
Angelia begitu bersemangat berlari kesana kemari, sampai Bulan dan pengasuhnya kewalahan, karena Angelia termasuk anak yang aktif.
Ia lari ke tepi pantai, menggali pasir, dan mengitari ujung pantai yang satu sampai ujung lainnya tanpa rasa lelah sedikitpun.
Sedangkan Mike dan Nic ikut meninjau lokasi yang tepat untuk diselenggarakannya pesta yang telah di rencanakan.
Bulan hanya di temani empat orang pengawal dan tiga pengasuh Angelia.
Matahari mulai terbenam, Kenzo beserta yang lainnya belum kembali ke Hotel yang menjadi tempat beristirahat mereka. Duke yang cerdik dengan tepat memilih sebuah Hotel yang berkualitas standar, karena dia tau Kenzo akan memesan Hotel berfasilitas mewah untuknya dan para pengawalnya.
Angelia yang mengetahui sang Ayah belum pulang tidak mau masuk ke dalam kamar Hotel yang telah di pesan.
"Ayo sayang...kita masuk dulu...
Lihat mataharinya mulai terbenam, berarti hari mulai malam.
Ayo Nak..."
Bulan menggendong paksa Angelia, namun ia malah menangis dan meronta.
"Huwaaa...
Aku masih mau main.
Langitnya bagus Ibu.
Aku mau tunggu Dady pulaang...
Huhuhu...huhuu..."
Bulan lalu kembali menurunkan Angelia yang menangis.
Matanya memperhatikan leher Angelia, dia begitu kaget setengah mati mendapati kalung pemberian Kenzo yang sudah tak melingkari lehernya.
Bulan lalu mengecek dengan teliti, dan benar adanya, kalung yang Angelia pakai sejak bayi hilang.
"Sa...sayang...!
Ke..kemana kalung mu Nak?
Dady mu bisa marah sama Ibu?!"
Bulan menahan tubuh Angelia yang akan hendak kembali berlari, dengan rasa gundah dan khawatir berkecamuk dalam hatinya.
"Nak...tunggu dulu,
Dimana kalung pemberian Dady sayang?
Kok sudah tidak ada?"
Angelia menundukkan kepalanya, mencari kalung yang selama hidupnya sudah melingkar di lehernya.
"Aku tidak tau Bu...
Kalung yang seperti Ibu kan?"
Angelia memegang kalung yang sama dengan Bulan.
"I..iya sayang, kalung seperti Ibu...
Apakah di antara kalian ada yan melihat kalung Angelia?
Itu kalung yang sangat berharga!
Tidak ada kalung yang lebih berharga bagi kami di dunia ini selain kedua kalung yang kami pakai...!
Itu pemberian Kenzo! "
Mata Bulan berkaca-kaca sambil menatap para pengawal dan pengasuhnya.
Merekapun merasa tak enak hati, sehingga saling berpandangan satu sama lain.
__ADS_1
"Kami tidak melihat kalung itu terjatuh Nyonya, dan tidak mungkin di antara kami yang mengambil kalung berharga itu dari leher Nona Angelia karena kau sendiri pun tau...
Kau bersama kami mengawasi Nona Angelia seharian..."
Jelas salah satu pengawal.
"Tidak tidak!
Aku tidak menuduh salah satu dari kalian...
Kalung itu pasti terjatuh saat Angelia bermain dan berlari tadi,
Ya, kalungnya pasti ada di suatu tempat! Aku harus mencarinya!
Karena Aku sudah berjanji pada Kenzo untuk menjaga kalung itu sampai kapan pun!"
Bulan hendak melangkahkan kakinya untuk mencari kalung itu.
"Tunggu Nyonya, biar salah satu dari kami menemani Anda."
Saran seorang pengawal.
"Tidak!
Kalian semua tolong jaga anakku, dia begitu aktif, jangan sampai Angelia kenapa-napa...!"
"Ta..tapi Nuonya!?"
"Jangan membantahku! Aku akan segera kembali...!"
Bulan lalu berlari ketempat Angelia bermain tadi dengan harapan yang besar dapat menemukan kembali kalung pemberian Kenzo yang berharga itu.
"Aku harus mulai dari mana?
Tempat ini begitu luas, tentu sulit mencari kalung itu...
Tapi Aku harus tetap semangat!"
Bulan melanjutkan pencariannya. Dari kejauhan nampaklah seorang Pria yang tengah memperhatikan Bulan yang tengah sibuk mencari kalung sang puteri.
