
“Pengganggu!!!” Tiba-tiba terdengar suara keras tetapi berat dari dalam pondok.
“Bersujud! Atau akan akan menyihir dirimu!“ lanjutnya geram.
Taja terkejut dan langsung berbalik mundur. Tetapi ada kekuatan berasal dari dalam pondok, seperti menyedot tubuhnya sampai terhempas ke pintu masuk. Pintu itu hancur kena dobrak, dan Taja terbanting ke lantai kayu lapuk dalam ruang gelap gulita.
Ia mengerang sebentar dan segera bangkit. Tak sempat bergerak untuk kabur, ada sosok ringkih berkelebat ke hadapannya.
“Siapa kamu?“ Taja bersimpuh di kakinya. Tidak ada suara yang menjawab kecuali nafas berat setengah tersengal-sengal dan bunyi rantai-rantai terantuk lantai kayu.
”Makanan! Datang dengan sendirinya tanpa dicari, sudah lama aku kelaparan ...,” desisnya terkekeh mengerikan dan sempat menyentuh kulit tangan Taja.
Terkejut karena merasa sentuhan dingin sosok itu, Taja bergerak cepat mundur dan menjauhinya. Tetapi sosok itu mengejar. Tepat ketika Taja membentur ke dinding, sosok itu tak sampai menggapainya. Rupanya, ada rantai belenggu yang mengikat erat si Ringkih Tua itu sehingga tak cukup menjangkau Taja. Helai-helai rambut jarangnya bisa terlihat dalam kegelapan dan sepasang mata bening menyala karena terpantul sinar rembulan separuh menerobos dari celah-celah atap pondok.
”Aku bukan makanan. Siapa kau?”
“Aroma harum seorang bocah 11 tahun?“ suara berat tua terdengar lagi.
Taja meraba-raba dinding dan sebelah tangan kanannya meraih patahan kayu berujung, sekali lagi sosok itu menyerang lebih ganas, langsung dihantamnya keras-keras persis mengenai kepalanya. Ia mundur dan mengerang sebentar.
Saat lenggang seperti itu tidak disia-siakan oleh Taja, ia langsung mengucap mantera untuk membuat sedikit percikan api.
“Namaku Taja, seorang murid milter yang sedang dihukum di Pemukiman Sawo. Jika kau macam-macam dan bertindak membahayakan aku, maka aku tidak akan segan-segan menyihir kamu lebih dulu!” Taja memberanikan diri untuk melangkah ke dekat sosok terbelenggu dan meringkuk di sudut ruangan. Obor kering di tangannya menyala besar.
Sosok itu semakin mengkerut dalam cahaya api obor menerangi ruangan tua. Sesekali terdengar ringkih suaranya.
Suasana dalam ruangan begitu gelap dan pengap, ditambah bau bangkai tikus bertebaran di seluruh penjuru, sangat tertutup dan hampir tak tersentuh. Debu pekat melekat di kaki-kaki sepanjang ia melangkah.
Ada beberapa jendela-jendela usang, tetapi tidak satu pun terbuka. Menambah suasana kelihatan lebih angker. Saat Taja menapaki ke tengah ruangan, tampak sesosok berambut jarang dengan wajah tua, tidak cukup terlihat jelas karena hanya satu obor menerangi ruangan itu.
“Harum dan manis ...,” sosok itu mendesis.
“Siapa kamu?” Taja terus mendekat ke sosok itu dengan hati-hati, tetap siaga kalau-kalau ia menyerang lagi.
__ADS_1
“Daging harum dan manis, sudah lama tidak kucium aroma seperti ini … mengingatkan aku akan pada masakan daging cincang,” desisnya sekian kali dalam keadaan tubuh meringkuk.
Tanpa gentar lagi, Taja berdiri ke dekat sosok bau itu, “Kamu lapar? Apa yang bisa kubantu untukmu?”
“Aku selalu lapar, Bocah Manis ….”
“Aku akan mencarikan makanan untukmu ….”
“Aku lebih suka rasamu … daging segar langsung dari tulang,” desisnya lagi.
“Sungguh kamu ingin makan daging manusia?“ Taja merunduk persis di hadapan sosok misterius dengan jenggot terurai berantakan.
“Kamu kira daging manusia itu enak? sama sekali tidak! Aku lebih memilih makan daun daripada makan daging manusia … tetapi, aku sudah tidak bisa merasakan makanan apapun kecuali daging segar!”
“Mengapa bisa begitu?“ tanya Taja.
