
Taja menghela nafas, akhirnya menyerah saja setelah berlama-lamaan mencoba untuk memikirkannya dan melanjutkan bacaannya.
’Ratusan tahun lamanya, Roh Biru bersemayam, turun-temurun. Hidup kembali dalam wujud pemuda. Sang Guru, seperti yang pernah dikisahkan Tiga Satria Jawata, menuntunnya pada keserakahan sang Paduka Tanapura bernama Jayasinggih, penguasa negeri bagian utara benua Jawata. Bahwa ia juga mengincar peninggalan paling langka dan sangat kuat ini.
Paduka Jayasinggih memiliki pengaruh besar, puluhan ribu prajurit dan antek-antek penyihir di belakangnya bukan lawan yang mudah. Dan sekali kebetulan saja, kelicikan Raja Jayasinggih akhirnya berhasil membunuh Tajura si Ksatria Belantara.
Tetapi yang diinginkan Paduka Jayasinggih tidak berarti bisa didapat karena justru Roh Biru yang selama ini diincarnya telah lepas bersama kematian Tajura.
Dan dalam hitungan tahun kemudian, ia masih berambisi untuk memiliki tiga kesaktian peninggalan yang hilang itu, Roh Biru, Kitab Dewi Racun dan Kitab Muhakkina. Meskipun dari ketiga peninggalan itu, ia hanya mendapatkan dua saja, yaitu Kitab Racun dan Obat.
Kitab Muhakkina dan para penyihir yang mendukungnya, ia telah berhasil menciptakan zombi-zombi untuk dijadikan prajurit. Selain itu, mereka juga menggunakan Ilmu Kitab Dewi Racun dalam pembuatan senjata-senjata mutakhir. Sehingga dalam kurun waktu tidak lebih dari 10 tahun kemudian, Tanapura telah menjadi negeri adidaya dan berkekuatan militer besar di Jawata.
Namun dalam masa kejayaan Tanapura, mereka tidak menyadari bahwa ada dendam menanti pada saat tepat akan datang, membawa bencana bagi penguasa Tanapura yang sombong akan kekuatan dan kekuasan mereka. Dalam keterasingan, diam-diam kutukan itu segera datang melalui angin, sungai, dan mimpi menghembus kabar sangat menakutkan, menjelma dalam mimpi-mimpi buruk Paduka Lu. Untuk sementara ini mereka menyebut makhluk tak berwujud itu sebagai….
Bocah Malapetaka.
Taja tak bergeming membaca halaman demi halaman dengan tokoh utama tanpa terpikir sebelumnya, yaitu Tajura. Selanjutnya kitab juga memunculkan tulisan-tulisan lebih banyak lagi tentang perjalanan semasa hidupnya.
’Ia manusia yang berbeda, sebagian jati dirinya tak bisa ditentukan. Kami memang mengenal sebagian dirinya adalah manusia, tetapi sejak ia berusia empat tahun...ketika Roh Biru bersemayam dalam tubuh Tajura, ia berubah jadi sesosok sangat kuat, tak terkalahkan, nyaris tak ada senjata apapun bisa menembus kulit. Jenius, sakti namun misterius. Ia suka menjelajahi hutan-hutan belantara, pembunuh berdarah dingin dan sangat banyak memakan korban. Namun, hanya manusia jahat yang selalu menjadi korbannya ...
Lepas dari yang diketahui semua orang, Tajura hanyalah seorang bocah kesepian, kerena itu ia sering menyendiri. Ada suatu alasan yang selalu menjadi beban pikiran, bahwa ada keluarga yang sedang dicarinya.
”Tajura yang sering diceritakan orang-orang sangat mirip denganku ternyata adalah keturunan Lintarwangi," Taja berhenti membaca sebentar, ada keheranan dipikirkannya dalam sela-sela kosong halaman kitab Hiwa yang terbuka. Kemudian satu kalimat lagi muncul.
’Ayahnya adalah Sasenka.’
Taja memandang Lorr En tertegun setelah membacanya.
__ADS_1
”Mengapa tidak kau tanyakan tentangmu dan dia sekaligus? Mengintai banyak orang sering mengaitkan dirimu dengan Bocah Malapetaka!” tanya Lorr En.
”Benar!” Taja serius tertuju halaman kosong terbuka di hadapannya. Ia membisu sesaat sebelum memikirkan satu pertanyaan yang sempat meragukannya.
”Tunjukkan ada hubungan apa antara aku sebagai Tuanmu dan Tajura?” pintanya.
Beberapa kejap mata, halaman kosong kitab itu tidak segera memunculkan tulisan-tulisan, hanya bergerak sendiri sampai berhenti pada halaman 214.601. Setelah itu, muncul jawaban yang ditunggu oleh kedua anak itu.
