
Di dalam rumah, Kenzo berjalan mengendap. Ia diam-diam mencari anak itu.
"Suaranya dari sebelah sanah!"
ucapnya dalam hati.
"Huuhuu...
Auntie...Ibu...Aku takut sendirian...
huhu..hu..."
Kenzo perlahan mengeluarkan pistolnya. Dan ia segera menodongkan pistolnya kepada anak kecil berumur 5 tahunan itu.
anak Duke pun terkejut.
"Hwaaa...tolong Uncle...
jangan sakiti Aku...
Aku mohon hiks hiks hiks..."
Wajah Kenzo berubah sendu. Emosinya seketika lenyap. Dan ia menjatuhkan pistolnya.
Apa yang terjadi?
"Kasihanilah aku Uncle..."
ucap anak itu hingga menyentuh hati Kenzo.
"Apa kau sanggup membunuh anak itu Kenzo?! Jika kau biarkan, setelah besar nanti dia akan menuntut balas padamu atas kematian orang tuanya...
Ya..!
Anak ini harus di bunuh!"
Kali ini ia begitu yakin.
Kenzo kembali memungut pistolnya, dan berjalan perlahan mendekati ank kecil yang ketakutan sampai bersembunyi di bawah meja.
"Jangan bunuh aku uncle..."
Tiba-tiba, matanya silau seperti ada cahaya lampu yang tiba-tiba dihidupkan.
"Kau tidak iba padanya Kenzo?"
tanya Bulan yang berdiri tepat di hadapannya. Matanya pun berlinang air mata.
"Ss...sayang... bagaimana kau bisa...?"
Dalam bayangan yang begitu menyilaukan, Bulan tersenyum.
"Jangan bunuh anak kecil itu...
dia sebatang kara...coba fikirkan lagi jika bayi laki-laki kita mengalami hal yang sama?
Kau pria baik Kenzo.
Aku sudah ikhlas, jangan turuti dendam mu itu...itu tidak ada guna dan tidak akan berakhir...
Jangan pernah berubah, tetap menjadi suamiku yang baik hati...
Aku mohon, jangan hidupkan lagi Kenzo yamg mengerikan itu.
Aku menunggumu di tempat nan indah itu suamiku.
Jangan buat Aku bersedih melihat amarahmu...
aku mencintaimu..."
'blesshh'
seketika Bulan menghilang seiring dengan cahaya yang kian meredup.
Kenzo berlutut, ia meneteskan air mata.
Apa yang ia lihat seperti mimpi dalam keadaan sadar.
"Maafkan Aku sayang,
aku hanya ingin orang itu mendapat balasan yang setimpal!
Jujur, aku tidak sanggup kehilangan mu...Aku merindukan mu!
Tapi, Aku pernah berjanji padamu untuk membuatmu selalu tersenyum,
jika apa yang ku lakukan membuatmu sedih di alam sana...
Aku akan menyudahinya...aku akan menyudahi dendam ku ini..."
Kenzo lalu menoleh pada anak Duke yang ketakutan itu. Ia gemetar melihat Kenzo dengan pistolnya.
Kenzo lalu membuang pistol itu jauh-jauh. Dan ia mengulurkan tangannya pada anak kecil itu.
"Kemarilah, jangan takut...
uncle tidak akan menyakitimu...percayalah..."
'huuuhuuuhuu...Ibu...Ibu...'
anak kecil itu malah menangis kencang memanggil ibunya.
Hati Kenzo merasa tersayat, ia mengh feelingat anak-anaknya yang juga di tinggal seorang ibu.
"Anakku masih memiliki segalanya, seorang Ayah, Uncle dan Auntie nya...
tapi anak ini?"
Hati Kenzo yang sempat menjelma sebagai Iblis akhirnya tersentuh, memang hanya Bulan yang mampu meredam amarahnya.
"Kemarilah Nak...
Uncle orang baik"
ucapnya walau merasa tak pantas.
__ADS_1
"Kbu...
Auntie...
"Uncle tau dimana mereka berada, tapi, mereka telah tiada...
kau sekarang sendiri, ayo ikut Uncle pulang,
Uncle mempunyai banyak makanan dan mainan...
kau pasti lapar kan?
kau suka candy?"
tanya Kenzo dengan senyum getirnya.
Jason pun mengangguk. Perlahan ia mendekati Kenzo.
"Bolehkah Uncle menggendong mu?"
Kenzo lalu menggendong Jason tanpa penolakkan dari anak kecil itu.
"Namamu siapa?"
tanya Kenzo.
"Jason "
"Jason, siapa nama Ayah? "
"Duke..."
'Dhegg '
"Dimana ia sekarang?"
Kenzo kembali bertanya.
"Meninggal...! jawabnya polos
Kenzo keluar dari rumah yang hendak perintahkan untuk dibakar itu.
"Kenzo?"
Nic, Mike dan yang lainnya terheran-heran melihat ia menggendong anak kecil yang hendak ia bunuh itu dengan penuh kasih sayang.
"Ayo kita pergi dari sini"
ucapnya sambil terus berjalan menuju mobilnya.
"Kenzo? bukankah kau ingin...?"
"Istri ku bersedih Nicho,
ia datang tepat di hadapanku...
ia menginginkan Aku menyudahi dendam yang tak akan berkesudahan ini...
