
Ciuman itu semakin memanas, Kenzo semakin on fire, tangannya mulai menyentuh dan mengelus mesra badan Bulan, lalu tiba-tiba pintu terbuka.
Mereka berdua terkejut dan melepas ciumannya satu sama lain. Hasrat Kenzo seketika padam.
"Kau?
Dasar anak ingusan seharusnya kau mengetuk pintu dulu! Mengganggu saja..."
Kenzo mengacak-ngacak rambutnya dan duduk di sofa.
"Agnes?"
Bulan sangat senang akan kedatangan adik ipar yang sangat baik itu.
Mereka berpelukan.
"Selamat ya Bulan, sekarang kau sudah jadi Ibu..."
"Iya sama-sama-sama..."
Jawab Bulan bahagia. Kenzo masih kesal karena kedatangan Agnes hanya mengganggunya.
"Mana keponakanku...
Melihatnya di foto saja sangat menggemaskan, bagaimana melihatnya langsung ya?"
Agnes berjalan ke box bayi Angelia, dia melihat Angelia yang tengah tertidur pulas.
"Oooouuhh lucu sekali...
Angelia, kamu sangat cantik...
Menggemaskan!!"
Agnes sangat bahagia, dia mengelus pipi lembut bayi yang baru berumur 3 hari itu.
Kenzo berdiri lalu menarik tangan Agnes.
"Cukup, cukup! Anakku baru tidur, kau jangan mengganggunya, hush hush..!"
Kenzo menyuruh Agnes keluar.
"Sombong sekali kau Kenzo! Aku jauh-jauh dari Australia bukan untuk melihatmu, tapi melihat Angelia..."
Ucap Agnes ngotot.
"Tapi jangan di colek-colek terus pipinya, Kau baru datang dari Bandara, tanganmu pasti ada kumannya!"
Bentak Kenzo.
"Kau fikir tanganmu tidak berkuman?!"
Jesica tdk mau kalah.
Kenzo lalu menutup mata Agnes dengan tangannya.
"Lihat lihat!
Apa kau melihat kuman ditanganku?!"
Agnes lalu menghempaskan tangan Kenzo.
"Kalau seperti itu caranya bagaimana bisa melihat kuman!!"
Agnes sangat kesal.
"Kau buta ya? Sekarang disetiap sudut rumahku terdapat Hand Sinitizer, agar tangan-tangan di rumah ini tidak seenaknya menyentuh anakku!"
'Oooa oooa oooa!'
Angelia menangis, Bulan lalu menggendongnya.
"Hentikan pertengkaran kalian, kalian ini seperti anak kecil, lihat Angelia jadi bangun karena kalian berisik sekali..."
Tangisan Angelia membuat kakek dan Mommy berdatangan.
"Kenapa cucuku...?"
Mommy menghentikan kata-katanya ketika melihat perempuan yang beranjak dewasa berada di depannya.
"Agnes...?"
Panggil sang Ibu dengan air mata yang sudah mengalir deras.
__ADS_1
Mommy lalu memeluknya erat.
Agnes masih menduga-duga siapa perempuan ini, karena waktu Ibunya pergi Agnes terlalu kecil untuk mengingat wajah Ibunya.
"Ini Mommy sayang...Ibumu.."
Dia tidak percaya wanita yang memeluknya itu Ibunya.
"Mommy...Mommy!
I miss you so much!"
Suasana menjadi haru biru, karena keluarga Sminth bisa berkumpul kembali.
Mereka saling melepas rindu, tangis haru dan bahagia mengiringi pertemuan Atika dan puteri bungsunya selama 19 tahun.
"Aku kangen Mommy...
Setiap malam Aku selalu berdo'a agar Mommy datang dan memelukku..."
"Mommy pun sangat merindukan kalian,
Maafkan Mommy, Mommy tidak punya apa-apa selepas meninggalnya suami Mommy, Mommy hanya bekerja di kebun milik orang lain, jadi Mommy tidak mampu membeli tiket pesawat ke Australia untuk bertemu kalian...
Setiap hari batin Mommy tersiksa...
Mommy sangat rindu dengan kalian berdua...
Kini kau sudah tumbuh dewasa, kau sangat cantik..!"
Mommy menciumi pipi kanan dan kiri Agnes.
Agnes menatap Kenzo yang sedang menyeka tetesan air matanya.
Ia lalu menubruk dan memeluk sang Kakak sambil menangis.
Terimakasih Kenzo! Terimakasih..
Kau membawa Mommy ke rumah ini...
Inilah Kakakku Kenzo!"
Agnes sangat bahagia sampai ia mencium pipi Kenzo berkali-kali.
Kau selalu marah jika aku berkata buruk tentang Mommy, karena yang ku katakan memang keliru,
Mommy bukanlah seperti yang ku fikirkan, ia..ia..."
Kenzo tak sanggup berkata-kata lagi. Mommy lalu memeluk kedua anaknya yang sangat ia sayangi dan rindukan.
