
Di Apartemen milik Kenzo...
Ia enggan pulang ke rumah penuh kenangan indah bersama Bulan. Sementara ia bersama orang-orang nya menempati apartemen bintang 5 miliknya.
Pagi sekali ia sudah rapih sekali. Namun wajah kusut masih menghiasinya.
Ia memandangi wajah anaknya satu persatu. Angelia masih terlelap, hanya tetes air mata yang tersisa di sudut matanya. Kenzo tersenyum getir.
Lalu ia menatap puteranya, ternyata ia terbangun. Bayi polos dan tampan itu melempar senyum padanya.
Entah apa yang ia rasakan, bahagia namun sengsara.
Ia lalu mencium putera yang belum ia fikirkan namanya itu.
"Dady pergi dulu ya jagoanku? Kau disini bersama Auntie Rere.
Rere, tolong jaga kedua anakku, aku hendak mengurus hal yang penting bersama suamimu."
"Baik Tuan, kau bisa mengandalkan ku"
Kenzo tersenyum.
"Minta bantuan pada pelayan jika kau kerepotan atau kelelahan, karena kau tengah hamil.
Aku hanya butuh kau untuk mengawasi"
Rere mengangguk.
"Baiklah Tuan"
"Omong-omong, sejak kemarin pagi aku belum melihat Jesy? Kemana dia?"
"Aku tidak tau Tuan, mungkin ia masih berada di kamarnya"
Jawab Rere.
Kenzo pun menganggukkan kepalanya. Ia lalu melambaikan tangan pada putera tercintanya, lalu pergi tanpa menoleh lagi.
Hatinya terlalu sakit melihat senyuman dari bayi polos itu.
****
Ponsel Kenzo berdering.
"Aku sudah sampai dan hendak menuju ruang bawah tanah"
Ucap Kenzo yang diiringi 10 orang pengawalnya.
Ia sudah tak sabar menghabisi pelaku penabrakan itu yang telah merenggut nyawa isteri nya.
Sampailah ia di sebuah pintu yang tinggi dan besar, pengawalnya membukakan pintu untuknya.
Pintu terbuka, nampak Mike tengah berdiri di dampingi belasan anak buahnya.
Mata sipit Kenzo menatap tajam pada dua orang yang di ikat di kursi, dengan mata dan mulut yang di tutup.
Tangan dan kaki mereka di ikat di kursi, mereka duduk dengan pasrah di ruang bawah tanah rumah Kenzo yang megah.
"Selamat datang Bos, aku sudah tidak sabar menyaksikan mu untuk menyiksa kedua orang biadab ini.
Ucap Mike yang memandang jijik pada pelaku penabrakan itu.
Pelaku itu seorang laki-laki dan perempuan.
Emosi Kenzo mulai bergelora. Darah dinginnya sudah lama tak mendidih.
Ia membuka jaket kulit berwarna hitamnya, lalu membuka kaos tanpa lengannya hingga nampak tubuh atletisnya.
Tangannya sudah gatal ingin menghabisi kedua orang itu.
Langkah kakinya berhenti di hadapan pelaku. Mereka tidak terlihat meronta.
"Kalau kau menaruh dendam padaku, kenapa kau tidak menghabisi ku?
Apa kau ini waria?!"
Nada suaranya begitu lantang.
"Buka penutup mulut laki-laki itu!"
Anak buah Mike segera menjalankan perintah Kenzo.
"Jawab pertanyaan ku!!"
"Aku...aku, hanya orang bayaran"
Jawab pria itu sedikit gemetar.
"Aku pernah menjadi iblis, tapi aku tidak pernah membunuh wanita, terlebih wanita itu tengah membawa kehidupan di rahimnya!"
__ADS_1
Kenzo menendang pria itu hingga terpental.
Ia mengambil pisau dari balik punggungnya dan mengiris tali yang mengikat orang itu.
Lalu ia mengangkat orang itu dengan cekikan dari sebelah tangannya.
Matanya merah, Kenzo yang kejam perlahan kembali.
"Aku akan menghabisi mu dan tujuh keturunanmu bajingan!!"
Kenzo melempar pria itu hingga terjatuh ke lantai.
Kenzo menghujani pria itu dengan tendangan demi tendangan yang begitu kuat. Dan hanya hitungan menit orang itu sudah babak belur.
Pria itu kini tergeletak, tapi Kenzo belum puas, ia menginjak leher pria itu dan memijaknya seperti ia memijak seekor kecoa.
"A...ampun..**..tuan..
Bb..ba..wa..aku, kke..po..li..si, ss..ssajaa"
Pinta pria itu dengan terbata-bata.
Kenzo semakin geram. Ia semakin kuat memijakkan kakinya di leher pria itu.
"Hhahh! Aku tidak akan mengampuni nyawamu! Aku lah malaikat maut mu!
Katakan, siapa orang yang telah membayar mu?"
Pria itu menunjuk wanita yang masih terikat di kursi.
Kenzo menatapnya begitu tajam dan dendam.
Ia lalu mengambil pisau miliknya yang terjatuh di lantai dan..
"Aaarrrggghhh!!"
Kenzo menusuk pria itu berkali-kali tanpa rasa Iba. Mike hanya tersenyum puas menyaksikan itu.
Darah membasahi badan kekarnya.
"Buka penutup Iblis betina itu!
Cepat!"
Penjaga Kenzo membuka tutup wajah dan mulut wanita itu dengan kasar.
'Sreetttttt'
Kenzo menunjuk ke arah pedangnya yang menggantung di dInding.
"Lempar pedang itu padaku!"