"Ternyata, dia mencari kalung ini? Kalung mewah berliontin huruf 'A' ini sudah ku duga bukan milik orang biasa...
Kalung ini begitu berharga ya sampai kau takut Kenzo kecewa padamu, Bulan?"
Pria itu justru memasukan kalung Angelia kedalam sakunya.
"Duke pasti senang mendengar kabar ini, dan Aku sedikit mengambil sesuatu yang berharga dari Kenzo..!"
Ternyata Pria yang memungut kalung Angelia adalah Mark. Dia sedang berpatroli mencari informasi secara diam-diam, menyamar sebagai bagian dari pengunjung pantai hingga tidak ada yang mengenalinya, karena di antara mereka belum pernah ada yang mengenalinya.
Mark memberi kabar pada Duke tentang kabar bagus itu. Dengan berpakaian layaknya orang biasa, tidak mengenakan sesuatu yang menonjolkan status sosialnya ia datang menghampiri Mark dalam persembunyiannya.
"Apa yang kau dapatkan? Tunjukkan padaku!"
Ucap Duke perlahan.
Mark lalu menunjukkan kalung Angelia yang tengah di cari Bulan hingga hari mulai gelap.
"Hhhh...kalung?!
Aku kira kau akan memberiku kabar bagus! Ternyata...?
Aku bersusah payah menemuimu agar tak terlihat oleh orang-orang Kenzo...!"
"Jangan remehkan Aku, Duke!
Kau tau? Ini kalung milik Angelia, anak dari Kenzo...
Bulan tengah mencarinya, dia sangat mengkhawatirkan kalung ini...
Sepertinya kalung ini sangat berharga bagi mereka...
__ADS_1
Lihat di sebelah sanah!
Bulan dari tadi mondar-mandir kesana kemari.
Hahaha!"
Duke tersenyum sumringah melihat Bulan dari dekat.
"Itu kabar yang lebih dari bagus Mark! Itu kabar yang mengejutkan...
Terimakasih telah membawaku ke tempat ini, Aku benar-benar senang bisa melihat si cantik itu dari dekat..."
"Ini semua terlalu mudah untukku Duke, kau jangan terlalu menyanjungku..."
Tiba-tiba dari kejauhan Duke melihat seekor ular cobra filipina yabg entah muncul dari mana.
Ular itu sangat mematikan.
Mata Duke membulat ketika ular itu berhasil mematuk kaki Bulan.
"Aaaaawwwwhhh!"
Teriak Bulan yang lalu tersungkur.
"Bulan!?"
Duke tanpa berfikir panjang berlari ke arah Bulan.
"Aaaa...aaawwhhh...!
Ular...Aku di patuk ular, tolong Aku..."
Rintih Bulan sambil menahan rasa sakit yang luar biasa.
Duke lalu membuka bajunya, merobek dan mengikat kaki Bulan di bagian paha agar racun itu tidak menyebar.
Tanpa permisi ia lalu menghisap bisa yang di semprotkan oleh ular itu pada paha Bulan, dan meludahkannya sejauh mungkin.
Ia melakukannya berkali-kali.
Mark menepuk jidatnya melihat apa yang dilakukan Duke.
"Bodoh, Kau membahayakan dirimu Duke! Seharusnya biar aku saja yang menolong Bulan,
Karena wajahmu sudah di kenali atau bahkan mungkin di incar oleh Kenzo!"
Apa yang ditakutkan Mark terjadi. Kenzo beserta pengawalnya datang dan melihat apa yang tengah di lakukan Duke, 'menyentuh paha istrinya'.
Seketika amarah Kenzo meledak bak gunung yang tengah erupsi.
Kenzo menendang Duke hingga terjungkal.
"Menyingkir dari Istriku!"
Kenzo beserta pengawalnya menodongkan pistol mereka ke arah Duke. Duke menatap Kenzo dengan tatapan khawatir.
"Cepat tolong istrimu...!
Dia... Dia di patuk ular Cobra Filipina! Kau tau betapa berbisanya ular itu?
Cepat bawa ia ke rumah sakit!"
Tegas Duke sambil memegang dadanya yang terasa sakit karena hantaman kaki Kenzo yang begitu kuat.
"Bu...Bulan!?"
Kenzo melihat kaki Bulan yang mulai membiru, Bulan pun mulai terlihat lemas dengan nafas sesak.
Kenzo dengan cepat menggendong Bulan dan membawanya lari ke mobil mereka.
"Siapkan mobil!
__ADS_1
Cepaaatttt!
Bulan, Bertahanlah!!"