Terpaksa Menikahi CEO Kejam

Terpaksa Menikahi CEO Kejam
Mengambil Ke Untungan


__ADS_3

Sepanjang jalan Kenzo selalu memikirkan Bulan. Terbayang tangisan istri tercintanya ketika ia menggebrak meja dengan keras.


"Dasar pecundang!"


Umpat Kenzo.


"Siapa maksudmu Bos?"


Tanya Mike bingung.


"Aku..."


Jawab Kenzo sambil menundukkan kepala.


"Kau baru sadar?"


Ledek Mike sambil terkekeh.


"Tidak...


Aku tau itu, hanya saja aku begitu bodoh! Kenapa sifat burukku belum bisa berubah?


Aku benci pada diriku sendiri!"


Mike melirik Kenzo yang wajahnya tengah berantakkan.


"Kau sudah jauh lebih baik Bos?


Kau memang masih tempramental pada orang lain, tapi kau bukan penikmat perempuan penghibur diluar sana.


Itu sebuah kemajuan,


Aku yakin kau tidak akan melakukan itu pada Bulan jika Ajay ( Duke) tidak memancing amarah mu.


Aku sendiri bahkan ingin sekali mencabut lidahnya!"


"Kau benar sekali Mike.


Jika Nic tidak menahanku, Aku mungkin sudah ada di breaking news dan koran-koran lokal, dan menjadi wadah caci maki para netizen.


Lalu, apa hasil dari penyelidikkanmu?"


"Sejauh ini, Ajay belum menunjukkan kediamannya, ia masih berada di sekitar El Nido, mungkin dia tidak memiliki tempat tinggal,


Atau...


Dia sengaja tidak kembali ke kediamannya karena merasa di buntututi..."


"Itu bisa jadi!


Pokoknya, terus gali info tentang lelaki brengsek itu!


Kalau bisa, lenyapkan dia dengan tanganmu!"


Mike tersenyum licik.


"Akan ku lakukan untuk mu, Bosku..!


Hhmm, By the way apa kau yakin di club tadi kau hanya meluapkan amarahmu? Tidak meluapkan hasratmu?"


Kenzo melirik sinis pada Mike.


"Apa Aku terlihat begitu menawan saat ini?


Wajahku kusut Mike!


Kau tau aura ku ketika telah bercinta,


Charming..! Dan hatiku benar-benar damai .


Dan itu yang membuatku terlihat tampan, kau tau itu kan?"


Mike terbahak-bahak sambil menggelengkan kepalanya.


"Hahaha...


Baiklah... Baiklah...


Youre the best my bos!


Omong-omong bicara tentang wanita, Aku sudah lama belum menyentuh wanita,


Sudah cukup lama, mungkin sekitar dua minggu,


Bisakah kau..?"


Mike belum menyelesaikan kata-katanya namun Kenzo sudah paham yang Mike inginkan sebagai laki-laki.


"Aku izinkan!


Hanya saja, sebelum pukul tujuh pagi kau harus kembali,


Makanya pacu mobil ini lebih cepat! Agar Aku cepat menemui istriku dan kau, bebas bersenang-senang!


"Kau begitu memahamiku Bos!"


Mike mengukir senyum pada wajah tegasnya.


"Kita ini sehati.


Aku sangat mengerti apa yang ada dibenakmu,


Dan memendam hasrat begitu lama akan membuatmu tidak fokus mendampingiku.


Dan tentunya sangat menyiksa bukan?


Bicara soal tersiksa...


Aku pasti yang akan lebih tersiksa, Bulan pasti sangat marah dan kecewa padaku...?


Aku pasti mendapat hukuman darinya...


Oooouuuhhh ****!"


Ketika Sampai Rumah Sakit,


para penjaga merangsak mengelilingi Kenzo.


Namun Kenzo mengibaskan jemarinya agar para anak buah Mike tidak mendampinginya.


"Tidak, tidak!


Kalian semua tunggu di luar saja, ada hal penting yang akan ku bicarakan dengan istriku...


Sebagian, silahkan ikut dengan Mike, ia sangat tau tempat yang bagus untuk bersenang-senang...

__ADS_1


Yang lainnya, bersabarlah menunggu esok malam..!"


"Baik Bos!"


Sepuluh anak buah Mike menunduk memberi hormat.


Kenzo melihat jam tangan mewahnya.


"Pukul 02:00 pagi...


Bulan pasti tengah tertidur pulas"


Gumam Kenzo sambil berjalan perlahan menuju Bulan yang tengah berbaring membelakanginya.


