
"Kenapa Angelia menangis? Apa kau memarahinya?
"Aku? Imposible! Memarahi Angelia adalah perbuatan yang sangat Aku hindari, Aku menyayangi Angelia lebih dari sayangnya kau pada diriku...
Dia menangis karena, ingin ikut dengan kami untuk mencari, Mmhh maksudku menjemput Mike..."
"Biarkan saja, do'a anak yang masih suci seperti Angelia akan kita butuhkan, Kenzo..."
Sambung Nic seraya membela Angelia hingga ia berpaling dari Kenzo dan lebih memilih di pangku Nic.
"Uncle Nic baik! Dady pelit!"
Angelia merangkul leher Nic dengan manja.
"Baiklaahh, kalau begitu kenapa kau tidak bermain dengan Uncle Nic saja? Bagaimana?"
Kenzo memberi saran pada Puterinya, dan Angelia pun setuju.
"Ok bos! Uncle Mike , lets play..!"
"Ok... Come on!"
Nic menggendong tubuh mungil Angelia layaknya sebuah pesawat terbang.
Bulan hanya geleng-geleng kepala karena tingkah Angelia.
"Ekhemm!"
Kenzo berdehem membuat Bulan menoleh kearah Kenzo.
"Batuk?"
Tanya Bulan.
"Aku ingin berduaan denganmu, dikamar kita...Ayolah, terlalu fokus memikirkan Mike membuatku lupa akan..."
Kenzo bangkit berdiri lalu ia menggendong Bulan.
"Kenzo...!"
"Yes sweety"
Sahut Kenzo datar.
"Ini masih pagi!"
"Aku tau! Justru Aku ingin berolah raga, bersamamu...
Ciumannya mendarat di leher Bulan kanan kiri, atas dan bawah semua tak luput dari kecupan Kenzo. Perlahan tapi pasti ia membuka kancing baju Bulan dengan semangat.
Kenzo menatap dua buah gundukan milik Bulan yang selalu membuat Kenzo bergairah. Tangan nakalnya mulai memainkan dua buah berharga yang di miliki istrinya itu. Pagutan bibirnya ia lepaskan demi hasratnya yang ingin memagut hal yang lainnya secara bergantian.
Mata Bulan terpejam, ******* mulai keluar dari mulutnya. Ekspresi seperti itu lah yang semakin membuat Kenzo bergairah.
"Kerja kerasku harus membuahkan hasil kali ini Bulan, Aku tidak mau hanya berbuah kenikmatan dan tetesan keringat saja.
Aku ingin seorang anak, Aku ingin anak yang banyak yang lahir dari rahimmu, perempuan penggoda!"
Gumam Kenzo dalam hati sambil meneruskan Aksinya.
Keberangkatan mereka sore itu sudah di persiapkan dengan matang oleh Nic dan Anak buah Mike menuju Mimaropa, dimana keyakinan dan harapan selamatnya satu jendral penting dalam kerajaan bisnis Sminth tertuju pada tempat itu.
Mike yang mulai bisa melangkah walau terbata-bata, sudah bisa keluar rumah dan sedikit berjalan tidak jauh dari rumah Rere.
Wanita itu benar-benar kagum pada sosok Mike yang bak pangeran di matanya.
"Mike, jangan terlalu lama diuar, kondisimu baru saja mengalami peningkatan."
"Aku harus ke kota! Aku harus memberi kabar pada Bosku bahwa Aku masih hidup...!"
Seketika hati Rere merasa hancur ketika mendengar Mike ingin ke kota dan pasti meninggalkannya.
"Lalu...jika kau telah kembali, apa kau tidak akan menginjakkan kaki disini lagi?"
Tanya Rere dengan nada sedih.
__ADS_1
"Untuk apa? Tempat ini begitu primitiv dan membosankan. Aku ingin segera menelpon mereka!"
Deg...
Kata-kata Mike berhasil menggores luka di hati Rere. Mike yang tidak peka atau pura-pura tak tau atas segala perhatian Rere terhadapnya itu bentuk sebuah cinta.
"Primitif? Apa menurutmu tempat ini begitu buruk?"
Tanya Rere sambil menaruh secangkir teh di samping Mike yang tengah duduk menatap senja.
Mike menoleh kearah cangkir itu dan menatap Rere.
"Tempat ini tidak buruk, tapi suasana hatiku yang buruk. Setiap detik Aku selalu memikirkan orang-orang yang kini pasti menungguku. Seminggu disini terasa satu tahun bagiku, lagi pula Aku tidak mau terlalu banyak merepotkan mu dan berhutang budi padamu..."
Terang Mike yang kembali membuang tatapannya jauh ke ujung laut.
"Aku tidak merasa di repotkan olehmu, Aku ikhlas dan Aku senang jika kau lebih lama disini?"
Rere mencoba menyentuh bahu Mike, tapi Mike menoleh kearahnya dan menyingkirkan tangan yang halus itu.
"Tapi Aku tidak senang. Ini bukan duniaku, Aku mengemban tugas yang berat dan Aku begitu penting bagi orang yang sangat penting,
Bukan berleha-leha dan dimanjakan olehmu."
Jelas Mike tanpa menatap Rere.
"Tapi Aku tulus melakukannya, Mike...?"
