
Jam sudah menunjukkan pukul 20:30
Kenzo memasuki rumahnya. Terlihat di ruang tamu anggota keluarganya tengah memuji dan memanjakan Angelia yang tengah di gendong Agnes.
"Apa aku sudah melewatkan makan malam bersama kalian?"
Tanya Kenzo sambil melangkah kearah mereka.
"Belum, kami menunggumu pulang, Kenzo."
Jawab Bulan sambil mengelus Angelia.
Kenzo memberinya senyuman, tapi wajahnya seketika masam saat menyadari Agnes yang menimang sang puteri.
"Kenapa kalian membiarkan anak ingusan itu menimang anakku?!"
Protes Kenzo ambil meneteskan dan menggosok cairan pembunuh kuman di telapak tangannya.
"Memang kenapa? aku kan Auntie nya?"
Agnes cemberut membuang pandangannya dari Kenzo.
"Berikan anakku!"
Pinta Kenzo memaksa.
"Dady mu pelit sekali!"
Agnes mencium Angelia dan memberikannya pada pelukan Kenzo.
Kenzo menerimanya dengan senang hati.
"Anak Dady...
Wajahnya semakin menggemaskan, kemanapun aku pergi, Aku selalu merindukannya...
Oya, bagus jika kalian belum Dinner hari ini, karena kita akan kedatangan tamu spesial!"
Ucap Kenzo membuat mereka bertanya-tanya.
"Spesial? Kayak martabak aja..."
Ledek Agnes sambil tertawa pelan.
"Diam kau anak ingusan!"
Bentakkan Kenzo menutup rapat mulut Agnes.
"Memang siapa tamu itu sampai kau bilang spesial?"
Tanya Kakek dengan pandangan mengarah keluar.
"Iya Mommy jadi penasaran?"
Sambung Mommy yang ikut menebak siapa tamu itu.
Sedangkan Bulan terdiam dengan hati penuh prasangka.
"Spesial? Jangan-jangan wanita simpanan Kenzo?!"
"Mike, bawa tamu itu masuk!"
Mike pun datang sambil mempersilahkan seseorang untuk kedalam.
"Silahkan Nyonya."
Ucapnya sambil menundukkan kepala.
"Terimakasih."
Sahut tamu itu yang melangkah masuk dengan langkah yang anggun, pakaian ala wanita kantoran dengan potongan dan warna rambut yang sederhana tapi elegan.
Bulan membulatkan matanya yang berbinar. Berulang kali ia mengucek matanya agar ia benar-benar yakin bahwa yang ia lihat itu bukan halusinasi.
"Halo semua..."
Ucap Noni dengan sopan.
"Bulan? Aku datang dari luar negeri karena Kenzo memberi kabar bahwa kau sudah melahirkan..."
"Ibu...?"
Bulan masih tak percaya.
"Jadi, ini Ibu Bulan? Besan Mommy?"
Mommy berdiri dan menghampiri Noni, mereka bersalaman dan cipika-cipiki.
"Aku Atika, Ibu Kenzo."
Mommy memperkenalkan diri.
"Gue...
Ehh, maksudku, Aku Noni Ibunya Bulan."
Noni hampir saja lupa untuk menyesuaikan gaya bicaranya.
"Wahh masih muda sekali...
Berapa umurmu Nyonya Noni?
Oya, mari silahkan duduk."
Sapa kakek yang juga berdiri sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Acy, buatkan minuman untuk besanku ini!?"
Teriak Kakek kearah dapur.
__ADS_1
"Oya, berapa umurmu saat ini Nyonya Noni? Kau masih terlihat muda untuk menjadi seorang Nenek"
Kakek membuka pembicaraan.
"Aku, 39 Tahun..."
Jawaban Noni membuat mereka terkejut.
"39 tahun? Pantas saja terlihat masih sangat muda,
Kenzo kau dan Ibu Bulan bukan seperti mertua dan menantu, melainkan Kakak dan Adik, selisih umur kalian hanya 10 tahun."
Jelas Mommy membuat mereka tertawa, namun tidak dengan Kenzo.
