Terpaksa Menikahi CEO Kejam

Terpaksa Menikahi CEO Kejam
Gara gara Pistol Mike


__ADS_3

"Tolong...tolong...!"


Rere menjerit sekuat mungkin. Namun jeritannya hanya disambut oleh gelak tawa kedua preman itu.


"Bhahaha!


Siapa yang akan mempedulikan teriakanmu? Sudahlah, lebih baik kau ikut kami bersenang-senang"


"Tidak. Lepaskan, Aku tidak sudi!!"


"Hhmm, paksa saja dia. Rupanya dia tidak bisa di ajak dengan cara halus!"


Preman itu terus menarik paksa Rere dengan tatapan penuh hasrat seorang pria.


Dari seberang jalan yang gelap, Mike menyaksikan kejadian yang menimpa Rere, ia menghela nafas.


'Fiuhhh'


"Perempuan bodoh! Sudah ku bilang tempat ini berbahaya, dasar bandel!


Apa yang akan terjadi jika aku tidak disini?


Pria gembel itu pasti sudah mengoyak tubuhmu yang memang menggoda itu!!


Dan Aku pun harus turun tangan, Hhhh!"


Mike lalu mengeluarkan pistolnya dan membidik kedua preman yang tengah menarik paksa Rere dengan niat buruknya.


"One, two, three...and...shoot him!"


'Door Door!!'


Dua tembakan tepat membuat timah panas Mike bersarang di jantung mereka, dan dua preman itu tentu tersungkur tak bernyawa.


"Hwwwaaaaaaa...


Rere menjerit histeris sambil menutup kedua telinganya.


"Tuhan, selamatkan Aku Tuhan!!"


Rere lalu jongkok sambil menutup wajahnya dengan seluruh badan yang gemetar.


"Tuhan sudah mengabulkan do'a mu, wanita bodoh!"


Suara yang sangat familiar ditelinganya, membuat Rere membuka mata dan...


"Terimakasih Mike!


Kau telah menyelamatkanku!"


Rere lalu memeluk pria tegap dengan wajahnya yang dingin itu dengan penuh rasa syukur.


"Anggap saja Aku balas budi karena kau juga pernah menyelamatkanku.


Yaa, untung saja Aku tidak lupa membawa ini"


Rere lalu menatap pistol yang tengah di acungkan oleh Mike

__ADS_1


"Aaa...ppp...ppiss..pistol!?


Jjj..jjjadi...kkk..kkau yang menembak orang ini?!"


Mike hanya tersenyum tipis.


"Bagaimana? Aku hebatkan? Peluruku tepat membidik jantungnya, padahal posisiku jauh di seberang jalan yang gelap itu.


Bahkan Aku bisa melakukannya lebih baik lagi jika Aku menutup mata"


Namun Rere malah pingsan setelah mendengar penjelasan Mike.


"Rere?! Kau kenapa?!"


Rere tak sadarkan diri, dan itu membuat Mike bingung. Untung saja ia sedang memeluknya, dan ketika pingsan Mike refleks menyangga tubuhnya sebelum terjerembab ke jalan.


"Kenapa pakai acara pingsan?


Kau ini menyusahkan saja, baru melihat pistol ini saja sudah pingsan, bagaimana melihat pistolku yang tersembunyi? Hhhhhh...!"


Sebelah tangan Mike kembali menaruh pistol itu di balik badannya.


"Lalu sekarang bagaimana? Apa ke Rumah Sakit saja?"


Mike tidak berfikir panjang lagi, segera ia menggendong Rere menuju mobilnya. Tidak lupa ia menendang jasad preman dengan darah mereka yang memenuhi bajunya.


'Cuihhh!'


"Membusuklah bedebah! Beraninya kau menyentuh wanitaku!"


"Tunggu? Apa yang baru saja ku katakan, wanitaku?"


Mike menganggap hal itu faktor keceplosan, ia lalu menatap wajah Rere yang tengah ia gendong, ia lalu merebahkannya di kursi depan sebelah kanan.


"Aku tidak mencintaimu! Tapi karena cintamu padaku, itu membuat orang-orang sekitar termasuk Bosku menyuruhku melakukan hal bodoh!


Tapi kau yang lebih bodoh Rere.


Aku bukanlah pria yang bisa memanjakanmu seperti apa yang Kenzo lakukan saat ini pada Bulan.


Aku tidak mau lemah hanya karena cinta, mengerti!?"


