
Petir seakan menyambar relung hati dan jiwanya. Begitu juga Nicho.
Kenzo tak kuat menahan tangisnya.
"Tidaaakkkk!!" Teriak Kenzo
"Ss...sayang! Kau tidak mungkin meninggalkanku!
Sayang, bangunlah! Aku tau kau tertidur kan!?
Kau pasti bercanda!
Ya...kau selalu senang menggodaku...
Ayolah sayang,
Jangan membuat aku seperti orang gila seperti ini...
Ss...sayang!
Super Hero ku menunggu kita untuk menggendongnya...
Sayang!"
Nic ikut menangis. Semua ini bagaikan mimpi buruk. Tangan nya yang gemetar mencoba merangkul sang adik yang begitu terpukul.
"Kenzo...
Bulan... Bulan, telah meninggalkan kita..."
Ucap Nic yang dia sendiripun tidak percaya mengatakannya.
"Aaarrrggghh!! Tidak mungkin!
Isteri ku tidak mungkin meninggal! Bulan ku tidak mungkin meninggalkanku dan anak-anakku!
Sayang bangunlah...
Aku janji akan menjadi suami yang lebih baik lagi untukmu..l
Sayang...!"
"Maaf Tuan, kami harus membawa Nyonya Bulan ke ruang jenazah dahulu sebelum di pulangkan pada keluarganya"
Ucap dokter itu dengan berat hati.
Para perawat itu pun segera mendorong ranjang besi itu menuju ruang jenazah.
Namun Kenzo sekuat tenaga menahannya.
"Jangan bawa isteri ku ke ruang jenazah, ia hanya tertidur! Dan kami akan pulang bersama ke Australia!
Dokter... Dokter...tolong cek lagi kondisi isteri ku!"
Mereka tidak mempedulikan jerit tangis Kenzo. Nic sekuat tenaga menahan Kenzo yang meronta.
"Kenzo! Kau harus kuat, Tuhan lebih menyayangi Bulan.
Kuatlah untuk anak-anakmu Kenzo!"
"Bulan...!!
Tuhan! Mengapa kau tidak adil!
Ketika aku telah berubah menjadi orang yang lebih baik kau pun mengambil wanita yamg paling ku cintai!
Aaarrrggghhh!!"
Kenzo begitu terpuruk, hari ini dunianya hancur seketika.
Orang yang begitu ia cintai, kini meninggalkannya.
Kenzo menangis terisak. Ini seakan mimpi yang teramat buruk. Berjuta kali ia menyangkal ini semua adalah mimpi, tapi sayang ini adalah kenyataan, ya kenyataan yang menyakitkan.
"Aaarrrggghhh! Kau tidak adil Tuhan! Aku membencimu!
Ss..sayang ku, ini tidak mungkin terjadi!"
Kenzo benar-benar hancur.
Wajahnya penuh kebencian. Dendam seketika membara di hatinya yang pilu.
"Orang itu! Dia dan seluruh keluarganya harus menanggung rasa sakit yang ku rasakan!
Akan ku musnahkan ia dari muka bumi ini!"
Namun ia kembali rapuh, ketika mengingat semua kenangan indah bersama Bulan.
Kakinya tak sanggup lagi menopang tubuhnya yang tinggi kekar itu, hingga ia terjatuh dan bersandar di dinding.
"Sayang ku...
Aku bisa gila tanpamu...
Aaarrrggghhh!!"
Kenzo menjambak rambutnya sendiri.
__ADS_1
Nicho pun tak kalah menderita dengan kenyataan ini.
"Ken...Kenzo
Kau harus kuat, demi anak-anakmu."
Ucap Nic lirih.
"Nic! "
Kenzo lalu memeluk sang kakak seraya minta kekuatan agar hatinya bisa tegar.
Wajah kebencian pun tersirat di wajah manis Nic.
"Aku bersumpah! Siapapun yang terlibat dengan orang yang membawa mala petaka pada keluarga kami, akan ku bunuh dengan tanganku sendiri!!
Aku bersumpah!"
Kata Nicho dalam hati.
Tak lama kemudian, datang lah seorang suster.
"Tuan Kenzo, jika anda ingin melihat bayi anda silahkan datang ke ruangan bayi"
Hatinya terasa di cabik, ia tak menyangka anak laki-laki yang baru lahir itu harus kehilangan ibunya, bahkan sebelum ia merasakan dekapan sang ibu.
Nic membantu Kenzo bangkit.
Nic menganggukkan kepalanya, meyakinkan Kenzo bahwa Kenzo uat untuk menghadapi kenyataan ini.
"Ayo kita lihat anakmu, Kenzo"
Kenzo bangkit dengan langkah tertatih, dan air mata yang terus membasahi wajah tampannya.
Sampailah di ruang rawat bayi.
"Ini bayi anda Tuan, ia sehat"
Hati Kenzo dan Nicho hancur melihat wajah bayi yang tampan dan tanpa dosa itu.
"Anakku...
Ini, Dady mu Nak."
Kenzo tak sanggup menahan tangisnya, ia ciumin bayi laki-laki yang begitu ia dambakan kelahirannya.
Seakan ikut merasakan sakit dan sedih dari sang Ayah, bayi laki-laki yang belum di beri nama itu ikut menangis.
"Ooaa ooaa ooaa..."
Nicho pun ikut menangis, sampai ia memalingkan wajahnya.
"Kenapa ini semua harus menimpa mu, adikku"
Gumam Nic dalam hatinya.