"Tepatnya 'Musuh' untuk kami berdua, dan Noni si Nenek Sihir itu tidak layak menjadi mertua untukku, dia terlalu menyebalkan"
Gerutu Kenzo dalam hati.
Kenzo lalu berbisik pada Bulan.
"Aku menepati janjiku kan? Perempuan itu benar-benar Ibumu, Aku hanya sedikit mengubah penampilannya sebelum kesini"
"Iya, terimakasih Kenzo, kau sangat baik..."
Jawab Bulan setengah berbisik.
"Lalu hadiah untukku apa? Lihat kacamata yang Ibumu gunakan tadi, Aku sengaja memberikan itu untuknya sebagai ucapan maafku, kau bisa membeli 3 mobil mewah dengan kacamata keluaran terbaru dan limited edition dari Itali...
Dan kau, hanya mengucapkan terimakasih? Sangat tidak setimpal!?"
Bulan menatap Kenzo dengan perasaan bingung dan kaget mendengar betapa berharganya kacamata itu.
"Lalu aku harus memberimu apa? Aku tidak punya uang sebanyak itu untuk membelikan mu kacamata yang sama?"
Kenzo tersenyum, ada sebuah keinginan terselebung dibalik senyumannya.
"Aku tidak menginginkan kacamata itu lagi...
Ada hal lain yang sangat sangat penting dari itu!"
"Lalu apa?"
Tanya Bulan yang semakin bingung dengan maksud Kenzo.
"Berikan Angelia pada Ibumu, lalu kita bicara empat mata!"
Bulan mengangguk dengan perasaan yang gugup dan menduga-duga, hal apa kiranya yang akan di jelaskan Kenzo hingga mereka harus bicara empat mata saja.
"Ibu, ini Angelia cucu ibu."
Bulan mendekat pada Ibunya dan memberikan Angelia untuk digendongnya.
"Waahh cantik banget...gemesss deh...
Halo cantik, ini Oma... Duhh seneng banget liatnya!"
Noni menimang-nimang sang cucu.
Timpal Agnes yang ikut geregetan melihat wajah lucu Angelia.
"Enak saja! Kalau kau menggigit anakku, maka Buaya yang akan menggigitmu!"
Kenzo marah dan langsung berdiri.
"Just kidding Kenzo...!"
Mommy dan kakek geleng-geleng kepala melihat Kenzo dan Agnes yang kerap kali bertingkah seperti anak kecil.
"Tunggu aku di balkon, nanti aku menyusul."
Bulan mengangguk, ia lalu berpamitan.
"Semuanya, aku titip Angelia sebentar ya, ada hal penting yang dibicarakan dengan pria ini."
"Iyaa, kamu tenang aja, Angelia biar Ibu yang gendong..."
Sahut Noni sambil menimang Cucunya.
"Makasih Bu..."
Bulan lalu berjalan menaiki tangga menuju balkon. Kenzo akan menyusul seperti yang ia katakan.
Bulan berdiri sambil melihat pemandangan bintang yang berkerumun dilangit.
Tiba-tiba Kenzo atang dan memeluk Bulan dari belakang.
"Sayang..."
Panggil Kenzo mesra.
Bulan terkejut.
"Kenzo! Kau bikin kaget saja."
Bulan mengelus dadanya.
Tangan Kenzo semakin erat memeluk tubuh sintal Bulan.
"Jangankan bikin kaget, bikin anak lagi aku juga bisa."
Goda Kenzo sambil mencium pipi kanan Bulan.
"Dan bikin orang kesal kau pun bisa..."
Bulan terkekeh.
"Aku, tidak menyangka hidupku akan sebahagia ini...
Hidup dengan seorang wanita cerewet sepertimu dan dengan banyak anak pasti akan membuat hidupku lebih berharga..."
__ADS_1
Bulan tersenyum sambil mengelus tangan Kenzo yang melingkar di tubuhnya.
"Tadi kau bilang mau bicara empat mata dengan ku?"
"Iya, Aku sampai lupa, habisnya memelukmu seperti ini membuatku melupakan segalanya..."
Jawab Kenzo so sweet.
