
Jesy masih mengikuti dari belakang sambil membawa makanan yang sudah di kemas.
"Contohnya?"
"Membawa rasa malu"
Jawab Nic sambil nyengir. Kini Jesy tidak berani membalas kata-kata Nic. Matanya hanya lirik kanan kiri.
Nic menoleh.
"Apa yang kau fikirkan?"
Jesy geleng-geleng kepala.
"Ti..tidak Tuan"
"Rasa malu yang ku pikul itu sangat berat Jesy, kedua sahabatku sudah memiliki pendamping, dan Aku selalu menjadi bahan olok-olokkan mereka,
Haah, sungguh memalukan"
Sambung Nic sambil terus melangkah. Jesy lalu memperhatikan Nic yang berjalan di depannya dari ujung rambut sampai ujung sepatunya.
"Seharusnya Anda tidak harus menjadi bahan olok-olokan mereka Tuan Nic,
Anda itu sempurna untuk menjadi seorang pria, tentu wanita tidak akan menolak jika menjadi pendamping Anda"
"Oya?"
Tanya Nic sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Hu'umh"
Jesy mengangguk.
"Anda itu manis, tajir dan yang paling penting ramah, sopan sekali pada wanita"
Sambung Jesy.
"Aku baru tau kalau aku seperfect itu, terimakasih"
"Sama-sama tuan."
Jawab Jesy bersemangat.
"Lalu, jika menurutmu Aku seperfect itu, apa kau tertarik padaku?"
'Uhukk uhukk!'
Jesy langsung tersedak.
"Kau baik-baik saja? Apa pertanyaanku seperti asap kendaraan?"
Nic lalu membuka pintu bagasi mobilnya, menaruh makanan yang ia bawa dari dalam restoran.
"Berikan padaku"
Nic mengulurkan tangannya untuk mengambil makanan yang di bawa Jesy.
'Uhukk uhukk!'
Jesy masih terus batuk batuk.
Lalu Nic mengambil air mineral dari dalam mobilnya.
"Minumlah, ini masih baru kok"
Jesy pun mengambil air mineral itu dan meneguknya, setelah minum keadaannya lebih baik. Kemudian Nic menarik beberapa lembar tisue dan mengelap bibir Jesy yang basah, awalnya ia tidak berfikiran apa-apa, tapi melihat ekspresi Jesy yang malu-malu, Nic baru menyadari mungkin apa yang ia lakukan membuat Jesy keberatan.
"Sory, aku tidak bermaksud apa-apa"
"I..iya Tuan Nic"
Jawab Jesy yang kini mengelap bibirnya sendiri.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi"
Sambung Nic yang selalu menebar senyumannya yang memikat.
"Mmm, pertanyaan apa Tuan?"
Jesy pura-pura lupa.
"Sebetulnya ada dua pertanyaan yamg harus kau jawab, tapi aku memutuskan untuk membahasnya lain waktu, kau tidak keberatan kan?"
Jesy menggelengkan kepalanya.
"Tentu saja tidak"
"Good"
Nic lalu melihat jam tangannya.
"Sudah malam, ayo cepat masuk kedalam mobil, sepertinya semua makananmu sudah masuk semua ke bagasiku"
Jesy mengangguk. Entah mengapa wajah manisnya membuat Nic tak berkedip untuk beberapa detik.
"Mmh, silakan masuk"
"Terimaksih"
__ADS_1
Jesy pun hendak melangkahkan kakinya, tapi tiba-tiba...
'Klekk'
"Aaawwh"
"Hati-hati!"
Nic dengan sigap memeluk Jesy yang hampir terjatuh karena high hillsnya patah.
Nic lalu berlutut.
"Perlihatkan kakimu"
"Tidak usah Tuan Nich, Aku hanya terkilir"
Nic mengerutkan dahinya.
"Hanya terkilir? jika kau terkilir, besok kau pasti tidak bisa datang ke resepsi Mike, sahabatku dan Kenzo "
"Memang Aku di undang?"
"Tentu saja, semua karyawan Dominic Group pasti di undang"
lalu tangan halus dan dingin Nic menyentuh pergelangan kaki Jesy, membuat jantung sekretaris CEO Dominic Group itu bak kuda berlari.
'TREKK !!'
"A Awwhh, sakit sekali Tuan "
"Sssttttt! jangan berteriak seperti itu, nanti orang salah faham"
Nic tersenyum dan bangkit sambil membenahi tuxedonya.
"Bagaimana? sudah lebih baik kan?"
Jesy lalu menggerakkan kakinya.
"Sudah tidak sakit, terimakasih Tuan Nic"
"Hhmm"
Nic pun kembali menebar senyumnya yang memikat.
Kini ia duduk di sebelah Jesy, berkali-kali ia menelan liur nya karena gugup.
"Aku akan mengantarmu pulang, tolong beri tau aku arah rumahmu ya"
"Maaf sudah mereporkan Anda"
Nic hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah menempuh perjalanan selama 40 menit, sampailah di sebuah rumah yang tidak terlalu besar.
