Terpaksa Menikahi CEO Kejam

Terpaksa Menikahi CEO Kejam
Hadir Dalam Mimpi


__ADS_3

"Siapa yang selingkuh?"


ucap seseorang membuat Rere terperanjat.


Ia pun menoleh, dan ternyata Mike berdiri di belakang nya.


'fiuhhh'


"Ternyata kau Mike, kau membuatku terkejut!"


Rere lalu melangkah mendahului Mike menuju kamarnya.


"Hei hei...


kau mau kemana?"


tanya Mike sambil mengikuti Rere dari belakang.


"Mau ke kamar..."


"Hei aku pun mau ke kamar, aku menjemputmu tapi kenapa kau yang meninggalkan ku, Rere?!


Rere menghentikan langkahnya.


"Ssssttttt!


jangan berteriak Mike!"


ucapnya setengah berbisik.


"why?"


tanya Mike tak mengerti.


"Kau bisa membangunkan bayi Tuan Kenzo!


oh ya, boleh aku menanyakan sesuatu?"


Mike menatap dingin pada Rere.


"Tidak! "


jawabnya acuh, dan kini Mike yang mendahului langkah Rere.


"Mike! kau...


kau..!?"


Mike lalu menoleh kebelakang.


"Kau apa?!


makanya kau jangan berlagak mengacuhkan ku!


dasar menyebalkan!"


mendengar ucapan Mike mata Rere berkaca-kaca.


"Kau...


jahat..."


kata Rere sambil terisak.


"Aku tak hanya jahat, aku memang penjahat..."


jelas Mike datar.


"Dan kau pun akan menjadi penjahat


kepada istri mu dan anakmu?"


tanya Rere sambil menatap Mike.


"Tentu tidak"


jawabnya singkat.


tanpa di duga Mike langsung menggendong Rere menuju kamarnya.


"Mike!"


"Sssttt


jangan berisik, bayi Kenzo sedang tidur...


lanjutkan pertengkaran ini di kamar.


Aku rindu Omelan mu padaku"


jelas Mike.


"Uuhh, dasar aneh!!"


*******


Pagi-pagi sekali mereka memutuskan untuk kembali ke rumah besar Kenzo yang penuh kenangan indah bersama Bulan.


Sambil menggendong bayi laki-laki yang selalu ia panggil super hero, dan Angelia yang dalam gendongan Nic, berjalan menuju mobil yang telah siap melaju.


"Dady....


siapa nama adik bayi aku?"


tanya Angelia, membuyarkan lamunan Kenzo yang berlari kesana kemari.


"Mmhhh, Dady...


dady belum tau baby"


Kenzo tersenyum paksa.


Hal yang ia sesali adalah, ia belum sempat menanyakan atau saling bertukar fikiran dengan Bulan tentang nama puteranya itu.


Di tengah penyesalan dan perih yang ia derita, Kenzo lalu teringat pada Jason.

__ADS_1


"Wait, dimana Jason?"


Kenzo enoleh kebelakang, dan ia merasa lega ketika ia melihat Jason tengah di gendong oleh Mike.


"Tenang saja, ia bersamaku..."


kata Mike.


"Syukurlah..."


ucap Kenzo.


"Mmm, Tuan...biar si Tampan dan menggemaskan itu aku yang menggendongnya..."


kata Rere menawarkan diri.


"Tak apa...


biar aku saja..."


Kenzo tersenyum meyakinkan Rere bahwa ia masih sanggup mengurus putera tercintanya.


"Baiklah Tuan..."


******


Sesampainya di rumah yang penuh berjuta kenangan indah.


Kenzo tak yakin, kakinya akan sanggup melangkah lebih jauh ke dalam rumahnya itu.


Bayang-bayang Bulan dengan aktivitasnya di kala itu, membuat hatinya sakit.


"Sayang...


kau masih disini kan?


kau bisa melihatku yang rapuh ini tanpamu...


Sejak semalam mata ini tak mampu terpejam,


aku merindukan pelukanmu.


Lihat putera kita yang tampan ini, ia begitu baik.


Ia tidak rewel.


Aku jadi malu pada anak-anak kita,


mereka mampu menguatkan hatinya, menerima kenyataan bahwa kau kini berada di surga nan indah...


rumah megah ku ini jelas tidak ada apa-apanya bukan?"


Kenzo tersenyum getir.


Mike lalu membuka kan pintu mobil untuk Kenzo.


"Terimakasih. . .


Kau bisa membantuku, Angelia tertidur..


dia persis sekali seperti Bulan."


"Tentu saja..."


"Jason, ini rumah uncle Kenzo, kau bisa tinggal disini, dan menjadi Kakak tertua di rumah ini..."


anak kecil itu mengangguk sambil tersenyum senang.


Kenzo perlahan keluar dari mobil. Matanya tak sanggup menahan air mata yang tak bisa lagi di bendung.


