
Kenzo hanya menundukkan wajahnya. Ibu Kenzo menatap sang anak dengan kerinduan yang mendalam.
Tangannya sudah bergetar ingin memeluk sang anak yang kini sudah tumbuh dewasa.
"Dulu tinggimu masih sebahu Mommy, tapi sepertinya sekarang Mommy lah yang tingginya hanya sebahu kamu"
Ibu Kenzo membuka pembicaraan. Kenzo tidak pergi dan tidak menjawab pula, dia masih menunduk.
"Mommy yang memasak sup ayam kesukaanmu itu, Kenzo...
Mommy juga sangat merindukanmu dan Agnes.
Mommy...Mommy minta maaf!"
Ibunya berlutut di kaki Kenzo ambil menangis, hal itu tentu membuat Bulan , kakek bahkan Kenzo sendiri terkejut.
"Mommy minta maaf...
Kamu boleh memukulku, aku memang Ibu yang buruk!
Tapi ketahuilah, hampir 19 tahun ini Mommy pun tersiksa karena merindukan kalian berdua...
Mommy ingin sekali menemui mu di Autrali, tapi Mommy yang miskin ini tidak mempunyai cukup uang untuk pergi menemuimu,
Mommy baru mengetahui kalau ternyata kau berada disini, di negara tempat Mommy berada saat kau akan menikah...
Mommy datang, tapi para penjaga di rumahmu itu mengusir Mommy karena tidak memiliki undangan,
Jika Mommy mengatakan Aku Ibumu, siapa yang akan percaya?
Siapa yang akan percaya wanita berpakaian lusuh sepertiku adalah Ibu dari seorang Kenzo yang hebat ini...!
Kau tadi mengatakan kenapa Tuhan memberiku umur panjang, karena Tuhan memberi kesempatan pada Mommy untuk menjelaskan hal rumit antara Mommy dan Dady mu di masa lalu...
Kali ini Kenzo menatap Ibunya. Tidak ada sorot matanya yang tajam penuh amarah, Aku pun tak percaya Kenzo yang terlihat tangguh, dihormati dan ditakuti karena hartanya, sikap keras dan arogan yabg membalut dirinya, kini meneteskan air mata.
Mommy rela Tuhan mencabut nyawaku setelah Mommy memberi tau mu semua itu..."
Kakek mengusap bahu Kenzo.
"Mommy mu benar, dengarkan apa yang akan dia jelaskan...
Kakek yang menjadi saksi betapa rumitnya hubungan Mommy dan Dady mu, mereka memang terlihat romantis dan serasi, tapi kakek lah yang tau bagaimana Ibumu menderita!"
Kakek ikut meneteskan air matanya.
Sungguh keadaan ini benar-benar menyayat hati.
"Hal pertama yang harus kau ketahui, laki-laki yang kau lihat itu bukan selingkuhan Mommy dan Dadymu sangat mengetahuinya...
Dia adalah suamiku, kami baru menikah selama 2 bulan, tapi Valentino yang kejam itu menculik dan membawa Mommy ke Australia, Dadymu memaksa agar Mommy mau menikah dengannya. Jika Mommy menolak Dady mu mengancam keselamatan orang tua Mommy,
Saat itu Ibuku tengah sakit keras, kami yang miskin ini terpaksa meminjam uang pada Valentino, Dadymu yang seorang investor muda di proyek sebuah Hotel dan Apartemen mewah daerah tempat tinggal kami..."
'Dhegggg'
Kenzo membulatkan matanya, dia tidak percaya dengan apa yang di katakan Ibunya.
Begitu juga Bulan yang menyadari ternyata sifat licik Kenzo bukan hanya karena pelampiasan sakit hati pada Ibunya, tapi di warisi oleh sang Ayah.
"Apa yang dikatakan Ibumu itu benar Kenzo,
Saat kejadian itu, Herman, suami pertama dari Ibumu datang bukan untuk menimbulkan masalah, kedatangannya pertama kali setelah 10 tahun berpisah dengan ibumu, dia membawa surat cerai untuk ibumu tanda tangani..."
Kakek membantu Atika menjelaskan dari A sampai Z.
__ADS_1
Kenzo berdiri, berjalan ke kanan dan ke kiri saat Ibu dan kakeknya menjelaskan fakta yang selama ini tidak ia ketahui.
Wajahnya terlihat tengah berfikir keras, hatinya sesak ketika ia menyadari apa yang terjadi di masa lalu bukanlah kehendak Ibunya, dan Kenzo juga tidak menyangka, ternyata Dady yang sangat ia banggakan pernah melakukan hal yang sangat kejam.
Dirinya pun merasa malu, karena dia pun melakukan hal yang sama seperti sang Ayah, mendapatkan wanita yang ia cintai dengan cara licik dan kotor.
Kenzo kembali duduk, seluruh tubuhnya lemas, kakinya terasa tak mampu menopang tubuhnya.