Mata yang sayu itu menatap pria berwajah tegas yang juga perlahan menatap matanya.
Tanya Mike dengan berjuta makna yang tersaring di benaknya.
"Baru kali ini ada seorang wanita yang mengucapkan kata tulus namun tidak mengharapkan imbalan apapun!?
Wanita diluar sana hanya bermanja ketika Aku mengeluarkan banyak uang, tapi Rere yang hidupnya serba pas-pasan, rela merawat dengan keadaanku yang menyusahkan ini dengan kata 'Tulus'?
Apa yang di lontarkan wanita itu benar adanya?"
Gumam Mike dalam hati.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Tanya Rere sedikit takut.
"Aku menatap sebuah ketulusan dimatamu"
Jawab Mike membuat hati Rere berbunga-bunga.
"Benarkah kau sehebat itu?"
Tanya Rere.
"Kau meragukan kemampuanku? Aku pandai membaca karakter seseorang hanya sekali tatap saja, dan kau..."
Mike menghentikan kata-katanya ketika angin menghembuskan rambut panjang Rere yang berwarna ke coklatan berhamburan menutupi wajahnya. Refleks, tanpa di sadari atau tidak, tangan Mike menyingkirkan helai demi helai rambut yang menutupi paras cantik Rere. Perlakuan Mike membuat Rere tersanjung dan semakin jatuh hati. Ketika Rere perlahan menyentuh tangan Mike, ia justru menghentikan apa yang ia lakukan pada Rere, lagi-lagi Mike berpaling membuang tatapannya ke arah lain.
"Kalau memang hebat, bisakah kau membaca hatiku, Mike? "
Rere menggenggam tangan Mike dengan lembut.
__ADS_1
"Kau salah jika menanyakan hal itu padaku Rere, Aku bodoh soal membaca hati wanita, yang Aku tau dari wanita adalah ketika mereka membuatku senang, tentunya jika Aku menggelontorkan sejumlah uang. Apa itu cukup jelas bagimu?"
Terlihat raut wajah sedih dan kecewa yang coba Rere sembunyikan dari Mike. Dan membaca mimik wajah seseorang, itu keahlian Mike.
"Mengapa kau merasa kecewa? Apa ada kata-kata ku yang melukaimu?"
Mata sayu Rere hanya menatap sendu ke arah Mike. Baru kali ini ia melihat tatapan seorang wanita yang membuat hatinya tidak nyaman.
"Kau masih belum paham ya?"
Tanya Rere sambil memalingkan wajah.
"Tentang apa?
Aku biasanya memahami hal penting yang memang ingin ku pahami dan pelajari.
Paham yang kau maksud saat ini, paham tentang apa?"
Mike balik bertanya.
"Tentang hatiku, hatiku yang selalu berbunga jika menatap wajahmu, hatiku yang selalu khawatir, dan hatiku yang merasa terluka jika kau mengucapkan ingin meninggalkan tempat ini.
Yang berarti, kau akan meninggalkanku?"
Air mata Rere pun menetes, dahi Mike mengerut ketika Rere mulai menangis sesenggukkan di hadapannya.
"Aku bukan orang yang tepat dan pantas untuk menerima berbagai rasa dari hatimu. Jangan kembangkan rasa yang kau simpan saat ini, karena itu hanya membuatmu sakit, Rere...
Cepat atau lambat Aku akan tetap pergi dari sini, tentu kebaikanmu dan Ayahmu akan ku hargai dengan harga mahal..."
Kata-kata Mike semakin membuat Rere terluka. Ia menyeka tetes demi tetes air matanya.
"Sejak melihat wajahmu pertama kali, Aku tau kau bukan orang biasa walau kau tidak menjelaskan jati dirimu secara signifikan,
Aku merasa, kalau Aku sudah jatuh cinta padamu, Mike!"
Rere lalu memeluk tubuh kekar Mike yang tak di balut baju.
Mike merasakan hal aneh dalam dirinya, bukan hasrat ingin tidur bersama wanita seperti biasanya, tapi rasa yang benar-benar sulit untuk dia mengerti.
"Le...lepaskan...!"
Tegas Mike sambil melepaskan pelukkan Rere.
"Aku mengerti! Kau tidak mungkin menyukai wanita miskin dari desa terpencil seperti diriku ini... Aku yg tidak tau diri, maaf."
Rere menundukkan wajahnya.
"Maaf, Kau terlalu baik untuk pria sepertiku, dan Aku bukanlah pria yang sebaik kau kira...
Aku tidak pernah tau dan kenal dengan yang namanya cinta, bagiku, cinta hanya membuatku banyak masalah dan tidak fokus menjalankan tugasku...
Jika yang kau rasakan itu cinta, maka segera padamkan sebelum berkobar lebih besar, sebelum kau lebih kecewa dan melukai hatimu sendiri,
Bagiku cinta lebih berbahaya dari todongan lima sniper kearahku, maka dari itu Aku tidak pernah mau cari masalah dengan cinta!"
Tangisan Rere kian terisak, ia lalu bergegas masuk kedalam rumahnya menumpahkan segala kesedihannya. Ternyata cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Mike bukanlah pria yang menyukai sebuah komitmen .
__ADS_1