
Taja beranjak pergi.
”Mau ke mana?” Merald tak mengikuti. Hanya mengawasi Taja bergerak ke dataran lebih rendah.
”Aku turun sebentar!” ujar Taja bergerak menjauh, gesit sosoknya menuju kaki bukit sarang belukar.
”Taja, ayo kita kembali ke Euryn!” pinta Merald merasa suasana tiba-tiba tak nyaman, "Khameswari ada padaku!”
Tidak ada jawaban dari Taja selain angin semilir makin kencang. Padang ilalang seluas Phardabian terasa mencekam dalam kesendirian Merald. Jubah Khameswari yang dikenakannya tersibak. Merald tak tahan hawa dingin merasuki tubuhnya.
”Taja, aku kembali ke Euryn!” teriak Merald dan memandang ke arah terakhir Taja menghilang di bawah sana.
”Kamu mendengar tidak?” seru Merald berbalas keheningan.
Angin berembus kencang. Puncak pepohonan meliuk-liuk. Tiba-tiba kabut menyisir sekitar tempat itu. Merald merasa tidak ingin berada di sana lebih lama lagi. Ia hendak beranjak pergi.
”Merald?” agak terlambat, Taja kembali ke posisi terakhir Merald bersamanya. Tetapi ia tidak mendapati Elhundi Laotheri di sana lagi. Kabut menyamarkan pandangan, sehingga sulit sekali mencari keberadaan Merald nyaris tidak meninggalkan jejak.
”Merald!” panggil Taja ke segala arah.
Sementara itu, Merald menyadari dirinya tersesat. Tak pernah ia keluar dari Euryn sejauh ini. Ia berhenti dan kebingungan lantaran kabut menghalau pandangannya. Bahkan ia tidak ingat jalan sebelumnya.
Sesekali Merald menoleh ke belakang kalau-kalau Taja menyusul. Tetapi, tidak ada tanda-tanda Taja muncul kecuali gemersik namun bukan ditimbulkan angin kencang. Sebuah bayangan hijau berkelebat gelap di antara rerimbunan dahan-dahan pohon bergerak yang tertangkap matanya.
”Taja?!”
Merald bersiaga. Sekelebat bayangan semakin terlihat dan menghilang di balik dahan-dahan.
Zsssssh ...!
Terdengar suara mendesis berbaur angin menyapu dedaunan. Semakin jelas ada sesosok makhluk mendekat. Merald mendekap Khameswari. Kemudian ia melepas mantera.
”Maramat-naraaam!”
Merald merentangkan kedua lengannya lebar-lebar, muncul bulatan cahaya dari ketinggian dua kali tubuhnya. Cahaya itu berpendar hingga radius jarak puluhan kaki.
”Aohyohaaan-nooh-mein ...!"
Mantera kedua terlontar dari ucapan Merald, seketika juga dalam cengkeraman kekuatan telapak tangannya membuat bola cahaya itu lebih besar lagi sampai seluruh Phardabian terang benderang seperti ada matahari kecil terbit dalam malam yang masih terlalu dini dari fajar sesungguhnya.
Konsentrasi Merald terpecah, sepasang matanya silau diterpa pusat cahaya yang dibuatnya sendiri.
Crash ...!!!
Satu gemersik keras lagi-lagi terdengar. Satu bayangan melesat dari rerimbunan dahan. Pusat mantera Merald buyar. Seketika bola cahaya pecah karenanya. Lalu sekali ia menoleh ke belakang, tiba-tiba bayangan berkelebat penuh belukar di tubuhnya langsung menerjang dari kegelapan tak terduga. Bersamaan sosok itu mengayunkan sebuah benda runcing berkilat keemasan.
”Aaargh ...!”
__ADS_1
Merald tak sempat mengelak dalam serangan tiba-tiba itu. Ia tersungkur bersama sosok itu juga, berguling ke semak belukar penuh duri-duri seukuran kelingking. Terakhir kali, satu nafas tersengal-sengal dari sosok terbungkus Khameswari.
”Enyah!” teriak sesosok tiba-tiba muncul dan menyerang Merald.
Berdiri kokoh, tubuh berbalut akar-akar tajam dan menjuntai daun-daun. Rupanya, Dakka yang muncul. Sepasang mata runcing ke atas melotot tajam. Ia menghampiri Merald terbenam di antara belukar. Terkulai lemas tubuh Merald kecuali jari-jari tangannya menyembul dari balik jubah Khameswari.
Tidak ada suara selain Merald merintih, nyaris tak terdengar. Angin menyibak dedaunan.
”A-aryasha ... a-aryasha ...."
Dakka hendak menyerang lagi, namun mendengar rintihan di balik rerimbunan belukar, urung jadinya. Akar-akar berbulu daun lebat di sekujur tubuh Dakka, perlahan menyusut.
”Haillae ...!” terkejut Dakka mendengar suara di balik jubah Khameswari.
”Haillae ...!!!” terbelalak mata Dakka, terlebih ketika melihat wajah di balik jubah tersingkap. Seraut wajah yang nampak, berangsur-angsur berubah menjadi sosok Merald.
”Elhundi Laotheri!” keterkejutannya makin menjadi tatkala mengenali sosok Merald. Gemetar Dakka menatap pusaka keemasan telah menohok ke dada Merald.
Merald sempat mengangkat jari-jarinya berbentuk mirip kelopak bunga. Sebentar saja, setelah itu ia tidak berkutik lagi.
”Elhundi Merald!” pekik Dakka sangat menyesal apa yang dilakukannya.
Dalam keadaan panik, tiba-tiba sosok lain muncul dan melihat kejadian itu. Rupanya Elkas menyaksikan kejadian yang menimpa Merald akibat perbuatan Dakka.