’Sedikit saja yang membedakan antara Tuanku dan Tajura, jika dalam dirimu terdiri dari 2 bagian, yaitu manusia dan ras yang tidak kami tahu … maka dalam diri Tajura ada 3 bagian, yaitu manusia, Roh Biru dan ras yang tidak kami tahu ...’
”Apa artinya?” Taja semakin dipusingkan karena kitab Hiwa miliknya.
Dan lembaran berikutnya tersibak, ada tulisan yang muncul singkat namun sangat mengejutkan tak pernah terduga, bahkan sangat mustahil.
GLAAAR!!!
Taja terkesiap keras sampai berdiri dan kitabnya terjatuh telungkup ke lantai kayu. Sementara Lorr En melotot dan beralih tatap pada Taja.
”Tajura?” Lorr En sangat terkejut juga. Namun tidak lama mereka dikejutkan kitab Hiwa, halilintar menggelegar keras. Membuyarkan ketegangan dua bocah itu.
”Pantas saja banyak orang-orang mengatakan bahwa kalian mirip!”
”Itu kata orang, tetapi kita belum pernah melihatnya langsung!” bantah Taja.
”Kita tidak akan sempat melihatnya sendiri, karena orang-orang juga mengatakan bahwa Tajura telah mati!” kata Lorr En, mengingatkan pada isu itu. Jantung Taja berdebar kencang. Tidak mampu membalas kata-katan Lorr En.
”Bagaimana jika benar ayahmu seorang Lintarwangi?” tebak Lorr En menyimpulkan dari keterangan kitab Hiwa baru saja, ”Paduka Jayasinggih adalah saudara Ketua Sujinsha!”
__ADS_1
“Ini tidak mungkin!” Taja masih meragukannya. Sekali lagi ia teringat pada sosok Ketua Sujinsha yang pernah menolong dia dan Raojhin dalam sidang waktu itu. Seberapa besar perhatian dari seseorang yang terkenal tidak mau peduli, seberapa sering selama ini dia telah mempertaruhkan nyawa untuknya. Apalagi cukup banyak hal yang diketahui dari pembicaraannya bersama Raojhin ketika berada di penjara bawah tanah tentang seseorang bernama Sujinsha.
”Berarti kau meragukan kitab itu!”
”Banyak di dunia ini yang meleset!” kata Taja mencoba untuk menenangkan diri sendiri sejak membaca tulisan terakhir membuat tubuhnya gemetaran dan sampai hembusan nafas sekarang belum terlepas dari keterkejutannya.
“Coba ‘kulihat!“ Lorr En mendongakkan wajah Taja agar menghadap persis ke arahnya, “Matamu … alis … hidung … mm … tidak terlalu mirip, tetapi … entah kenapa warna rambutmu kalian sama,” kata Lorr En, menyentuh rambut-rambut hitam kecoklatan mencuat dan menutupi dahi Taja.
“Lorr En, jangan berlebihan. Banyak orang memiliki rambut seperti yang kami,“ Taja menyangkal dugaan temannya.
“Lebih dari itu, aku yakin saja. Kalian berbeda dari ras kebanyakan orang di negeri ini. Percayalah padaku!” sangkal Lorr En balik.
“Untuk membuktikannya, kita harus bertemu dan membicarakan hal ini pada Ketua Sujinsha. Tentang masa lalu dan latar belakangnya, setelah itu semua akan pasti. Entah apa yang akan dia katakan nanti jika dia terbukti saudara ayahku!” Taja tak banyak berharap akan dugaan mereka benar adanya.
Kedengarannya mudah, sebenarnya Taja juga berharap bahwa Ketua Sujinsha adalah kerabat ayahnya. Mungkin setelah itu, akan lebih mudah mencari bantuan dalam misi pencarian penawar Pusaka Terkutuk.
“Tetapi, bagaimana kalau ternyata dia bukan ayahmu atau sebaliknya. Bagaimana jika ternyata dia bukan salah satu dari 4000 bangsawan Lintarwangi yang terdaftar di dalam kitab itu? Lebih dari yang dikatakan kitab itu, bagaimana jika ayahmu ternyata orang lain yang kebetulan memiliki nama sama dengan para bangsawan itu dan ia sudah meninggal?” Lorr En menduga-duga adanya kemungkinan.
Taja memungut kitab Hiwa yang tergeletak telungkup di lantai kayu.
”Ini Kitab Hiwa! Kitab Sejarah Serba Tahu!”
”Tetapi bukan Yang Maha Tahu. Itu hanya sebuah kitab, buatan manusia juga bukan Tuhan, bukan yang paling sempurna!” kata Lorr En membuat Taja bungkam.
Taja diam tertegun, belum usai mengamati isi kitab itu.
...* * *...
__ADS_1