
Gandha di dekat Raojhin, tampaknya kebingungan. Bergantian pandang antara Raojhin dan Bintani, sama-sama praja setingkat dari kelas Naga. Gandha ambil diam, tidak cukup berani angkat bicara.
"Kenapa? Apa kamu mau mengikuti dia, silakan saja," sindir Raojhin pada Gandha.
"Aku lelah, Raojhin ...," kata dia, sedikit merintih dan agak menghindar.
"Terserah kamu, itu pilihanmu jika kamu akan melakukan seperti yang dilakukan Bintani. Memang kamu adalah rekan satu reguku, meskipun demikian, aku tidak mau tahu akibatnya! Pilih saja, lanjutkan membelah kayu atau ikut saja Bintani!" Raojhin tidak peduli lagi, membiarkan Gandha ragu-ragu melangkah ke tempat Bintani.
Tetapi sebelum sampai di sana, dia melihat Ketua Sujinsha sudah ada di belakang Bintani. Tetapi Bintani tidak mengetahuinya, dia bahkan bersantai sambil bersiul.
"Berdiri!" Satu hentakan tegas mengejutkan Bintani. Cepat-cepat ia bangkit setelah menoleh, tertunduk takut dengan perasaan was-was di hadapan Ketua Sujinsha.
"Merasa sudah siap bergabung dengan murid-murid senior?" satu pertanyaan menantang juga menakutkan, Bintani bahkan tidak mampu bersuara apalagi menatap Ketua Sujinsha.
"Aku menyuruhmu membelah kayu, sebelum aku memerintahkan untuk berhenti, mengapa kamu berhenti?"
Bintani masih membisu.
"Oh, baiklah, aku tahu pikiranmu. Sepetinya kau tidak menyukai pekerjaaan membelah kayu. Mungkin kamu lebih meras terhormat bila bergabung dengan mereka. Begitu?" Kapten menjejali sekian dugaan dan itu semuanya tidak salah.
Ketua Sujinsha terlihat tenang dengan dua tangan berlipat di depan perut. Sebaliknya, Bintani mendadak gugup, keringat semakin mengalir deras dari keningnya meskipun masih diam tanpa bisa berbuat apapun selain melirik Raojhin dan Gandha yang berjarak beberapa meter darinya.
"Saya ... saya ... lelah, Tuan ...," akhirnya bibir Bintani menjawab meskipun gugup.
Ketua memperhatikan anak itu sebentar, "Lihatlah teman-temanmu! Mereka mampu membelah kayu lebih banyak darimu. Bukan karena mereka lebih kuat, berbadan lebih besar atau jagoan kelas, tetapi karena semangat yang mereka miliki lebih dari kemampuan mereka."
"Saya bukan Raojhin atau Gandha, Tuan!"
"Tentu saja! Kamu bukan Raojhin atau Gandha atau sebaliknya! Sekarang lihat dirimu! Badanmu lebih besar, nada suaramu lebih keras, nyalimu juga lebih berani, seharusnya kamu bisa sebaik mereka atau bahkan lebih baik!" Ketua Sujinsha menatap Bintani tajam. Anak itu lagi-lagi terdiam.
"Hei, dengar baik-baik, Prajurit Kecil! Ada rahasia di balik kemampuan setiap orang, sesuatu yang harus kamu ingat, bahwa ada satu hal yang lebih penting dari pada daya tahan tubuh yaitu ketangguhan hati," kata Ketua Sujinsha l, mendekatkan wajahnya pada Bintani.
__ADS_1
"Aku tahu persis apa yang diinginkan setiap prajurit sepertimu. Ingin menjadi yang terbaik, lebih hebat dari yang lain dan suatu saat nanti menjadi orang pertama kepercayaan Paduka. Hidup bahagia dan mati mulia. Begitu 'kan? Hei, asal kamu tahu, bahwa takdir seorang Prajurit ada pada kesetiannya, hidup dan mati dengan berani demi negeri ini. Bersiaplah untuk membuktikan keinginanmu!"
Bintani perlahan-lahan mendongakkan kepala, sedikit demi sedikit dia berani menatap balik Ketua Sujinsha.
"Aku tahu yang kamu inginkan sekarang, pergilah ke sana, bergabung dengan mereka dan buktikan kalau dirimu yang terbaik! Lakukan, ini perintah!" Ketua Sujinsha mengacungkan telunjuk ke arah arena duel.
"Cepat!" tambahnya. Bintani pun segera berlari ke arena yang dimaksud.
Sementara itu, Gandha sejak tadi mematung di posisinya berdiri, berada ditengah-tengah jarak antara Ketua Sujinsha dan Raojhin.
