
Kenzo memeluk Ibunya erat hingga ia menjatuhkan air matanya.
"I miss you so much, Mommy."
Bisiknya tak kuasa menahan kesedihan.
Ibunya pun tak dapat membendung tangis bahagianya, dia memeluk Anak sulungnya yang kini sudah tumbuh sangat tinggi.
Atika berdo'a dalam hati, 'semoga ini bukan mimpi, jangan bangunkan aku dari mimpi ini'.
Saking bahagianya dia tidak menyangka kalau saat ini ia benar-benar tengah memeluk putera sulungnya yang sangat ia rindukan.
"Kenzo.
Mommy minta maaf...! dengan isak tangis yang terdengar sangat pilu.
Ibu Kenzo hendak berlutut di hadapan Kenzo, tapi Kenzo menahannya.
Ia yang kini berlutut di hadapan Ibu yang selama 17 tahun di umpat dan di sumpah serapah oleh mulutnya.
Penyesalan Kenzo teramat sangat, dia mencium dan memeluk kaki sang Ibu.
"Tidak... Kau tidak salah, itu bukan kehendakmu...
Maafkan aku Mommy! Maafkan...
Kau lebih menderita dibanding aku...
Aku ingin Kau diberi umur panjang agar aku bisa menebus semua dosaku padamu!"
Orang yang berlalu ditepi jalan pun ikut terharu menyaksikan tangis dari Ibu dan Anak yang berpisah sejak lama ini.
Atika memegang bahu Kenzo.
"Berdirilah Nak...
Kau tidak harus seperti ini, kau tidak salah, Kau Kenzo anakku yang baik dan penyayang...
Mommy benar-benar bahagia dipeluk olehmu Nak...!"
Mereka berdua kembali berpelukkan, saking mencurahkan kasih sayang, rindu dan penyesalan yang mereka rasakan.
Ketika mereka masih terhanyut, Ponsel Kenzo bergetar. Dia melihat ponselnya.
"Kakek?"
"Kenzo, apa kau sudah menemukan ibumu?"
"Sudah kakek! Kini Aku bersamanya."
Kenzo tersenyum kearah Ibunya.
"Syukurlah, kalau begitu kalian harus cepat ke Rumah Sakit!"
Ucap kakek setengah panik.
"Apa yang terjadi? Apa kakek baik-baik saja?"
Tanya Kenzo yang ikut khawatir.
"Bukan Aku!
Tapi istri mu mau melahirkan, ketubannya sudah pecah! Dasar Anak bodoh bagaimana kau tidak tau kalau istrimu sudah mulas-mulas?!"
"Aku..Aku benar-benar tidak tau..."
Jawab Kenzo sedikit mlongo.
"Sekarang kalian berada di Rumah Sakit mana??
Aku dan Mommy akan menyusul..!"
"Baiklah...
Kami di Rumah Sakit Kasih Bunda, Kelas VVIP di Ruangan Ocean"
Jelas kakek.
"Baiklah, Aku akan segera ke sana!"
Kenzo menutup telponnya.
"Siapa yang sakit Kenzo?"
Tanya sang Ibu bingung.
"Istriku akan melahirkan, sebentar lagi aku menjadi seorang Ayah, Mommy!"
Senyum terlukis di wajah mereka.
"Kalau begitu kita harus cepat Kenzo, istrimu pasti sangat membutuhkan mu disampingnya"
Ucap sang Ibu.
Kenzo mengangguk.
"Mommy, Ayo masuk kedalam mobilku."
Kenzo dan ibunya sudah sampai di Rumah Sakit Kasih Bunda.
Kepanikannya semakin meningkat ketika ia mendengar rintihan Bulan dari dalam ruangan.
Kenzo dan Ibunya masuk kedalam, ada kakek yang tengah memberi suport pada Bulan dan Dokter plus perawat yang tengah sibuk menyiapkan peralatan untuk persalinan Bulan.
