
Purwa mengusap air matanya. Taja pun tersenyum diiringi senyum teman-temannya juga, “Laki-laki harus kuat, tidak boleh cengeng,” ujar mereka bernada menghibur. Lalu derai tawa pun mengalir keras, Taja ikut tertawa memperhatikan tingkah laku mereka, meskipun sebenarnya dia memikirkan sesuatu yang lebih mengkhawatirkan.
“Mau kemana, Taja?“ kata Rambiloto menoleh ketika Taja hendak keluar.
“Aku akan menemui Raojhin, lebih baik kalian di sini saja,“ jawabnya.
“Apa?!" Purwa, Yuangga dan Kaninggaluh kaget mendengarnya.
“Kalian di sini saja, aku akan keluar sebentar. Jangan khawatir, aku tidak akan jauh dari sini,“ Taja menolak diikuti.
“Gila atau apa, kamu ingin menemui Raojhin?" heran Yuangga. Tatapan Taja cukup menjadi jawaban dalam diam.
“Jangan memenuhi tantangannya, aku yakin dia hanya ingin menjebakmu! Hati-hati, Taja. Aku tidak yakin dia benar-benar baik.”
“Ya. Penghuni Istana Praja Sayap Kanan tidak pernah bersikap baik pada praja kelas rendah seperti kita … tidak ada satupun dari mereka mau berteman dengan murid-murid praja dengan kelas lebih rendah,” Rambiloto mengingatkan sepengetahuannya.
“Jangan berkesimpulan seperti itu. Saat ini aku sedang mencoba untuk mempercayai dia. Dia menyuruhku datang sendiri, jika bersama teman atau salah satu dari kalian, maka dia tidak mau menemui aku. Jadi kumohon, kalian di sini saja demi keberhasilan ujian nanti. Kita butuh seseorang yang hebat dan bersedia melatih kita. Aku merasa, dia praja yang pandai dan tangguh. Semoga dia mau berbagi ilmu dengan kita,” kata Taja agar teman-temannya tidak mengikuti.
“Baiklah, kalau begitu hati-hati. Jika terjadi sesuatu kami tidak akan tinggal diam!“ kata Purwa sok pahlawan. Taja melempar senyum, Lorr En mengetahuinya, cepat-cepat ia meninggalkan kamar dan menuju Istana Praja Sayap Kanan tempat tinggal Raojhin.
Setelah berjalan melalui banyak koridor kemudian menyeberang bangunan yang memisahkan dua bangunan Istana Praja. Akhirnya sampai juga Taja di gerbang tempat yang dituju.
“Istana Praja Sayap Kanan. A ha! Sampai juga aku di tempat ini,“ pikir Taja ketika berlalu di gerbang utama memasuki area itu.
Koridor-koridor panjang di Istana Praja Sayap Kanan terlihat berbeda suasananya, rapi, bersih dan hampir semua dinding, atap dan pilar-pilar bercat putih, meskipun agak sepi. Dibandingkan dengan Istana Ekor tempat tim Kancil tinggal yang selalu kumuh dan tidak jarang sering terjadi kegaduhan.
Taja terus melangkah perlahan-lahan, sepasang matanya belum berhenti dalam mencari-cari pintu kamar yang tertera tulisan 243. Cukup panjang koridor dilaluinya, melewati satu persatu mulai kamar ujung sampai ke ujung lagi. Walau ada sesekali ada murid berlalu lalang di sekitar koridor tanpa memperdulikannya.
“Hei, jangan meleng! Lihat pakai mata!“ seorang murid yang kebetulan berpapasan, tanpa sebab berlebihan menjadi marah ketika tanpa sengaja Taja hampir menubruknya.
“Maaf,” kata Taja lirih. Lalu murid itu pergi dengan sikap sinis.
“Rapi, bersih, teladan … kecuali sikap!” gerutu Taja sendirian.
“Nah, ini dia!“ Taja berhenti di depan kamar paling ujung, “Yap, 243!” katanya meyakinkan diri setelah melihat papan dengan tulisan 243 di bagian atas pintu.
Tok ... tok ....
__ADS_1
Dua kali dia mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban.
Tok ... tok ....
Taja mengulang ketukan lebih keras. Belum sempat dia mengetuk untuk yang ketiga kali, pintu itu tergerak.
Krrieet ….
Akhirnya pintu itu dibuka seseorang.
“Siapa kamu?” muncul dari balik pintu seorang murid berbadan tegap, rambutnya cepak dan wajah berekspresi dingin.
