Terpaksa Menikahi CEO Kejam

Terpaksa Menikahi CEO Kejam
Cara Menaklukan Bulan


__ADS_3

"Apa yang harus aku lakukan...?!


Brengsek kalian Nic, Mike!"


Kenzo mencari cara yang tepat untuk meredam amarah Bulan.


"Angelia! Angelia pasti bisa membantuku!"


Kenzo lalu mencari puteri kecilnya untuk membantu ia membujuk Bulan yang tengah marah.


"Angelia..?!


My angel... Where are you?"


Ia memanggil-manggil sang puteri ke segala penjuru ruangan.


"Nona Angelia tengah bermain di taman bermainnya, Tuan Kenzo..."


Jelas salah satu pelayan di rumahnya.


"Ohh, baiklah..."


Kenzo bergegas menemui puterinya. Nampak Angelia tengah begitu asyik bermain kesana-kemari di taman bermain yang di khususkan untuknya.


"Dady!"


Teriak Angelia berlari menubruk sang Ayah.


"Tuan..."


Para pengasuh Angelia memberi hormat.


"Angelia... My baby!


Dady mencari-cari kamu, ternyata kau disini rupanya?"


Kenzo lalu menggendong Angelia.


"Ayo ikut Dady!?"


"Kemana Dad?"


Tanya Angelia sambil menarik-narik hidung sang Dady.


"Sini, Dady beri tau dulu"


Kenzo membisikkan sesuatu kepada Angelia, anak kecil polos itu manggut-manggut, namun entah mengerti atau tidak.


"Bagaimana?


Bisa kan?


Nanti Dady belikan Angelia Ice cream yang baaanyak sekali...


Ok?"


"Ok Dady!


Angelia begitu senang dengan iming-iming yang diberikan Kenzo, hingga ia terus mencium Ayahnya.


"Kalau begitu, ayo kita temui Ibumu...!


"Lets go!"


Sahut Angelia bersemangat.


Kenzo pun lalu menggendong Angelia pergi ke kamarnya. Sepanjang jalan Kenzo terus memberi pengarahan pada Angelia, dan Angelia pun terus menganggukkan kepalanya.


"Ingat?! Ice Cream yang baaanyaak sekali untuk malaikat kecil Dady!?"


"Ok Dady!"


Jawab Angelia polos.


Ketika sampai di depan pintu kamar, Angelia mulai mengikuti intruksi sang Ayah.


"Ready? Go!"


Bisik Kenzo pada Angelia yang masih di gendongnya.


"Huhu...huuhuu..huhu...


Ibu...!"


Hiks hiks...Ibu...!"


Rupanya Angelia disuruh akting oleh Kenzo.


"Ayo lebih keras lagi menangisnya!?"


Bisik Kenzo pada puterinya.


"Ok Dady!"


Jawab Angelia pelan.


"Ibu...huuhuuu...Ibu...!


Hiks hiks...!!"


Angelia ternyata pandai sekali berakting, air matanya sampai bercucuran.


"Angelia...?


Angelia menangis?!"


Bulan segera membuka pintu kamarnya yang dikunci rapat.


"Angelia...Sayangnya Ibu..!


Kenapa Nak..!?"


Bulan mengambil Angelia dari gendongan Kenzo.


"Hahaha...


Sudah ku duga, Bulan pasti mengunci rapat pintu itu, untung Angelia bisa ku ajak kerja sama, hingga Aku tidak harus berteriak dan memohon untuk di bukakan pintu..hehe!!"


Gumam Kenzo dalam hati.


"Kenapa sayang?"


Bulan mengusap rambut Angelia yang tengah menangis.


Matanya lalu menatap tajam pada Kenzo.


"Ke..kenapa menatapku seperti itu? Bikin takut saja..!"


Jawab Kenzo gugup.


"Kau apakan Angelia!? Apa kau memarahinya?"


Tanya Bulan ketus.


"Aku? Memarahi Angelia, imposible!


Aku lebih menyayanginya biarpun kau yang melahirkan..!?


Coba kau tanya sendiri kenapa Angelia menangis..!?"


Kenzo melirik Angelia sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Hiks..hiks...


Ibu..!"


"Iya sayang..?


Kenapa Nak? Kenapa kamu menangis seperti ini..?

__ADS_1


Kamu tidak biasanya tiba-tiba menangis?"


"Aku sedih Bu...


Dady menyuruh Aku bohong...


Padahal Ibu bilang kalau kita tidak boleh berbohong kan?