Kenzo datang dan mengecup kening Bulan yang basah oleh keringat. Kenzo lalu mengambil tisu dan menyeka peluh yang membasahi Bulan.
Bulan menggenggam kuat tangan Kenzo.
__ADS_1
"Saakiitt..."
Ucapnya lirih.
Kenzo semakin panik dan salah tingkah.
"Dokter, apa di Rumah Sakit ini tidak ada obat penghilang rasa sakit?
Tolong berikan pada istri saya, berapapun biayanya akan saya bayar!"
"Pak, rasa sakit yang bu Bulan rasakan itu wajar, setiap Ibu yang akan bersalin dengan cara normal akan melalui semua ini...
Bu Bulan tengah pembukaan 8, mulut rahim yang sedang dalam proses pembukaan tentu membuat rasa sakit yang hebat...
Butuh pembukaan 10 agar bayi dapat lahir, dan untuk persalinan normal tidak ada obat untuk penghilang rasa sakit,
Kecuali anastesi untuk melahirkan dengan cara Caesar."
Jelas Dokter dengan ramah.
"Kalau begitu kau operasi caesar saja, biar kau tidak merasakan sakit!"
"Tidak! Aku tidak mau!
Aku ingin melahirkan normal!"
"Tapi aku tidak sanggup melihatmu kesakitan begini...
Perutku tiba-tiba ikut mulas juga...
Kenapa ini Mommy, kakek?
Kakiku gemetar, Aku belum pernah begini sebelumnya..!"
Ibu Kenzo mendekati Bulan.
"Kamu yang kuat ya Bulan, ini adalah perjuangan seorang Ibu...
Dan kamu Kenzo, kau terlalu panik, itu tidak bagus untuk Bulan, tenangkan dirimu, Bulan akan baik-baik saja..."
Ibunya mengelap keringat Kenzo yang bercucuran, wajah tampannya nya pucat pasi.
Kenzo menggenggam dan mencium Bulan agar tetap tenang.
"Aku yakin kau wanita yang kuat, kau wanita yang hebat..."
Bulan masih meringis dan merintih, anak dalam rahimnya kian mendesak ingin segera bertemu Ayah, ibu serta nenek yang selalu menantinya.
"Kenzo... Aku gak sanggup..."
Ucap Bulan lemah.
Kenzo semakin gemetar karena panik.
"Kau pasti sanggup! Kau wanita hebat! Berjuanglah untuk Anak kita Bulan.
Kini hanya Kenzo yang menemani Bulan, Ibu dan kakek menunggu di luar sambil memanjatkan Do'a.
"Bu Bulan kepala bayinya sudah terlihat ya,
Sudah siap mengejan, dalam hitungan ke 3, mengejan sekuat tenaga, bantu buah cinta kalian agar lebih cepat melihat dunia..."
Dokter memberi pengarahan dan suport pada Bulan.
"Ayo istriku...
Berjuanglah...
Aku percaya kau wanita tangguh!"
Kenzo ikut menyemangati Bulan padahal dia sendiri wajahnya pucat, kakinya gemetar bahkan perutnya ikut mulas tanpa sebab.
"1, 2, ayo mengejan !!"
"Aaaaarrrrrhhhh...!!!"
Arumi mengeluarkan seluruh tenaganya.
"Ayo kau bisa, kau pasti bisa!!"
Kenzo terus mensuport Bulan.
"Sedikit lagi Bu, ayo semangat bantu bayinya untuk keluar"
Ucap sang Dokter.
"Tarik nafas panjang, hembuskan...
1, 2, mengejan! Semangat bu..!"
"Aaarrrgghhh...!!"
Bulan meremas tangan Kenzo sampai kukunya yang panjang menggores kulit pergelangan tangan Kenzo.
"Sekali lagi!"
"Aaarrrhhhh...!!!"
'Ooa oooa oooa oooa !!'
Tangisan bayi mengakhiri rasa sakit yang dirasakan Bulan.