Mereka bertiga menangis dan saling memeluk erat.
"Terimakasih Tuhan, kau mempertemukan kami kembali..."
Ibu Kenzo mengucap syukur, mereka bertiga sukses membuat Kakek dan Bulan terharu sampai-sampai menitikkan air mata.
Melihat Kenzo dan Agnes bahagia dalam pelukan Ibunya, Bulan jadi sedih, dia mengingat sang Ibu yang tengah mendekam di penjara atas tuduhan kasus percobaan pembunuhan terhadap Kenzo.
Bulan menatap bayi cantiknya sambil menelan kesedihan.
"Kakek dan nenek begitu bahagia atas kelahiran mu Nak,
Tapi Nenekmu yang satunya belum melihat wajah lucumu itu, kini dia sedang di hukum karena kejahatannya...
Tapi Ibu ingin sekali ia bisa berkumpul disini dan tertawa bersama..."
Ucap Arumi dalam hati.
Kini hanya Kenzo dan Bulan yang berada di kamar Angelia.
Mommy, kakek dan Agnes melanjutkan temu kangennya di ruang keluarga.
Kenzo mendekat pada Bulan yang sedang menatap wajah mungil Angelia yang sedang terlelap.
"Angelia sangat cantik, kau mewarisi kecantikanmu padanya"
Bulan menoleh kearah Kenzo. Kenzo lalu mencium kening Bulan.
"Jangan mencoba menyembunyikan sesuatu dariku, kau bukan tipe wanita yang pandai berbohong."
Kenzo membelai rambut Bulan dan duduk disebelahnya.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
Tanya Bulan sambil mengusap pipinya yang terkena tetesan air mata.
"Apa yang membuatmu sedih? Katakanlah, apa yang Kau inginkan? Seorang Kenzo pasti mudah mengabulkan permintaan istrinya..."
Kenzo tersenyum, tetapi Bulan masih diam tak menjawab.
"Kenapa kau diam?"
"Apa ...kau tidak bahagia menjadi Istriku?
Kalau permintaanmu adalah ingin lepas dariku, Aku tidak bisa mengabulkannya Bulan, Aku bahagia berkumpul dengan bidadari- bidadari seperti kalian...
Kau, Agnes, Mommy dan kakek..
Kalian bidadari dan malaikat yang sangat Aku cintai,
Dan hidupku semakin sempurna ketika kau melahirkan Angelia,
Tolong jangan hancurkan aku dengan meninggalkanku pergi,"
Kenzo menggenggam dan mencium tangan Bulan dengan mata sipitnya yang mulai berkaca-kaca.
"Tidak terbesit di fikiranku untuk meninggalkanmu Kenzo, apa lagi setelah ada anak yang cantik ini di antara kita...
Aku sedih karena..."
Bulan tidak melanjutkan perkataannya.
Kenzo semakin tegang, posisi duduknya semakin memepet Bulan.
"Lalu karena apa Bulan, katakanlah?! Aku tidak sanggup melihatmu murung seperti ini!?"
Bulan menatap Kenzo sambil terisak.
"Aku...aku merindukan Ibuku...
Aku tau, Ibuku jahat padamu,
Tapi melihat Angelia di timang oleh Mommy, aku pun jadi menginginkan Ibuku ada disini...
Melihat cucunya yang cantik ini." Bulan terisak,
Bagaimanapun Ibuku adalah Neneknya..."
Kenzo terdiam memikirkan apa yang diinginkan Bulan.
Bulan lalu berlutut di hadapan Kenzo.
"Aku mohon, cabut laporanmu Kenzo, biarkan Ibuku bebas...
Aku janji dia tidak akan berbuat hal seperti itu lagi padamu..."
Kenzo masih belum bisa menjawab, karena sebenarnya Ibu Bulan di penjara semata-mata ulah Kenzo, membuat jebakan dengan begitu apik dan benar-benar matang.
Kenzo keluar dari lamunannya.
Ia menatap Bulan dan memeluknya.
"Kau tidak perlu berlutut padaku jika menginginkan sesuatu,
Kau Istriku, apapun yang Kau minta jika itu baik, Aku akan mengabulkannya!"
Mata Bulan yang besar berbinar.
"Jadi, Kau akan mencabut laporanmu dan membebaskan Ibuku?"
Kenzo mengangguk.
"Semua akan ku urus bersama pengacaraku secepat mungkin...
Apa kau bahagia?"
Hati Bulan begitu tersentuh atas kebijaksanaan Kenzo, ia lalu memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri suaminya.
"Terimakasih, terimakasih Kenzo.
Aku benar-benar bahagia...!"
Kenzo bernafas lega melihat wajah cantik Bulan kembali mengukir senyuman.
Ia membalas pelukan Bulan sambil membelai rambutnya.
"I love you more, my wife..."
__ADS_1
Kecupan mesra lagi-lagi mendarat di kening Bulan.