Itu perbuatan yang tidak terpuji..."


'GUBRAAAKKKK'


Kenzo serasa mau pingsan.


"Tamatlah riwayatku!


Angelia...


Dady kira kau akan menjalankan misi Dady tadi...


Dady gak menyuruhmu berbohong, kau cuma harus bilang pada Ibumu kalau kau sedih dan menangis minta 'ADIK'...


Aaahhhhh...


Kau ini...


Hhhh....Angelia memang benar, anak kecil yang polos tidak bisa di ajak kompromi walau di imingi sesuatu...


Lalu nasibku...?!"


Gumam Kenzo dalam hati. Perlahan ia membuka sebelah matanya dan memberanikan diri untuk menatap Bulan yang tengah meradang.


"Kau?


Keterlaluan!!


Masa anak kecil kamu suruh berbohong, Kenzo?!


Bukannya mengajarkan hal positif kau malah...?


"Sa...sayang...


Bukan maksudku begitu...


Aku..Aku...


Aku hanya menyuruh Angelia untuk minta adik padamu..."


Kenzo membela diri.


"Kau bohong!


Tidak mungkin Angelia sampai menangis begitu keras..?


Aku tidak percaya padamu!


Hhhhhh..!"


"Ibu...Ibu jangan memarahi Dady, Dady tidak berbohong kok...


Dady menyuruh Aku untuk bilang sama Ibu, kalau Aku ingin adik...


Tapi Aku tidak mau bohong...


Aku jadi menangis..


Hiks hiks.."


Jelas Angelia sambil sesegukkan, namun membuat Bulan dan Kenzo saling bertatapan tak mengerti.


"Maksudmu apa, Nak?


Ibu tidak mengerti?"


"Aku tidak mau punya adik!


Angelia tidak mau punya Adik...


Nanti Dady sama Ibu tidak sayang Aku lagi...


Hhuwwwaaa...!"


Angelia kembali menangis. Membuat Kenzo menepak jidatnya sendiri.


Nic dan Mike berlomba menaiki tangga menuju lantai dua, tangisan Angelia terdengar hingga ke penjuru rumah.


"Ada apa?


Apa yang terjadi?"


Tanya Mike bersiap untuk menarik pistol yang ia sembunyikan sambil melirik ke seluruh ruangan.


Nic pun demikian, dia sudah memasang kuda-kuda bersiap mengeluarkan jurus karatenya.


"Hey apa yang kalian lakukan?


Kau ingin menyerangku?"


Bentak Kenzo membuat Mike dan Nic kembali pada ekspresi biasa.


"Kalian sepertinya baik-baik saja, Lalu...kenapa Angelia menangis seperti itu?


Kami fikir ada sesuatu yang berbahaya.


Tambah Nic sambil menghela nafas lega.


"Uncle...!"


Angelia meronta dan merosot dari gendongan Bulan. Ibunya pun melepaskannya dan dengan cepat Angelia berlari memeluk Mike dan Nic.


"Oohh sayangku...!"


Nic yang meraih tubuh mungil itu dalam dekapannya.


"Kau membuat kami khawatir, apa ada yang terluka?"


Tanya Mike sambil mengelus bocah cantik itu.


"Tidak..."


Sahut Angelia menggemaskan.


Nic lalu menatap Bulan.


"Lalu sebenarnya apa yang terjadi?"


Bulan melirik sinis ke arah Kenzo.


"Kalian tanya saja sama orang menyebalkan di sampingku ini...!


Hhhhh..!"


Bulan kembali masuk kedalam kamar, Kenzo dengan sekuat tenaga menahan pintu kamarnya agar tak tertutup.


"Aaaarrrhhh...


Bulan tunggu...


Kalau seperti ini terus tidak akan selesai,


I'm so sorry...!"


Ucap Kenzo sambil mengerahkan seluruh tenaganya menahan pintu itu agar tetap terbuka.


"Hhmm....


Aku mengerti...


Mike, apa kau berfikir hal yang sama denganku..?"

__ADS_1


Tanya Nic sambil tersenyum licik.


"Tentu saja Nic...


Lebih baik kita hibur litle princes kita dibanding melihat mereka sedang bermain pintu, membosankan!"


Mike dan Nic meninggalkan Kenzo yang sedang berjuang membujuk Bulan. Mereka masih membiarkan Kenzo kewalahan untuk mencari cara membuat Bulan tidak salah faham.


