The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
7.10


__ADS_3

Gemerlap air telaga bukan dari pantulan bintang, melainkan cahaya Laotheri bermekaran. Kelopak-kelopaknya merekah lebar putih-jingga membias ke sekeliling dinding rongga pohon. Terdengar gema nyanyian serangga dari puncak-puncak dahan, mengalun hingga ke setiap rongga. Burung-burung bersarang ke dahan-dahan dan daun-daun telungkup.


Satu ... dua ... tiga ....


Taja meloncati cadas pinggiran telaga. Sebuah nyanyian lirih menarik perhatiannya hingga ke dasar rongga selarut ini.


”Ini malam pertamamu, Elhundi Taja,” sebuah suara berasal dari satu kuncup Laotheri tengah mekar-mekarnya. Sepasang tangan dari dalam, menyibak kelopak. Pemuda belia berkulit putih muncul dari tengah-tengah Laotheri yang sedang mekar itu. Rambutnya keemasan terurai sebahu.


”Merald ...,” Taja tercengang, sama sekali tidak menyangka jika kuncup Laotheri itu ternyata peraduan Merald, Pangeran Bunga yang tinggal di kediaman Istana Euryn.


”Maaf aku telah mengganggu tidurmu. Aku segera pergi,” Taja agak canggung bertemu dengan Merald. Ini ke-dua kali sejak penobatan, Merald menyerahkan jubah Khameswari.


”Ta-arata-tuoshi.”


Merald berbisik dan menyihir Taja untuk berbalik ke arah Merald. Wajahnya sangat cemerlang. Tak pernah bosan menebar pesona senyuman.


Tangkai Laotheri perlahan merunduk hingga ke tepian telaga.


”Elhundi Taja ...,” Merald melompat keluar dari peraduan bunga Laotheri. Setiap langkahnya nyaris tidak meninggalkan jejak lantaran tubuhnya sangat ringan.


Kulit Merald sangat bening sampai tembus pandang ke tulangnya. Mirip kristal. Ia hanya mengenakan busana dari kelopak Laotheri. Melipat dari batas pinggang sampai lutut. Tangannya yang berjari empat dan meruncing, menyentuh pipi Taja.


”Hangat sekali. Benar juga kata mereka bahwa kamu makhluk peri yang paling lembut,” ujar Taja, merasakan lembut sentuhan Merald.


”Tapi aku paling rawan binasa. Itu sebabnya Ratu menempatkan aku di pusat Euryn, sangat tersembunyi,” kata Merald.


Mereka melangkah ke celah rongga sambil bernyanyi lirih, meloncati akar-akat dan sesekali menggantung di sulur-sulur yang merumbai ke puncak Euryn. Terakhir, mereka singgah di dahan-dahan ribuan ranting.


”Bagaimana dunia di luar Gunggali, aku tidak pernah melihat,” kata Merald di sela-sela hembusan nafasnya mengalir lirih dan mata terpejam.


”Tidak lebih bahagia daripada di Euryn,” tanggap Taja selama ini tinggal di tepian Sungai Ruthian. Merald tersenyum saja.


”Benar. Tetapi ada saatnya aku ingin mengitari Ruthian, berburu anggur air dan berendam. Terlalu bahagia di sini membuatku tidak bisa tidur,” kata Merald, sembari beranjak turun, merayap gesit dinding-dinding berselimut akar-akar menuju permukaan tanah.


”Hati-hati! Jangan terlalu cepat, kulitmu tergores nanti!” Taja terpaksa mengikutinya meskipun agak terlambat di belakang Merald. Dia lebih cepat bergerak larinya seperti sekelebat angin emas.


”Ssst, jangan berisik! Nanti pasukan penjaga akan memergoki kita,” agak tertahan di tenggorokan, Merald berbisik.


”Kita mau kemana?” Taja mengekor saja.


”Melihat purnama!” Merald mengangkat alisnya yang keperakan. Tanpa bicara lagi, ia segera menyusup melalui ruas-ruas dinding dan terjun ke tanah penuh belukar.

__ADS_1


”Kemana? Bukankah dari Istana Euryn, kita bisa melihat purnama?” Taja terus mengekor di belakang Merald. Keduanya merasuki semak-semak belukar.


”Phardabian."


"Purnama di sana tampak lebih besar!”


Merald menyebut satu dataran tinggi di luar istana Euryn.


”Apa?! Kawasan itu jauh dari Euryn. Sangat beresiko!” Taja beradu cepat dengan Merald, hendak mencegahnya, namun Merald jauh lebih gesit.


”Benar! Inilah jalan pintas ke sana. Aku sudah melalui banyak malam dengan menatap purnama sampai fajar dan sudah pasti kembali ke kuncup sebelum matahari terbit!” sahut Merald, kali ini berayun cepat dari sulur ke sulur setiap pohon.