"Lihat anakmu Kenzo, kau harus kuat! Demi Angelia dan putera mu ini, dia ikut merasakan kesedihanmu.
Jadi tegar lah, apa kau tega bayi sekecil ini merasakan kesedihan?!"
Kenzo menatap pilu pada sang putera.
Ia hanya menggelengkan kepalanya.
Dan air matanya kembali bercucuran.
"Nic, apa seluruh kekayaanku bisa mengembalikan isteri ku?"
Nicho hanya menunduk, ia tidak mampu menjawab pertanyaan Kenzo yang terdengar menyakitkan itu.
"Bagaimana,
Bagaimana dengan Angelia ketika tau bahwa ibunya...
Ibunya...
Kenzo terisak, Nicky..
Aku yang sudah dewasa pun begitu terpukul di tinggal selamanya oleh Mommy ku,
Apa lagi anak-anakku?
Sekecil ini mereka sudah...
Sudah menjadi piatu...
Tuhan...
Apa yang harus ku lakukan!?"
"Kau harus tegar demi anak-anakmu Kenzo."
Jawab Nicho.
Bayi itu terus menangis. Dan suster pun datang.
"Tuan, ini waktunya bayi anda di beri susu"
__ADS_1
Kenzo mengangguk dan memberikan putera nya pada perawat itu.
"Mohon maaf, bapak-bapak keluar dulu ya, karena nanti mengganggu bayi yang lain yang tengah tertidur"
Ucap suster ramah.
"Baik suster, ayo Kenzo"
Ajak Nic sambil memegang bahu Kenzo. Berat rasanya kaki untuk melangkah, mata Kenzo yang sembab terus memandangi puteranya.
'Drrrrttt'
"Ada pesan dari Mike!"
Mata Kenzo langsung membulat.
"Apa ia sudah berhasil menangkap orang itu?"
Apa yang terjadi, setelah membaca pesan itu Nicho menjatuhkan ponselnya, tangannya tiba-tiba lemas.
"Ada apa Nic?!"
Nic mencoba tegar. Matanya merah, urat lehernya timbul, ia menahan amarah yang teramat sangat.
"Tak apa...
Mike sudah berhasil menangkap orang itu! Dan kini berada di rumahmu. Ia menunggumu untuk menginterogasinya."
Kenzo mengepalkan tangannya.
"Akan ku bunuh secara perlahan, hingga ia sendiri yang meminta kematiannya padaku!"
"Mengapa...
Mengapa kau menghianatiku...
Aku tidak percaya semua ini!"
Kata Nic yang geram dlm hatinya.
Seakan di iringi lagu nan sendu pagi ini, menjadi akhir dari kisah cinta Bulan dan Kenzo. Semua berurai air mata. Seluruh media berlomba meliput pemakaman dari seorang istri pembisnis sukses berdarah Australia.
Bulan di kebumikan. Menyisakan luka mendalam bagi orang terkasih. Berbaring untuk selamanya di peristirahatan terakhirnya di samping pusara orang-orang yang Kenzo cintai, yang lebih dulu meninggalkannya.
Air mata tak lagi menetes, bukan tanda bahagia. Benar kata Nic, Kenzo harus kuat demi anak-anaknya.
Tuxedo hitam, kaca mata hitam, gaun hitam, menggabarkan semua berduka cita.
Angelia yang memeluk pinggang rampingnya sambil terus meratapi sang ibu yang pergi untuk selamanya.
Dan super hero nya yang terlelap dalam dekapannya sambil di payungi oleh pelayan-pelayannya.
"Beri aku tempat di surga yang indah itu Bulan, di sisimu ... Bidadariku"
Dalam hatinya menjerit.
"Aku tidak mau mengucapkan selamat tinggal, bagiku kau selalu hidup untuk selamanya.
Ini bukan perpisahan, kau hanya mendahuluiku untuk singgah di tempat terindah, tempat yang tidak bisa ku beri untukmu dengan segala kekayaanku.
Bahagia lah, aku akan menjadi ayah yang terbaik untuk anak-anak kita."
Peti jenazah sudah mulai di timbun tanah, isak tangis dan panggilan Angelia menyayat hati para pelayat dan kerabat.
Agnes lalu menggendong Angelia dengan tak kuat menahan air mata.
"Ibu...ibu...hiks hiks hiks..."
Kenzo mencoba tersenyum dan membelai rambut Angelia.
"Baby...Jangan berikan ibu mu air mata, beri ia senyum termanis mu.
Ibu tidak meninggalkan kita, cepat atau lambat kita pasti akan menyusulnya.
Ibu hanya lebih dulu menjadi bintang di langit yang indah, Ibu akan tetap mengawasimu.
Dan cinta ibu, akan tetap di hati kita."
Seketika Angelia berhenti menangis.
"Ibu...Angelia janji akan menjadi anak baik, isak Angelia.
Seperti yang ibu ajarkan padaku, terimakasih ibu... ibu adalah ibu terbaik di dunia."
Agnes begitu terharu, ia tak henti menciumi Angelia yang begitu tegar.
Kenzo menatap sang putera yang masih belum ia beri nama.
Lalu ia menciumnya.
"Sayang, aku bajingan. Tuhan pun membenciku dengan mengambil orang yang ku cintai satu demi satu.
Maaf, aku tidak layak di sampingmu, bahkan jika aku pun mati, tempatmu yang indah itu tidak pantas untukku.
Maaf sayang, Kenzo yang kejam harus hidup kembali, kembali untuk membalas dendam!
Karena orang itu telah membuat anakku menjadi piatu!"
__ADS_1