'Happp!'
Kenzo dengan sempurna menangkap pedang yang baru saja di lempar Mike.
Wanita itu tak kalah geram menatap Kenzo. Di wajahnya pun tergores dendam yang membara. Bahkan ia tak gentar sedikitpun ketika Kenzo menarik samurainya yang mengkilap.
Wajah yang belum di kenali. Dalam hati, Kenzo menebak, siapa wanita yang di perkirakan berumur 30 tahun itu.
Kenzo lalu menaruh pedangnya di sisi leher wanita itu, sedikit ia tekan hingga menggores luka dan meneteslah darah dari lehernya.
"Siapa kau Iblis betina!? Jawab! Atau aku akan menarik pedangku ini dan melepaskan kepalamu hingga jatuh ke lantai!"
Wanita itu menunduk. Tidak merasa terancam sedikitpun ia justru tertawa terbahak-bahak.
"Ahahahaha...Tuan Kenzo yang terhormat, ternyata kau tak sehebat yang ku kira!
Ahahaha...
Akhirnya kau merasakan apa yang ku rasakan!!"
Kedua mata mereka saling beradu, keduanya sama-sama memancarkan dendam yang belum terbalaskan.
"Siapa kau sebenarnya? Jika kau dendam padaku, mengapa kau mencelakai istriku, jawab!"
Nafas Kenzo terengah, matanya merah, emosinya semakin bergejolak.
Mata wanita itupun membulat dan meneteskan air mata.
"Kau membunuh suamiku!!"
Semua orang-orang Kenzo terkejut dan mencoba menerka, siapa suami dari wanita bernyali besar itu.
Kenzo hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Kau juga membuat anakku menjadi yatim! Sekarang kau pun merasakan sakit yang ku derita..ahahaha...
Bagaimana? Sangat menyentuh hati bukan melihat anakmu menjadi piatu?!"
__ADS_1
Tangan Kenzo bergetar, ia menambah tekanan pada pedang Kenzo di leher wanita itu, membuat darahnya mengalir.
"Sudahlah Kenzo, tebas saja leher wanita itu!"
Kata Mike geram.
Kenzo lalu melihat kalung yang wanita itu kenakan dengan liontin berbentuk huruf D.
Ia langsung bisa menerka.
"Kau isteri dari Duke rupanya?"
Bibir wanita itupun bergetar, dan matanya yang menatap tajam pada Kenzo berurai air mata.
"Ya! Kau benar! Aku datang untuk menuntut balas kematian suamiku!
Kau beruntung Kenzo, kau dan anakmu masih bisa mencium mayat isteri mu, sedangkan kami!?
Kami tidak pernah bisa melihatnya untuk yang terakhir kalinya.
Aku rasa, kematian isteri mu itu cukup setimpal!"
"Cukup!"
Kenzo melempar pedangnya. Ia lalu mencekik leher wanita itu.
Kenzo kian mencengkram leher istri dari Duke sampai ia sesak nafas.
"Aku yang membunuh pecundang itu, mengapa isteri ku...
Wanita yang paling baik, yang menjadi sasaran balas dendam mu Iblis betina?!
Duke yang lebih dulu mengancam nyawaku dan berniat meledakkan pesta penyambutan ku!
Maka dari itu dia pantas mati dan menjadi santapan ikan di laut lepas!
Aku pun bajingan, hatiku juga bisa sekejam iblis, tapi aku tidak pernah membunuh wanita, apalagi wanita itu tengah mengandung anakku...!"
'DASSH!!!'
'Bruughh!'
Kenzo menendang wanita yang masih terikat di kursi itu hingga terpental.
"Aaarrrggghhh"
Teriaknya kesakitan.
Kenzo berjalan ke arahnya, dan menjambak rambut wanita itu tampan ampun.
"Ayo bunuh aku Kenzo! Bunuh. Aku sudah siap, karena suamiku telah menungguku!"
Tegas wanita itu sambil menahan sakit, rambutnya terasa mau lepas semua.
"Itu pasti! Aku akan mempertemukan kalian kembali di neraka!
Namun, tidak secepat yang kau bayangkan Iblis betina...
Aku akan memperlambat jalanmu menuju neraka itu,
Aku akan membunuhmu secara perlahan,
Dan tragis!"
Kenzo menjambak wanita itu semakin kuat, tentu membuatnya merasa kesakitan.
Ia lalu tersenyum licik.
"Kau cantik, sebenarnya Kenzo jarang memperlakukan ini pada wanita,
Tapi, karena kau terlalu menjijikan, biar seluruh anak buah ku yang mengajakmu bersenang-senang... hahaha!
Kau pasti merindukan sentuhan pria bukan, karena suamimu yang pecundang itu telah mati, hahahaha!!"
Kenzo memang gila, wanita itu dibuat menjadi pemuas hasrat seluruh anak buahnya yang berjumlah 15 orang itu.
"Nikmati wanita menjijikan itu sepuasnya...! Setelah itu bawa dia padaku untuk menemui ajalnya!"
Para anak buahnya tersenyum Kegirangan.
"Baik Bos!"
"Tidak! Jangan sentuh aku!"
Teriak wanita itu sambil meronta. Tapi mereka semua tak menggubrisnya.
Kenzo lalu duduk di kursi kebesarannya. Ia menunduk, hatinya kembali sesak, dan sakit.
"Kau seharusnya tidak menjadi alat balas dendam atas perbuatanku, sayang ku.
__ADS_1
Ampuni aku..."
Kenzo menunjukkan taringnya lagi... jangan lupa ikuti terus kelanjutannya