
Shaninka tidak bisa berkata apa-apa lagi selain melakukan apa yang disuruh Putri.
“Silakan!“ sambut seorang pengawal di depan pintu kereta tandu. Mereka berdua segera naik dan pergi menuju istana tempat Balairung Perak berada.
Sesampainya di sana, sudah berkumpul banyak pejabat dan petinggi kerajaan, puluhan putri dayang-dayang Tanapura ikut hadir merayakan sambutan itu. Sebuah tarian membuka acara meriah dengan berbagai hidangan mewah. Semua yang ada di sana sangat menikmati acara itu. Meskipun Putri Alingga dan Shaninka hadir sedikit terlambat, para dayang ikut menyambutnya dengan sopan dan manis lalu mereka pun bergabung dengan yang lain.
Pada awalnya, Shaninka memilih diam di sudut ruangan sangat luas, berdinding marmer keperakan, tiap tepi ruangan berpilar tinggi besar, dan berhias lampu-lampu kristal bergantung di sana-sini. Seiring irama kecapi dan tarian para dayang yang masih berlanjut, para putri yang ada di tengah ruangan juga ikut menari, juga para tamu yang hadir tidak segan-segan mencicipi hidangan yang tersedia. Shaninka benar-benar merasa kesepian dalam suasana semeriah itu, apalagi saat Putri Alingga menghilang di antara kerumunan orang-orang sebanyak itu.
“Dia mengajakku ke sini, tetapi dia juga yang meninggalkan aku di sini,” Shaninka sedikit mengeluh ketika merasa acara itu mulai membosankan. Tanpa ada yang menghiraukannya lagi, dia menjauh dari keramaian dan memilih berangin-angin di balkon Balairung Perak, sambil meneguk minuman di genggamannya terus memandang di kejauhan tanpa arti.
“Taja…bagaimana keadaanmu di tempat itu?“ Gumamnya sendirian, lirih bercampur sedih.
“Fuh ...,“ ini ke sekian kalinya Shaninka menghela nafas, semakin kama terdiam, semakin membosankan. Pandangan kembali di keramaian lalu beralih ke kejauhan sana. “Benar-benar membosankan!” gerutunya.
Pluk!
Satu dua kerikil kecil melintas di depan wajahnya dan memantul setelah mendarat di dinding. Tetapi Shaninka tidak begitu peduli ulah siapa itu.
Pluk!
Kali ini kerikil lain menyusul dan menimpuk punggungnya. Shaninka mengaduh sakit, “Aw! Siapa itu?!“ serunya kesal sambil mencari-cari orang yang sengaja melakukan itu.
“Sst, ini aku!“ terdengar suara dari balkon bawah, kepalanya mendongak ke tempat Shaninka berdiri. Dan begitu Shaninka melihat ke bawah, tampak sesosok yang tidak asing baginya, sangat dikenalnya dekat…
“Lorr En?! Apa yang kau lakukan di sini?“ setengah terkejut melihat temannya itu datang mengendap-endap.
Shaninka celingukan, khawatir kalau-kalau ada yang melihat Lorr En menyusup.
__ADS_1
“Jahat! Ada pesta tapi kamu tidak mengajakku!“
“Lorr En, aku ada disini karena Putri Alingga mengajakku, bagaimana kamu bisa berada di sini dan untuk apa? “ tanya Shaninka bertubi-tubi dan masih celingukan.
“Menyelinap … lewat kolam taman istana itu sampai ke sini,“ setengah tubuh Lorr En basah kuyup penuh bercak-bercak hijau di atas kulit tebalnya.
“Kolam?“ Shaninka melempar pandanganya ke kolam menjorok ke taman sejarak puluhan kaki dari ia berada di balkon luar istana.
”Bagaimana seandainya ada yang melihatmu? cepatlah pergi dari sini!” suruh Shaninka.
