Terpaksa Menikahi CEO Kejam

Terpaksa Menikahi CEO Kejam
Masa Lalu Orang Tua Kenzo


__ADS_3

"Janji cuma mau bantu bersihin..." Kenzo nyengir kuda.


"Gak mau...!"


Jawab Bulan ketus sambil merapikan rambut panjangnya yang berantakan.


"Jawaban yang membuatku kecewa!


Kau tau Bulan, setiap hari uangku selalu bertambah! Dari pada aku menggunakan uangku untuk bersenang-senang dengan wanita lain seperti dulu, lebih baik aku gunakan untuk masa depan anakku yang banyak..."


Bulan menghentikan langkahnya dan menatap geram pada Kenzo.


"Kau, mau bersenang-senang dengan wanita lain?!"


Bulan bertolak pinggang, sikapnya seperti ini yang membuat Kenzo gemas.


"Memang aku mengatakan itu?"


Ucap Kenzo pura-pura amnesia.


"Iya!


Tapi kalau kau mau bersenang-senang dengan wanita lain, silahkan!


Aku gak peduli!"


Bulan membalikkan badannya membelakangi Kenzo.


"Ok kalau kau mengizinkan, nanti malam jangan menungguku di teras rumah ya, karena aku akan pulang pagi..."


Bukan sudah sesenggukkan.


Sedangkan Kenzo menahan tawa sambil geleng-geleng kepala.


Dia membalikkan badan Bulan dan menatapnya.


"Matamu berkaca-kaca, kau sampai terisak-isak,


Apa ini rasa cemburu mu?


Hingga detik ini kau belum pernah mengatakan cinta padaku...


Tapi jika kau mendengar kata wanita lain kau sangat marah?"


Bulan gugup dan salah tingkah. Dia masih bingung mau jawab apa.


"Ayo jujur...


Kau cemburu kan?"


Desak Kenzo pada Bulan.


Bulan masih diam, dia tidak berani menatap Kenzo.


"Ok aku mengerti dan tau jawabanmu...


Kalau begitu nanti malam Kau jangan menungguku pulang, karena aku sendiri tidak tau akan pulang jam berapa..."


Kenzo membalikkan badannya dan hendak keluar kamar, dia hanya pura-pura marah demi mendengar Bulan mengatakan apa yang dia rasakan setelah setahun bersamanya.


Bulan lalu memeluk Kenzo dari belakang, walaupun terganjal oleh perut besarnya.


"Kau jahat sekali! Aku tengah hamil besar seperti ini kau malah mau bersenang-senang dengan wanita lain!"


"Memang salah? Aku kan hanya menuruti perintah mu?"


Hati Bulan semakin bergejolak.


"Pokoknya tidak boleh! Aku menarik kata-kata ku. Aku tidak mau melihatmu bersama wanita lain!!"


"Kenapa? Apa karena kau mencintaiku?"


Tanya Kenzo penuh harap.


Bulan memeluk Kenzo semakin erat.


"Memang kau tidak bisa merasakan?


Aku itu cinta sama Ayah dari anak yang ku kandung ini! huhhf..."

__ADS_1


"Yes...!


Akhirnyaa...


Kau menyatakan cinta padaku...


Ooouhh Bulan, aku merasa melayang...


Kalau begitu ayo cium aku..."


Kenzo mendekatkan wajahnya di depan wajah Bulan.


Bulan enggan melakukannya, dia hanya senyum-senyum.


"Ayolah, Aku menunggu! Leherku pegal kalau terus menunduk seperti ini!"


Bukannya mencium Bulan malah terkekeh menahan tawa.


"Siapa suruh memilih wanita pendek seperti Aku!"


Bulan mengecup bibir Kenzo singkat.


"Kenapa cuma sebentar? Aku kira ciuman ini akan memanas...hhhh!"


Kenzo merasa kecewa.


"Kau bilang kita mau jalan pagi?


Jadi aku mau mandi dulu..."


"Baiklah...


Aku menunggumu di meja makan! Jangan lamban, aku tidak suka menunggu!!"


"Iyaaa bawel..."


Jawab Bulan jutek.


Sambil melangkah pergi Kenzo terus tersenyum, dia begitu bahagia karena setelah menunggu lama akhirnya Bulan menyatakan cintanya.


"Ternyata gengsimu lebih besar dariku, Bulan...


Tapi kalau cinta, pasti cintaku yang lebih besar darimu..."


Kenzo seraya menggerakkan seluruh badannya untuk meregangkan otot-ototnya.


Bulan masih melangkah menuju teras dengan perlahan. Perut besarnya tentu membuat langkahnya menjadi lamban.


Kenzo melirik Bulan sambil tersenyum, pemandangan yang sangat indah baginya.


Biarpun Kenzo sangat mencintai Bulan, tapi sikap dingin dan terkesan pemarah dan tidak sabaran masih melengkapi dirinya.


"Hey perempuan cantik, kenapa lama sekali?