“Aku ini terkutuk … tidak bisa mati dengan senjata tajam apapun, karena itu aku diasingkan ke tempat ini … sudah puluhan kali aku dieksekusi tetapi tidak pernah berhasil, aku tetap hidup dengan menjijikkan, tubuhku menolak mati, meskipun aku sudah dibekuk seperti ini …,” rintihan suara sosok tua begitu menyayat hati, mendorong Taja ingin tahu lebih banyak lagi tentangnya hingga sampai seperti ini.
”Siapa kau?” Taja semakin mendekat lagi.
”Aku merasa peduli padamu ... andai saj aku bisa melepaskan bebanmu!”
”Jangan percaya padaku, mereka menganggap aku jahat!”
”Sejahat serigala?”
”Lebih, aku terkutuk karena ilmu Serigala Api yang menyesatkan!”
”Jadi kau adalah serigala?”
”Serigala Api jadi-jadian, hanya pada tengah malam purnama aku berubah wujud. Karena itu aku diikat seperti ini,” jawabnya.
”Tetapi kau tetap manusia, bukan?” Taja melihat keadaan sangat memprihatinkan dalam diri sosok itu.
__ADS_1
”Sebelum tengah purnama,” katanya.
Taja melihat ke celah-celah atap pondok. Dari sana, tampak bulan lebih dari separuh di langit-langit kelam.
”Kasihan sekali ...,” ucap Taja.
Si Tua itu semakin merapat ke sudut ruangan saat Taja menyulutkan api ke obor-obor lain yang terpasang di sekitar dinding. Sesekali merintih takut karenanya, ”Jangan nyalakan apinya ...,”
”Siapa namamu?” tanya Taja tanpa peduli ketakutan yang dirasakan sosok itu.
”Sebut saja aku, Tuan Anjing Hitam. Meskipun rasanya, aku punya beberapa nama lain yang hampir tidak mampu kuingat lagi,” lelaki tua menyebutkan dirinya, sambil menghindar dari cahaya benderang sekian obor.
”Kamu takut api?” Taja heran melihat si Tua mengakui dirinya sebagai Tuan Anjing Hitam, mengkerut takut seraya menutupi matanya.
”Terlalu lama kau terbiasa dalam gelap, membuat keadaanmu semakin tersiksa. Kembalilah ke cahaya, setidaknya akan membuatmu nyaman. Mulailah dari sekarang, aku bersedia membantumu untuk beberapa hari. Sepertinya, kau sangat membutuhkan seseorang untuk merawatmu,” kata Taja.
“Tidak perlu. Aku tidak selemah itu …,” lelaki tua itu membuka matanya.
“Bukan berarti aku meremehkanmu, tetapi …aku tulus ingin membantumu!” kata Taja untuk meyakinkannya. Lantas si Tua itu terdiam dan menatap dari sorot mata polos anak itu yang sungguh-sungguh.
“Maukah membuka belenggu yang mengikat dua tangan dan kakiku ini?“ pinta si Tua akhirnya. Dia menyodorkan kedua tangannya yang terbelit rantai besi.
”Bagaimana jika bulan purnama tiba? Kamu akan terbebas dan menjelma Serigala Api, akan membahayakan banyak orang-orang desa!”
”Hanya pada siang hari saja, malamnya kau bisa mengikatku lagi,” pinta Tuan Anjing Hitam.
“Hanya siang hari?” Sejenak Taja berpikir.
”Mmm, baiklah. Tetapi yakinkan aku dulu bahwa kau tidak akan kabur dariku. Mengingat kapan saja kau bisa berubah pikiran,“ Taja setuju dengan bersyarat.
Mata si Tua kebingungan, ”Jika aku sampai kabur dan berbahaya...bunuh aku saja. Sekuat apapun aku ketika menjadi Serigala Api, tetapi kelemahanku ada pada punggungku,” kata Tuan Anjing Hitam menunjuk belang punggungnya yang bungkuk sampai menyerupai punuk. Sekilas diperhatikannya, ada tulisan rajah mengitari gumpalan punuknya.
”Tusuk saja punggungku, akan lebih mudah mati saat menjadi serigala dari pada saat menjadi manusia. Rahasia yang tidak pernah diungkapkan pada seorang pun selain kepadamu,” kata Tuan Anjing Hitam.
__ADS_1
”Bagaimana jika ternyata itu hanya tipuan?” Taja tidak langsung percaya. Ia ingin lebih yakin lagi.
...* * *...