Setelah rasa dendam dan kecewa yang besar sirna, kini rasa penyesalan yang mendalam mendera hatinya.
"Masih sanggupkah kau menyebut Ibumu wanita ****** Kenzo?!"
Kakek mendorong bahu Kenzo.
Kenzo masih diam, tidak mampu mengatakan apapun.
"Jawab Kenzo!
Mommy mu sangat merindukanmu selama 19 tahun ini, tapi Kau? Kau selalu menaruh dendam kesumat padanya, kau selalu mengumpatnya!
Tidakkah kau sadari, kesuksesanmu saat ini itu berkat do'a ibumu juga?"
Kakek membentaknya sambil menahan amarah. Bulan berdiri dan mencoba menenangkan kakek.
"Tenangkan dirimu kakek..."
Ucap Bulan sambil mengelus kakek.
"Bagaimana aku bisa tenang kalau Aku memiliki cucu sebrengsek Kenzo!
Aku senang dia bukan lagi penikmat wanita murahan diluar sana,
Tapi Aku tetap malu memiliki cucu yang durhaka pada Ibunya!!"
Kini Atika angkat bicara.
"Sudahlah Dad, ini juga bukan salah Kenzo...
Tika lega bisa menjelaskan semua ini, jika Kenzo tidak mau memaafkan Aku, Aku terima...
Jaga diri Dady baik-baik ya,
Dan Bulan, kau Bulan kan?"
Bulan mengangguk, Ibu Kenzo tersenyum dan mengecup kening Bulan.
"Jadilah Ibu dan istri yang baik untuk Anakku,
Semoga kau diberi kelancaran untuk melahirkan cucuku."
Atika terisak-isak begitu pula Bulan, mereka lalu saling berpelukkan.
"Dady, Tika pamit...
Permisi!"
Ibu Kenzo melangkahkan kakinya.
"Tunggu Atika, Kenzo belum meminta maaf padamu..."
Teriak Kakek, tapi Ibu Kenzo malah berlari semakin cepat sambil air mata yang terus bercucuran.
"Aku kecewa sama kamu Kenzo! Kau bukan suami dan Ayah yang baik!"
Bulan mendorong dan memukul bahu Kenzo.
__ADS_1
Kenzo berdiri, Bulan takut Kenzo marah padanya, akan tetapi...
"Mommy... Mommy!
Tunggu Aku !"
Kenzo lalu keluar dari Apartemen kakek dan berlari sekencang mungkin menyusul Ibunya.
Kenzo berkali-kali menekan tombol lift. Tapi pintu lift itu masih enggan terbuka untuknya.
"**** !! Come on...!
Aku tidak mau kehilangan Ibuku untuk kedua kalinya!"
Kenzo menggedor-gedor lift itu sampai mendapat teguran dari seorang office boy yang kebetulan akan menggunakan lift juga.
"Mas tolong jangn di pukulin seperti itu liftnya, nanti mas bisa di tuntut oleh pemilik Apartemen ini"
Mata Kenzo membulat, ia menarik kerah baju office boy itu dengan tatapan marah.
"Aku tidak takut! Kematian pun tidak aku takuti apa lagi cuma seorang pemilik Apartemen ini!
Jangankan Apartemen ini, uangku bisa membeli nyawa siapapun termasuk nyawamu!!"
Kenzo mendorong office boy itu hingga terhempas kelantai. Office boy itu lalu lari ketakutan.
Akhirnya lift pun terbuka, Kenzo segera masuk kedalam.
Dalam hatinya ia berteriak menyebut 'Mommy..jangan tinggalkan Aku.'
Sudah sampai di lantai dasar, Kenzo segera berlari dan berteriak, dia tidak mempedulikan orang sekitar yang menatap aneh padanya.
"Mommy...
Dont leave again, please!
I'm so sorry!"
Kenzo berlari keluar dari Apartemen, dia memperhatikan sekeliling mencari wujud sang Ibu.
Ia berlari hingga ketepi jalan raya, matanya terus mencari-cari sosok sang Ibu yang belum ia temukan.
Sampai akhirnya ia melihat seorang wanita yang sedang menyetop sebuah taxi.
"Mommy??Itu Mommy?!"
Kenzo menyebrang jalan dengan tergesa-gesa, hampir saja mobil menabraknya.
"Kalau nyebrang pakai mata!"
Umpat pengendara mobil itu. Tapi Kenzo tidak mempedulikannya, dia fokus pada langkah yang ingin menyusul sang Ibu.
"Mommy...tunggu!
Jangan pergi!
Maafkan Aku, Aku minta maaf...!"
Ibu Kenzo yang sudah membuka pintu mobil menoleh ke arah suara itu.
"Ken..Kenzo..?!"
**Hatiku sensitif jika menulis tentang ibu. Bahkan aku ikut meneteskan air mata ketika mengetik bab ini...
Yuk dukung author terus agar semangat**...
__ADS_1