”Bukankah di sana banyak pasukan penjaga berkumpul?” Taja menyusul.


”Tidak pada saat malam purnama begini!” Merald semakin berkelebat gesit. Satu ayunan terakhir melenting tubuhnya ke darat.


Mereka berhenti pada suatu hamparan padang rumput membentang luas seolah tanpa pembatas antara mata dan panorama langit malam bertabur bintang dan rembulan penuh di tengah langit.


”Lihatlah Purnama Phardabian!” seru Merald sambil menengadah ke atas.


”Wow, ajaib! Purnama di sini besar sekali. Ada puluhan rasi bintang dalam satu malam!” Taja takjub, nyaris tak berkedip selama mendongak ke angkasa yang ditunjuk Merald.


”Hei, rambutmu,” Taja juga memperhatikan rambut Merald berubah warna. Semula keemasan menjadi kecoklatan, sebentar-sebentar hitam, lalu kehijauan. Merald menatap Taja sedang terpukau daya tarik melalui pancaran matanya.


”Kamu?!” Taja mendelik kaget. Merald tertawa lepas saat melihat raut Taja seperti itu.


”Kamu berubah menyerupai ... aku …?!” Taja lebih terkejut lagi ketika menyaksikan Merald telah menyerupai wajahnya. Sangat mirip. Seakan-akan Taja sedang bercermin.


Tawa Merald menyusut, ”Ayo, ikut aku!”


Ia melambaikan tangan pada Taja yang masih terbengong di tempat.


”Cepatlah!” Merald lebih dulu merayap ke sebuah pohon tertinggi.


”Tunggu aku!”


Taja menyusul ke pohon yang sama. Dalam sesaat saja, mereka telah berada di puncak paling tinggi.


”Sebenarnya kamu laki-laki atau perempuan?” Taja bertanya lagi sambil mengamati Merald yang bersandar dan sedang memandang langit.


”Tergantung kamu menganggapku apa, seperti itulah aku ...,” jawaban Merald membuat Taja lebih ingin tahu.

__ADS_1


”Hebat sekali! Orang yang lihai menyerupai makhluk lain tentu memiliki kekuatan kultivasi yang tinggi,” kata Taja masih terpesona akan kepandaian Merald.


”Berapa usiamu?” tanya Taja. Namun Merald terdiam tak segera menjawab. Raut mukanya mendadak tidak  bersemangat.


”Dalam seratus tahun terakhir, hanya aku yang lahir dari Laotheri. Aku makhluk peri yang paling sendiri di sini. Bahkan, aku tidak tahu harus menyebut diriku apa,” Merald mengulas senyum lagi.


”Malam ini. Sangat damai. Sangat tenang. Sangat bahagia!” gumam Merald tanpa sadar.


“Aku memiliki teman, seorang Pangeran Euryn baru saja dinobatkan,” lanjut Merald.


Taja termangu, memikirkan sesuatu sambil sesekali mengamati Merald.


”Kamu juga merasa sendirian?” tanya Taja.


”Di bagian bumi yang berbeda, aku yakin ada bagian dari kaumku yang lahir dan hidup. Mungkin mereka juga sedang memandang purnama yang sama seperti yang kita lihat saat ini!” Jawab Merald tanpa resah sama sekali.


”Kaum lain?” Taja menanggapi terlalu serius.


”Ya! Dunia ini sangat luas, Taja! Setidaknya itu juga yang pernah diucapkan leluhur kita di Gunggali,” jawab Merald.


”Dunia luas dihuni jutaan manusia. Negeri Jawata, Negeri Sweta, Negeri Lokhta,” jawab Merald. Pandangan matanya menerawang jauh dalam imajinasi sendiri.


”Jawata?” Taja menangkap satu kata itu.


Merald memastikan dengan isyarat mata terpejam sekilas.


”Apa yang kamu tahu tentang Jawata?” Semakin penasaran, Taja lebih mendekat ke sisi Merald.


”Mmm ..., Jawata, negeri yang sangat luas. Benua. Daratan dan lautan mengitarinya. Negeri jutaan umat manusia. Bangsa dan peradaban besar. Para pemimpin bumi,” singkat Merald menjawabnya.


”Aku terlahir di antara hutan-hutan Jawata dan tersesat,” lanjut Merald.


”Musim semi kala itu, di suatu negeri terdekat dengan lembah hutan. Tidak banyak yang ‘kuingat tentang tempat itu, kecuali ... satu perempuan yang membawaku ke Gunggali.”


Merald menyentuh pundak Taja dan mereka berhadapan, ”Ratu yang sangat cantik. Dia menyelamatkan aku, lalu membawaku ke Gunggali.”


”Ratu Shachini?”


Tampaknya, Taja terbawa kisah Merald.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2