Terpaksa Menikahi CEO Kejam

Terpaksa Menikahi CEO Kejam
Tamu tak di undang


__ADS_3

Pelacur yang di pesan Kenzo sudah tiba di rumahnya. Semuanya ada 10 wanita yang cantik-cantik dan super sexy. Rumah Kenzo sangat besar dan megah jadi ada banyak kamar yang tersedia. Ada 8 kamar di Rumah Kenzo, 6 kamar yang lain digunakan temannya bergilir menikmati wanita-wanita yang di pesan Kenzo.


Kini Kenzo duduk santai seorang diri dengan keadaan setengah mabuk.


Entah sudah berapa botol minuman setan itu ia teguk.


"Dengan begini kau bahagia Kenzo?"


Tanya Agnes sinis.


Kenzo tidak menjawab, dia malah senyum-senyum sendiri.


"Jawab Kenzo! Apa yang kau lakukan ini dapat mengubah masa lalu yang selalu kau kutuk itu!? Kau begitu membenci Ibu sampai kau menyebutnya dengan wanita ******, tapi kelakuanmu lebih buruk dari dia!


Kau tidak pantas menghinanya!".


Kenzo langsung bangkit dan mencengkram rahang Agens.


"Siapa yang membuatmu pandai bicara seperti ini bocah ingusan?


Jangan menggurui aku karena Aku tidak pernah meminta uang padamu atas apa yang ku inginkan!!


Jadi berhentilah mengurusi hidupku, jika kau selalu seperti ini, aku takut akan membunuhmu, sebelum itu terjadi pergi kau dari hadapanku bocah kecil!!"


"Sepertinya kau harus pulang ke Australia malam ini juga, hiduplah dengan bahagia, dan Anggaplah Kenzo sudah mati, dan lupakan kita pernah terlahir dari Ibu yg sama."


'Brruughh'


Agnes terjatuh ke lantai karena Kenzo menghempaskannya.


'Tok tok tok'


Tiba-tiba ada suara orang yang mengetuk pintu.


Kenzo berjalan dan hendak membukanya, namun sebelum Kenzo menyentuh gagang pintu, 2 orang tinggi tegap berpakaian serba hitam ala body guard lebih dulu membukanya.


Ternyata mereka mendampingi pria sekitar berumur 70 tahun yang wajahnya tidak asing bagi Kenzo.


"Kakek?"


"Kau sangat menyedihkan Kenzo!"


Ucap sang Kakek yang begitu tegas namun murah hati.


Kenzo hanya memalingkan wajahnya.


Kakeknya melihat Agnes yang duduk dilantai.


"Ouhh my God Agnes, apa yang terjadi?" Kakek membantu Agnes berdiri.


Kenzo terlihat sedang menelpon orang-orang yang mengamankan rumahnya.


"Kenapa kau tidak memberi tau ku sebelumnya kalau Kakekku tiba? Dasar tidak berguna!!"


Umpat Kenzo dan langsung menutup telponnya.


"Aku Kakekkmu, untuk apa aku meminta izin untuk datang."


Aku akan memeriksa rumah ini, karena untuk beberapa hari kedepan aku akan berlibur di Indonesia, Aku tidak bisa tinggal di tempat yang kotor."


"Pertama mau cek kamarmu Kenzo"


Kakeknya berjalan menuju kamar Kenzo dengan langkah yang mantap.


Kenzo mengacak-ngacak rambutnya karena fikirannya yang buntu, dia berfikir apa yang harus dikatakan pada Kakekknya jika melihat Bulan, bisa-bisa dia di coret namanya dari daftar ahli waris keluarga Smith.


Kakeknya membuka pintu kamar Kenzo dan....


"Siapa kamu!? Mengapa kau ada di dalam kamar cucuku?


Ohh aku tau, kau pasti perempuan murahan yang sudah menggoda Kenzo, iya kan!?"


Ucapan Kakek Kenzo sangat menyakiti hati Bulan.


Dengan terbata-bata dan penuh kesedihan Bulan menjawab.


"Bu..bukan Tuan, Aku bukan wanita seperti itu!"


