
”Mungkin Ketua Jenewa sedang merencanakan sesuatu di balik ujian itu, tapi mungkin hanya dia yang punya alasan mengapa ujian berubah seperti ini. Kurasa, dia sengaja merahasiakannya,” kata Sayuttha masih mengoceh tentang himbauan tadi pagi.
“Apapun itu, inilah takdir kita...terlahir untuk mati di medan perang,” kata Galih yang sejak tadi merebahkan tubuhnya di pembaringan dalam ruangan berisi dua puluh anak itu. Dari nada suaranya yang lemah, dia tampak sedang tidak bersemangat.
“Jangan begitu, Teman! Bukan keinginan kita berada di tempat ini sampai sekarang. Karena setiap bayi laki-laki yang lahir sehat seperti kita, sudah terdaftar dalam kemiliteran. Orang tua kita pun tidak bisa berbuat apa-apa, karena ini sudah menjadi perintah Paduka!” kata Sayuttha untuk menghibur Galih. Dua lainnya, Birrawa dan Rambiloto ikut bersuara.
“Tapi ini namanya penyiksaan, tantangan itu terlalu berat untuk anak-anak seumur kita, bisa jadi … bukannya kita gugur dalam perang, tapi mati saat latihan. Percuma, bukan?”
“Benar kata Birrawa, Ini sudah kelewat batas normal. Materi seperti itu seharusnya untuk tingkat Prajurit Muda, mereka sudah berumur 16 ke atas … tentu saja mereka lebih terlatih, kuat dan siap mental!” Rambiloto bersungut-sungut.
Sementara Taja yang sejak tadi membaca buku mulai memperhatikan obrolan teman-teman sekamarnya itu.
“Ini tidak adil!“ Lanjut Rambiloto dengan suara keras membuat Lorr En terjaga dari tidurnya, “Hei, kenapa kalian berteriak? Berisik!“ Lorr En asal lempar kata tanpa tahu masalahnya sambil mengusap dua matanya yang mengantuk berat.
“Lorr En, setelah acara di aula pagi tadi … kamu masih bisa tidur? Dasar tukang tidur! Bangun, buka matamu lebar-lebar untuk menghadapi ujian nanti! Ini bukan saatnya untuk bersantai-santai, dasar pemalas!” kali ini Rambiloto menggertak.
“Teman-teman, aku tahu bahwa kita semua panik … karena itu juga yang kurasakan. Tetapi hanya dengan panik bukan berarti menyelesaikan masalah yang membuat kita khawatir, lebih baik kita mencari cara untuk …,“ Taja mulai menanggapi. Sebelum selesai berbicara, Rambiloto sudah menyela.
“Lalu, menurutmu kita bisa apa?“ mukanya tegang, menghampiri Taja yang sedang duduk kursi yang berhadapan meja sudut kamar.
__ADS_1
“Rambiloto, melihat mukamu yang tegang begitu, kita semua bisa terpancing marah! Apa kamu tidak bisa mendengarkan dia bicara dulu?“ Lorr En membela Taja.
“Baik, bicaralah!” balas Rambiloto meredakan muka tegang. Taja memandangi satu persatu semua yang sedang berada di ruang itu.
“Bagaimana kalau kita memulai dengan kata-kata … bahwa kita lahir bukan untuk mati di medan perang, tetapi untuk mempertahankan negara. Kita lahir di negeri ini, pengabdian dan kesetiaan kita tentunya ada di negeri juga. Dan yang kita dapatkan adalah tempat untuk diri kita sendiri, kemerdekaan, kedamaian, persatuan, kesatuan, persahabatan, hidup bahagia lalu mati mulia … gugur saat berlatih atau mati di medan perang bukan masalah, yang penting niat dan tujuan kita sama, yaitu membela negara sejak lahir hingga tetes darah penghabisan!” kata Taja membuat suasana hening beberapa saat.
Rambiloto dan yang lainnya pun terdiam, mereka berpikir tentang perkataan Taja.
