Terpaksa Menikahi CEO Kejam

Terpaksa Menikahi CEO Kejam
Nic Mengungkap Perasaan Kepada Jesy


__ADS_3

Kembali Ke Nic


"Maaf Tuan, Aku terlambat"


suara itu membuat Nic mengurungkan niatnya untuk beranjak dari restoran itu.


Matanya berbinar, ketika menatap sosok seorang gadis yang tinggi semampai dengan rok di atas lutut dan kemeja berwarna dusty.


rupanya ia Jesy, wanita yang sejak jam 7 malam tadi ia tunggu.


Nic lalu melirik arloji mewahnya.


"1 jam 34 menit, aku membuang waktuku yang berharga hanya untuk duduk di restoran ini seorang diri"


penjelasan Nic semakin membuat Jesy tak enak hati, ia menyadari atas kesalahannya, membuat orang terpenting dari karirnya menunggu lama.


"Maaf saja tidak cukup"


ucap Nic membungkam mulut Jesy yang memang hendak mengucapkan kata maaf.


"Duduk dan jelaskan mengapa kau membuatku menunggu?!"


Nic duduk terlebih dahulu di sebuah kursi, ia pasang wajah dingin yang terlihat kecewa, membuat Jesy semakin sungkan duduk di hadapannya.


"Bukankan Aku sudah mempersilakan mu untuk duduk?"


"iya, Tuan Nic"


Jesy memasang wajah penuh penyesalan. Lalu ia membuka laptopnya dan menaruh beberapa berkas yang mungkin saja akan di bahas oleh wakil direktur dari Sminth International Company itu.


"Aku tidak mau memakan semua itu Jesy "


ucap nic membuat Jesy kikuk.


Nic lalu menutup kembali laptop yang di bawa Jesy dan menggeser berkas yang di bawa Jesy ke sisi lain. Hingga di hadapan mereka berdua tak terhalang apapun.


"Beruntung moodku tengah bagus hari ini, kalau tidak kau sudah ku pecat. Aku tidak pernah mentolerir karyawan yang bekerja untuk SIC jika lalai menjalankan tugas dan perintah, karena jika ada karyawan seperti itu, tentu akan menghambat kemajuan dari perusahaan itu sendiri, kau membuatku menunggu, membuatku menjadi lapar, aku berubah fikiran"


jelas Nic sambil tersenyum penuh misteri.


Jesy semakin bingung, lalu ia memutuskan untuk pamit.


"Sekali lagi, aku minta maaf Tuan, kalau begitu izinkanku untuk meninggalkan tempat ini"


ucap Jesy seraya memasukkan berkas-berkas dalam berbagai warna map itu kedalam tasnya.


"Kau tetap disini"


Jesy menatap Nic.


"Untuk apa Tuan, bukan kah tadi anda bilang, anda berubah fikiran?"


"Ya benar, tapi Aku tidak mengucapkan kalau mencancel meeting kita bukan?"


Jesy mengangguk.


"Kau tau? berbisnis itu membutuhkan fikiran yang jernih agar fokus, sedangkan Aku jika perutku lapar membuatku tidak bisa berfikir, kau mau pesan apa?"


Jesy tercengang mendapat tawaran dari orang no 2 di kerajaan bisnis Sminth International Company itu.


"**..tidak Tuan. Sebelumnya terimakasih banyak, aku sudah makan" tolak Jesy secara halus.


"Aku tidak mau menjadi salah satu orang yang makan di restoran ini"


Jesy lalu tengok kanan kiri, ia baru menyadari di restoran semewah ini ternyata hanya mereka berdua yang duduk di kursi restoran.

__ADS_1


"Pesanlah sesuatu, apa kata pemilik Restoran ini jika melihatku hanya makan sendiri? nanti mereka menganggap ku pria yang pelit"


jelas Nic dengan wajah manisnya yang tersenyum. Nic memang berbeda dari anggota cowok coker lainnya yaitu Kenzo dan Mike, ia lebih ramah dan hangat pada wanita, yang pasti bukan hidung belang.


"Aku...akuu..."


Jesy bingung mau jawab apa, jika di tanya mau pesan apapun ia tidak tau, ini restoran Itali, dia sama sekali tidak tau menu apa yang tersedia.


"Hhhhh, kau kembali membuatku menunggu, kalau begitu Aku akan pesan semua makanan di restoran ini"


'Prokk prokk prok '


Nic menepuk tangannya dan datanglah seorang pelayan dengan segera.


"Selamat malam Tuan Nic, anda mau pesan apa?"


"Seluruh yang tertulis di menu, tolong sajikan"


Sebenarnya pelayan itu sedikit kaget, karena tak biasanya Nic memesan makanan sebanyak itu. Tapi itu tetu bukan hal yang menakutkan, mengingat Nic adalah salah seorang kerabat penting di SIC itu.


