
"Pasvaati?!"
Amarah terpendam Paduka mendengar pusaka itu disebut-sebut. Bukan sekedar pusaka tak bertuan.
Pasvaati, satu kendala besar baginya untuk melancarkan semua misi menaklukkan seluruh Jawata.
“Jangan katakan Pasvaati lebih hebat daripada Pedang Maar milikku!" marah Paduka belum usai.
”Aku menyampaikan satu hal penting yang perlu Tuan ingat bahwa Tanapura tidak semudah yang kita bayangkan untuk ditaklukkan,” kata Luwakruyo, berdalih untuk menyelamatkan situasi buruk akibat kemarahan Paduka.
“Jadi, bagaimana caranya? Perlukah aku membuktikan kehebatan pedangku di depanmu? Perlukah ada adu tarung antara Pasvaati dan Pedang Maar milikku?” bernada menantang, Paduka mengangkat Pedang Maar ke atas.
"Tak perlu terburu-buru, Tuanku," kata Luwakruyo menyarankan.
“Bukanlah pedang yang terhebat dalam kekuatan sesungguhnya, Tuanku,” kata-kata Luwakruyo menyurutkan tatap tajam Paduka Jayasinggih.
“Apa maksudmu? Ada senjata lain yang lebih hebat dari pedangku ini?” tanya Paduka.
“Waktu. Apapun yang terhebat saat ini, akan menjadi lemah karena waktu, karena semua yang berada di dunia ini selalu terbatas oleh waktu. Waktu adalah senjata terkuat alam. Pedang manapun juga akan semakin lemah, besi akan berkarat, gunung pun bisa melebur pada waktunya tiba, bahkan untuk pedang sehebat Maar yang menduduki peringkat ke-empat atau ke-lima dari keseluruhan Pedang Legenda."
“Apa maksudmu?" Paduka Jayasinggih merasa kurang cukup jelas tentang inti pembicaraan mereka.
“Perang Pedang abad pertama telah membinasakan setengah pedang-pedang melegenda."
“Hari, bulan, tahun, ratusan tahun bahkan ribuan tahun berganti hingga sekarang. Senjata-senjata peninggalan mereka yang tidak lenyap menjadi milik kita. Namun tidak sedikit dari semua itu, sekedar menjadi barang pusaka, lalu menjadi pajangan di anjungan istana, dan sekarang tinggal menjadi dongeng pewayangan. Entah menjadi apa nantinya, saat manusia ratusan abad di masa depan menemukan semua milik kita yang tidak lebih dari rongsokan artifak. Karena tentunya, mereka akan menciptakan senjata-senjata yang lebih dahsyat, bukan hanya berbahan logam dan api. lebih dari itu. Sungguh mengharukan, bukan?”
“Ha ... ha ... ha! Singkat saja. Yang ingin kutahu adalah taktik apa yang bisa mengalahkan Tanapura?"
__ADS_1
“Hal yang menjadi teror bagiku adalah, Bocah Malapetaka dan Tanapura.”
“Penggabungan tiga hal itu. Artinya adalah kutukan yang akan menjadi malapetaka, segera menimpa Tanapura, dan semua itu berasal dari Tanapura.”
Belum usai dalam pembicaraan mereka, seorang putri tergopoh-gopoh memasuki balairung tanpa diundang. Sesampainya di hadapan Paduka, ia memeluk.
”Ayah ...," ujar putri sungguh menghiba, terasa dari raut wajah pucat dan suaranya yang gemetar bercampur parau. Namun sang Paduka tidak banyak memberi tanggapan, ditatapnya wajah putri semata wayang tanpa belas kasih.
”Ada apa?!” tidak cukup menghangatkan suasana kelam, sikap Jayasinggih, ayahnya sendiri memang selalu begitu meskipun dalam saat-saat yang paling dibutuhkan.
Putri berusia 16 tahun itu terpana, menatap wajah ayahnya dalam-dalam. Tanpa terasa, tetesan air mata mengalir dari sudut-sudut matanya yang jernih berbinar. Dalam cengkeraman tangan sang Ayah, putri yang lemah semakin terguncang.
”Aku ... sudah tahan lagi akan mimpi-mimpi buruk setiap malam ...,” kata Putri terbata-bata.
”Pikirmu, hanya kamu yang bermimpi buruk? Kembali saja ke tempatmu! Aku paling tidak suka jika ada yang mengganggu pembicaraanku!” Jayasinggih membentaknya kasar sekali. Melihat kemarahan ayahnya, putri mundur beberapa langkah.
Tanpa meronta, putri digiring dua pengawal, dia menoleh sebentar.
