
"Kena kau! hahaha!!"
"Huwaaaa!!"
Rere menjerit sangat keras karena ia berada dalam dekapan Mike.
'CHUUP '
Mike mencium bibir Rere hingga ia berhenti berteriak.
Rere mencoba melepaskan pagutan Mike, tapi Mike tidak mau melepaskan meski Rere sudah menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
Setelah beberapa menit.
Mike melepaskan pagutannya sambil menatap Rere engan tajam.
Rere menarik nafas panjang.
"Kau...kau membuatku sesak nafas,
lepas..."
"Jika aku tidak mau?! kau mau apa? teriak?"
Rere mengangguk dengan yakin.
"Hahaha! berteriak lah aku akan menciummu lagi!"
"Lepaskan...aku mohon, kau jangan menyentuhku lagi. Kk..kau, sudah membuktikannya tadi, bahwa milikmu itu...baik-baik saja bukan?"
Mike mengerenyitkan dahinya.
"Dasar perempuan tidak bertanggung jawab!
Kau bahkan hampir saja memecahkan telur milikku, itu baru sekali bagaimana aku tau besok, seminggu, atau bahkan setahun kemudian milikku ini masih berfungsi dengan baik hhah!?
Kau hanya berani berbuat tapi tidak berani bertanggung jawab!
Baiklah aku akan melepaskan mu, dan aku tidak akan menyentuhmu lagi, tapi aku akan melaporkanmu pada mertuaku!
menyingkirlah!"
Mike mendorong Rere ke atas kasur. Ia lalu mengenakan piamanya dan hendak membuka pintu kamarnya.
'Kotreek'
"Mike...akan mengadukan ku pada mertuanya?"
gumam Rere dalam hati.
"**..tunggu Mike! siapa mertuamu?"
Mike menghentikan langkahnya.
"Ya Ayahmu! kau fikir siapa lagi? aku kan baru menikah sekali?! hhhh!!"
Mata Rere membulat, ia lalu menarik tangan Mike dan memohon.
"Please! jangan laporkan aku pada ayahku... dasar menantu tukang mengadu!!"
Mike melirik Rere dengan sinis.
"Kau memohon tapi kemudian mengumpat ku? Hhh, aku tidak akan mengurungkan niatku!
biar saja aku menjadi menantu tukang mengadu, yang penting aku bukan orang yang lari dari tanggung jawab! "
Mike tetap melanjutkan langkahnya ke luar kamar, dan Rere menggelayut di lengan Mike mencoba menghentikan langkahnya.
"Maaf maaf...! Aku bertanggung jawab, aku bertanggung jawab...!!"
Mike menghentikan langkahnya sambil menahan tawa.
"Bohong"
sahut Mike dingin.
"Aku tidak pernah bohong!"
"Begitu ya? lalu, bagaimana dengan...ekhemmm!"
Para penjaga di sekitarnyapun terkekeh sambil pura-pura tak menatap pengantin baru yang aneh itu.
Wajah Rere pun memerah karena malu.
"ssssstttt!!"
Rere mendesis.
"Kenapa?"
"Bicarakan ini di dalam!"
jawab Rere setengah berbisik.
__ADS_1
"Di dalam? waahh rupanya kau ketagihan ya?"
Penjaga kembali cekikikan mendengar kata-kata Mike.
"Mike!"
"Sabar dong..."
Mike tersenyum licik.
"Hhuhhh menyebalkan!!"
kini Rere melepaskan genggamannya pada tangan Mike dan kembali ke kamar.
"Apa-apaan orang itu! bikin malu saja!"
Rere menggerutu.
"Apa orang yang kau maksud itu aku?"
Rere kaget.
"Mike?"
Ia lalu menoleh kesamping, tapi wajah Mike sudah berada di depan matanya.
"Wwhaaa!!"
"Kaget?"
Rere mengangguk dengan kikuk.
'GLEKK '
Mike menelan ludahnya.
"Aku sudah banyak menyentuh wanita tanpa ragu, tapi dengan Rere, mengapa aku sangat gugup dan segan..?
aneh! apa inikah rasanya jika bersentuhan dengan wanita baik-baik?"
gumam Mike dalam hati.
Rere ketakutan ketika melihat Mike yang tanpa berkedip menatapnya.
"Jangan takut padaku Rere, cukup musuh dan anak buahku saja yang takut padaku"
Rere menatap Mike seakan tak percaya.
"Kau, bukan untuk takut padaku, tapi..."
Tangannya meremas tangan Rere dengan lembut, dan tangan yang satunya membelai lembut rambut dan pipi Rere.
Perlahan tapi pasti, mereka berdua lalu merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur Mike. Pertempuran ke dua mereka akhirnya pun terjadi tanpa drama dan meradakan nikmatnya surga dunia.
****
Mata Rere perlahan terbuka, tubuhnya masih berbalut selimut. Ia kembali mengingat hal apa yang baru saja ia lakukan dengan Mike. Ia mengukir senyum di wajahnya. Telunjuknya menyentuh bibirnya, seakan masih sangat terasa sentuhan dari bibir pria kejam yang dingin itu. Sentuhan dan dekapan Mike pada tubuhnya, seakan menari-nari di benaknya.
"Tidak ku sangka, Mike bisa selembut dan semanis itu, sampai aku fikir itu semua adalah mimpi, tapi ternyata..."