"Kenyataan ini terlalu menyakitkan.


Dadaku sakit sayang...


nafasku sesak...


kau tau...?


aku hanya berpura-pura kuat di depan semua orang...


aku lemah...


peluklah aku sayang...peluklah..."


Keluh Kenzo dalam hati.


"Ayo Kenzo kita masuk, para pelayan telah menyiapkan makan besar untuk kita...


dan menyambut kelahiran bayi tampanmu yang seperti diriku ini"


ucap Nic menggoda.


Wajah Kenzo terlihat pucat.


"Are you ok, Kenzo?"


tanya Nicho khawatir.


"Hmmh, tentu saja...


tapi...tolong kau gendong putera ku ini..."


Kenzo memberikan putera nya ke pelukan Nicho.


Dan merekapun meneruskan langkahnya.


"Selamat datang kembali Tuan Kenzo."


sambut para pelayan dan penjaga yang masih bertugas di rumah itu.


Kenzo hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya.


Namun bayang-bayang kebersamaanya bersama Bulan seakan hidup kembali.


Di ruang tamu itu ia teringat saat Bulan berdandan dan memenuhi ajakan dinner nya ketika belum menikah.

__ADS_1


"Kau sungguh menawan sayang ku...


setiap hari kau selalu membuatku jatuh cinta"


gumamnya dalam hati.


Langkah mereka lebih jauh lagi, dan di ruang keluarga pun kenangan itu kembali.


"Aku masih sangat ingat, bagaimana kakek dan Mommy begitu bahagia melihat Angelia dalam pelukanmu...


tapi kini, kalian telah meninggalkanku..."


Hatinya kian terluka mengingat semua kenangan yang berlalu lalang di bola matanya.


Canda Bulan, senyum dan tangisnya...


peluk dan ciumnya...


Lalu Kenzo merasa seluruh ruangan itu berputar- putar dan berputar kian cepat sampai ia sempoyongan...


"Kk..kenapa...dengan diriku..."


"Kenzo...?!"


teriak Mike dan Nic, dan Kenzo pun pingsan tak sadarkan diri setelah kepalnya dan hatinya begitu sakit.


"Cepat bawa Kenzo ke kamarnya!!"


Setelah hampir sejam tak sadarkan diri,


membuat khawatir sahabat dan anak buahnya, begitu juga Angelia.


"Bagaimana kalau kita bawa Kenzo ke Rumah sakit?"


Nic menyarankan.


"Dia hanya pingsan, dokter bilang ia hanya stres dan kurang beristirahat.


Bagaimana jika di Rumah sakit ia tersadar?"


Kata Mike.


"Hmm, ia pasti melempar tabung oksigen kepada kita semua."


Jawab Nic dengan wajah bingung dan khawatir.


"Itu sudah pasti, Kenzo kan phobia dengan dokter dan kawan-kawannya"


Sambung Mike.


"Ya sudah, kalau begitu kita biarkan saja ia beristirahat"


Ucap Nic sambil merapikan selimut Kenzo.


Dan merekapun memutuskan untuk meninggalkan Kenzo sendiri untuk beristirahat.


Masih tak sadarkan diri, Kenzo bermimpi.


Matanya sayup-sayup menangkap bayangan sang isteri tercinta yang duduk di sampingnya.


"Ss..sayang?!


Kau kah itu?"


Tanya Kenzo sambil melebarkan matanya.


Bulan tersenyum.


Membuat hati Kenzo bergetar.


Matanya meneteskan air mata, ingin sekali ia bangkit dan memeluk Bulan sekuat tenaga, tapi sayangnya tak bisa.


"Apa yang membuatmu bersedih suamiku?"


Tanya Bulan dengan lembut.


"Aku...merindukanmu sayang...


Please, jangan tinggalkan aku...


Aku lemah tanpamu, aku tidak sanggup hidup tanpa dirimu..."


Bulan lalu menggenggam tangan Kenzo, dan meletakkannya tepat di dada bidangnya.


"Aku tidak pernah meninggalkanmu suamiku...


Tempatku tetap disini bukan?


Di hatimu...?"


Kenzo mengangguk.


"Kau selalu di hatiku, karena kau belahan jiwaku...ampai kapanpun...!"


Wajah Bulan terlihat sendu.


"Sekian lama hidup denganmu, baru kali ini aku melihat air matamu Kenzo.


Kau pria yang kuat..."


Kenzo menggelengkan kepalanya.


"Tidak sayang... Itu tidak benar,


Hatiku selalu tercabik ketika merindukanmu...tetaplah disini, di sampingku..."


Bulan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku harus pergi..."


"Tidak...!


Sayang...


Jangan pergi...!

__ADS_1


Jangan tinggalkan aku...!"


Namun perlahan tapi pasti Bulan melepaskan genggamannya pada tangan Kenzo.


__ADS_2