“Tenang saja! Sudah lama aku menunggu baju dan badanku kering, sejak tadi aku bersembunyi di sudut taman itu!“
“Dasar katak!” Shaninka mendoyongkan tubuhnya ke lantai bawah, ingin melihat lebih jelas keadaan Lorr En.
“Tinggal punggungku saja yang masih katak!“
“Jangan khawatir, di sini cukup siaga…kalau ada orang, aku tinggal meloncat ke kolam saja!“ Balas Lorr En menggampangkan, jari telunjuknya mengarah ke bagian kolam terdekat.
“Lalu untuk apa kau ke sini?!“
”Melihat Putri Sekar Wening menari!” jawab Lorr En tertahan berat dan membuat Shaninka seketika terkocak perutnya karena menahan tawa. Ia tahu kalau sejak pertama Lorr En melihat putri Tanapura yang sinis itu, selalu membuatnya penasaran untuk melihat lagi.
”Berhenti tertawa! Aku juga sedang menyelidiki sesuatu di Ruang Pusaka yang berada di dalam Istana Perak!”
“Ruang Pusaka?” Shaninka terhenti tawanya melihat Lorr En berubah serius dan tidak suka caranya tertawa.
”Di sana terlalu ramai, terlalu banyak tamu! Kau akan sulit untuk tidak terlihat!” kata Shaninka sekilas melihat sekeliling di Balairung Perak.
__ADS_1
“Banyak bicara, diam saja kau! Ini semua tentang Taja! Perempuan akan sulit mengerti!” Lorr En kesal sejak ia ditertawakan.
”Taja?” mengingatnya kembali, Shaninka mendadak murung.
“Ada silsilah leluhur Tanapura, pastikan nam Lintarwangi tertera di sana. Jika memang ada nama Lintarwangi, berarti kita dekat dengan pertolongan.”
Shaninka tampak ragu, ”Aku tidak mengerti maksudmu!”
“Aku sedang menyelidiki Ketua Sujinsha! Orang-orang sering membicarakannya, membuatku penasaran!””
“Dia?” Shaninka terheran-heran. Namun sosok Lorr En lebih dulu kabur ke arah jendela yang kebetulan terbuka lebar dan Lorr En baru menyadari itu.
“Hei, tunggu!” panggil Shaninka menyebut Lorr En sebelum meninggalkannya sendirian di balkon lantai dua. Padahal dia berniat kembali ke ruangan pesta, tetapi tiba-tiba mengkhawatirkan Lorr En.
“Ternyata kau di sini?“ suara Putri Alingga yang tiba-tiba muncul dari pintu telah mengejutkannya. Masih gugup, Shaninka melihat ke sekeliling dan tampak bingung.
“Ada apa?” tanya Putri Alingga tanpa menunggu jawaban dari pertanyaannya pada Shaninka.
“Bolehkah hamba ke Ruang Pusaka, Putri?” permintaan Shaninka lebih dari wewenangnya. Tetapi selama pesta berlangsung, maka ruangan itu terbuka untuk para tamu. Tentu saja ada kesempatan untuk mereka ke sana.
“Untuk apa ke sana? Bukankah pestanya ada disini?”
Shaninka terdiam sesaat, “Hanya ingin melihat-lihat, di sini terlalu ramai,” jawabnya. Tetapi Putri Alingga belum memberi izin atas atas permintaannya.
“Baiklah, lewat sini!“ Buru-buru Putri Alingga menarik lengan Shaninka dan berlalu dari kerumunan lalu menuju suatu ruangan yang berada di area istana lebih dalam lagi. Penjagaan lebih ketat, ada puluhan pengawal bersiaga di muka pintu. Sebentar mereka menepi untuk memberi jalan Putri Alingga yang akan masuk. Di dalam Ruang Pusaka, sudah ada beberapa orang yang terdiri dari tamu dan petinggi istana berkunjung untuk melihat-lihat berbagai pusaka balik kotak kaca terpajang di meja-meja dengan pembatas rantai, sebagian juga dipasang di dinding.
...* * *...
__ADS_1