Agnes datang menghampiri sang Kakek, ia memegang bahu sang Kakek ya g masih terlihat awet muda dan gagah dengan tersenyum.


"Kakek salah besar, gadis ini Bulan, dia calon Istri cucu Kakek yang paling tampan, Kenzo."

__ADS_1


Sontak saja perkataan Agnes membuat Bulan, Kakek dan Kenzo terperanjat kaget.


"Calon istri?"


Jawab sang Kakek sambil melirik heran ke arah Kenzo.


Dia lalu menghampiri Kenzo dan


Memeluknya.


"Ouhh Kenzo, aku benar-benar terharu, akhirnya kau sadar dan berubah juga, kakek benar-benar bahagia. "


Sang kakek memeluknya sambil menangis. Kenzo membalas pelukan sang kakek dengan tatapan geram yang ia tunjukan pada Agnes.


"Apa maksudmu Agnes?


Dasar anak sialan, seharusnya sejak tadi aku membunuhmu, paling tidak aku sedikit memotong lidahmu agar kau tidak bisa sembarang bicara!!!"


Gumam Kenzo dalam hati.


"Aku terancam, jika kakek mengetahui kalau aku masih seorang bajingan, Aku pasti dipecat menjadi cucunya, tapi kalau difikir itu ide bagus juga,


Mengikuti permainan Agnes...


Menurutku aku tidak rugi apapun dengan menikahi perempuan polos itu, Aku tetap akan mendapatkan warisan yang banyak sekali,


Apalah arti hubungan suami b? Itu hanya hubungan yang tidak penting,t untuk berpisah? Hhah! Itu hal pealing terkejam yang pernahku dengar, kalau menikah untuk mengamankan statusku di keluarga Smith, itu tidak lah buruk"


Gumam Kenzo dan tersenyum licik.


"Apa yang dikatakan Agnes itu benar sekali kakek, kami akan menggelar pernikahan kami secepat mungkin, karena rumah yang besar ini seperti pemakaman bagiku,


Sunyi dan menyeramkan."


Agnes tercengang, sepertinya ada udang dibalik batu. Ia tidak tau maksud licik sang Kakak.


Dan Aku? Aku jelas belum bisa membantah, karena takut hal buruk bisa terjadi.


Kenzo terus memeluk sang kakek, karena semua teman dan pelacur itu jalan mengendap-ngendap untuk keluar dari rumah tanpa sepengetahuan Kakeknya.


Agnes hanya bisa geleng-geleng kepala.


Teman-teman dan para ****** itu berhasil melarikan diri dengan aman.


Agnes merangkul sang Kakek.


"Hai... cantik, kamu kenapa?"


Kakek memperhatikan Bulan yang terus menunduk namun dia mengangkat dagu dan tersenyum.


Lalu fokus pada sudut bibir Bulan yang lebam.


"Kau terluka, apa Kenzo yang melakukannya?"


Bulan menatap Agnes, Agnes membulatkan matanya yang tak terlalu sipit itu, Bulan faham dia tidak mau kakeknya itu tau. Bulan menggelengkan kepala.


"Bukan kek."


"Kenzo, cepat obati luka calon istrimu itu!"


Pinta kakek pada Kenzo, dia tidak bilang iya, hanya tersenyum paksa.


"Aku akan beristirahat, besok kita bicarakan lagi tentang pernikahanmu."


Kakek dan Agnes keluar dari kamar Kenzo.


****


Dikamar kini tinggal kami berdua, Bulan gemetar ketika Kenzo mendekatinya. Bagi Bulan, Kenzo seperti monster yang setiap waktu akan menerkamnya. Terlebih dia mengunci pintu kamarnya.


Aku sudah ketakutan dia menyentuhku lagi, tapi dia berlalu melewatiku, membuka lemari besar miliknya.


Aku kembali ketakutan, karena biasanya dia mengeluarkan berbagai senjata miliknya, tapi ternyata dia mengambil sebuah koper besar.


Dia membawa koper itu kehadapanku.


"Bukalah "


Titah Kenzo.


Aku menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Aku bilang buka!!"