"Kamu, ke sini!" kata Ketua Sujinsha melambai pada Gandha. Dan ia menurut saja.
"Sepertinya kamu juga ingin menyusul temanmu itu untuk bergabung dengan murid-murid senior? Begitu 'kan, Gandha?"
Gandha menganggu kecil sambil mengiyakan lirih, "Ya, Tuan."
"Kamu aku memberi pilihan, membelah kayu atau latihan laga, mana yang kamu pilih?"
Ketua manggut-manggut mendengarnya, "Kalau begitu, susul Bintani! Bergabunglah!"
Gandha sedikit berbinar, keinginannya selama 3 hari berturut-turut agar bisa bergabung dengan murid-murid senior terwujud juga, "Baik, Tuan!" kata dia, lalu berlari menuju arena duel.
Tinggal Raojhin sendiri yang masih memaksakan diri membelah kayu. Meskipun tampak sangat kelelahan dan keringat membasahi bajunya, tapi dia tidak berhenti tanpa perintah.
"Sampai berapa lama lagi kamu mampu membelah kayu-kayu itu?" Ketua Sujinsha Mendekati Raojhin.
Raojhin menoleh padanya, "Sampai akhir hayat saya," jawab Raojhin
"Oh, sampai mati? Sampai nafas terakhir? Sampai keringatmu berubah menjadi darah?" Tubuh Ketua Sujinsha yang tegap sudah berada di hadapan Raojhin, memperhatikan sesaat sebelum bertanya lagi, "Mengapa? Mengapa harus setia?"
"Sebagai prajurit sejati harus melaksanakan Sumpah dan Janji Prajurit, salah satu sumpah prajurit adalah menaati perintah atasan."
__ADS_1
Tawa Ketua Sujinsha bergelak. Raojhin heran, entah kata-kata apa yang membuat dia merasa lucu.
"Menyindirku? Karena aku selalu membangkang perintah Paduka? Bagaimana kalau atasanmu memberi perintah untuk membunuh orang tuamu? Akankah kamu melakukannya?"
Raojhin diam, bingung dan tidak tahu harus menjawab apa.
"Dengarkan aku! Sumpah prajurit adalah membela tanah air, menaati perintah atasan, menaati perintah Paduka. Selama itu ada pada pihak kebenaran. Ingat itu!"
"Baik, Tuan. Saya mengerti."
"Sekarang, apa kamu ingin bergabung juga dengan para murid senior di sana?"
Raojhin dan Ketua Sujinsha melihat ke arah yang sama, sorak riuh terdengar menderu-deru di antara barisan yang berkerumun.
"Tidak, Tuan!" jawab Raojhin singkat. Ketua Sujinsha mengerutkan dahi, "Mengapa?"
"Saya takut."
"Apa? Takut? Apa maksudmu dengan takut?" tanya Ketua Sujinsha.
"Mereka lebih kuat dan terlatih, mengapa harus beradu dengan saya? Itu sama saja dengan menyombongkan diri dengan kebodohan sendiri."
"Jadi, kamu merasa yakin akan kalah?"
Raojhin mengangguk kecil.
"Dalam pertarungan yang sesungguhnya, kamu tidak pernah tahu musuh-musuhmu sehebat apa.Tapi jika caramu seperti ini, maka kamu tidak pernah pantas disebut sebagai prajurit. Kamu tahu mengapa sebabnya? Karena musuh tidak akan pernah peduli tentang umur lawan, kemampuan beladiri, laki-laki atau perempuan yang mereka tahu hanya cara menghabisi nyawa lawannya," kata Ketua Sujinsha dan senyum kecilnya tersungging dalam raut muka tenang. Dia menyuruh anak itu melepas kapak lalu mengajaknya berteduh di bawah pohon.
Raojhin kurang mengerti sifat Ketua Sujinsha. Menurutnya, ia adalah orang dengan karakter unik. Apalagi saat orang ternama di Tanapura itu mengajaknya duduk berdampingan, rasanya risih. Raojhin merasa tidak pantas. Tapi sebenarnya, dia sangat menikmati kesempatan itu. Jarang-jarang ada orang bisa bertemu langsung dengan orang hebat seperti Ketua Sujinsha, apalagi untuk murid seusianya. Ini suatu kehormatan, kebanggaan, dia ingin sekali suatu saat nanti menceritakannya pada teman-teman asrama.
"Perlihatkan tanganmu!" suruh Ketua Sujinsha membuyarkan pikiran Raojhin. Anak itu segera menengadahkan kedua telapak tangannya. Tampak telapak tangan kari Raojhin memerah akibat membelah kayu, sedangkan yang kiri terbalut sarung tangan hingga ke perbatasan lengan.
__ADS_1
...* * *...