The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
7.06


__ADS_3

”Siapa kamu?!”


Taja gemetaran melihat kemunculan makhluk asing pertama kali ini dilihatnya.


”Aku Changgala, Raksasa Akar yang tersisa di Calpera. Ratu memerintahkan aku untuk menjaga kawasan ini, sejak dulu sampai lembah ini lenyap sekalipun. Tempat ini kekuasaanku, termasuk makam itu!”


”Changgala! Kamu hampir saja menghancurkan makam ibuku!” Taja terlilit akar-akar makhluk itu.


”Aku tidak akan meloloskan siluman menginjak tanah ini! Aku akan mencabik-cabik tubuhmu!”


”Tunggu! Aku bukan siluman! Aku sejenis dirimu” Taja tak berkutik, makhluk itu semakin membelit tubuhnya.


”Lalu siapa kamu, berani memasuki perbatasan? Apa yang kamu lakukan di tempat ini?!” Changgala mengembangkan sebagian akar-akarnya tinggi, selain yang lain membelit Taja.


”Aku, penghuni Gunggali!” Taja tak kuasa lagi meronta, akar-akar Changgala berduri menusuk kulit.


”Krrrrgh ...!” Changgala mengendur, lalu mengendus tubuh Taja sesaat, ”Rupanya kamu, Kaum Gunggali. Siapa namamu dan apa mau-mu ke sini! Cepat katakan!” Changgala tak sabar, mengangkat tubuh Taja tinggi-tinggi dengan akar-akarnya yang kuat.


”Lepaskan aku dulu! Aku ... tidak bisa bernafas ...,” suara Taja semakin lemah. Akar-akar Changgala menjuntai ke atas dan ke bawah.


Taja terbanting.


”Arrh!” tubuhnya terjerembab ke tanah paling keras. Sambil menggeliat sakit, ia berusaha untuk menjawab pertanyaan Changgala.


”Aku Taja ...,” setengah terbata dan menatap mata lapuk Changgala di antara ruas-ruas kepala makhluk itu yang menggumpal.


”Apa yang kamu lakukan di lembahku?!” tubuh Changgala menyusut dan menyatu. Taja yang terbelit di bawahnya sampai terbatuk-batuk karena debu bertaburan ke mana-mana.


”Itu ... makam ibuku. Hampir saja kamu sudah menghancurkannya,” jawabnya di sela-sela batuk.


”Makam ibumu?” tanya Changgala.


”Orang dari Jawata,” jawab Taja tanpa meskipun tanpa bisa menunjuk arah kemanapun karena posisinya berada dalam gumpalan akar-akar.


”Dari mana aku yakin jika kamu, putra dari wanita yang dikubur itu?” Changgala tampak ragu.


”Aku Taja. Lihat saja tangan-tanganku!” Taja menunjukkan rumbaian daun-daun bermunculan dari  sela-sela jemari telapak tangan dan kakinya.


”Hmmm. Kamu, Peri Setengah Manusia, atau Manusia Setengah Peri?”


“Apa yang membuatmu berani datang ke Calpera?!” Changgala mengendurkan akar-akarnya setelah mengenali Taja tak lain makhluk sesama dirinya, hanya dia dari jenis sedikit berbeda.


Sesekali Changgala mengendus-endus aroma tubuh Taja.


”Mereka membawaku kemari!” kata Taja.


”Kamu dirundung!” Changgala terpekik setelah memperhatikan Taja, akar-akarnya kembali menegang

__ADS_1


”Mereka semua kerabatmu, tetapi memperdayaimu!”


”Jadi, kamu juga menganggapku seperti itu! Tidak kusangka kabar itu sampai ke perbatasan Gunggali. Sebaliknya, aku dibuat tuli sampai tidak mengetahui semua ini! Bisakah kau menceritakan semua yang kautahu tentang aku, Changgala?!” Taja mengikuti arah gerak kepala Changgala yang menyusut dan menjauh.


Changgala meraung-raung tidak seperti sebelumnya. Suaranya terdengar sedih dan meratap.


”Changgala, kenapa kau?” Taja heran melihat makhluk itu langsung meringkuk setengah tenggelam dalam tanah. Sebentar-sebentar terdengar raungannya membahana disertai kelebat akar-akar merasuk ke tanah.


”Aku sedang menangis. Kamu mana mengerti apa arti menangis?” Changgala menyibakkan air yang mengalir dari kelima matanya yang berada di tiap ruas berserabut.


”Akhir-akhir ini aku sering mengalaminya juga,” gumam Taja.


”Kami hampir tidak pernah menangis. Jika ada makhluk Gunggali menangis, artinya sangat tidak bahagia. Itu kelemahan kami,” Changgala terdengar suaranya menggorok. Itu ratapan tangisan dirinya tersedu-sedu.


”Kalian? Siapa yang kamu maksud?” Taja tak mengerti.


”Kamu dan ibumu!”


Jawaban Changgala, sontak membuat Taja tercengang. Sementara makhluk raksasa akar menggumpal tubuhnya berbelit-belit, kian tersedu-sedu.


"Aku dan ibuku?!" Taja bingung di tengah rasa tak percaya.


