
"Siapa kau?!"
Tegas Mike sambil menodongkan pistolnya kepada seseorang yang menurutnya mencurigakan.
Tangan satunya ia kaitkan di leher wanita yang harumnya ia kenali.
Ya, Mike mencium wangi rambut Rere yang di tangkap indra penciumannya.
Di dalam ruangan yang gelap, Rere mencoba berontak. Ia ketakutan karena ia tau benda apa yang menyentuh dahinya.
"Jj...jangan bunuh Aku, Aku bukan orang jahat!"
Mata Mike membulat, tentu ia sangat mengenali suara yang baru saja berteriak itu. Niat hati ingin menyebut nama Rere, tapi Rere keburu melakukan...
'BUUGHH!'
sikunya ia ayunkan dengan keras tepat di kejantanan Mike.
"Aarrrgghhh! Pistolku!"
Mike terjerembab dan merasakan rasa sakit yang luar biasa. Ia tengkurap sambil memukul-mukul lantai. Kalau saja yang melakukan itu bukan Rere, sebelum pistol yang ia genggam ia jatuhkan, pasti sudah berhasil memecahkan kepala orang yang sudah menghantam kejantanannya itu.
"Kk...kkauu?
Aaarrrggghhh!"
Rere pun baru menyadari, teriakan itu?
"Tu..tuan...? Tuan Mike!?"
Dengan gemetar ia mencari tombol stop kontak lampu di kamar itu, dan lampu berhasil ia nyalakan. Benar saja dugaannya, orang yang tengah terbaring menahan sakit itu adalah...
"Tuan Mike? Mm..maaf Tuan!"
Rere gugup, sekujur tubuhnya dingin.
"Rere... Apa yang kau lakukan?!"
Gumam ia dalam hati.
Seiring berlalunya waktu, rasa sakit yang mendera Mike pun berkurang. Ia kini mampu bangkit walau masih setengah meringis. Rere mematung berdiri pada sudut kamar. Wajah dingin Mike yang penuh amarah seperti tengah memburu Rere.
Mike berjalan kearah Rere setelah memungut pistolnya yang terjatuh.
Keringat dingin semakin membanjiri Rere.
"Apa yang kau lakukan disini?! Nyawamu hampir saja melayang jika aku tak menahan diri!
Tapi, lihat apa yang kau lakukan?"
Dengan polosnya Rere perlahan menatap otot kekar yang tersembunyi milik Mike, yang baru saja ia hantam dengan sikunya.
'PRAAKK!!'
suara Mike yang mematahkan pistolnya membuat pandangannya beralih karena kaget.
"Rasanya seperti pistol ini, Kau tau?!"
Bentak Mike kesal.
"Tapi, Aku lihat pistol yang di dalam milikmu itu, baik-baik saja"
Ucap Rere pelan dengan rasa bersalah.
"Baik-baik saja kau bilang? Apa kau sudah memeriksanya?! Kalau hanya dilirik bagaimana kau tau?
'GLEKK'
"Aku tidak mungkin memeriksanya, Aku..
Aku...?"
"Aku apa?! Kau mana tau sakitnya seperti apa! Benda ini, aahhh maksudku milikku ini, sangat berharga! Aku bukan pria jika pistolku ini kenapa-kenapa!!"
"Kalau begitu kita ke dokter saja?"
__ADS_1
Ucap Rere dengan jantung yang semakin berdegup kencang karena ketakutan.
Mike semakin mendekat, ia menundukkan wajahnya hingga bertatapan dengan jarak beberapa centi dari wajah Rere. Sampai hembus nafas Mike terasa di wajah gadis bermata cokelat itu. Hanya rasa takut yang ada di hati Rere, hingga ia perlahan memalingkan wajahnya.
"Jangan buang pandanganmu ke arah lain!"
Ucap Mike sambil menarik dagu lancip Rere. Rere yang sudah berada disudut ruangan tentu tidak bisa bergerak lagi.
"Tadi kau bilang apa? Ke dokter?!"
Rere mengangguk.
"Hhah! Itu sama saja mempermalukan diriku dan kau bisa di seret oleh polisi.
Tapi, baiklah jika memang kau ingin membusuk di penjara!?"
Mata Rere membulat.
"Jj..jangan! Aku tidak mau di penjara. Aku mohon Tuan!"
Mike meredupkan tatapan matanya, namun semakin tajam sampai menusuk mata Rere rasanya.
"Kau akan bertanggung jawab?!"
Rere mengangguk.
"Memang seberapa parahnya keadaan pis...?"
"Mana aku tau! Aku dan kau belum memeriksanya!"
Jawab Mike dengan nada geregetan.
"Lalu, apa yang harus ku lakukan?"
Mike tersenyum sinis.
