"Ok, Cut!


Sutradara Meng memberikan aba-aba bahwa syuting iklan tersebut sudah selesai.


"Terima kasih semua! Sampai ketemu lagi," ucap Anna kepada para kru di studio itu.


"Aktingmu bagus sekali, Anna. Cukup sekali take saja sudah selesai, pantas saja kamu disebut-sebut sebagai artis berbakat," puji Sutradara Meng sambil mendekati Anna dan memegang bahu Anna.

__ADS_1


"Ah, Anda terlalu berlebihan, Sutradara Meng, ini sudah pekerjaan saya, ini semua berkat arahan Anda," ucap Anna merendah dan melepaskan tangan Sutradara Meng di bahunya secara halus.


"Hahahaha. Kamu bukan hanya cantik dan pintar, tetapi juga tidak sombong," puji Sutradara Meng lagi.


"Baiklah, saya permisi dulu."


Anna Lee pamit meninggalkan tempat itu dan menuju mobil van yang sedang menunggunya di tempat parkir.


Setelah masuk ke mobil, Anna mendengus kasar, "Dasar tua bangka, dia pikir dia siapa, hah?! Seenaknya saja menyentuhku!" ucap Anna merasa jijik dan kesal.


"Wenny, mana ponselku!" teriak Anna kepada asistennya, Wenny.


Anna melihat ponselnya dan mengecek ada beberapa panggilan masuk dari seseorang. Dia melotot kepada Wenny, "Kenapa kamu tidak bilang kalau ada telepon dari Produser Wang?"


"Bukankah aku sudah bilang kalau ada telepon dari dia segera kasih ke aku?! Dasar ! Kerja begini saja tidak becus!"


Anna memaki Wenny dengan kasar, sehingga membuat gadis itu ketakutan. Wenny hanya diam menerima perlakuan itu. Dia tau percuma saja melawan, malah nanti yang ada dia akan mendapatkan makian yang lebih parah lagi.


Tidak banyak orang yang mengetahui sifat asli dari Anna Lee. Di mata orang luar, Anna Lee adalah seorang artis yang mempunyai karakter bak titisan dewi, cantik dan rendah hati. Tetapi bagi orang dekatnya, seperti Wenny dan managernya, Andy, Anna Lee adalah seorang yang berwatak buruk, pemarah dan egois.


Semua itu tidak pernah diekspos sama sekali oleh mereka berdua, karena mereka sudah menandatangani kontrak dengan perusahaan Kim Entertainment agar menjaga privasi Anna Lee. Wenny dan Andy butuh pekerjaan itu, jadi mereka hanya bisa pasrah mematuhinya.


Anna melihat pesan masuk yang ada di ponselnya dan wajahnya menjadi tambah gelap, "Dasar wanita rubah!" umpatnya kesal.


Pesan masuk itu dari orang suruhan Anna untuk mengikuti Amira Lin ke mana pun dan memberikan informasi kepadanya apabila ada yang tidak beres dengan Amira.


Beberapa hari yang lalu, Anna membaca berita di sosial media mengenai Amira dan Vincent. Dia merasa sudah tidak suka dengan Amira sejak bertemu di Restoran Velvet waktu itu, apalagi Amira berhasil merebut Vincent darinya.


Dia ingin menjatuhkan Amira dan memisahkan Amira dari Vincent, agar Vincent dapat kembali ke pelukannya!


Saat ini orang suruhannya itu mengirim beberapa foto Amira dengan Leon waktu di rumah sakit. Dia terkejut dan semakin membenci Amira.


"Dasar wanita rubah! Vincent saja tidak cukup, dia masih ingin merebut Leon dariku!"


Anna memincingkan matanya dan mengepal ponselnya dengan sangat erat. Ekspresinya saat ini membuat Wenny dan Andy merasa takut.


"Aku akan membuat hidupmu merasa di neraka, Amira!" gumam Anna sambil mengeratkan giginya.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2