"Gombal, berarti kau melupakan Angelia juga?"
"Ohh tentu tidak...kalian berdua adalah belahan jiwaku...
Tunggu sebentar."
Kenzo melepaskan pelukannya, ia merogoh saku mengambil sesuatu yang sudah dia persiapkan.
Kenzo mengambil barang itu yang ternyata sebuah kotak perhiasan.
Ia membukanya di hadapan Bulan.
"Ini untukmu..."
Ucap Kenzo dengan senyum manisnya.
"Sebuah kalung?"
Tanya Bulan.
Kenzo mengangguk.
"Cantiknyaa..."
Wajah Bulan merona bahagia. Kenzo lalu mengambil salah satu kalung itu, menyibakkan rambut Bulan ke bahu dan memakaikan kalung yang terbuat dari Graff Diamond dileher Bulan.
Kalung itu begitu indah, terlihat elegan namun mewah dengan liontin berbentuk huruf 'B' yang bertabur berlian.
"Kau suka?"
Tanya Kenzo sambil memeluk kembali tubuh Bulan.
Bulan menganggukkan kepalanya dengan rasa terharu.
"Aku suka, ini benar-benar indah Kenzo, seumur hidup aku tidak pernah bermimpi memiliki perhiasan seperti ini..."
Kata-kata Bulan membuat Kenzo tersenyum bahagia.
"Syukurlah kalau kau menyukainya. Sebetulnya kalung ini sudah ku pesan waktu kau masih mengandung Angelia, Desainnya ku pesan langsung ke pengrajin emas dan berlian di Swiss...
Aku membuat dua kalung yang sama persis seperti milikmu, lihatlah!"
Bulan melihat kotak perhiasan itu yang memang masih menggeletak sebuah kalung yang sedang melingkar, persis sekali dengan kalung yang ia pakai.
"Satu lagi untuk siapa? Kenapa kau membuat dua kalung...
Jangan bilang kalau kalung itu untuk wanita lain!"
Tegas Bulan sambil cemberut.
"Ini memang untuk wanita lain selain dirimu Bulan!"
"Apa?"
Bulan membulatkan matanya.
"Jangan melotot seperti itu! Matamu sangat besar kau membuatku takut!"
Goda Kenzo sambil cekikikan.
"Kalau begitu cepat jawab, untuk siapa kalung yang satunya?!"
"Aku sudah menjawabnya tadi, untuk wanita selain kamu...
Wanita itu, Angelia..."
Kata-kata Kenzo membuat hatinya lega, tadinya dia sudah berfikir yang tidak-tidak pada Kenzo.
Tapi Bulan masih merasa heran, kenapa Kenzo bisa memesan dua kalung yang sama.
"Kenzo...
Kau bilang, kau memesan kalung ini sebelum Angelia lahir kan?"
"Betul, kenapa?"
Tanya Kenzo sambil menambah erat pelukannya.
"Selama dalam kandungan, tidak ada satu dokterpun dari berbagai Rumah Sakit yang dapat melihat jenis kelamin Angelia, ia selalu menyembunyikannya...
Lalu bagaimana kau tau kalau anak kita perempuan hingga kau memesan dua kalung ini?"
Kenzo lalu membalikkan tubuh Bulan menghadapnya.
Ia kembali memeluk Bulan hingga tubuh Bulan menempel bagai prangko di tubuhnya.
"Kau masih bingung?
Itu filling seorang Ayah... Entah kenapa saat itu aku begitu yakin untuk memesan dua kalung itu...
Dan fillingku tidak meleset kan?
Itulah hebatnya Kenzo.."
Ucapnya dengan penuh percaya diri.
Bulan tersenyum dan menahan tawa.
Bulan memegang dan memperhatikan liontin berbentuk huruf 'A' itu dengan seksama.
"Huruf 'B' itu untuk inisial Bulan ...
__ADS_1
Tetapi sekarang inisial 'A' itu untuk nama malaikat kita yang menggemaskan, Angelia..."
Bulan begitu terharu, ia meneteskan air matanya dan mendekap Kenzo dengan penuh cinta.