“Wow! Luar biasa …! Dapat dari mana kata-kata itu, Taja …?” Lain halnya dengan Lorr En, dia merasa merasa takjub, tidak menyangka Taja bisa berkata sebijak itu. Taja pun melirik sahabatnya itu.
“Taja benar … biar bagaimana pun, kita yang ada di sini semua adalah bangsa negeri Tanapura, kekuatan negeri kita ada pada kekuatan militer, dan kita adalah penerus kekuatan militer negeri ini … tentu saja dari waktu ke waktu pembinaannya harus lebih baik. Aku yakin, guru-guru kita tidak akan memberikan ujian yang tidak sanggup kita jalani … mereka lebih tahu sampai sejauh mana kita mampu!” Sayuttha yang berbadan paling besar membenarkan kata-kata Taja.
“Ya, seharusnya kita bisa …,” balas Galih yang sejak tadi sekedar menonton dari tempat tidur.
“Ya, kita pasti bisa,” Rambiloto pun bicara dengan suara datar. Senyum kecilnya pun mengembang.
“Ya, kita pasti bisa!” Sayuttha menyeletuk.
“Terima kasih, Taja! kamu sudah memberi semangat,“ lanjut Rambiloto.
__ADS_1
“Hei … tunggu dulu, kalian pikir kita ini siapa? Singa, Elang, Naga, Harimau, atau Gajah?“ tiba-tiba Galih menyela, dia pun menyebutkan beberapa regu-regu unggulan di sekolah mereka, “Kita ini hanyalah regu dengan nama Kancil Putih! Sadarkah kalian? Atau kalian lupa bahwa kita dari kelas Kancil … Kancil … Kancil Putih lagi! Atau secara urutan peringkat, tim kita ini ada pada urutan 342 yang hanya beranggota 20 orang dan semua adalah murid buangan, kalian harus ingat itu!” kedua mata Galih melotot tajam menatap Purwa, Rambiloto, Sayuttha dan Taja satu-persatu.
Belum selesai mereka bengong, Galih menambahi lagi, “Dan kenapa kita semua terbuang dalam satu tim dan kelas yang sama? kalian tahu kenapa?”
Semuanya masih terdiam, “Karena kita adalah murid-murid yang paling bodoh di sekolah dan tersisih dari murid-murid pandai lainnya, karena itu kita dibuang ke regu buntut seperti ini. Paling bodoh … tidak cekatan … tidak berbakat tidak berguna …!“ jawaban Galih membuat yang lain berubah pikiran.
“Aku lamban setiap kali harus berlatih jurus-jurus beladiri yang diajarkan guru-guru dan aku tahu itu, tetapi memang kemampuanku tidak lebih tinggi dari murid-murid asrama depan atau dari regu-regu andalan sekolah, tidak setangkas Bintani dari kelas Elang, atau sekedar menyamai Noa, pemanah ulung dari Kelas Naga,” sambung Galih.
“Galih, tetapi kita bisa berusaha lebih baik,” Rambiloto membalas.
“Memangnya kamu bisa apa? Apa ilmu pedangmu sudah lebih baik …?” Galih balik tanya sekaligus menyindir Rambiloto yang memang kurang bisa mendalami ilmu pedang, “Kamu, Sayuttha! Tidak ingatkah saat kamu ditertawakan dan diolok-olok lebih dari 2000 murid-murid Tanapura dalam ujian cabang beladiri 6 bulan lalu? Menggelikan!”
Sayuttha tak bisa berkutik jika teringat kejadian yang melibatkan dirinya terpaksa mengikuti ujian tempo lalu. Sedangkan Purwa menjadi kikuk ketika sorot mata Galih beralih arah padanya.
“Kamu Purwa, sadar diri jika kau tidak pernah sanggup mengangkat beban seberat dua tempayan berisi air, sudah merasakah kalian menjadi lebih baik?“ rupanya Galih semakin menampakkan kelemahan teman-teman satu regunya.
“Setidaknya, dia sudah berusaha!“ sergah Taja setelah melihat mata Purwa berkaca-kaca karena malu.
...* * *...
__ADS_1