The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
7. Budak 1000 Keping Emas (3)


__ADS_3

”Celaka!”


Pekik Taja. Kelopak mata terbuka, ia tersentak kaget bukan kepalang. Mantera tidur semalam, mengakibatkan ia terlambat tidur. Terik matahari sangat menyilaukan penglihatannya. Tersadar, ini bukan ruangan gelap di balik kerangkeng lagi. Lebih mengejutkan, sekarang dirinya dalam kondisi badan terikat di tiang setinggi dua kaki dari permukaan tanah.


Taja tersadar penuh. Hingar bingar sekeliling orang-orang mengerumuni. Saat ini, Taja berada di tengah-tengah mereka layaknya bahan tontonan.


”Lorr En! Neirra!” teriak Taja sekuat mungkin dan terus meronta. Namun tidak ada dua temannya itu di dekatnya.


”Di mana juga anak-anak yang lain?” pikirnya sempat mengingat segerombolan anak-anak semalam. Belum lepas bingung dan panik, Taja tergantung sendirian di tengah-tengah kerumunan orang-orang asing.


”200 keping emas,” seseorang dengan berpakaian khas perompak, berseru lantang kepada khalayak ramai, tangan kirinya menenteng topeng besi, ditaruh dekat pinggang. Sementara tangan kanan seseorang itu mengacungkan dua jari.


”1000 keping emas!” serunya dibalas oleh sebuah suara yang tiba-tiba datang dari arah kerumunan yang terpecah. Sekelompok orang berkuda, berseragam rapih dan menenteng tombak masing-masing. Satu orang paling depan di antara mereka yang melempar suara tadi, berhenti persis di depan panggung papan. Ia mengamati cukup lama sosok Taja yang tergantung di tiang.


Ketua perompak memberi penghormatan dengan menunduk sebentar pada seorang pemimpin berkuda yang memberi harga lebih tinggi.


”Terjual!” serunya lantang. Seorang berkuda membalas dengan senyum sinis dan disusul seorang bawahannya melempar satu pundi berisi keping-keping emas.

__ADS_1


”Bawa anak itu pada Tuan Moura!” seru seorang berkuda memerintahkan bawahannya agar membawa Taja tempatnya tergantung.


”2000 keping emas!” belum sempat orang-orang itu menyentuh Taja, sebuah suara tiba-tiba menyusul cepat, mengalihkan perhatian orang-orang yang menonton.


”5000 keping emas!” tampak seorang prajurit memimpin kelompoknya. Mereka mengenakan seragam hijau tua.


Gerombolan lain terpancing kesal, ”Kami menawar lebih dulu!”


”Aku menawar lebih mahal!” balas pimpinan prajurit dari sekelompok-nya.


”Kalian, orang-orang Tanapura. Ini bukan wilayah kalian!” kata Ketua perompak.


”Bukan juga wilayah kalian!” balas pimpinan prajurit berseragam hijau tua itu.


”Kawasan ini, milik kekuasan Kakilangit!” balas ketua perompak.


Pimpinan prajurit terpaksa turun dari kuda. Tanpa menurunkan tombaknya, ia menghampiri anak buah perompak berserta ketuanya.

__ADS_1


”Kalian melawan Tanapura?!” geram pimpinan prajurit itu.


Sementara orang-orang berdebat. Taja pelan-pelan bertindak. Jemarinya bergerak-gerak dan mengucap mantera-mantera tipis.


”Mattesyaaa ....”


Perlahan ikatan temali yang membelit pergelangan tangannya, melonggar, dan ikatannya terlepas. Perhatian kerumunan dan dua kubu sedang berdebat mulut, beralih pada Taja dalam posisi meringkuk dan bersiaga dalam ancang-ancang. Sekejap saja, ia mengambil dua tiga lompatan lebar, memecah kerumunan orang-orang itu.


”Tangkap anak itu!”


Ketua perompak mengamuk lantang. Budak paling mahal mendadak kabur sementara sudah terlanjur transaksi perdagangan. Semua pengikut Ketua Perompak berhamburan mengejar Taja melarikan diri lebih licin dari belut. Sekejap saja, mereka kehilangan sosok pemuda itu kabur, lepas dari pandangan mata.


"Tangkap anak muda itu! Jangan sampai lolos!" teriakan orang-orang mengejar Taja sampai di kerumunan pasar budak.


"Aneh! Gesit sekali dia!" tampak orang-orang kelelahan setelah mengejar Taja.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2