
Mike Dan Rere
Tidak terasa hampir dua minggu kami di Amerika. Entah mengapa Mike lebih memilih negara super power ini di banding Eropa. Rasa penasaran masih memenuhi benakku, sebenarnya seberapa indah Eropa itu? Apa seindah yang orang katakan?
Pagi ini ku hanya menatap pemandangan luar dari lantai 24 dimana kamar kami berada. Ku lirik Mike yang masih tertidur pulas, sebenarnya ia sudah merasa bosan, hanya saja Bos besarnya itu belum mengizinkan kami untuk kembali, Tuan Kenzo bilang 'nikmati saja Honey moon kalian'.
Honey moon?
Ya, jika honey moon itu hanya sekedar melakukan hubungan suami istri di luar negeri, itu sudah kami lakukan, bahkan sering. Tapi entah mengapa, kini aku merasa takut. Walau dari awal aku sudah tau, Mike menikahi ku hanya karena mentaati perintah Tuan Kenzo, bukan karena cinta. Kini, aku merasa hanya menjadi pemuas nafsu baginya, padahal kami adalah suami isteri.
Bukan ini yang ku harapkan, tapi siapa aku? Aku tidak mungkin protes dan menuntut Mike menjadi seperti yang ku mau. Tapi, bagaimana pernikahan ini kedepannya?
"Apa yang tengah kau fikirkan?"
Kata-kata Mike mengejutkanku.
"Mmmhh, tidak Tuan"
Jawabku sambil menggelengkan kepala.
"Berapa kali harus ku bilang, panggil aku Mike"
"Maaf, aku lupa..."
Jawabku sambil menunduk.
Mike lalu beranjak dari tempat tidur, aku segera menutup mata.
Mike mengerenyitkan dahinya.
"Kenapa kau menutup mata? Kau fikir orang di hadapanmu ini hantu!?"
"Bukan seperti itu! Kau hanya menggunakan ****** *****!"
Mike lalu menunduk melihat bagian bawah miliknya.
"Kau takut dengan ini? Padahal kau sudah sering merasakannya? Dasar aneh!"
Perlahan aku membuka mata, kulihat Mike tengah berjalan menuju dapur. Ia memasak air, entah apa yang hendak di buatnya. Aku lalu menghampirinya.
"Kau masak apa? Pakai dulu celanamu!"
Ucapku tanpa melihatnya.
"Kalau bicara jangan dengan mata tertutup, Rere. Lihat, aku sudah memakai handuk. Lagi pula aku khawatir kau akan menarikku kembali ke atas.
Kata Mike membuat mataku membulat.
"Apa kau bilang!? Bukannya itu kelakuanmu ya?"
Aku menyindir Mike yang tengah berkutat dengan panci dan cokelat bubuk yang di masukan ke dalam cangkir.
"Iyaa, itu kelakuanku, lalu kenapa?"
Pertanyaannya kini membuatku terdiam.
Ku lihat ia sangat kerepotan sekali membuat secangkir cokelat panas itu.
"Minggir lah, biar aku saja"
Ucapku sambil menggeser tubuhnya yang jangkung itu.
"Tidak usah, aku sudah biasa!"
Kini Mike yang menyenggol tubuhku.
"Heyy aku isteri mu!"
Mike menatapku tajam.
"Aku tahu dan seluruh dunia pun tau, kau isteriku...jadi tidak perlu kau ingatkan"
Ucap Mike sarkas.
"Baguslah, kalau begitu biarkan aku yang membuat cokelat panas ini. Karena isteri itu harus melayani suami"
Jawabku acuh sambil menuang air panas ke dalam cangkir.
"Lagi pula kau ini aneh sekali, baru kali ini kau minum cokelat panas. Apa kau kedinginan?"
Mike hanya mengangguk.
Dan aku pun hanya menoleh dengan tatapan dingin.
__ADS_1
"Biasanya kau selalu menengguk vodka, wine, atau sejenisnya. Apa kau sedang sakit?"
Ku sentuh dahi Mike yang memang bersuhu normal. Ia menghempaskan tanganku.
"Aku tidak demam! Aku sangat sehat.
Kau tidak perlu repot mengurusku, karena aku pria tampan yang mandiri, jadi kau tidak usah sok care padaku"
Mike lalu mengambil cokelat panas yang sudah siap di minum itu, dan berlalu meninggalkanku begitu saja di dapur.
Ia kembali ke kamar, dan aku menyusulnya dengan hati geram.
"Baguslah jika kau suami yang bisa mengurus diri sendiri, lalu aku tanya, apa kau pria yang bisa mengurus isteri dan anakmu?"
'Uhhuk uhhuk'
Pertanyaanku membuatnya tersedak.
"Kenapa kau tersedak?"
Tanyaku dengan tatapan penuh curiga.
"Ti..tidak...tenggorokkanku hanya terasa gatal"
Jawabnya gugup.
"Kau belum menjawab pertanyaanku sebelumnya!?"
"Aku..."
"Dengar Tuan dingin dan misterius. Jika kau tidak mampu melakukannya, lebih baik akhiri pernikahan ini"
Jelasku tanpa ragu.
Mike bangkit berdiri dan memegang pundak ku.
"Apa yang kau katakan? Memang kau mengira, aku serius menjalani pernikahan ini? Bukankah kau tau aku menikahimu hanya karena mematuhi perintah Bos Kenzo?"
Mendengar ucapan Mike, bibirku bergetar. Mataku mulai berkaca-kaca. Aku tau, aku sangat tau, mana mungkin pria sesempurna dirinya mencintai wanita kampungan sepertiku.
