
"Kenzo..."
Panggil Bulan lirih. Wajah nya pucat pasi. Bagaimana tidak, ia mengalami perdarahan hebat.
Kenzo kalut. Ingin sekali ia berteriak, air mata membasahi wajah dinginnya yang kini penuh dengan rasa takut dan kesedihan.
"Bertahanlah sayang. Aku akan selalu di sisimu"
"Tolong lebih cepat lagi!!"
Di depan pintu ruang UGD.
"Maaf Tuan, hanya sampai disini, kami akan melakukan yang terbaik"
Dokter dan suster membawa Bulan yang sudah tak berdaya masuk ke Ruang UGD.
"Sayang, bertahanlah!!"
Kenzo hendak masuk ke ruangan itu, tapi Nic menahannya.
"Tenang lah Kenzo, serahkan semuanya pada Tuhan..."
"Aaarrrggghhh! Bagaimana aku bisa tenang Nic! Isteri ku... Isteri ku...!"
Kenzo terkulai lemas di lantai sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Kau bodoh Kenzo! Firasat buruk ini sudah aku sadari dari Bulan memintanya.
Seharusnya...
Seharusnya kau tidak menuruti permintaannya!" Ucapnya lirih dengan deraian air mata.
Nic pun tak kalah tersayat hatinya. Ia mencoba membantu Kenzo untuk bangkit dan duduk di kursi tunggu.
"Nasi sudah menjadi bubur, kita do'a kan agar Bulan dan bayi kalian selamat"
Wajah Kenzo dingin seakan membeku, matanya menatap tajam seakan bisa menusuk seseorang. Tangannya mengepal kuat hingga timbul urat-urat yang menjalar di lengan kekarnya.
"Mike! Dia harus segera menyeret manusia biadab itu ke hadapanku!
Jangan serahkan orang itu pada polisi, orang itu, harus mati ditangan ku dengan cara mengenaskan!"
Nafas Kenzo terengah, Nic mencoba menenangkan Kenzo dan fokus pada keselamatan Bulan.
"Itu semua sedang di lakukan Mike dan anak buahnya. Menghabisi orang itu, pasti dan harus!
Biar aku dan Mike yang melakukannya!"
"30 menit! Kenapa belum ada Dokter yang keluar?! Apa di rumah sakit ini tidak ada Dokter yang becus hah!?"
Kenzo dari tadi terus memikirkan nasib isteri dan bayi tercintanya.
"Kenzo, sabarlah. Jangan bicara sembarangan! Kau bisa di tuntut!"
Ucap Nic seraya memegang bahu Kenzo. Tapi Kenzo menepisnya.
"Dengan mati pun aku tidak takut! Apa lagi dengan tuntutan! Jangankan membeli hukum, rumah sakit ini pun bisa aku beli! Mengerti!!"
Nic hanya mengangguk dengan wajah miris. Kenzo benar-benar terluka.
Lalu dokter pun keluar dari ruang UGD.
"Tuan Kenzo, kondisi Nyonya Bulan semakin melemah, kami harus segera melakukan operasi caesar secepat mungkin demi menyelamatkan bayinya"
Kenzo bergetar hatinya, air mata tak sanggup lagi ia bendung.
"Lakukan yang terbaik untuk isteri dan anak kami, dokter. Tolong selamatkan keduanya, mereka adalah nyawaku"
"Baik, kami akan berusaha semaksimal mungkin."
Dokterpun kembali masuk. Kenzo masih berjalan ke kanan dan ke kiri menanti sang isteri keluar dari ruang UGD menuju ruang Operasi.
10 menit kemudian pintu terbuka.
Kenzo segera membalikkan badan kala mendengar roda dari ranjang rawat sang isteri berputar.
"Bulan...?!"
Kenzo segera menggenggam tangan sang isteri sambil setengah berlari karena para perawat yang mendorongnya tengah bergegas menuju ruang operasi.
"Sayang, isteri ku! Bertahanlah, aku tau kau wanita yang kuat! Demi anak-anak kita..."
__ADS_1
Kenzo tak henti mencium tangan dan kening isteri nya. Namun Bulan yang sudah semakin lemah walau sudah transfusi darah, hanya mampu menggelengkan kepala sambil meneteskan air mata.
Ketika beberapa meter menuju ruang operasi, ia hanya mengeluarkan kata-kata, walau setengah berbisik.
"I...love you...For...evv..ver"
"Sayang... Isteri ku! Sweety! I love so much!!"
Namun Kenzo menghentikan langkah kakinya. Bulan telah masuk ke ruang operasi.
Ia duduk menyembunyikan tangisnya dari rasa khawatir yang teramat sangat.
"I love you forever sayang!"
Nic sedikit menjauh dari Kenzo. Ia mengirim pesan pada Mike
[Mike, apa kau sudah bisa melacak pelaku penabrakan itu?
Disini Kenzo benar-benar terpuruk, dan aku pun ikut mengkhawatirkannya. Bulan tengah menjalani operasi caesar, keadaannya semakin lemah]
'Drrrtttt'
[Semoga Nona Bulan dan bayi nya bisa diselamatkan. Kami sedang mengintai orang yang kami duga pelaku penabrakan itu!