Dari kamar menuju meja makan, aku harus menunggu 30 menit, dari meja makan ke teras ini 20 menit,


Kau menghabiskan banyak waktu, lihat matahari mulai naik kita bisa kepanasan!"


Kenzo memarahi Bulan tetapi sambil berjalan ke arahnya dan menuntun tangan Bulan.


"Kau tidak merasakan apa yang ku rasakan, Aku kesulitan berjalan dan bergerak, Aku cepat lelah...


Lagi pula jarak dari kamar ke dapur lalu ke teras ini itu jauh, seperti lapangan sepak bola,


Salahmu juga Kenzo, kenapa kau punya rumah sebesar ini?!


Membuatku lelah saja!"


Gerutu Bulan dengan wajah yang cemberut.


Kenzo menahan tawanya, hal paling menyenangkan baginya ketika melihat Bulan ngomel-ngomel seperti ini.


"Apa semua wanita itu cerewet? Aku membahas jalanmu yang lamban tapi kau malah membahas rumah besar ku ini,


Mau aku bantu?"


Kenzo melirik Bulan.


"Bantuan untuk apa?"

__ADS_1


Bulan menatap Kenzo.


"Barangkali kau ingin aku menggantikan mu untuk membawa perut besar ini..."


Kenzo terkekeh.


"Kau fikir perutku ini balon?? Hhhh!"


"Just kidding...


Tapi kau memang perempuan yang luar biasa,


Kalau anakku lahir, aku mau kok menggendongnya 24 jam...


Emhh 22 jam deh..."


"Dari 24 jam turun ke 22 jam,


lalu apa kau juga yang akan menyusuinya?"


Ucap Bulan sambil geleng-geleng kepala.


"Haha...


Tentu tidak, lihat dadaku bidang begini, mau di cubit pun tidak bisa...


Tapi kalau dadamu...?"


Kenzo melirik ke dada Bulan.


"Mulai deh?!"


"Tidak..aku tidak mau membahas dadamu yang bertambah besar itu...


Pokoknya aku akan selalu ada untukmu ketika Anakku lahir!"


Bulan tersenyum, dia tatap Kenzo tanpa disadari olehnya.


"Ternyata Tuhan memang lebih tau mana dan apa yang terbaik untuk hambaNya, tidak ku sangka Kenzo bisa selembut ini..."


Bulan mengelus perutnya.


Kebersamaan mereka di tatap oleh sang kakek dari balkon di lantai 2 rumah Kenzo.


Sambil menyeruput secangkir kopi, kakek menyeruput bahagia menyaksikan cucunya yang dulu seorang Bad Boy, kini menjadi suami siaga.


"Kakek bangga padamu Kenzo, teruslah seperti ini, menatap masa depanmu bersama anak dan istrimu,


Jangan terus tenggelam dengan kekecewaan mu pada Atika.


"Kalau saja kau tau hal sebenarnya seperti apa, pasti kau tidak akan menyalahkan Ibumu 100% atas kejadian itu..."


Tatapan kakek menerawang jauh, jauh hingga nampak bayangan masa lalu di depan matanya.


Saat itu Valentino Dady nya Kenzo menikahi Atika yang ternyata sudah bersuami.


Keluarga Ibunya di Makasar terjerat hutang yang besar pada Dady Kenzo saat itu.


Valentino yang terpesona dengan kecantikan wanita dari suku Bugis itu menawarkan seluruh hutang dari Bapak Adi akan lunas, asalkan ia bersedia menikahkannya dengan Atika Ibu Kenzo.


Atika yang ternyata pengantin baru, yang baru menikah selama 2 bulan tentu menolak.


Tapi Pak Adi yang tidak lain Kakek Kenzo dari Ibunya memberi pengertian pada Atika, karena perekonomian keluarganya yang sulit tidak mungkin melunasi hutang yang besar pada Valentino.


Mereka berhutang pada Valentino untuk pengobatan Ibu Sari ibunya Atika yang sakit keras.


Atika dan suaminya tentu tidak bisa terima dengan keputusan itu.


Suami sahnya pun tidak mau menceraikan Atika.


Darah licik yang mengalir ditubuh Kenzo ternyata diturunkan oleh sang Dady, Ayah yang sangat ia kagumi tanpa tau masa lalu Ayah dan Ibunya.


Valentino menculik dan membawa paksa Atika ketika ia pulang dari pasar, ia membawa Atika jauh ke Australia yang menjadi tempat kelahiran Kenzo dan Agnes.


Valentino mengancam Atika jika tidak mau menikah dengannya.


Valentino memang tulus mencintai Atika, sama halnya seperti Kenzo dan Bulan, hanya saja mereka melakukan cara kotor untuk mendapatkan dan memiliki wanita yang mereka cintai.


Valentino juga mengancam keselamatan orang tua Atika di Makasar jika Atika menolak ajakan Valentino untuk menikah.

__ADS_1


Atika pasrah.


Dia yang masih memiliki suami yang sah terpaksa menikah dengan Valentino, tentu tanpa rasa cinta sedikitpun, hanya ada benci dan jijik dalam hatinya, sama halnya dengan Bulan.


__ADS_2