Terpaksa Menikahi CEO Kejam

Terpaksa Menikahi CEO Kejam
Orang Kaya Bebas


__ADS_3

Kenzo yang begitu frustasi membawa mobilnya melaju begitu cepat. Sampai-sampai para pengendara lain mengumpatnya karena cara dia menyetir sangat membahayakan.


Pandangan Kenzo masih ke arah depan jalan. Bayang-bayang ketika Duke menyentuh paha dan menatap Bulan berlalu lalang di dalam benaknya, membuat Kenzo semakin memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


'Brragghh braagh!'


Ia memukul stir mobilnya sekuat tenaga.


Bulan...!"


Teriak Kenzo melepas semua sesak yang memenuhi dadanya.


Ia lalu membuka kancing kemeja dan mengendurkan dasinya.


Wajahnya begitu kusut, ada rasa kecewa yang begitu besar dalam dirinya ketika melihat Bulan menangis.


Ia lalu mengacak-acak rambut hitamnya hingga berantakan.


"Maafkan Aku!


Tapi apa Aku bersalah Bulan?!


Aaaaarrrgghhhh!


Kau...kau membuat otakku terasa mau pecah.


Seharusnya kau membiarkan Aku menghabisi laki-laki brengsek itu!"


Sambil terus mengeluarkan amarahnya , Kenzo tanpa sengaja berhenti di sebuah tempat.


"El Marin"


Kenzo membaca sebuah nama di atas gedung setinggi lima lantai di tepi jalan.


"Apa ini sebuah club malam?"


tanpa berfikir panjang Kenzo segera turun dari mobilnya.


"Sudah empat tahun Aku tidak menginjakkan kakiku ketempat semacam ini...


Kepalaku sakit, terlalu banyak beban yang mendera hati dan fikiranku...


Aku butuh minuman yang mampu melarutkan semua beban itu dari benakku.


Aku harus segera masuk kedalam!"


Kenzo melangkah begitu yakin kedalam club malam itu. Hingar bingar suara musik dan tawa para pengunjung baik laki-laki atau perempuan, tua atau muda memenuhi ruangan dengan lampu yang redup itu.


Kenzo berjalan sambil menyisir rambut dengan jemarinya. Duduk di sofa yang begitu besar dan panjang seorang diri. Ia melebarkan tangannya ke atas sofa dan menyandarkan kepalanya yang terasa berat.


Suasana yang minim cahaya tidak menyorot jelas wajah terkenalnya itu, sampai seorang waiters menghampirinya.


"Mau pesan minuman apa Tuan?"


Kenzo hanya sedikit membuka matanya yang terpejam. Nampak sepasang kaki yang berdiri tepat dihadapannya dengan rok mini.


Tapi Kenzo blum menginginkan apapun, ia justru mengusir waiters itu dari hadapannya.


"Aku belum menginginkan apapun, pergi dari hadapanku.


Lagi pula, di club seperti ini apa kalian mempunyai sebotol Diva Vodka kesukaanku?"


"Siapa kau bisa menyebutkan minuman super branded itu disini? memang kau seberapa kayanya kah?!"


Seorang wanita paruh baya datang menghampiri Kenzo smbil menghisap asap rokoknya.


'Puuuhhh'


Asap mengepul ke udara.


Kenzo hanya tersenyum sinis merasa di remehkan. Ia malah sengaja menaikkan kedua kakinya ke atas meja.


Mata wanita sang pemilik Club 'EL MARIN' itu terbelalak.


Siapa kiranya orang ini dengan begitu angkuhnya?


"Hey, turunkan kakimu itu Tuan sok kaya! Debu dari sepatumu akan mengotori mejaku! Hhhhh!"

__ADS_1


Umpat wanita itu sambil tolak pinggang. Kenzo masih terdiam tak mengucapkan sepatah katapun. Sampai sorotan lampu disko yang berputar menerangi wajah Kenzo walau sekilas, cukup membuat orang di hadapannya melihat jelas raut wajah dingin yang tengah duduk dengan begitu sombongnya.


Mata wanita itu membulat, ia cukup kaget ketika menangkap gambaran wajah yang baru saja di lihatnya.


Dengan kaki gemetar ia berjalan lebih dekat pada Kenzo dan duduk disampingnya sambil menangkupkan tangan.


"Maaf...


Maafkan Aku Tuan Sminth!


Wanita itu sampai memejamkan matanya saking takut berhadapan dengan sosok yang tengah fenomenal itu. Saat ini Kenzo bagaikan pangeran yang telah lama hilang dan kembali lagi, tentu kehadirannya menggemparkan masyarakat dengan sorotan dari banyak media.


"Kau tau siapa Aku?"


Tanya Kenzo sambil merapikan tuxedonya.


"Si..siapa yamg tidak mengenal anda Tuan?!Anda Tuan Kenzo pewaris dari kerajaan bisnis SIC yang terkenal itu..."


Jawab wanita itu dengan gugup.


"Baguslah jika kau mengenalku,


Jadi kau tau debu sepatuku lebih berharga dari meja buntutmu ini!"


'Braaakkk!!'