"Aku tau, maka dari itu, aku hanya ingin memastikan. Jika perasaanmu benar seperti itu, lebih baik kau penjarakan saja aku. Aku tidak mau menjadi pemuas nafsumu yang bersembunyi di janji suci yang telah kau ucapkan di depan Tuhan"
Aku tersenyum getir.
Mike menyentuh tengkuk leherku dengan tangan lembutnya, membuat bulu romaku berdiri. Tapi aku tidak mau terhanyut dengan apa yang ia lakukan.
"Kau tidak menganggap ku seorang isteri bukan? Dan aku tidak mau jika hanya kau jadikan wanita penyalur nafsumu, Mike!"
Aku berdiri, berjalan menuju jendela yang terbuka dengan hati yang hancur.
"Kenapa kau menilaiku seburuk itu Rere?"
Tanya Mike yang menghampiriku.
"Itu memang kenyataannya! Kau, kau tau bukan sejak aku menyelamatkanmu, aku langsung jatuh cinta padamu, tapi jangan harap kau bisa mempermainkan perasaanku, Mike"
Air mataku mulai menetes.
Mike lalu duduk di sampingku, aku hanya memalingkan wajah darinya.
"Rere, ternyata kau memang sepandai itu! Kau..."
Mike menarik daguku hingga kami bertatapan.
"Apa kau tidak pernah mengerti? Setiap sentuhan yang ku berikan itu cinta?"
Mataku melebar, apa yang ia katakan? Cinta? Apa yang ia tau dengan cinta?
"Aa..."
"Sssstttt!!!"
Mike menutup mulutku dengan jari telunjuknya.
"Kau pasti bingung dan tertekan. Maafkan aku...
Sebenarnya, aku sudah lama jatuh cinta padamu, hanya saja...
Hanya saja, aku terlalu gengsi untuk mengungkapkannya.
Maka dari itu aku merasa menjadi pecundang,
Aku menginginkan pernikahan ini Rere, karena aku mencintaimu.
__ADS_1
Kau satu-satunya wanita yang mampu mengganggu malam ku, konsentrasi ku!
Dan hatiku panas jika kau di goda oleh Nic maupun anak buahku.
Saat itu aku sadar, kalau aku...jatuh cinta padamu.
Percaya atau tidak, aku takut kehilanganmu...please, jangan pernah berfikir meninggalkanku, aku tidak sekuat yang kau kira Rere aku lemah tanpamu..."
Mike berlutut dan mencium tanganku. Aku hanya mampu terpana dan tak percaya.
"Apa ini mimpi? Mike, menyatakan cintanya padaku? Setelah menjadi suami yang acuh, yang aku kira hanya menginginkan tubuhku?"
Gumamku dalam hati.
Ku tatap matanya sembab, rasanya mustahil seorang Mike yang dingin dan kejam matanya berkaca-kaca.
Aku mengusap air matanya yang hampir menetes dengan tersenyum haru.
"Kau pasti mengejekku kan?"
Ucapnya dengan tersenyum tipis.
Aku menggelengkan kepala.
"Aku Bahagia Mike, apa kau benar-benar mencintaiku? Mencintai perempuan udik ini?"
Mike lalu meremas tanganku.
"Maafkan aku...kau wanita yang sempurna, kau berbeda dengan wanita di luar sana, ku mohon, jadilah isteri ku untuk selamanya...please!!"
Aku masih terdiam. Membuat wajah Mike semakin tak karuan.
"Aku mengerti, jika kau memang ingin lepas dariku...
Aku, akan mengabulkannya"
Ucap Mike dengan nada penyesalan yang begitu dalam.
Aku bangkit dan melepaskan tanganku yang di genggamnya dan berlalu meninggalkannya dengan posisi yang masih berlutut.
Ku buka lemari pakaian, seketika Mike bangkit dan menarik tanganku.
"Ku mohon! Jangan tinggalkan aku Rere...!!"
Aku menepis tangannya dengan wajah sinis.
Kembali ku turunkan pakaianku dari lemari itu. Dan Mike semakin menahanku dengan rasa takut kehilangan yang begitu teramat sangat.
"Rere, ku mohon jangan kemasi pakaianmu. Apa yang akan ku katakan jika kau meninggalkanku, Rere..Rere!!"
Kini aku melepaskan dekapan Mike pada tubuhku.
"Kau bisa diam sebentar tidak!? Biarkan aku mengambil sesuatu?!"
"Bagaimana aku bisa diam, kalau wanita yang ku cintai akan meninggalkanku, aku tidak mau kalau pernikahan ini hanya bertahan dua bulan saja?"
"Ini, lihatlah!"
Ku tunjukkan benda kecil dengan dua garis merah muda di tengahnya.
Mike mengerenyitkan dahinya.
"A..apa ini?"
"Ini yang ku cari, sebenarnya seminggu yang lalu aku ingin menunjukkan ini padaku, tapi...rasanya percuma jika kau tidak menghendaki pernikahan ini...
Tapi karena kau telah menyatakan semua isi hatimu..."
"Katakan, apa maksud semua ini?"
Tanya Mike semakin tak mengerti.
"Ini test kehamilan. Aku, hamil..."
Jelasku sedikit ragu.
"Ha...hamil?
Kau tidak bercanda kan?!"
"Mike, pistolmu masih sangat berfungsi, dan kau tau itu kan?"
Wajah Mike berbunga, ia terlihat begitu bahagia.
__ADS_1
"Jadi, aku akan menjadi seorang ayah?"