“Aku mencari Raojhin,“ jawab Taja agak gugup melihat murid lain kemunculannya yang tampaknya sangat tidak bersahabat.
“Siapa itu?“ terdengar jelas suara dari dalam kamar 243.
Seorang di ambang pintu di hadapan Taja, menoleh dari asal suara, “Dia mencari Raojhin!“ jawabnya pada seseorang yang ada di dalam.
Setelah itu muncul tiga penghuni lainnya menampakkan diri. Mereka praja-praja bertubuh tegap dengan muka tak bersahabat. Di hadapan Taja, berjumlah empat praja tak ramah kelihatannya.
“Dia mengundangku ke sini,” jawab Taja.
“Kamu, praja baru dari tim Kancil itu?“ tebak si Ikal tampaknya tak salah mengenali Taja.
“Praja Istana Ekor,” sambung sebelahnya.
“Tim Kancil?“ tak salah praja itu melihat dari tanda ikat dahi bertanda tim Kancil.
“Jangan-jangan, kau Taja?“ tebak satunya giliran. Ia bermata sipit paling tinggi di antara mereka berempat.
“Aku tidak mengerti, kenapa Raojhin mau mengundang praja dari kelas Kancil. Menjadi praja karena hadiah dari Paduka semata, bukan karena potensi dan bakat," rasa tak suka tersirat di wajah seseorang yang bicara.
"Tersohor karena kemiripannya dengan pemberontak!” sambung yang si Ikal membuang muka.
“Apa maksud kalian dengan kata pemberontak? Jangan sebut aku seperti itu,"
“Siapa peduli dirimu!” balas salah satu dari empat praja itu.
__ADS_1
Taja hampir tidak dapat berkutik di depan empat anak asing itu, ”Jadi, bolehkah aku bertemu Raojhin?“ tanya Taja disambut dengan kebisuan yang cukup lama.
“Tidak!“ jawab mereka berempat serentak dan sangat kasar.
“Aku mohon …,” pinta Taja sangat.
“Dia memohon?“ seorang dari mereka mulai meledek disusul tawa lainnya.
“Benar kata orang, bahwa kamu lekat dengan rumor Bocah Malapetaka, tetapi lebih tolol!"
“Menurutku tidak cukup seperti itu, dia lebih mirip dengan gembala kuda pinggiran istana!” Derai tawa semakin menjadi-jadi, membuat Taja membisu.
”Gelandangan diisukan sebagai Bocah Malapetaka! Kalau saja benar, kurasa nasibmu sama tragisnya nanti seperti dia!" tawa lelucon pecah di antara mereka berempat.
Taja bungkam saja, tak peduli olok-olok keempat praja penghuni kamar 243.
”Benar kata teman-temanku, kalian memang sombong dan tidak berperasaan! Kalian sebut diri kalian ini prajurit sejati? Menurutku kalian lebih cocok dengan sebutan berandalan dalam kandang!“ ujar Taja, menghentikan tawa mereka menjadi amarah.
“Bah!“ si Ikal geram. Tubuhnya yang kuat mendorong Taja hingga tersungkur ke belakang. Tidak lama kemudian, Taja bangkit, si Ikal mencengkeram liontin dan menyudutkan Taja ke dinding.
“Aku tidak ada urusan dengan kalian. Aku hanya ingin bertemu dengan Raojhin. Tapi kalian justru menghinaku, apa itu salahku?“ ujar Taja masih menahan diri untuk tidak membalas. Si Ikal bertubuh kuat apalagi ada tiga temannya ikut menjegal.
“Dasar sialan, berani membentak aku!“ geram si Ikal, hampir saja melayangkan sebuah pukulan ke muka Taja.
“Lepaskan dia!“ ada suara tiba-tiba muncul di tempat terjadi keributan, kedatangan seseorang penghuni kamar 243. Keempat praja yang mengeroyok Taja, terkejut melihat siapa yang datang
“Raojhin! Kami hanya bermaksud membantumu,” ujar si Ikal terbata-bata. Sementara tiga lainnya canggung ketika melihat siapa yang datang. Tidak lain adalah Raojhin. Taja menoleh ke arah Raojhin.
“Tinggalkan dia!“ seru Raojhin pada keempat anggota satu timnya.
“Tetapi …,” hanya si Ikal yang tertinggal dan kebingungan.
”Tinggalkan dia sebelum aku marah!“ bentak Raojhin pada si Ikal. Tanpa tanya lagi, si ikal menyusul pergi masuk kamar.
Raojhin mengamati Taja, koyak baju dan rambut acak-acakan.
...* * *...
__ADS_1