The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
10. Bunga Ajaib (2)


__ADS_3

Bergulir waktu kian berlalu.


Ketua Sujinsha bergeming di atas perahu. Seorang diri. Sementara Taja dan Lorr di atas perahu lainnya. Jarak tidak berjauhan antara dua perahu terdiam di tengah danau.


Taja melihat sekeliling. Pandangan matanya jatuh di atas jembatan. Tampak para prajurit bersiaga, mengacungkan busur dan siap meluncurkan panah, kiranya terjadi hal tak diinginkan. Kelam malam dalam mendung pun meleleh. Titik-titik air hujan berjatuhan di permukaan air danau.


”Celaka, hujan turun!” tegang Ketua Sujinsha. Situasi alam tak berpihak. Hujan akan menyebabkan riak air memancing makhluk-makhluk danau bermunculan ke permukaan. Kekhawatirannya tertuju pada Taja dan Lorr En di atas perahu lainnya.


Sepertiga malam. Hujan semakin deras, tak ada tanda-tanda Ketua Sujinsha bertindak. Ia masih bergeming di perahu diguyur deras hujan.


Seseorang sejak tadi memantau dari daratan. Senyum masam bibirnya. Ternyata, dia Ketua Janewa.


”Licik!” gerutu Ketua Janewa, memandang ke tengah danau. Mengamati pergerakan dua perahu di sana.


”Ia sengaja mengulur waktu sampai fajar muncul agar terhindar dari makhluk danau!”


”Apa rencana dia sebenarnya?” anak buahnya menanggapinya bicara.


”Aku juga tidak tahu pasti. Sepertinya, Sujinsha tidak sungguh-sungguh akan menangkap Bunga Ajaib. Ini taktik bulusnya untuk menyelamatkan kedua anak muda calon praja itu!" kata Ketua Janewa kesal.


"Lalu, apa kita membiarkan saja?” anak buahnya ikut mencari cara. Mereka terus mengamati, tak lepas awas mata ke arah perahu di sana.


Ketua Janewa terlintas cara curang, ”Coba saja dia melawan kita semua!" mendengus, tertahan di ujung hidung. Ia merenggut busur beserta panah dari tangan anak buahnya itu.


”Aku ingin tahu seberapa lama Sujinsha mampu bertahan di sana!” Ia mengangkat busur dan mengarahkan mata panah ke arah perahu Ketua Sujinsha.


Tak!


Secepat itu, anak panah melesat dan menancap di perahu yang ditumpangi Ketua Sujinsha. Menimbulkan bunyi ’tuk! tuk!’


Dua tiga kali panah berikutnya menancap di perahu yang sama. Akibatnya, makhluk-makhluk danau terpancing ke permukaan.


Ketua Sujinsha menyadari perbuatan lawannya. Seberapa pun ia berusaha tenang,  perahu ditumpanginya menjadi goyah dan menimbulkan suara berisik.


"Sial!" Ketua Sujinsha kesal. Pihak lawan sengaja mengganggu.


Tak!


Tak!


Tak!


Panah-panah susul menyusul, menghujam dinding perahu. Sebagian jatuh ke permukaan air. Sebilah panah menancap tepat ke alas perahu hingga sedikit berlubang. Air mulai merembes masuk ke lantai perahu.


"Janewa!"

__ADS_1


Ketua Sujinsha tidak bisa diam lagi, namun tidak bisa menggerakkan dayung karena puluhan makhluk air mengepung dari bawah perahu dan mengguncang.


Bak!


Satu benturan keras menyebabkan perahu retak. Air merembes, perahu mulai tergenang. Ketua Sujinsha terombang-ambing dalam siaga menghunus belati. Makhluk-makhluk air menyerang semakin ganas dengan tubrukan berulang-ulang.


”Lihat saja apa yang bisa kau lakukan!” Ketua Janewa menyeringai puas, setelah melihat lawannya dalam kesulitan.


”Curang!”


Tiba-tiba sebuah suara datang menghardik. Mengalihkan perhatian Ketua Janewa dan orang-orangnya.