"Dia telah kembali, Ayah! Kehadirannya sangat dekat dengan kita, tapi Ayah tidak menyadarinya,” Putri sempat bicara sebelum hengkang dari hadapan Ayah Paduka.
Tidak cukup kekesalan yang ditimbulkan dari sekian masalah, ditambah Putri Sekar Wening semakin membuat Paduka naik pitam.
Tang!!!
Dibantingnya teko perak yang tidak kosong dari ramuan khusus untuknya.
”Tuan Paduka harus lebih bersabar menghadapi masalah, karena emosi bisa berakibat fatal bagi kesehatan Tuanku, mengingat ramuan herbal pengendali tubuh adidaya, sangat menipis dan semakin langka dicari bahan-bahan racikannya. Hampir tidak pernah turun hujan. Pohon-pohon dan tumbuhan mengering dan mati. Jangankan sekuntum bunga merekah di pagi hari, selembar daun pun tidak ada yang bersemi," kata Ki Sanca, memberi nasihat meskipun Paduka diam akibat menahan kemarahannya.
__ADS_1
”Lanjutkan pembicaraan kita!” kalimat Paduka keluar dari bibirnya yang kering.
Ki Sanca memandang sekilas balairung nan sunyi, ditambah suasananya yang selalu gelap, hanya sedikit obor menyala di tiap sudut ruangan. Sesaat ia memikirkan sesuatu untuk memberi ide.
”Dua hal sebaiknya dilakukan. Pertama, Tuanku mengadakan pertemuan dengan Paduka Raghapati, bujuk agar ia bersedia menukar Pedang Maar ditambah 10 praja terbaik dengan satu benda yang tidak seorang raja pun mampu menolaknya. Kedua, membangkitkan Jiwa Puan Ra Mahiya untuk jadi pimpinan Pasukan Pembantai,” perkataan Ki Sanca ditanggapi seksama oleh Paduka Jayasinggih.
”Menukar Pedang Maar dengan 10 praja terbaik Tanapura, ditambah satu benda pusaka? Pusaka apa yang kau maksud?” tanya Paduka Jayasinggih.
”Pasvaati!” jawab Ki Sanca singkat dan cukup menegangkan.
”Tidak lucu! Pasvaati sudah lama kehilangan kekuatannya, seperti itulah yang telah dikatakan legenda. Kalaupun ada, sudah pasti akulah sang pemilik yang berhak atasnya!” Paduka Jayasinggih merasa ide Ki Sanca tidak sesuai.
”Ini tidak lucu karena tentu bukan lelucon, Tuanku! Bersikaplah curang dan gunakan akal licik kita. Sementara hamba melakukan tugas, Tuan harus melakukan bagian peran ini. Hamba akan membuat pedang semirip Pedang Maar dan hanya kita yang bisa mengendalikannya,” Ki Sanca berbisik tegas ke telinga Paduka Jayasinggih. Setelah mendengar penjelasannya, Paduka Jayasinggih terbahak-bahak.
”Kita lihat nanti, sepandai apa Raghapati!” kata Paduka Jayasinggih di sela-sela tawa berat. Tiba-tiba ia kembali bungkam dan menyinggung rencana kedua.
Paduka Jayasinggih membalas tatapan Ki Sanca nyaris tanpa kedip, ”Tak terpikir olehku seperti itu! Entah mengapa otakmu sangat jahat dan licik?”
Ki Sanca tertunduk disertai senyum mantap, ”Jika maksud Tuan adalah memuji, hamba sangat menghargai, karena itulah hamba selalu ada untuk Tuanku,” balasnya bangga, ”Tetapi untuk membangkitkannya, kita memerlukan jiwa seorang gadis suci!”
Paduka termangu, otaknya sarat pikiran. Ki Sanca mengatakan ’jiwa seorang gadis suci’, Paduka terbengong, pandangannya menatap Ki Sanca.
”Tidak perlu berpikir lama untuk mencarinya, karena jiwa gadis suci ada di dekat Paduka. Dia memiliki aura tidak biasa dari gadis-gadis pada umumnya. Cantik namun selalu kesepian ...,” bisik Ki Sanca di dekat Paduka Jayasinggih.
”Sekar Wening maksudmu?” Paduka memikirkan sesosok gadis dengan berbagai kekuatan magis, ”Aku akan memanfaatkan dia ...,” Paduka Jayasinggih tersungging senyumnya.
”Ditambah kekuatan Pasvaati kelak di bawah kendaliku, aku akan berjaya selamanya!!!” lantang Paduka Jayasinggih memecah kesunyian balairung istana yang kelam.
__ADS_1
...* * *...