Kenzo menatap wajah Bulan, ia menyibakkan rambut Bulan yang menutupi wajah cantiknya.


"Maafkan Aku..!"


Ucap Kenzo sambil mendekatkan ciumannya ke bibir Bulan.


Ketika sentuhan bibirnya tinggal beberapa inci lagi, Bulan lalu menutup mulut Kenzo dengan sebuah Apel yang masih bulat sempurna. Mata sipit Kenzo pun membulat.


"Jangan coba-coba menciumku, Tuan pemarah...!"


Ucap Bulan dengan mata yang masih terpejam.


'Krraaauukk'


Kenzo memegang Apel itu dan menggigitnya.


"Kau tau saja jika Aku tengah lapar! Makasih Apelnya!


Kenzo tersenyum paksa sambil mengunyah Apel yang baru saja dipaksa masuk ke mulutnya.


"Lapar?


Aku kira kau sudah lebih dari kenyang, Kenzo...?"


Tanya Bulan yang masih belum menatap wajah Kenzo.


Kenzo menaikkan sebelah alisnya.


"Hey sayang...


Aku belum memakan apapun!


Lagi pula dengan keadaanmu seperti ini mana mungkin aku bisa menelan makanan dengan lahapnya!?"


"Pembohong!"


Celetuk Bulan ketus.


"Hey heey...


Kau sudah menjadi istriku selama empat tahun!


Aku memang brengsek dan bajingan tapi Aku bukan seorang pembohong..."


Bulan membuka mata besarnya dan menatap wajah Kenzo dengan kesal, namun Kenzo malah mengedipkan mata dengan genitnya. Sayangnya Bulan tidak tergoda sama sekali.


"Lalu apa yang kau lakukan di Club yang baru saja kau datangi?


Bukankah para wanita itu membuatmu cukup kenyang?"


Tanya Kenzo singkat.


"Hahaha, berlagak bodoh!


Kau menarik uang sebanyak 50 juta Peso untuk bersenang-senangkan?


Aku kira kau sudah berubah! Ternyataaa..!"


'Bugh bugh bugh bugh'


Bulan menghujani Kenzo dengan pukulan dari bantalnya.


Kenzo membiarkan Bulan melakukan itu, hanya saja dia menutup wajah dengan lengannya.


"Aku tidak menikmati apapun sayang!


Im sweaaarrr!


Aku bahkan tidak meneguk minuman beralkohol setetespun!"


Bulan tidak berhenti memukuli Kenzo menggunakan bantal dengan sekuat tenaga.


"Bohooong..!


Seorang Kenzo datang ke sebuah Club tidak mungkin kalau hanya duduk-duduk saja?!


Aku tau banyak hal tentangmu dari mantan pekerja di diskotik milik Ibuku dulu. Apa saja yang kau lakukan dengan wanita dengan minuman ditempat itu?


Bahkan kau bisa tidur dengan tiga wanita sekaligus dalam satu kamar. Dan kau salah satu orang yang membuat ibuku kaya raya...


Uuuwwhhh sangat menyebalkan jika mengingat hal itu Kenzo...!"


Bulan semakin beringas memukul Kenzo. Namun Kenzo tidak menahannya sama sekali.


"Ooouuhhh baby! Jangan ungkit masa laluku yang menjijikan itu!


Saat ini Aku berkata benaar!


Aku tidak menyentuh siapapun, bahkan meneguk setetes minuman pun tidak aku lakukan,


Kalau kau tidak percaya, coba saja cium mulutku ini, kau begitu pandai dan sensitif jika nafasku bau alkohol...


Ayo ciumlah...! Aku tidak keberataan..."


Kini Kenzo menahan pukulan bantal Bulan dan mendekatkan bibirnya.


Bulan terlihat ragu. Dia menatap Kenzo dengan tatapan sinis.


"Kenapa dia selalu mendapatkan kesempatan yang menguntungkan!?"


Kenzo lalu memegang dagu Bulan dan menariknya hingga benar-benar dekat dengan wajahnya.


"Ayo uji kejujuranku, Aku tidak terima jika kau menuduhku tanpa bukti..!


Ayo cium dan rasakan, apa Aku berbohong atau tidak?


Enak saja main menuduhku sembarangan?"


Kenzo mencengkram dagu Bulan dengan kuat, dia tidak melepaskannya walau Bulan mengelak.


"Aku percaya! Aku percaya!"