Rere kembali tersenyum dan tersipu. Ia lalu menoleh ke sebelahnya, tapi Mike sudah tidak ada di sisinya. Matanya mencari-cari ke penjuru ruangan, tapi tidak nampak bayangan pria tinggi dengan wajah tampannya yang membosankan itu.
Rere lalu menoleh ke jam yang menempel di dinding, ia pun terkejut.
"hhah? Jam 10?!"
Ia segera bangkit berdiri, bergegas untuk membersihkan diri di kamar mandi. Ketika ia hendak melangkahkan kakinya..
"Sstt, aawwhhh! Ya Tuhan..."
Rere meringis dan kembali duduk di pinggir tempat tidur.
"Ss..sakit sekali "
keluh Rere pada bagian mahkotanya yang sudah di renggut Mike.
"Duhh, pelan-pelan aja deh jalannya, Nona Bulan pasti sudah menunggu."
Dengan tertatih sambil menahan sakit Rere bergegas ke kamar mandi.
*Di luar sana*
Mike sejak jam 6 pagi sudah stand by di tempat latihan bersama anak buahnya.
"Waktunya istirahat!"
seru Mike pada anak buahnya.
"Siap Bos!"
Para anak buahnya pun berhamburan. Ia lalu duduk di anak tangga dengan badan yang benar-benar lelah.
'GLEKK GLEKK GLEKK '
__ADS_1
seteguk wine mencoba mendongkrak staminanya.
"fiuuh! melelahkan... "
"Hahaha, rupanya kau tidak membiarkan Rere tidur ya?"
Mike menoleh ke arah sumber suara itu.
"Bos Kenzo?"
Kenzo yang datang bersama Nic pun duduk di sisi Mike.
"Hey bro! kenapa kau masih sibuk latihan hhah?! kau masih cuti, kembalilah ke kamarmu..."
ucap Nic sambil merangkul Mike.
"Hhhh, aku bukan pria yang senang mengurung diri di kamar!"
"Tapi jika mengurung diri di kamar bersama wanita, bukankah menyenangkan?"
sindir Kenzo yang disambut gelak tawa Nic.
"Hmm menurutmu, bagaimana rasa...ekheemmm"
"Basa saja, seperti tidur dengan wanita pada umumnya" bohong Mike. Jelas ia merasakan hal yang spesial dan berbeda ketika ia menyentuh bahkan menikmati tubuh Rere.
Ia sampai berfikir, 'apa ini karena cinta?'
Lalu Rere datang melintasi ketiga pria tampan dan mempesona yang tengah menggali tentang malam pertama ia dengan Mike.
Rere menatap Mike begitu juga sebaliknya.
Rasanya mereka masih canggung untuk bertegur sapa di depan umum.
Rere tersenyum tipis dan hendak berlalu begitu saja, karena ia sedang buru-buru untuk menghampiri Bulan.
Tapi seruan Nic menghentikan langkahnya.
"Hei Nyonya Mike, , kau tidak ingin mencium suami mu ini? setidaknya kau buatkan orange juice. Lihatlah keringatnya bercucuran, dia sangat kelelahan"
Mike tidak menggubris perkataan Nic, tapi Rere melirik suaminya yang berlagak acuh itu.
"Rere, kau mau menemui istriku kan?"
tanya Kenzo.
"I..iya Tuan."
"Kau tidak ingat? Kau dan Mike masih cuti sampai minggu depan"
"Apaaa!?"
Mike dan Rere kaget.
"Dasar pasutri aneh!"
umpat Nic sambil merebut wine dari tangan Mike dan meneguknya.
"Lalu aku harus apa? tanpa melakukan apapun...dan..."
"Kau bersenang-senang dengan Rere, itu perintah Kenzo, benarkan Kenzo?"
tanya Nic sok tau.
"Benar sekali! Aku bahkan sudah menyiapkan bulan madu kalian ke Eropa"
"Eropa?"
Rere tambah kaget tak percaya.
"Kenapa? kau tidak suka? atau kau ingin ke negara lain??sebutkan saja..." Tanya Kenzo.
"Aku tidak mau! jika aku pergi siapa yang menjagamu??"
tegas Mike.
"Ada Nic dan puluhan anak buah mu, Mike! sudahlah sekarang aku bukan anak kecil, bersenang-senanglah, kau sudah menghabiskan bertahun-tahun dengan setia padaku...seminggu saja sebenarnya masih kurang menurutku"
jelas Kenzo.
"Apa yang suamiku bilang itu benar, kalian harus di beri waktu berdua agar secepatnya ada dua wanita berperut buncit yang menemaniku di rumah ini"
ucap Bulan yang tiba-tiba datang sambil memeluk gemas Rere, Rere hanya tersenyum kikuk.
"Hahaha...pasti seru ya? jika dua pria yang di segani oleh rekan dan lawannya di kerjai oleh permintaan istrinya yang aneh saat mengandung, aku sudah tidak sabar menunggu hal itu"
celetuk Nic dengan tawanya.
"Dan kamipun tidak sabar menunggu kau merasakannya Nichoooo!!"
ucap Kenzo dan Mike bersamaan.
"ahahahaha..."
__ADS_1
Bulan dan Rere terbahak. Sedangkan Nic hanya tersenyum kikuk sambil garuk-garuk kepala.