”Dakka?! Apa yang kamu ...,” Elkas terhenti langkahnya, melihat tubuh Merald tak berkutik di depan mata.
”Kamu telah membunuhnya!” Elkas tersentak. Disambut air muka Dakka penuh was-was.
Melihat jasad Merald lemas dan sudah tidak bernyawa, keduanya panik. Tidak lama kemudian, muncul seseorang dari arah lain. Rupanya Taja, sontak langkahnya terhenti, mendapati Dakka dan Elkas di sisi tubuh Merald tergeletak berselimut Khameswari bersimbah darah merah keemasan.
”Kalian?!” Taja sontak terkejut melihat Dakka dan Elkas ada di sana.
”Merald!” lebih terkejut lagi ketika Taja melihat senjata sejenis belati, tertancap di dada Merald.
Taja melotot tajam pada Dakka dan Elkas.
”Apa yang sudah kalian lakukan padanya?! Kalian membunuh Merald!”
Dakka menelan air liur sendiri. Sedangkan Elkas menggeleng berat. Angin berhembus kian kecamuk, pantulan energi luar biasa di antara tiga sosok manusia dengan kultivasi peri hutan, memancarkan amarah masing-masing.
Dakka semula menyesal karena salah menyerang, kini berbalik marah. Sejurus matanya memandang Taja.
”Ini ketidaksengajaan! Saudaraku tidak bermaksud membunuhnya,” Elkas membela Dakka berhadapan dengan Taja beradu pandang.
”Dakka yang telah melakukan ini?” Taja tak mundur, sama sekali tidak takut akan sepasang mata Dakka melotot penuh marah padanya seperti tanpa ampun.
”Kita bersaudara. Dakka, Taja dan aku!” kata Elkas lagi. Malah Dakka geram.
__ADS_1
”Kamu, Orang Jawata. Membuatku sampai membencimu seperti ini. Siapa sangka Elhundi Laotheri sedang memakai jubah Khameswari milikmu!”
“Jadi, sebenarnya kamu berniat membunuhku?!” Taja ternganga dalam terkejut juga puncak kemarahan.
"Dakka, kamu pembunuh!" jerit Taja. Dakka seketika menyerang dengan sekali terkam tubuhnya ke arah Taja.
"Heaaargh ...!"
”Dakka, hentikan!” Elkas mencoba untuk menghalangi perkelahian, namun ia tersungkur akibat terserempet Dakka menyerang Taja dengan kekuatan penuh.
”Kamu, keturunan Orang Jawata. Enyah dari Gunggali!” teriak Dakka sembari kekuatan akar-akar tubuhnya menghempaskan tubuh Taja ke tanah. Keduanya terguling dan saling membelit.
"Dakka, sebesar itu kamu membenciku ...," Taja bertahan dalam belit akar-akar tubuh Dakka.
”Tidaaak!” Elkas terlambat mencegah. Keduanya terhempas ke belukar rimbun berduri. Darah merah merembas dari punggung Taja akibat cakaran Dakka.
”Ini pantas untukmu!” tanpa ampun, Dakka membabi buta pukulannya.
”Aaargh ...!” Taja tak berkutik di bawah cengkeraman Dakka. Sekali lagi, Dakka berniat menghujamkan jari akar-akarnya yang mencuat ke muka Taja.
”Rei-ghau-aratee!”
Satu mantera terucap lantang, angin biru mengalir dari arah tak terduga, secepat cahaya menghantam Dakka sehingga terpental. Tubuhnya menyusut beku hingga ke tulang akar. Beruntung, seorang perempuan lekas datang dan menyelamatkan Taja.
”Ibu ...,” rintih Dakka di tempatnya tersungkur di tanah. Perempuan itu tidak lain Shammure.
”Celaka sekali perbuatanmu, Dakka!” gertak Shammure sebelum beralih pada Merald yang tergeletak, ”Elhundi Laotheri!”
Shammure menyingkap tubuh terbungkus jubah Khameswari. Raut mukanya tiba-tiba pucat karena terlalu tegang. Menyadari sebuah pusaka beracun yang menohok dada Merald.
"Dari mana kamu mendapatkan pusaka beracun ini, Dakka?" tak salah Shammure menuduh Dakka yang telah melakukan penusukan terhadap Merald. Pusaka beracun itu tentu Dakka yang mendapatkannya entah dari mana.
"Celaka kalian!" Shammure gemetaran takut dan panik. Ia memandangi Elkas, Dakka, dan Taja. Beralih pada fajar tampaknya sebentar lagi menyingsing dari kejauhan ufuk timur.
”Cepat kalian pergi dari sini!” perintah Shammure pada Elkas, Dakka, dan Taja.
Taja berusaha bangkit.
”Lakukan saja perintahku, pergi dari sini!” bentak Shammure lebih keras.
Elkas tak berani menyanggah apapun lagi. Lantas ia menarik Dakka untuk segera pergi dari tempat itu. Akhirnya, mereka menghilang ke balik ilalang. Kecuali Taja, merangkak ke arah Shammure.
”Jangan sentuh! Ini sangat beracun. Pergilah, Elhundi Taja. Kembalilah ke Euryn!” perintah Shammure. Caranya menatap, ada rasa bersalah. Namun tidak cukup lagi waktu untuk saling bicara dalam keadaan seperti itu.
Sekali lagi Taja ingin menggapai Merald, Shammure lebih cepat menampik.
”Kembalilah ke Euryn! Ini tanggung jawabku," perintah Shammure.
__ADS_1
Mata Taja berlinang air mata, melihat tubuh Merald di pangkuan Shammure. Semburan kelopak putih menelan perempuan itu membawa Merald dalam sekejap raib.
...* * *...