Terpaksa Menikahi CEO Kejam

Terpaksa Menikahi CEO Kejam
Kekhawatiran Bulan


__ADS_3

Keduanya melangkah bersamaan, namun di antara keduanya masih senyap, hanya Kenzo yang sesekali melirik sang istri yang berwajah datar.


Bulan lalu duduk di pinggir tempat tidur tanpa melirik Kenzo, dan Kenzo tidak berusaha mendekatinya, karena ia takut salah bicara dan memancing emosi Bulan yang tengah mengandung itu. Ia duduk di sofa sambil menyandarkan tubuhnya.


Cukup lama mereka terdiam, sampai Kenzo melihat Bulan mengelus perutnya.


"Kau tidak menginginkan kehadirannya?"


tanya Kenzo dengan serius.


Bulan menatap Kenzo setelah sekian lama mengacuhkannya.


"apa kau bercanda? ini anakku, dia akan hidup bersamaku"


jawab Bulan yang kini tertunduk dan kembali mengelus perutnya yang akan membesar itu.


Kenzo tersenyum dan bangkit melangkah, sungguh jawaban Bulan membuatnya bahagia.


"Aku kira kau marah. Jujur, Aku sudah tidak sabar dan tak mau menunggu lama akan kehadiran buah cinta kita setelah Angelia"


Kenzo lalu duduk di samping Bulan.


"boleh Aku menyentuhnya?"


"tentu, kau Dady-nya"


sahut Bulan lembut.


dengan semangat Kenzo mengelus perut Bulan, ia lalu berlutut di depan istrinya sambil mencium perut yang di dalamnya bersemayam penerus keluarga Smint selain Angelia.


"hai Boy! ini Dady... Dady sudah tak sabar menunggu kelahiran mu, dan menjadi anggota dari ketiga cowok macho di Rumah ini..."


senyum lebar dan hati yang girang tak terhingga memenuhi diri Kenzo.


"tidak. Anakku tidak boleh menjadi seperti kalian, pria-pria gila dan menyebalkan!


lagi pula, dari mana kamu tau bahwa anakku ini laki-laki?"


Kenzo mengerutkan dahinya. kini ia bangkit dari berlututnya dan duduk disebelah Bulan.


"wait, kau bilang kami pria gila?"


"benar, kenapa? kau tidak terima?!"


Bulan tanya balik dengan nada bicara yang mulai naik.


"oo, terima kok, Aku menerimanya.. hehehe"


Kenzo nyengir menghindari amarah istrinya.


"tapi kami keren dan hebatkan?"


lanjut Kenzo.


Bulan memutar bola matanya.


"ya, cukup keren dan hebat sebagai penggila alkohol dan wanita! dan itulah alasan mengapa kalian menyebalkan!"


"kau tau sayang, kenapa Aku sempat shok?"


lanjut Bulan.


Kenzo menggelengkan kepala dan pura-pura polos.


"Aku takut"


jawab Bulan sambil membuang tatapannya jauh-jauh.


"takut sayang?


hey, kau wanita tangguh, kau bisa melahirkan Angelia dan membesarkannya, lalu kenapa tidak untuk yang kedua kalinya?

__ADS_1


hmm, Aku mengerti.


kau tenang saja, Aku akan menambah pelayan, penjaga dan pengasuh agar kau tidak kelelahan mengurus anak kedua kita nanti"


"bukan itu Kenzo "


"lalu apa yang kau takuti?"


Kenzo kini sudah kehabisan cara untuk mengerti.


Bulan bangkit dan melangkahkan kakinya menuju meja riasnya. ia lalu duduk di depan meja rias itu yang memantulkan bayangannya dari cermin yang cukup besar.


"kemarilah"


panggil Bulan pada Kenzo. dengan penuh teka-teki Kenzo berjalan menuju Bulan.


"jangan bilang kau akan mendandaniku?"


ucap Kenzo sambil mengecup kepala istri tercintanya. kini ia berdiri tepat di belakang Bulan.


"kau belum menjawab pertanyaan ku. bagaimana kau bisa yakin aku mengandung anak laki-laki? "


"haha...itu mudah sayang, lihat sikapmu akhir-akhir ini? sifat tegas, pemarah mendominasi dirimu, hingga sifat lembut dan hangat mu seperti lenyap...


gelagat mu seperti diriku, dan itu yang membuatku yakin bahwa ada seorang calon pria tampan dan gagah seperti diriku ini di dalam rahimmu!"


Kenzo sangat senang dan bangga akan hal yang ia ucapkan.


"itulah yang membuatku takut Kenzo, Aku takut bahwa Aku akan melahirkan Kenzo lainnya"


Bulan menunduk, sedangkan Kenzo semakin tak mengerti.


"hei sayang, apa maksudmu? Aku ayah dari anak yang kau kandung itu, jelas ia akan sepertiku!?"


Kenzo mulai terpancing emosinya saat ini.