Nic menatap Jesy yang sedang sibuk merapikan berkas yang ia bawa, diam-diam hatinya terpana, ini kali pertama ia kembali membuka hatinya untuk wanita lain, setelah sempat mencintai wanita yang kini menjadi istri dari Kenzo, adik angkatnya sendiri.


Mereka hanya menghabiskan seporsi pasta, dan itu cukup membuat mereka kenyang. Namun makanan yang di pesan Nic terus berdatangan, dan Nic pun bingung mau di apakan makanan sebanyak itu.


"Mmm, apa kau keberatan jika makanan yang ku pesan untuk kau bawa pulang?"


'Rezeki nomplok'


begitulah yang ada di benak Jesy.


"Semua makanan ini Tuan?"


"Tidak, masih banyak yang belum di sajikan. Bagaimana? Aku mohon, kau jangan menolak. Anggap saja ini sebuah perintah dari atasanmu"


Jesy tidak keberatan, tapi ia sedang berfikir.


"Ayo nic, ini waktu yang tepat!"


gumam Nic dalam hati.


"Ekhemm, izinkan Aku mengantarmu pulang"


Jesy tak percaya mendengar hal itu.


"Anda, seorang wakil direktur, mau mengantar Aku pulang?


Ohh tidak tidak, Aku takut istri Tuan Nic salah paham, Aku tidak mau terkena masalah, Aku terima pemberian anda, tapi tidak untuk tawaran anda, Aku mau naik taxi saja"


"Tunggu tunggu, tadi kau bilang apa?


isteri?"


Jesy mengangguk, jantungnya berdebar karena ia takut salah bicara.


"Sungguh kenyataan yang memalukan, bahwa pada kenyataannya kekasih saja Aku tidak punya, jadi dugaan mu itu salah Jesy"


ucap Nic sambil tersenyum tanpa menatap Jesy. Penjelasan Nic tentu membuat Jesy tak percaya.


"Hahaha, itu tidak mungkin. Pria setampan dan seperfect anda belum memiliki istri"


Jesy tertawa terbahak, namun tidak lama ia menyadari kalau ia takut mengucapkan salah kata.


"Belum ada yang cocok"


jawab Nic malu-malu.

__ADS_1


"Lalu yang cocok seperti apa Tuan Nic?"


tanya Jesy penasaran.


"Yang cocok wanita...


wanita...seperti dirimu"


"Bbbbrrffffpp..!!ahahahaha, anda bercanda,? seperti Aku?"


Jesy menganggap apa yang di katakan Nic itu hanya bualan saja, tidak taunya...


"Aku serius Jes"


sambung Nic sambil tersenyum, sedangkan Jesy shok dan bingung, apa yang di ucapkan pimpinannya itu candaan atau hasil dari ia mengutarakan hatinya.


Suasana hening, ketika Nic mengutarakan isi hatinya. Secepat itu? Nic sudah bisa menilai seseorang? Apakah Jesy memang orang yang tepat untuk menjadi pendamping si Pria hangat itu.


Jesy diam tak bergeming, mau tersenyum takut di bilang GR, diam dengan wajah yang tegang pun rasanya tak akan enak di pandang.


"Harus gimana ?"


Gerutunya dalam hati.


Nic pun hanya mampu tersenyum dengan wajah kikuk.


"Ekhemm, just kidding"


Wajah imut dan manisnya hanya mampu bersemu merah.


"Hehehe...Aku mengerti"


Sahut Jesy mencoba mencairkan suasana.


"Mmm, so? Kau akan menerima tawaranku bukan?"


Nic pun bangkit berdiri sambil membawa beberapa kotak makanan untuk Jesy bawa pulang.


"Jika anda tidak keberatan..."


Jawab Jesy malu.


"Tentu tidak, Aku sudah terbiasa membawa sesuatu yang berat"


Ucap Nic sambil melangkahkan kakinya, jesy pun mengikuti dari belakang sambil membawa makanan yang sudah di kemas.


"Contohnya?" tanya Jesy yang penasaran.


"Membawa rasa malu"


Jawab Nic sambil nyengir. Kini Jesy tidak berani membalas kata-kata Nic. Matanya hanya lirik kanan kiri.


Nic menoleh.


"Apa yang kau fikirkan?"


Jesy geleng-geleng kepala.


"Ti..tidak Tuan"


"Rasa malu yang ku pikul itu sangat berat Jesy, kedua sahabatku sudah memiliki pendamping, dan Aku selalu menjadi bahan olok-olokkan mereka,


Haah, sungguh memalukan"


Sambung Nic sambil terus melangkah.

__ADS_1


Ikuti terus,, Kira-kira Nic di Terima atau di tolak? 😅😅


__ADS_2