Bentak Kenzo dengan suara yang menggema, ucapan kasarnya pasti mampu menghancurkan hati wanita manapun.


Bulan masih terdiam dengan tatapan kosong.


"Kau berani mengacuhkanku? Kau sudah siap melihat Ibumu membusuk dipenjara?"


Aku menatapnya, sebenarnya Aku sudah muak dengan ancaman Kenzo, hanya saja aku terlalu menyayangi Ibuku. Bagaimanapun dia tetap ibuku.


"Ok, aku akan buka!! tapi please jangan menjebloskan ibuku."


Aku membuka koper itu perlahan, dan ternyata koper itu berisi uang yang banyak sekali. Mataku terbelalak karena seumur hidupku belum pernah melihat uang sebanyak itu. Bayangkan, 100 ikat uang 10 juta, berarti jumlah uang itu adalah 1 Milyar rupiah.


"Kalau kau menjadi pelacur, bercinta dengn 1000 lelakipun kau tidak akan mampu memiliki uang sebanyak ini dalam semalam.


Aku yang baik ini memberikan semua uang ini untukmu."


Ucap Kenzo dengan senyum liciknya.


"Aku akan menikahi kamu. Tapi kamu harus ingat aku laki-laki yang tidak bisa berkomitmen dengan pernikahan, apa lagi hidup dengan satu wanita sampai tua.


Tapi aku membutuhkan ikatan itu untuk menyelamatkan warisanku yang melimpah di Australia dan Inggris, Aku tidak mau kehilangan itu semua!!!"


"Satu lagi, aku tidak butuh persetujuanmu untuk bilang iya atau tidak,


Karena pernikahan itu akan tetap berlangsung walau kau tak setuju.


Tapi ada pilihan lain, jika kau sudah tidak ingin melihat Ibumu bernafas, Aku bisa melepaskan mu."


Kenzo begitu licik, dia lebih licik dari seekor Srigala.


"Cih...kau bisanya cuma mengancamku pria iblis, dasar pengecut, picik !!!"


"Haha...kata-katamu manis sekali cantik. Terserah kau mau ngomong apa, tapi ku tau kau pasti mau menikah denganku."


Kenzo menggeser koper itu, lalu merebahkan ku yang sedang duduk dengan kasar dan seringai liciknya.


Dia mencumbu keseluruh sudut wajahku, aku hanya mampu mengelak dan mengelak.


"Sebenarnya aku ingin menikmati tubuhmu malam ini, tapi ada pria tua itu yang datang kerumah ini." Kenzo


melirik Bulan penuh birahi.


"Tapi kalau kau tidak berteriak untuk saat ini, Aku akan melakukannya!"


Bulan mendorong tubuh Kenzo sekuat mungkin, tapi itu tidak membuat dia mengurungkan niatnya.


"Bajingan, brengsek kau Kenzo. Kenapa kau gak mati aja!!"


Teriakku sekencang mungkin.


Kenzo lalu mengeluarkan HPnya dan menelpon seseorang.


"Habisi Noni sekarang juga!"


"Jangan, jangan lakukan itu, ku mohon".


Aku mengemis sambil menangkupkan kedua tanganku.


"Kau memohon padaku wanita cantik?


Baiklah, aku akan menelpon anak buahku untuk membatalkannya,


Tapi, bukalah bajumu sendiri, aku lelah melepaskan bajumu dengan paksa, kalau kau menolak yaa Ibumu akan..."


"Baik..! Jangan lakukan itu."


Ucapku sambil berlinang air mata.


"Bagus, cepatlah tunggu apa lagi."


Kenzo tersenyum licik.


Dengan air mata yang terus menetes, ku buka pakaianku helai demi helai di hadapan pria berhati iblis itu.


Aku memang sudah tidak punya harga diri di depan Kenzo.


Setelah tubuh ini tidak dibalut sehelai benangpun, Kenzo dengan buas menikmatiku.


"Ibu..aku melakukan ini demi Ibu."

__ADS_1


Gumamku dalam hati, hati yang sudah hancur berkeping-keping.


__ADS_2