Kenzo menendang meja dihadapannya hingga terbanting.


Membuat para pengunjung itu kaget bukan main.


Wanita itu semakin gemetaran, merasa begitu menyesal dengan kata-katanya yang tadi ia lontarkan pada Kenzo.


"Ampun Tuan...


Maafkan Aku!"


Kenzo lalu bangkit berdiri, menatap wajah para pengunjung dengan sorot matanya yang tajam.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu!?


Kalian sudah bosan hidup!?"


'Fiuuuhhhh'


Kenzo menghela nafas. Ia lalu kembali duduk sambil menopang kepalanya yang terasa berat.


"Aku akan membayar untuk barang yang sudah ku hancurkan sepuluh kali lipat.


Jika kau setuju, izinkan Aku menghancurkan semua barang yang ada disini sebagai peredam amarahku.


Bagaimana Nyonya?"


"Si..silahkan Tuan!"


Wanita paruh baya itu lalu lari menghindar dari Kenzo.


Sebenarnya dia sedikit bingung, untuk apa Kenzo rela mengeluarkan uang untuk barang yang sengaja ia hancurkan? Tapi baginya persetan dengan maksud Kenzo, yang terpenting ganti rugi dari semua barang- barang itu sepuluh kali lipat.


Kenzo membuka Tuxedonya. Kancing kemejanya ia buka sampai kancing ke tiga, hingga nampaklah dada bidangnya. Begitu pula kancing pada lengan bajunya, ia tarik sampai batas lengan atasnya, hingga nampaklah lekukan otot kekar pada kedua tangannya.


"Aku harus pulang dengan hati dan kepala yang sudah dingin...!"


Lalu Kenzo kembali membayangkan bagaimana sikap Duke yang sudah memicu bangkitnya murka seorang bajingan yang kini di tuntut untuk menjadi panutan khalayak luas.


"Aku tidak bisa menyalurkan amarahku semudah dulu...!


Aku pulang harus dengan hati dan kepala yang dingin.


Aku tidak mau membuat Bulan sedih dan ketakutan melihatku.


Dan... Its Show begin!"


'DEEESSHH...


'BRRAAKKK'


'GUBBRRAAKK...

__ADS_1


'PRAANGG...!!'


Kenzo begitu bernafsu menghancurkan apa saja yang ada dihadapannya dengan pukulan dan tendangan.


"Aaaaarrrgghhhh...!


Aku akan menghabisimu Ajay!


Karena kau lah Aku tidak bisa menahan emosiku di hadapan Bulan...!


Mati kau Ajay!


Hhyyyiiaaa...!"


Meja, kursi, Rak yang menjadi tempat penyimpanan berbagai miras bermerek hancur menjadi sasaran amukan Kenzo.


Semuanya sudah porak poranda, wanita itu bersembunyi dari balik dinding melihat bringasnya Kenzo meluapkan amarahnya.


Ia yang kelelahan lalu bersandar pada dinding dengan keringat yang bercucuran.


"Lega rasanya.


Tapi Aku lebih lega jika wajah dan tubuh Ajay yang hancur berkeping-keping seperti semua barang ini!


Hhhhh..."


Kenzo lalu merogoh sakunya. Ia hendak menelpon Mike yang ternyata sudah lebih dari dua puluh kali menelponnya.


Kini Kenzo yang balik menelpon Mike


'Nuut nuut nuut..'


Tidak lama Mike mengangkat telpon dari Bosnya itu.


"Bos, Kau dimana?


Apa kau baik-baik sja?"


Tanya Mike khawatir.


"Aku lebih baik saat ini Mike, Amarahku sudah lenyap. Aku ingin segera menemui istriku."


"Lenyap?


Siapa yang menjadi sasaran pelampiasan mu?


"Barang yang berada di Club El Marin, Aku sudah menghancurkan semua barang disini agar amarahku sirna..!"


"Share loc padaku Bos, Aku akan menyusulmu bersama anak buahk!


"Ok!


Jangan lupa bawa uang sebanyak lima puluh juta Peso! Jangan banyak bertanya, lekas datang kemari..!"


"Baik Bos!"


Kenzo menutup telponnya.


Dalam waktu kurang lebih 30 menit, Mike beserta anak buahnya datang ke lokasi sesuai dengan share loc yang


Kenzo berikan.


"Sebuah Club?


Apa Kenzo habis menikmati malamnya dengan wanita malam disini?"


Tapi itu tidak mungkin! Aku tau betapa ia mencintai Bulan."


Ketika Mike hendak membuka pintu Club yang sudah sepi itu, datanglah Kenzo dengan wajah yang lebih tenang.


"Ini dia uang sebanyak lima puluh juta Peso!"


Mike menunjukkan koper yang berisi uang, bukan daun!


"Lemparkan saja uang itu kedalam! Nanti juga Jin yang tengah bersembunyi itu keluar sendirinya.


Bagaimana Bulan? Apa dia masih menangis?

__ADS_1


Aaaahhh dari tadi Aku merasa berdosa padanya, Aku ingin segera datang memeluk dan meminta maaf padanya."


__ADS_2