"Ini dia pertanyaan yang ku tunggu-tunggu! Hahah!"
Gumam Mike dalam hati.
Jawab Mike yang lalu menggigit bibir bagian bawahnya.
"Shitt! Dasar bodoh! Kenapa kau jawab seperti itu?!"
Rasa sesal memenuhi dirinya karena tidak bisa menggunakkan kesempatan untuk lebih dekat dengan Rere.
"Kalau Anda tidak tau, lalu Aku..."
"Cium bibirku!"
Tegas Mike.
"Apa? Itu tidak ada hubungannya untuk memastikan bahwa milikmu itu...?"
"ada! Cium aku, cepat!"
Rere menggelengkan kepalanya.
Namun Mike menggertak bahwa ia akan menelpon polisi.
"Ok...aku rasa, polisi akan segera datang"
Ucap Mike sambil tersenyum sinis.
"Jangan panggil polisi, please"
Wajah Rere memelas.
"Hhhh...Aku ini tidak sejahat yang kau kira, yaa walaupun telah banyak nyawa melayang oleh tanganku.
Semua keputusan ada padamu, jika kau tidak bertanggung jawab maka...?"
Mike menaikkan sebelah alisnya, tak lupa tarikan bibir yang membentuk senyum liciknya.
"Baik baik...
__ADS_1
Aku akan bertanggung jawab! Entah apa hubungannya mencium mu dengan keadaan..."
Rere melirik kearah pistol Mike yang baru saja ia hantam.
"Cium Aku, atau kau ingin melihat langsung kondisi terkini kejantananku?
Kau bebas memilih"
"Tapi pilihan yang kau berikan itu, terdengar sangat menguntungkan mu?"
Rere mulai membaca apa yang ada dalam fikiran Mike.
"Enak saja! Menguntungkan? Kau hampir memecahkan pistolku ini tapi kau seenaknya mengatakan semua itu menguntungkan bagiku?!
Ternyata kau wanita jahat dan tidak bertanggung jawab"
Mike yang pandai berakting itu pura-pura kecewa karena salah sangka.
"Aku bukan wanita jahat! Aku tidak bermaksud...?"
"Kau jahat Rere!!"
Mike kini pura-pura bersedih.
"Aku... Aku...?"
"Hhhhaah..seharusnya Aku sudah tau, kalau selama ini kau membenciku, makanya kau tidak merasa bersalah melakukan ini padaku.
Ouchh, keperkasaan ku kau renggut begitu saja"
Ucap Mike sambil memalingkan wajah karena menahan tawa.
Wajah Rere semakin kusut, kenapa ia kini merasa sebagai seorang penjahat? Ya karena Mike pandai bermain theater sehingga Rere bersimpati dan semakin merasa bersalah.
"Aku? Merenggut keperkasaanmu? Jangan asal bicara Tuan, nanti para penjaga mengira...?"
"Sudahlah Rere, baru kali ini ada wanita sehebat dirimu. Kau sampai membuatku terkapar di lantai..."
"Tuan Mike, jangan kau teruskan. Nanti orang lain berfikir yang tidak-tidak tentang kita!?
Jangan sebut Aku wanita yang tidak bertanggung jawab lagi.
Namun sebelumnya jelaskan dulu, bagaimana kau tau hartamu itu baik-baik saja hanya dengan Aku mencium bibirmu?"
Mike kembali menegakkan badannya, lalu ia menghela nafas.
"Kau tau Rere, jika ular kobra tertidur lalu mendapat sentuhan, apa yang terjadi? "
"Ular itu berdiri, atau bisa saja menyerang!?"
Mike tersenyum tipis.
"Seperti itulah cara kerjanya"
'GLEKK'
lagi-lagi Rere menelan ludah. Kini mengerti apa yang di maksud Mike.
Mike memejamkan matanya, menunggu ciuman dari Rere yang ia nanti-nantikan.
Rere yang tidak peka malah kebingungan.
"Tuan mengantuk? Kalau begitu, Tuan kembali ke kamar Anda saja, karena Aku di tugaskan untuk menjaga Nona Angelia"
Mendengar kata-kata Rere, mata Mike kembali terbuka dengan sorot mata tajamnya.
"Hhhh...wanita ini polos atau bodoh sih? Sekian banyak wanita telah ku cicipi, tapi kenapa Aku sangat mengharapkan ciumannya?
Ayo Mike, jika kau mau kau tinggal dekap saja Rere tanpa bersusah payah berakting!
Hahhh, kau sendiri yang membuat rumit!"
Gumam Mike dalam hati sambil memandang Rere tanpa berkedip, tentu membuat Rere semakin takut.
"Tuan tidak sedang berfikir untuk membunuhku kan?"
__ADS_1