Kenzo berhasil masuk dengan paksa kedalam kamarnya.


Kini ia yang mengunci pintu itu rapat-rapat.


"Ini kamarku! Kenapa Aku begitu sulit untuk masuk ke kamarku sendiri?!"


"Kalau begitu Aku yang keluar dari sini!"


Bulan hendak melangkahkan kakinya namun Kenzo dengan sigap menarik tangan Bulan hingga jatuh dalam pelukannya.


"Tetaplah disini sayang...


Jangan tinggalkan Aku...


Maaf jika membuatmu marah, tapi sungguh, Aku tidak ingin mencari siapapun di kota ini...


Aku tidak mau mengingat masa lalu ku yang kelam,


Aku hanya ingin menatap masa depanku bersamamu dan malaikat kecil kita.


Percayalah padaku.


Aku tidak tau lagi harus berkata apa..."


Jelas Kenzo dengan nada sendu, namun belaian tangannya mempunyai motif tertentu.


Bulan masih membisu, ia masih enggan menatap wajah tampan suaminya.


Kenzo lalu menarik dagu Bulan agar menghadap wajahnya.


"Kau sangat membenciku, Bulan?"


Bulan masih belum menjawab, namun kini ia menatap mata Kenzo yang sipit namun tajam itu.


Tangan Kenzo yang melingkar di pinggang Bulan perlahan naik ke atas punggung Bulan dengan perlahan, membuat bulu roma Bulan berdiri.


Bibir Kenzo mulai mendekati wajah Bulan, hingga hembusan nafasnya mulai terasa.


Tapi Bulan berhasil menguasai dirinya hingga ia tak terhanyut dengan situasi yang di ciptakan Kenzo.


"Tunggu!


Jangan coba merayuku,


Lepaskan..!"


"Silahkan, kalau kau bisa?!"


Kenzo tersenyum licik pada Bulan.


"Aku pasti bisa!"


Sahut Bulan kesal.


"Coba saja, jangan banyak bicara, biasanya belum pernah ada wanita yang lepas dari dekapan Kenzo sekalipun dia sedang marah..."


Jelas Kenzo yang semakin membuat Bulan geram.


"Hhhhhh!"


Bulan mencoba menarik, memukul dan mencubit tangan kekar Kenzo yang mengurung dirinya, bahkan ia berteriak-teriak agar Kenzo melepaskannya. Namun Kenzo tidak menggubrisnya sama sekali.


"Aaarrrhhh...lepaskan!"


"Tidak mau,


Aku ingin memeluk tubuh istriku yang bahenol ini..."


Jawab Kenzo sambil mencium pipi Bulan.


"Tapi aku tidak mau kau peluk!"


Pekik Bulan dengan mata membulat.


"Sayangnya aku tidak peduli..."


"Kau menyebalkan...!"


"Apa?"


"Menyebalkaan...menyebalkan..menyebalkaaaaannn...!"


"Hhmm, akan ku beri tau seperti apa yang lebih menyebalkan..!!"


Kenzo semakin mendekap Bulan dengan kuat. Dia mencecar leher Bulan dengan begitu bringas.


"Lepas, Kenzo...!


Hentikan...!


Dasar zombi...!


Kenzo...


Sshhh...


Kau? Kau benar-benar..."


Kenzo yang begitu pandai menaklukan wanita, membuat Bulan kalah mempertahankan egonya hari ini.


******


Pakaian mereka berserakan dilantai.


Kenzo duduk menatap Bulan dengan senyum kemenangan.


"Kau tidak akan sanggup mengacuhkan ku walau sehari..."


Bulan merasa malu, ia lalu menarik selimut menutupi wajahnya.


"Tadi Aku sangat mendengar nada kebencianmu padaku...?


Nadanya terdengar seperti...


Ooohhh...Kenzo....


Kenzo...terus...


Hahaha!


Saking bencinya dan menyebalkan nya aku, kau sampai meremas sprei ku sampai kusut begini!


Meremas rambutku, Lenganku?


Hhhhh...kau benar-benar membenciku?"


Kenzo menyindir Bulan hingga Bulan benar-benar merasa malu, wajahnya memerah dalam persembunyiannya.


"Hhhhuuuhhhfff...


Kenzo begitu licik!


Kalau aku diperlakukan seperti itu mana bisa tahan coba?


Hhuuhfff...


Dia terus menyindirku lagi!


Maluuuu kan...


Gak bisa apa, mulutnya tidak ember?!

__ADS_1


__ADS_2