__ADS_1


Teriak Bulan sambil menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


"Aahhhhhh tidak adil,


Aku tidak terima! Tadi kau mencecarku dengan tuduhanmu yang omong kosong itu...


Buktikan kebenaran atas kata-kataku, Bulan!


Atau Aku akan memperpanjang kasus ini ke rumah hukum!"


Gertak Kenzo sambil tersenyum licik. Bulan menganga.


"Apa?


Kau akan melaporkan istrimu sendiri?"


Kenzo tersenyum lebar.


"Betul sekali.


Kau akan melanggar dua pasal sekaligus, pencemaran nama baik dan fitnah! Karena kau telah menuduhku tanpa bukti."


"A..apa?


Kkk...kkaau, tidak bercanda kan!?"


Ucap Bulan terbata-bata.


"Kenzo tidak pernah main-main dengan kata-kata nya!


So, jika kau tidak mau aku proses hukum, kau harus membuktikan kalau aku tidak berbohong!


Setelah itu, Aku akan mengurungkan niatku!"


Bulan merengut, dia bingung dan kesal dengan sikap suaminya itu. Kenzo memang pandai memutar balikkan keadaan, dia selalu punya cara untuk balik menekan orang yang berseteru dengannya, bahkan ia tak segan menggertak istrinya sendiri, hanya saja dia lakukan untuk mencari perhatian Bulan, dan mengambil kesempatan dalam kesempitan tentunya.


"Okay okay!


Aku akan memeriksa kebenaran dari kata-katamu!


Mendekatlah!


"No,


Kenapa Aku yang harus mendekat!? Seharusnya kau Bulan, kau kan sedang menyelidiki Aku...?!"


Bulan menutup wajahnya yang pasrah, sedangkan Kenzo tersenyum penuh kemenangan.


Bulan mendekat pada Kenzo dengan rasa geregetan dan gemas melihat ekspresi sang suami dengan wajah liciknya.


"Ayoo...!"


Bentak Kenzo membuat Bulan terperanjat.


"Sabar kenapa sih?"


Kau sangat menyebalkan!


"Aku ini suamimu! Aku tampan dan harum tentunya, tapi kau malah sungkan mendekatiku?!


Apa susahnya hanya tinggal mengecup dan merasakan nafasku seperti..."


Kenzo menghentikan kata- katanya dan tanpa berbasa-basi lagi Bukan ******* bibir Kenzo.


Bulan lalu melepaskan pagutan Kenzo.


"Apa yang kau rasakan!?"


Bulan tidak menjawab, dia hanya menggigit bibir bawahnya.


"Ayooo jawab...


Apa kau mengendus bau minuman di nafasku yang menggairahkan ini?"


Wajah Bulan memerah, ia menggelengkan kepalanya karena dia sadar tuduhannya tidak terbukti.


"Hahaha...


Tapi kau merasakan sesuatu kan?"


"Benar


Aroma Mint "


Jawab Bulan pelan.


"Kalau begitu....


Kita impas kan?"


Bulan menatap Kenzo dengan heran.


"Impas?"


Kenzo lalu memeluk Bulan. Ia berkali-kali mencium kepala istri tercintanya.


"Iyaa...


Kita Impas alias seri, kau dan Aku sama-sama melakukan kesalahan, menuduh tanpa bukti...


Aku tau kau tidak sadar dengan apa yang dilakukan si brengsek itu, tapi walau begitu, Aku akan tetap minta maaf padamu, Dan memberi pelajaran pada orang itu tentunya!


Dan satu hal lagi...


Aku tidak menikmati wanita maupun minuman apapun sayang, uang yang di bawa Mike itu memang atas perintahku, tapi itu untuk ganti rugi karena Aku menghancurkan banyak barang di tempat itu...


Karena Aku benar-benar marah,


Lalu, aku merasa bersalah padamu.


Aku belum bisa jadi suami yang baik, maaf,"


Kenzo mengutarakan itu dari lubuk hatinya yang paling dalam.


Bulan lalu membalas pelukan Kenzo dengan erat.


"Kau suami yang terbaik Kenzo.


Aku juga minta maaf ya kalau Aku bukan isteri yang sempurna untukmu."


"Kau lebih dari sempurna sayang! Kau dan Angelia adalah kesempurnaan untuk pria yang buruk ini...


Aku tidak sanggup jika kau membenciku"


Mereka berpelukan semakin erat, dan ciuman mereka mengakhiri perseteruan yang sempat memanas.

__ADS_1


__ADS_2