Mike mengucapkan semua kata-kata itu ketika Rere tak sadarkan diri, sungguh hal yang sia-sia.


"Ketika ia membuka mata, apa Aku sanggup mengutarakan semua hal yang baru saja ku ucapkan?"


Perlahan tangan Mike mulai menyentuh rambut Rere yang menutupi wajahnya. Mike tersenyum tipis.


"Hidung yang mancung."


Lalu sentuhan telunjuknya meluncur dari hidung Rere hingga menyentuh bibirnya yang pernah ia kecup itu.


"Bibir yang tipis."


Mike pun terhanyut oleh suasana yang tak sengaja ia ciptakan sendiri, mengalir begitu saja dengan mengikuti apa yang ada di dalam hatinya.


Dan ketika bibirnya hanya beberapa senti lagi dari bibir Rere, Mike tersadar dan kembali kepada sikapnya yang menolak cinta yang sebenarnya sudah tumbuh subur di hatinya.

__ADS_1


"Mike stop it!"


Gertak batinya yang membuat ia kembali dan keluar dari zona yang sempat membuatnya terhanyut.


Mike lalu kembali duduk tegap sambil memegang stir. Matanya nampak menerawang jauh ke depan jalan. Darah yang mulai bergejolak, detak jantung yang berpacu bak kuda berlari, kembali ia kuasai dengan menahan dirinya untuk tidak menyentuh Rere.


"Bawa Rere kembali, lalu bergegas ke Club terdekat, ya itu yang paling tepat.


Jangan sampai menyentuhnya, karena itu artinya kau lemah Mike. Wanita boleh menguasai dompetku, tapi tidak dengan hatiku!"


Mike memutuskan untuk pulang saja, karena dia yakin itu keputusan yang tepat. Ia tau kondisi Rere saat ini tidak mengkhawatirkan, ia hanya shok berat.


"Dasar wanita pantai! Seumur hidupmu pasti hanya melihat ikan-ikan berbau amis itu dan wajah orang-orang yang legam terbakar sinar matahari,


Tidak aneh jika kau terpesona melihat Mike yang begitu gagah dan sekeren ini.


Melihat pistol saja kau sampai shok begini?! Ha!


Kau pasti tak menyangka orang yang kau cintai ini berdarah dingin?"


Mike melirik Rere yang masih belum sadarkan diri sambil tersenyum licik. Ekspresinya seketika berubah ketika menatap Rere walau hanya beberapa detik saja. Ia dengan cepat memalingkan wajahnya dan kembali menatap lurus kearah jalan. Kini matanya mulai sendu.


"Kau pasti ketakutan sekali? Maaf, Mike memang untuk ditakuti, bukan dicintai...


Sebenarnya, kau terlalu sempurna untukku Rere"


Matanya masih kearah jalan, tapi tangan yang satunya menggenggam tangan Rere dengan kuat.


Ketika kembali ke rumah Kenzo, orang-orang disekitarnya terkejut melihat Mike yang menggendong Rere tengah tak sadarkan diri.


Mike berjalan santai menuju ke dalam rumah besar itu.


"Bos, apa yang terjadi?"


Tanya salah satu anak buahnya yang bertanya-tanya.


"Rere pingsan.


Tolong pelayan segera siapkan tempat tidur untuk Rere, cepat!"


"Baik Tuan Mike."


Dua pelayan di depannya segera berlari mendahului Mike.


Berita akan pingsannya Rere dengan cepat menyebar ke semua penjuru rumah besar yang bak istana itu. Dan berita akan pingsannya Rere juga terdengar oleh Nyonya besar Sminth saat ini, yaitu Bulan. Dengan mata besarnya yang terbuka lebar, ia begitu terkejut.


"Apa?


Rere pulang dengan keadaan pingsan!?"


Bulan lalu menatap sinis pada Kenzo.


"Kenzo, apa yang anak buahmu lakukan? Awas saja jika Mike berani menyakiti Rere, kalian berdua harus menanggung amarahku!"


"Sabar sayang, kita cari dulu penyebab nya. Jika Mike melakukan kebodohan biar aku sendiri yang menghajar Mike, Nyonya besar Sminth." Kenzo menarik tubuh Bulan kedalam pelukannya. Dia mulai menciumi kening, pipi, hingga bibirnya. Kenzo memang pandai meredam amarah Bulan yang akan meledak itu.


"Kalau begitu, ayo cepat kita temui mereka. Aku khawatir dengan keadaan Rere."

__ADS_1


__ADS_2