
Bayang-bayang malam semakin menipis, disusul fajar menyingsing di balik mega mendung tebal seluas ufuk timur. Hawa dingin merasuk ke tulang sumsum. Seperti tidak ada tanda-tanda satu kehidupan apapun di sekitar area tandus berbatu terjal. Sekalipun ada pepohonan di sekitarnya, namun semua mengering.
Sesosok tersembul dari permukaan sungai yang semula tenang, dua yang lain menyusul. Lalu satu-persatu, mereka keluar dari dalam tepian sungai. Taja paling dulu sampai ke atas, memandangi sekitar tempat itu.
”Di mana ini?” ucap Taja ikut memperhatikan ke sekeliling tempat itu. Selangkah di bawahnya, Purwa merangkak. Dalam kondisi demikian, ia tidak cukup kuat untuk menggapai-gapai ke atas, kecuali Taja menariknya. Beberapa saat kemudian, seorang paling terakhir muncul dari permukaan sungai itu juga.
”Hei!” Teriaknya memanggil Taja.
”Raojhin!” Taja menoleh padanya.
”Mana Lorr En?” tanya dia setelah sampai di atas.
”Dia paling dulu keluar,” kata Taja sambil menunjuk ke depan sana, di balik bebatuan terjal agak tinggi, sosok Lorr En dari belakang, tampak berjalan setengah membungkuk.
”Dia kah?” Raojhin melihat sosoknya dari belakang, tampak agak berbeda menurutnya. Namun Taja diam saja kecuali memperhatikan wajah Raojhin yang agak keheranan.
”Cepat sekali! Padahal dia bersamaku tadi!” Raojhin tidak habis pikir.
”Lorr En bukan hanya perenang, dia juga penyelam ulung!” hanya itu kalimat yang diucapkan Taja.
Mereka menapaki bebatuan terjal sampai dihadapkan pada dataran tandus terbentang. Dan sinar matahari mulai terbit di ufuk sana, perlahan menerangi langit-langit kelam.
”Di mana kita?” gumam Taja lirih. Lorr En jauh di depan terhenti langkahnya. Sedangkan Raojhin berpikir keras beberapa saat, tampaknya ia sedang mencoba untuk mengenali tempat itu.
Sementara Purwa terjatuh lagi, ia terjerembab ke tanah bebatuan.
”Purwa!” Taja menghampirinya. Tampak mata sayup Purwa semakin redup.
”Jika tidak salah, kita sedang berada di perbatasan dataran tandus! Jauh di depan sana adalah Gurun Yaz!” seru Raojhin setelah tersadar dari pikirannya.
Lorr En menoleh padanya. Taja yang sedang menyanggah Purwa juga demikian.
”Seberapa jauh dari dari Tanapura?” tanya Taja. Raojhin menatap langit-langit.
__ADS_1
”Sangat jauh, bahkan kita berada di luar Tanapura!” jawab Raojhin.
”Butuh berapa lama agar kita bisa kembali ke Tanapura?” Lorr En tanya dibalik wajah siluet.
”Mungkin puluhan hari berkuda!” jawab Raojhin.
Keterkejutan Taja berpindah pada Purwa kembali. Ia memuntahkan darah hijau. Raojhin dibuatnya sangat heran saat melihat itu.
”Dia terluka berat!” Taja memanggil Lorr En karena panik menyadari kondisi Purwa semakin gawat.
Mereka menepi ke bawah gundukan batu. Taja, Lorr En dan Raojhin mengerumuni Purwa yang tampak ingin menyampaikan sesuatu.
”Kita akan pulang ...,” ujar Purwa lirih. Nafasnya naik turun sambil tersendat-sendat. Tangannya tak melepas genggaman Taja.
”Rasanya aku sekarat ...,” ujar Purwa lagi. Ia menyingkap kain rajutan hitam, tampak luka menganga lebar di baliknya, bekas tusukan benda tajam tepat di ulu hati.
”Aku tidak mungkin bertahan sampai kapal cahaya melewati tepian samudra.., tidak sampai pada saat itu mungkin aku sudah ...,” nada suara Purwa semakin lirih dan tersedak darahnya sendiri.