Seorang praja muda, tiba-tiba datang di area kubu orang-orang itu.


”Kalian sebut diri kalia sebagai prajurit Tanapura? Memalukan!” seru praja itu sekali.


Semua orang menoleh pada sosok praja muda yang datang itu


"Kamu! Menyingkirlah!" teriak Ketua Janewa, lalu mengalihkan busur tertuju pada praja muda itu.


Praja muda itu bernama Raojhin, tak gentar di ujung panah meruncing ke arah mukanya.


Sementara di atas perahu, Taja dan Lorr En melihat Ketua Sujinsha dalam bahaya, tanpa bisa mengambil tindakan apapun selain diam di tempat dalam kepanikan.


Ketua Sujinsha dalam situasi semakin terancam di atas perahu setengah tenggelam. Manakala makhluk-makhluk air memburu ke posisinya seperti puluhan ikan ingin berebut makanan. Akhirnya, terpaksa Ketua Sujinsha terjun ke air.


”Tuan!" spontan, Taja tak tahan lagi. Gaduh suaranya memanggil Ketua Sujinsha raib ditelan riak air.


Lorr En menarik lengan Taja. Hampir saja ia melompat.


"Ketua dalam bahaya. Kita harus bagaimana?" Taja jelas khawatir.


Lorr En memperketat jubah yang basah. Wujudnya berubah menyerupai katak.


Tak ... tak ... tak!


Sejumlah panah menghujam perahu mereka.


”Cepat lakukan sesuatu sebelum ...,” Lorr En tak kalah panik.


”Bagaimana?” Taja juga tak bisa berpikir dalam keadaan kepepet begitu.


Dug!


Dug!

__ADS_1


Perahu terguncang. Goyah akibat benturan bertubi-tubi.


”Pengalihan!”


Lorr En mendelik, ”Aku akan mengalihkan perhatian makhluk-makhluk itu!”


"Apa?!" Taja terbelalak lebar, "Kamu gila!" tak terpikir cara nekad Lorr En.


”Kamu meragukan kecepatanku berenang?” sergah Lorr En.


”Lorr, itu sangat membahayakan ...,” Taja mencegah Lorr En.


”Tidak ada waktu berdebat!” Lorr En menampik tangan Taja sempat menariknya.


Benturan keras berkali-kali menggoyahkan perahu hingga oleng. Tanpa pikir lebih lama, Lorr En melompat ke air. Tubuhnya yang seketika raib di kedalaman air.


Dak!!!


Satu benturan paling keras membuat Taja hilang keseimbangan. Taja tersungkur ke sisi buritan.


”Aaargh!”


Tubuhnya terlempar keluar perahu kemudian tercebur. Arus danau mengamuk, menelan tubuh Taja.


Deras hujan mengguyur perairan Danau Senja. Perahu Ketua Sujinsha tenggelam, tak tampak lagi ujung batangnya di dalam keroyokan makhluk-makhluk danau. Sedangkan perahu satunya kosong. Kesunyian malam menegangkan semua orang menyaksikan dari daratan.


Ketua Janewa bersitegang, "Apa mereka selamat?”


Di sebelah kanan kiri, semua anak buahnya bungkam tak menjawab.


Gejolak riak berbaur hujan lebat. Makhluk-makhluk danau saling berebut mangsa yang jatuh ke air.


Di kedalaman air, Taja bergerak. Tidak jelas di bawah sana selain ribuan sulur-sulur ganggang menjulang ke atas. Bayang-bayang serupa belalai-belalai gurita raksasa, berkelebat gesit, kejar-mengejar sosok Taja. Makhluk-makhluk danau saling bertubrukan, membelit satu sama lain.


Taja menarik diri ke atas. Air bergejolak tinggi, membantunya ke permukaan.


”Puff!”


Taja menyemburkan air yang tertelan.


"Lorr!"


Taja mencari-cari Lorr En di sekeliling. Namun tak tampak siapapun. Hujan menyatu dengan danau, berbaur angin kencang. Sebuah perahu kosong terombang-ambing.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2