The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
4.38.


__ADS_3

"Kamu menyinggung perasaannya!"


Kata Eng Hum tertahan di tenggorokan, sambil menarik lengan Radhit agar segera keluar ruang pustaka.


"Aku tidak tahu kalau dia ada di sana tadi," agak kata Radhit menyesal, mengingat sepintas lalu, Singh mematung dari tikungan rak-rak buku dengan tatapan serius mengarah padanya.


"Apa yang terjadi pada Singh, tidak akan terjadi padamu!" Kata Eng Hum.


"Yakinlah seperti itu!" Lanjut gadis itu sangat yakin.


"Kamu seorang Muarralintang!" Eng Hum membantu Radhit agar kuat. Dengan mengingatkan nama besar keluarga Radhit.


"Kamu dan ibumu tidak akan semudah itu dieksekusi!"


"Negeri ini membutuhkan kalian!" kata Eng Hum lebih dari sekedar menguatkan, meskipun terlanjur menyinggung tentang hukuman mati.


"Sekarang, segera temui Singh dan mintalah maaf padanya!" Pinta Eng Hum laksana perintah.


"Aku sudah sering mencoba untuk berbicara dengannya, tetapi dia tidak pernah mau berbicara pada siapapun!" Kata Radhit.

__ADS_1


"Dia juga tidak peduli dirinya dicemooh seperti apa! Dia seperti mayat hidup!" Tambah Radhit.


"Lalu sampai kapan kita semua membiarkan dia seperti itu?" Eng Hum balik tanya. Dia seperti sangat peduli pada Singh. Demikian juga Radhit. Tetapi Singh seakan menarik diri dari dunia luar dan menjauhi siapapun yang disebut manusia.


"Belum seorangpun bisa menyembuhkan kesedihannya sampai sekarang, justru kamu menimpali dengan kata-katamu tadi!" kata Eng Hum, kali ini tampaknya tidak berempati pada Radhit.


Langkah kakinya yang menjauh sudah cukup mengartikan kepergiannya yang diakhiri tanpa senyuman seperti biasanya.


"Eng Hum...," Radhit memanggilnya namun gadis itu tetap pergi.


Radhit pun pergi dari sana. Ia menuju suatu tempat di kawasan Istana Kaninggaluh. Menelusuri sepanjang lorong menuju jalur sungai pemandian murid lelaki.


Radhit bingung harus memulai kata-kata. Setahunya, Singh sudah lama membisukan diri. Lebih dari itu, ia juga ingin menenggelamkan diri dari dunia.


Terbukti pula, dua kali Singh mencoba untuk minum racun tetapi selalu saja racun yang sempat ditengguk berhasil ditawarkan dengan berbagai obat. Seseorang lebih dari sekali menyelamatkan Singh sebelum kematian berhasil merenggut nyawanya.


"Aku rindu dengan alunan seruling-mu yang indah seperti dulu, saat kita sama-sama menggembala kuda di lembah," ujar Radhit memulai pembicaraan.


"Kita juga pernah tersesat semalaman di hutan. Seruling milikmu yang menandakan keberadaan kita, sementara orang-orang mencari jejak kita berdua," lanjut Radhit mengenang masa-masa kebersamaan mereka berdua sampai masa yang paling sulit dan memecahkan masalah itu bersama-sama.

__ADS_1


"Aku masih ingat, ketika itu kita tersesat sampai ke perbatasan desa...," Radhit belum selesai bicara, namun Singh lebih dulu beranjak ingin pergi dari sisinya.


"Singh, sungguh kamu tidak mau berbicara denganku lagi?" Tanya Radhit.


"Sekali saja, setelah itu mungkin saja aku akan sepertimu... aku takut tidak akan bisa mengucapkan maaf," Radhit melihat ke arah Singh bergerak menjauh.


"Maafkanlah aku...," Radhit tetap mengucapkan itu walaupun Singh tidak peduli sedikitpun.


Singh. Seorang murid cendekiawan muda dengan gaya rambut baru tumbuh. Tampak jelas ditebak beberapa minggu lalu ia menggunduli rambutnya sendiri. Sekarang, rambut-rambut barunya yang tumbuh masih kaku dan seukuran rambut-rambut alis.


Baru kali ini, akhirnya Singh menanggapi meskipun bukan dengan berbicara. Ia menaikkan serulingnya, mulai meniupnya dengan lembut, seindah yang diinginkan Radhit.


Tetapi tidak pernah sesempurna keindahan yang dulu, jelas itu karena hati yang memainkan seruling itu masih dalam keadaan duka yang mendalam.


Radhit takut hati yang sedingin itu terjadi padanya. Setelah alunan seruling selesai, sosok Singh benar-benar menghilang di balik pagar di ujung jalur penanda kawasan pemandian.


Tertinggal Radhit sendirian di tepi sungai kecil yang riaknya jernih dan dangkal itu.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2