Sementara sejak tadi Raojhin hanya terbengong melihat mereka bercakap-cakap dalam bahasa yang tidak dimengerti olehnya. Lebih dari sekali membisikkan pertanyaan yang sama pada Lorr En,”Siapa dia?”
Namun Lorr En bungkam tanpa jawaban.
”Apa ini?” secara tidak sengaja, Raojhin melihat leher Lorr En tersisa bercak hijau kemudian memudar. Kontan, Lorr En mengibas tangan Raojhin sempat menyentuh bagian kulit lehernya seperti itu.
”Adakah yang mau menjelaskan tentang siapa kalian sebenarnya?” selama ini Raojhin menahan pikiran aneh, apalagi sejak bertemu laki-laki asing sebaya mereka yang disebut-sebut Purwa itu berkelakuan aneh, jari-jarinya mencuat panjang berakar, mencuat kemana-mana. Karena itu, akhirnya ia bicara juga.
Taja tak beranjak dari dekat Purwa, ia cukup menjawab dari tempatnya bersandar di bebatuan, ”Kau tidak akan mudah percaya, aku hanya ingin mengatakan bahwa...kami bukan makhluk jahat.
Tidak cukup lama mempedulikan Raojhin. Purwa merintih lagi.
”Kita akan pulang ...,” ucapnya berulang.
”Kita tidak bisa pulang tanpa mantera penawar itu. Aku tidak bisa mundur ...,” kata Taja sambil menyanggah tubuh Purwa.
__ADS_1
”Aku telah mendapatkannya ...,” Purwa merogoh ke balik baju. Ada sesuatu yang sodorkannya pada Taja.
”Inikah yang kita cari? Mantera Penawar!” ada sedikit semangat di mata Purwa.
Taja melototi benda terbuat dari kulit singa, tergulung dan diikat tali merah. Lorr En juga tercengang tanpa suara.
”Aku mencurinya dari penyihir itu!” kata Purwa, ”Dia manusia yang jahat dan berbahaya. Setelah aku tertangkap, setiap aku disiksa. Dan bukan perjuangan mudah untuk bertahan di tempat itu sampai kalian datang...,” agak tersendat-sendat Purwa menceritakan sekilas yang telah terjadi padanya.
”Dia sangat sakti, bisa menyerupai apa saja yang dilihat oleh matanya. Ia sering datang tanpa disadari...melalui air, tanah, debu, api...bahkan...meniru wajah serta tubuh orang lain!” Belum lepas dari ketakutan, Purwa melotot selama membayangkan semua hal yang dialaminya.
”Kau aman sekarang, kita akan pulang...segera! Bertahanlah!” Taja meyakinkan Purwa.
Namun ia menggeleng, ”Tidak semudah, mereka pasti mengejar kita sampai kemana pun...,”
”Tidak ada yang bisa ke Gunggali selain kita ...,” kata Taja.
Air mata Purwa mengalir, membasahi genggaman Taja di dekat pelupuk matanya. Ia juga mengulurkan tangan ke Lorr En.
”Maafkan aku, khususnya padamu, Taja ...,” Purwa menatap Taja dan Lorr En bergantian.
"Maaf untuk apa?" tak paham, Taja dan Lorr En menanggapi serius.
"Jika suatu saat nanti, aku menjadi orang yang tidak kalian sangka, mungkin kalian akan membenciku," jawab Purwa. Taja dan Lorr En tak paham maksudnya. Namun kehadiran penyihir ramai-ramai menyusul ke tempat mereka sekarang.
”Celaka! Mereka sampai kemari!” dalam kebisuan, tiba-tiba Raojhin berseru lantang. Sejak tadi pandangan matanya mengawasi jauh ke sekeliling. Taja, Lorr En, dan Purwa beralih pada arah yang ditunjuk Raojhin.
”Mereka mengejar kita!” Purwa pun kembali tegang dalam sisa tenaganya.
”Banyak sekali!” seru Raojhin lagi. Tampak dari kejauhan sana, ratusan makhluk- berkejaran cepat sekali, tertuju pada tempat keempat bocah itu.
”Lari!” pekik Raojhin, tak membuang waktu. Ia paling dulu angkat kaki secepat mungkin. Sedangkan Taja dan Lorr En bersusah payah menyanggah Purwa nyaris kondisinya tidak berdaya.
...* * *...
__ADS_1