”Sebagian dari diriku menyayangi kalian, sebagian diriku juga membenci kalian," ujar Changgala, akar-akar tubuhnya menggeliat pertanda sedih dan marah.


"Ibumu, Orang Jawata. Dia membawa petaka bagi tanah ini. Aku jadi membenci peristiwa itu,” sebentar-sebentar Changgala mengusap air mata dengan tubuh akar-akar paling dekat dengan kepalanya berbentk gumpalan besar. Matanya bulat terselimuti lumut. Basah oleh air mata.


”Petaka apa maksudmu?” Taja penasaran tentang tutur kisah dari Changgala.


”Luka akibat Pusaka Bertuah!” jawab Changgala.


”Wanita itu, ibumu. Datang dengan luka parah. Racun di tubuhnya menyebar hingga menulari tanah Calpera. Semua yang hidup di sini ikut mati. Tidakkah kamu merasakan kesedihanku?”


Lanjut tutur Changgala, semakin menggumpal tubuhnya. Akar-akarnya menggulung rapat membentuk bulatan raksasa seukuran dua kali mulut gua.


”Ternyata bayi itu ..., adalah kamu,” akar-akar Changgala menggeliat seiring tangisnya.


”Benarkah semua yang 'kau katakan itu. Sama seperti mereka semua membenciku!” Taja sedih setiap kali merasa dirundung.


"Aku tidak percaya!" lanjutnya emosi. Tegas bicaranya membuat Changgala kembali tersulut marah. Akar-akar makhluk itu meregang lagu. Disertai suara menggelegar.


”Beraninya kamu! Aku sudah hidup sejak ratusan tahun di sini! Aku saksi hidup atas kejadian mengerikan itu!”


Nyali Taja ciut jadinya, menghadapi makhluk tak terduga emosinya itu akhirnya menampakkan kegagahan wujudnya lebih menjulang tinggi.


”Changgala, bencilah aku seperti yang mereka. Tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku sama sedihnya sepertimu," ujar Taja pasrah diiringi air mata mengalir di sudut mata.


Changgala tak dapat berkata apa-apa lagi. Meraung tangisannya semakin menjadi. Kemudian ia beringsut ke tanah.

__ADS_1


”Tunggu!”


Taja sempat menarik salah satu akar Changgala. Namun karena terlalu kuat, akibatnya Taja terjungkal ke tanah.


”Jangan membuatku tergoda untuk membunuhmu, Anak Jawata!”


“Aku tidak mau menjadi siluman!” Changgala menggelegar sebelum seluruh tubuhnya raib ke dalam tanah dan meninggalkan jejak lubang besar. Tertinggal Taja sendiri dalam kesunyian Calpera yang kering dan hawanya panas. Penglihatan Taja mendapati pegunungan di ufuk sana, langit berawan gelap kemerahan.


”Anak Jawata?”


Gumam Taja menatap ke arah kejauhan.


“Jika benar demikian, maka aku akan membuktikan sendiri setelah berada di balik perbatasan Gunggali itu. Aku akan lihat dengan mata kepalaku, bagaimana Manusia Jawara di luar sana!” Pikirnya. Lantas Taja bergerak melasat ke satu arah di seberang laguna terapit dua lereng di sana.


Embun malam makin tebal menyelimuti hingga sejauh mata memandang kaki langit. Laguna di antara dua lereng menjulang dan menyempit puncaknya sangat tinggi. Di bawahnya, samar-samar celah tertutup kabut tebal.


”Celah menuju samudra lepas. Akhirnya aku sampai juga!” Taja melompati permukaan laguna bening. Sesekali hinggap ke bongkahan bebatuan di sana.


”Perbatasan Gunggali. Mungkin ini yang sering dibicarakan Laskar Penjaga,” pikirnya.


”Aku akan menyeberang ke sana!” kata Taja. Tekadnya bulat. Sayup-sayup, terdengar suara menggema daru berbagai arah, sebentar menahannya.


”Jangan lakukan itu!” suara itu bergema dari mana-mana.


Taja mencari-cari asal suara itu ke semua arah. Sekali matanya menangkap bayangan kera berkelebat dari satu arah di pegunungan sekeliling laguna.


”Jangan melewati perbatasan itu!” suara itu terdengar lagi.


”Siapa di sana?” teriak Taja membalas.


”Di luar sana, berbahaya!” sebuah bayangan dengan suara lantang.


”Siapa di sana?!” balas Taja, memasang tatapan serius. Lautan pohon menghijau tampak di sisi seberang sana.


”Sebelah sini!”


“Seberang laguna. Sebelah sini!” hanya tertangkap bayangan sejenis kera, melesat gesit di antara dahan pohon yang rapat, gerakannya meninggalkan suara dedaunan gemersik.


”Aku tidak melihatmu!”


Seru Taja dan tidak ingin peduli lagi. Di balik kabut ujung laguna itu, mulai tampak sulur-sulur raksasa menutupi celah tebing.


”Tidak ada apa-apa di sana selain kabut dan hutan!” pikir Taja.


”Jangan ke sana! Itu hanya tipuan mata!” lagi-lagi suara itu menggema.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2