"kau benar, tapi Aku takut melahirkan monster sepertimu Kenzo! "


"apa maksudmu?"


tanya Kenzo sedikit menekan nada suaranya.


Bulan menyentuh tangan Kenzo yang berada di atas bahunya.


"Lihatlah pria di cermin itu Kenzo, apa yang kau lihat?"


Kenzo dibuat heran oleh istrinya yang menurutnya pola fikirnya semakin aneh.


Ia menaikkan sebelah alisnya, lalu mengikuti apa yang di ucapkan Bulan. Ia menatap bayangan Bulan dan dirinya pada cermin besar di hadapan mereka.


"Di depan cermin itu terlihat pria macho"


Kenzo meregangkan otot-ototnya yang kekar, lalu mengangkat setengah bajunya hingga perut sixpacknya terlihat.


"Lalu?"


Bulan kembali bertanya.


Kenzo embali memperhatikan dirinya di cermin itu sambil berfikir.


"Dan, tentu ada pria tampan, kaya raya dan kau tau itu sayang!?


Lalu mengapa kau menanyakan hal itu padaku?


Tolong jangan membuatku terlihat sombong walau yang Aku katakan itu kenyataan, ok?"


"Ok. Kau tau apa maksudku?"


Kenzo menggelengkan kepalanya.


"Baik, akan ku jelaskan. Cermin itu ibarat mata seseorang, apa yang kau nilai tentang dirimu itu benar, dan itupun yang di lihat oleh orang di luar sana.

__ADS_1


Tapi kau tau? Cermin atau mata orang-orang itu tidak mampu menembus lebih dalam apa yang ada dalam dirimu Kenzo "


"Tentu saja sayang, karena yang tau apa dan bagaimana dalam diriku hanya kau yang tau kan?"


Ciuman nakal Kenzo kini mengarah pada leher Bulan, tapi Bulan menahannya dengan mendorong wajah Kenzo.


"Kau benaar sayang..!


Karena hanya Aku, wanita hebat yang tau jati dirimu seperti apa, maka dari itu aku takut kalau...?"


Kenzo berdiri tegap. Kecerdasannya mampu menerka apa yang Bulan maksud, ia kini berhenti bertingkah bodoh.


"Kau takut, jika anak kita laki-laki, maka...? Sifatnya akan..?"


Kenzo menatap tajam bayangan wajah Bulan di cermin.


"Maaf Kenzo, Aku melewati jalan panjang sampai detik dimana Aku sangat mencintaimu hingga saat ini.


Aku tidak pernah lupa, manisnya sikapmu saat pertama kali bertemu denganku?"


Penjelasan Bulan membuat Kenzo salah tingkah sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Please sayang, aku tidak mau mengingat masa-masa kelam itu.


"Kekhawatiran ku selalu hadir jika Aku mengingat itu Kenzo. Aku bukan tidak mau memiliki anak lagi, tapi...?"


Kenzo memeluk Bulan dari belakang, ia lalu mencium pipi sang istri dari arah samping.


"Aku mengerti, buah memang jatuh dari pohonnya.


Tapi kau tau sayang?


Darah boleh saja merah, tapi tidak semua darah itu sama, biarpun Aku bajingan, Aku tidak mau kalau anak-anakku mewarisi hidup rumit ditengah popularitas dan kasta yang tinggi sebagai anggota keluarga Sminth,


Dan Aku percaya, kau wanita hebat! Kau mampu mendidik anak-anak kita menjadi pribadi yang tangguh dan penyayang sepertimu."


Bulan terharu dengan penjelasan sang suami, ia lalu mengelus tangan Kenzo yang melingkar di lehernya. Ia pun berdiri dan menatap Kenzo.


Kenzo lalu tersenyum padanya.


"Terimakasih sudah memberiku anak kedua sayang..."


'Chupp'


Anjelo mengecup bibir Bulan.


"Aku sudah tidak sabar menunggu anak ke tiga!"


Kenzo melingkarkan tangannya di pinggang Bulan, namun ketika mendengar kata-kata Kenzo, mata Bulan melebar.


"Apa?


'BUGGH!'


"Aaarrgghh!!"


Kepalan tangan Bulan mendarat di perut Kenzo. Tanpa rasa bersalah Bulan pun berlalu meninggalkan Kenzo yang sampai terjongkok menghayati pukulan yang baru saja mendarat di perut kotaknya. Bulan terus melangkah sambil komat-kamit pada Kenzo.


"Hhh..rasain! Mules mules deh tuh perut. Anak kedua aja belum lahir, udah mikirin anak ketiga!


Yang benar aja!? Dia pikir Aku kucing gitu? ck, Kenzo, Kenzo...!"


'BRUUGGHHHH!!!'


Bulan membanting pintu kuat sekali. Sambil memegang perutnya yang lumayan berdenyut, Kenzo tersenyum.


"Hahaha...


Anak laki-laki Dady...


Jadi gak sabar mengajakmu latihan menembak bersama Uncle Mike dan Nic!"

__ADS_1


__ADS_2