Aku ingin membuatnya bahagia.
Ia menungguku, dan aku tidak mau tersesat menemuinya dengan menjadi iblis."
Penjelasan Kenzo sedikit menyembuhkan luka orang-orang yang terluka atas kepergian Bulan.
Nicho dan Mike tersenyum.
"Bulan memang malaikat...
hanya dia yang mampu meredam setan dalam hati Kenzo."
"Kau pria baik Kenzo...
Aku sudah ikhlas, jangan turuti dendammu itu...itu tidak ada guna dan tidak akan berakhir...
jangan pernah berubah, tetap menjadi suamiku yang baik hati...
Aku mohon, jangan hidupkan lagi Kenzo yang mengerikan itu...
Aku menunggumu di tempat nan indah itu suamiku. . .
jangan buat Aku bersedih melihat amarahmu...
aku mencintaimu..."
Kata-kata Bulan selalu terngiang di benaknya.
'Sesak!'
Kenzo menarik nafas panjang, sambil memeluk Jason yang terlelap di pangkuannya.
Mata Kenzo kembali berkaca-kaca.
"Sayang, apa aku sanggup menjalani hidup ini tanpamu?
Apa aku sekuat yang musuhku kira?
Aku hanya pria bodoh, dan malang tanpamu...
Kau segalanya untukku sayang!
Aku merindukanmu..."
Kenzo terisak dalam hati, berjuta kenangan manis dan indah menari di benaknya.
"Kenzo...?"
Panggil Nic yang membuyarkan segala sakit yang ia derita.
Kenzo pun menoleh.
"Yes Nic,,"
"Apa kau yakin akan mengurus anak ini? Di rumah mu? Bersama anakmu?"
Tanya Nicho.
__ADS_1
Kenzo masih terlihat bimbang dan menatap anak laki-laki itu.
"Kau mempunyai ratusan panti asuhan, kau bisa menitipkan anak ini di salah satu panti itu, yang penting anak ini tidak terlantar..?"
Ucap Nic memberi saran.
"Tidak Nic, aku sudah berjanji pada isteri ku...
Dan aku tidak mau mengingkarinya.
Lagi pula, Aku dan Duke masih berkerabat jauh...
Aku akan menyudahi dendam ini,
Isteri ku benar, dendam tidak akan pernah berakhir..."
Penjelasan Kenzo membuat hati Nic tersentuh, ia lalu menepuk bahu Kenzo.
"Kau benar Kenzo...
Aku dukung apa yang menjadi keputusanmu..."
Dan mobil pun terus melaju dengan cepat menuju Apartemen Kenzo. Ia ingin cepat sampai dan memeluk kedua anaknya.
"Mike, tolong kemudikan mobil ini lebih cepat lagi, aku ingin mengobati hatiku..."
Mike terlihat kikuk.
"Mmmm, baik Bos..."
Sampai di Apartemen....
Kenzo masuk kedalam kamar miliknya.
'Jegrekk,,'
Perlahan Kenzo membuka pintu dan membuat Rere terkejut.
"Siapa itu?!"
Teriaknya kaget.
"Tuan Kenzo?"
Mata Rere menerka anak siapa dalam gendongan Bos nya itu.
Kenzo tersenyum tipis.
"Bagaimana anak-anakku? Apa mereka baik-baik saja?"
Tanya Kenzo sambil membaringkan Jason di sofa.
Rere masih bertanya-tanya dalam hati.
"Mmmmh, mereka baik Tuan...
Dan si Tampan mungil ini pun tidak rewel.."
'Aaaahhh'
Kenzo menghembuskan nafas yang terasa sesak di dada.
"Terimakasih Rere, kau sudah mau menjaga anak-anakku, sekarang kau bisa beristirahat, Mike pun telah menunggumu..."
Rere terlihat bimbang.
"**..tapi..
Bagaimana kalau si Tampan ini terbangun?"
Tanya Rere yang menyadari bahwa Kenzo tidak bisa menjaga seorang bayi.
"Aku bisa...
Kini Akulah Ibu dan Dady untuk mereka..."
Jelas Kenzo sambil tersenyum getir.
Hati Rere pun tiba-tiba merasa pedih, ia mengerti bagaimana perasaan Kenzo saat ini.
"Baiklah Tuan, kalau begitu, Aku permisi...
Susu Formula dan botolnya ada disana,
Tiga sendok susu dengan air hangat 90ml..."
Terang Rere.
"Baiklah, aku mengerti"
Rere mengangguk, dan berjalan perlahan menuju pintu.
Benar-benar miris melihat Kenzo.
Ketika ia sudah memegang gagang pintu, ia kembali menoleh pada Kenzo.
"Jika Anda kesulitan mengurus si Tampan itu, jangan segan meminta bantuan padaku ya?"
Anjelo tersenyum tipis.
"Tentu saja...
Terimakasih..."
"Sama-sama Tuan, permisi"
Rere membuka pintu setelah beberapa saat memperhatikan anak laki-laki yang di bawa Kenzo, namun ia tidak berani menanyakannya.
Setelah keluar dari kamar Kenzo.
"Siapa anak laki-laki itu?
Apa...?
Ahh, tidak mungkin. Tuan Kenzo tidak mungkin selingkuh"
__ADS_1
Ujarnya.