"Ini rumahku, terimakasih, maaf tidak bisa mempersilakan anda untuk mampir, karena sudah malam"
Jesy turun sambil menenteng high hillsnya yang patah itu.
"Tunggu, makananmu?"
Jesy menghentikan langkah.
"Oh iya" Jesy menepuk jidatnya sendiri.
Nic segera turun dari mobilnya.
"Biar aku bantu membawakan semua makanan itu"
"Terimakasih banyak ya, Tuan Nic. Aku benar-benar sudah merepotkan"
wajah Jesy terlihat tidak enak hati.
"Anggap ini hadiah dari pertemanan kita"
ucap Nic membuat Jesy tersenyum senang.
Ketika sampai depan pintu, Jesy memanggil seseorang.
"Jay...tolong buka kan pintu?"
"Jay? siapa Jay?"
tanya Nic dalam hatinya.
Terdengar seseorang tengah memutar kunci, dan ketika pintu terbuka betapa kagetnya Nic, ketika bocah laki-laki memeluk Jesy dengan erat sambil berteriak....
"Momy sudah pulaaang...yeeyy!!"
dan Jesy pun membalas pelukan anak itu yang ia panggil Jay.
Mata Nic membulat, dadanya terasa sesak, sesaat oksigen tidak bisa mengalir ke paru-parunya.
"Mommy? jadi anak itu, jay dan Jesy...
Oh my God! "
kaki dan tangan Nic mendadak lemas, hampir saja ia menjatuhkan semua makanan yang ia bawa.
"Mommy...ini siapa?"
__ADS_1
tanya bocah itu sambil menatap Nic. Nic hanya tersenyum kikuk.
"Ini Tuan Nic, Bos Mommy di kantor, ayo beri salam"
"Selamat malam Tuan Nic"
ucap Jay.
"Selamat malam"
jawab Nic sambil memberi senyum terbaik nya di tengah hati yang tengah shok dan campur aduk.
"Oya, ini untukmu dan Mommy mu"
Nic memberikan makanan itu pada Jay, dan anak kecil itu terlihat senang.
"Terimakasih banyak Tuan Nic"
"Sama-sama, Mmm kalau begitu, aku pamit, selamat malam"
Nic tersenyum paksa.
"Selamat malam, hati-hati "
Nic kembali tersenyum dan hanya mengangguk.
Sambil berjalan menuju mobilnya ia menggerutu dalam hati.
"Anak itu memanggil Jesy dengan sebutan Mommy?
berarti Jesy, Ohh shitt! kenapa Nic kau selalu sial dalam percintaan?
jika Kenzo dan Mike mengetahui hal ini, mereka pasti akan terbahak -bahak sampai pagi!
Tapi Aku terlanjur mengaguminya, lalu bagaimana? masa Aku mencintai isteri orang?
Ohhhh Tuhaaan...!!"
Nic pulang dengan wajah yang kusut, ia benar-benar tidak bersemangat.
Rumah besar Kenzo sudah di sulap bak istana untuk menjadi saksi dari pernikahan Mike dan Rere.
"Kenzo memang mempunyai selera yang tinggi, dekorasi ini tentu memakan biaya yang tidak seberapa baginya"
Nic lalu mengambil ponsel miliknya, ia hendak menelpon Kenzo.
'nut nut nut'
tapi tidak ada jawaban.
"Dia pasti sedang bersenang-senang dengan Bulan."
kini Nic berjalan menuju lantai 4 di rumah megah keluarga Smint itu.
Ia membanting tubuhnya di atas kursi santai yang membuatnya langsung menatap langit.
'Prokk prokk prok '
Nic menepuk tangannya.
"Ada yang kau butuhkan Tuan Nic?"
tanya seorang pelayan.
"Tentu, tolong bawakan aku wine import milikku,"
ucapnya sambil memejamkan mata, bukan karena kantuk, tapi mencoba berfikir jernih dan sesak di dadanya pun hilang.
"Baik Tuan"
pelayan itu segera menjalankan apa yang di ucapkan Nic.
'fiuhhh'
Nic menghembuskan nafas berat.
Ia kembali menggenggam ponselnya, lalu ia menelpon Mike.
'nuuuttt...'
'klikkk'
Baru saja telpon itu terhubung, tapi Nic lalu memutus panggilannya.
"Untuk apa kau ganggu mereka, mereka pasti tengah bersenang-senang dengan pasangan mereka masing-masing.
dan kau Nic? duduk di balkon ini seorang diri, dan patah hati...
sungguh menyedihkan"
mata Nic kembali terpejam, bayangan bocah yang memeluk dan memanggil Jesy dengan sebutan Mommy itu menari-nari di benaknya.
"Ohh shitt! kemana dua pria penggila wanita itu? dasar tidak punya hati, setidaknya mereka ada disini untuk mentertawakan penderitaan ku, tapi mereka malah sibuk bermandikan keringat malam-malam begini!"
Nasibnya Nic apes banget 🤣🤣🤣
Kira-kira apakah Jesy sudah punya anak?...
ikuti terus dan temukan jawabanya😘😘
__ADS_1