Benar-benar b****b!] balas Mike
[Kerja bagus! Lalu, bagaimana keadaanmu dan anak buah mu?]
Tanya Nicho.
'Drrrrttt'
[Jangan khawatirkan kami, kami hanya luka ringan.
Aku bersumpah, jika orang ini sudah tertangkap, akan ku kuliti dia! Beraninya ia melakukan semua ini!!]
Tegas Mike geram.
'Drrrrttt'
[Kau memang pria yang paling sadis, kalau begitu lakukan tugas mu dengan baik. ]
'Drrrrttt'
Nicho kembali memasukan ponsel di sakunya.
Ia tatap Kenzo. Wajahnya merah menahan sedih dan amarah.
Nic lalu duduk disampingnya.
"Aku tau Bulan wanita yang kuat. Percayalah, ia orang baik, Tuhan pasti akan tetap mempersatukan kalian"
Sedikit mendapat secercah harapan. Kenzo menganggukkan kepalanya.
"Ya, kau benar. Isteri ku itu orang baik! Yaa...kami akan tetap bersama!!"
Kenzo tersenyum mencoba menguatkan hatinya.
Nic ikut bersedih, tapi tentu saja ia menyembunyikan hal itu.
"Thats good Man..."
Nic menepuk-nepuk bahu Kenzo.
Dan tak lama kemudian, terdengarlah suara tangisan bayi dari ruang operasi.
'Ooaa...Ooaa...Ooa...'
Kenzo dan Nic segera bangkit berdiri.
Mata Kenzo berbinar.
"Kau dengar Nic!? Anakku sudah lahir. My baby Boy...
Ohhh thanks God!!"
Nic lalu memeluk Kenzo, ia pun tak kalah haru mendengar tangisan keras dari bayi laki-laki yang begitu di nanti kelahirannya oleh Kenzo.
"Selamat Brother, hari ini kau resmi menjadi ayah dari putera dan puteri. Semoga kebahagiaan selalu menyertai keluarga kecilmu"
"Terimakasih"
__ADS_1
Kenzo tidak bisa meluapkan perasaannya saat ini.
"Aku tidak sabar ingin melihat dan menimang anak laki-lakiku"
Kenzo dan Nic masih menanti kabar dari dokter.
"Dokter...cepatlah keluar! Bagaimana dengan keadaan isteri dan anakku!?" Gumam Kenzo dengan menghadap pintu ruang oprasi
"Sifat buruk mu itu ialah tidak pernah sabar...huuh payah!" Nic mengejek Kenzo.
Kenzo hanya melirik dingin pada Nic yang sedang menahan tawanya.
Beberapa saat kemudian...
"Keluarga Nyonya Bulan?"
Panggil dokter. Kenzo dan Nic segera bangkit.
"Saya suaminya Dok, bagaimana ke adaan isteri dan putera ku?!"
Tanya Kenzo tak sabar.
Dokter tersenyum paksa.
"Tuan, anak anda laki-laki dan ia begitu sehat. Sekarang tengah dalam perawatan suster dan akan segera di bawa ke ruang perawatan bayi. Nanti anda bisa menemuinya di sana. Karena bayi yang lahir caesar membutuhkan perawatan khusus"
Kenzo mengukir senyum lebar.
"Lalu, bagaimana keadaan isteri ku?"
Dokter terlihat kebingungan, ia tak langsung menjawab.
"Mengapa perasaanku tidak enak"
Gumam Nic sambil menelan ludahnya.
"Kenapa anda tidak menjawab pertanyaanku? Katakan, bagaimana keadaan isteri ku? Jawab!"
Kenzo geram hingga menarik kerah baju dokter.
"Kenzo bersabarlah!"
Nic melepaskan tangan Kenzo yang menarik kerah baju sang dokter dengan kuat.
"Baiklah, isteri anda...
Isteri anda..."
Dokter belum meneruskan kata-katanya, lalu pintu ruang operasi terbuka dan terdengar suara tempat tidur pasien yang tengah di dorong keluar oleh beberapa perawat.
"Bulan?"
Betapa kagetnya Kenzo dan Nic melihat seseorang yang tengah terbaring itu seluruh tubuhnya di selimuti selimut putih hingga menutup wajahnya.
'Praaaanggg'
Hancur lebur, sesak, dan gemetar seluruh tubuh...
"Bu...Bulan?"
Ucap Nic tak percaya sambil menatap sang dokter.
Kenzo segera menghampiri orang yang berselimut putih itu.
"**...tidak mungkin!
Sss...si..siapa yang terbaring disini..?!
Dd..dokk..dokter?"
Dokter itu menghela nafas.
"Mohon maaf Tuan, kami sudah melakukan yang terbaik dan semaksimal mungkin, tetapi Tuhan berkehendak lain. Nyonya Bulan sudah meninggal ketika baru 5 menit di ruang operasi, dan kami telah berjuang untuk menyelamatkan putera Anda..."
"Tidak...tidak mungkin!"
Kenzo perlahan membuka selimut yang menutupi wajah orang yang terbaring itu, dan ternyata...
Apakah Bulan benar-benar meninggal? simak terus kisah Kenzo dan Bulan...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya...
__ADS_1