Kenzo sampai tak kuasa menahan haru. Dia meneteskan Air mata.
"Anakku..."
Ucap Kenzo bahagia.
__ADS_1
Dia berkali-kali mencium kening dan tangan Bulan sambil mengucapkan terimakasih.
"Terimakasih Istriku!
Kau membuat bajingan ini menjadi pria sejati...
Terimakasih...
Aku berjanji akan selalu menjaga keluarga kecil kita!"
Bulan masih lemas, dia hanya mampu tersenyum. Rasa haru pun membuatnya menangis bahagia.
"Selamat. Bayi anda perempuan, sangat cantik tapi sepertinya, wajahnya persis seperti Ayahnya!"
Ucap Dokter sambil memberikan bayinya pada Kenzo.
Kenzo dengan senang hati menggendong buah cintanya bersama Bulan.
"Dokter benar!
Lihatlah Bulan, anak kita wajahnya persis sepertiku..!
Hahaha...
Kau Angel (malaikat) untukku baby! Ini princess di keluarga Sminth
Emmuuaachhh!!"
Kenzo begitu bahagia menimang sang puteri yang selama dalam kandungan selalu menyembunyikan jati dirinya.
"Yang penting wataknya jangan sepertimu!"
Bulan terkekeh, membuat Kenzo menatap dingin pada Bulan.
"Apa kau bilang?"
"Tidak..bukan apa-apa!"
Sahut Bulan menahan tawa.
Mommy dan kakeknya sangat antusias melihat anggota keluarga baru mereka.
"Youre beautifull !!"
Ucap kakek sambil mencium buyutnya.
"Mommy ini cucumu."
Kenzo memberikan anaknya pada Atika untuk menggendongnya.
"Kau, mengizinkan Mommy menggendong anakmu?"
Kenzo tersenyum.
"Kenapa tidak? Mommy adalah Neneknya..."
Ibu Kenzo terharu, ia menggendong anaknya Kenzo dengan senang hati.
"Kau cantik sekali sayang...
Persis sekali seperti Kenzo waktu bayi, hanya saja ia perempuan."
"Kau benar Atika..."
Kakek ikut mengelus dan mencium pipi bayi yang menggemaskan itu.
Kenzo duduk dipinggir tempat tidur Bulan, mereka sangat bahagia melihat pemandangan ini.
"Syukurlah anakku wajahnya mirip sepertiku...
Matanya pun sama, sipit dan imut, tidak seperti Mommy nya yang bermata besar, apa lagi kalau melotot..."
Kenzo meledek Bulan, membuat Bulan kesal dan mencubit tangan Kenzo.
"Aaawwhhh!"
Pekik Kenzo.
"Aku baru saja melahirkan, jadi jangan mengajakku bertengkar ya?"
"Aku tidak mengajakmu bertengkar Bulan...
Aku sedang membicarakan fakta! Aku bersyukur Anakku memiliki mata yang sipit dan bibir yang tipis sepertiku, karena kalau bibirnya sepertimu pasti dia akan cerewet...sama seperti Mommy nya ketika marah!"
Kenzo tertawa melihat ekspresi istrinya yang cemberut.
"Aku bercanda...
Terimakasih sudah memberikanku puteri yang cantik, kecantikannya seperti malaikat bidadari.
Heyy...
Aku akan memberinya nama Angelia! Ya, Angelia, karena dia adalah malaikatku..."
Nama itu mendapat respon yang baik dari Ibu dan kakeknya.
"Nama yang cantik...
Halo Angelia..."
Ucap Ibu Kenzo sambil menimang cucu pertamanya.
"Angelia Simnth...
Malaikat kecil ini anggota baru di keluarga Sminth.
Kakek sangat bahagia..."
__ADS_1
Mereka sangat bahagia, begitu juga Kenzo dan Bulan yang terkadang meributkan plus minus dari sifat atau bagian tubuh mereka yang ada pada bayi cantik nan mungil, 'Angelia'.