The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
28. Eksekusi Penyusup


__ADS_3

Berurai air mata, histeris dan rasa ngeri tersirat dari wajah-wajah orang yang melihat peristiwa hari itu. Namun seorang pun tidak mampu mencegah. Bahkan Putri Alingga yang memiliki pengaruh besar, tidak bisa melakukan apapun. Setelah gagal membujuk Sang Ayah untuk membatalkan eksekusi. Tetapi dari sekian usahanya, ia tak punya cukup waktu untuk mencegah keputusan Sang Ayah Paduka.


”Terlalu mendadak, padahal kulihat wajahnya kemarin. Senyuman Lanting yang tenang, keramahan sikapnya, aku bahkan terkecoh dengan cara penampilannya selama ini, seperti mirip perempuan. Siapa mengira bahwa dia ternyata laki-laki,” kata Putri Alingga meneteskan air mata di tempatnya, bersama Shaninka, mereka sama menangis di bawah pilar besar koridor terbuka.


”Ada apa dengan hukum di negeri ini, mengapa banyak hal harus berakhir dengan eksekusi? Kesalahan Lanting sama sekali tak sebanding dengan pembunuhan, penganiayaan, perebutan hak-hak manusia, bahkan mencuri sekalipun. Ini tidak adil! Di mana hati Paduka?” kata-kata Shaninka sesungguhnya telah menyinggung Putri Alingga yang tidak lain adalah anak kandung semata wayang Paduka. Namun tersinggung sedalam apapun ia, tak berhak membuatnya marah karena memang demikian yang dikatakan Shaninka benar. Paduka adalah sesosok sangat menakutkan, lebih dari yang dikenal. Putri Alingga meninggalkan Shaninka tanpa kata.


”Maafkan aku jika salah bicara, Putri!” Shaninka mengikutinya sampai di ambang pintu kelas.


Langkah Putri Alingga terhenti sejenak, ”Kamu benar, ayahku tak jarang menghukum eksekusi untuk anak-anak seumurku. Sudah dari dulu,” tatap mata sendu dalam tutur katanya, sekilas mengembalikan masa lalu. Shaninka melihat wajah putri yang tertunduk. Lalu Putri Alingga meninggalkan Shaninka di balkon itu.


Suasana tegang masih berlanjut di setiap tempat dalam kawasan kerajaan, seiring eksekusi tepat pada waktunya, seorang kepala pengawal berseru, ”Eksekusi dilaksanakan!”


Meskipun berbagai tempat berbeda, namun setiap orang serentak menyaksikan eksekusi itu dalam hitungan mundur sepuluh jari.


”Sepuluh."


"Sembilang."


"Delapan.”


Ada beberapa orang tabib berusaha untuk menerobos masuk area eksekusi, namun belum cukup dekat ke sana, pasukan baris berjaga-jaga di sekitar radius 100 kaki langsung menangkap mereka.


”Tujuh."


"Enam."


Dari semua yang dalam ketegangan, sepasang mata mengarah pada area eksekusi itu juga. Taja di di tempatnya menggantung pada kayu-kayu penyangga atap teras tingkat tujuh salah satu menara. Sejak tadi tak lepas memandang ke sana.


”Lima."


"Empat!”


Waktu bergulir dalam hitungan 10 jari. Taja di tempat persembunyian, menyusun rencana aksi sangat beresiko.


”Ghuh-har-ra-ghur ....


"Gan-ghai-soohu-nae ...!!!”


Suara geram berat keluar dari tenggorokan. Taja melempar kalimat mantera sihir ’membangkitkan tanah’ dan mengarahkan tangannya ke dekat area.

__ADS_1


Blub ... blub ....


Tanpa sepengetahuan siapapun di sana, sebidang tanah di belakang barisan penjaga sekeliling dalam area, bergerak-gerak semakin menggunduk.


Blub ... blub ....


Gundukan tanah itu kembali diam.


”Ada apa dengan pikiranku?” Taja heran sendiri menyadari mantera baru saja ternyata gagal. Kekuatannya tak cukup ampuh untuk membangkitkan imajinasi pada tanah sehingga sihirnya urung terwujud.


Sementara hitungan mundur terus berlanjut,


”Tiga ... dua ... satu ...!!!”


Tepat pada hitungan terakhir, sang Algojo langsung menebas tali yang menanggung Lanting. Tubuh anak itu jatuh ke perapian berkobar di bawahnya.


”Kal-caa-hen-tah ...."


"Gan-ghai-soohu-nae ... ham-ni ...!”


Spontan saja, Taja cepat mengucap mantera lain yang lebih kuat, yakni ’sihir membangkitkan api’. Selanjutnya yang terjadi.


Roaarrrr ...!


Zash!


Kuda jadi-jadian itu berkelebat ke atas dan semakin ke atas membawa Lanting dari sana, lalu seperti lenyap begitu saja di angkasa.


Tidak sempat bertindak sesuatu apapun, semua penjaga, pengawal dan orang-orang yang menyaksikan eksekusi itu ternganga seketika kejadian ajaib itu muncul dan hilang dalam hitungan sekejap mata. Namun di antara mereka yang melihat dari dekat area, tampak kesal seraya menancapkan pedang ke tanah,


”Bodoh!” umpatnya.


Selang tidak lama setelah itu, ada peristiwa yang lebih aneh lagi menyusul. Awan tiba-tiba menyelimuti angkasa, angin dingin berhembus kencang disertai kilatan di langit-langit. Tenggelam dalam suasana alam buruk yang datangnya tiba-tiba itu, hiruk-pikuk berganti. Semua yang berada dekat dengan lokasi berhamburan, menjauh dari sana. Demikian yang sedang menyaksikan dari kejauhan pun tidak berbeda halnya dengan kepanikan sekitarnya. Mereka berburu waktu, masuk ke dalam kediaman sedapatnya. Dalam waktu singkat, keadaan di luar sudah sepi dari orang-orang. Kecuali seseorang tampak kesal dengan pedangnya di hadapan tungku kobaran api.


”Ketua, bagaimana tiba-tiba mendung, padahal sesaat yang lalu masih cerah. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya, bukan?” seorang pengawal bertanya keheranan pada pimpinan, ketika melihat suasana sekitar menjadi semakin gelap.


”Sihir!” pekik Ketua, geram berat dan tampak menahan marah besar.


”Sihir?” tanpa peduli lagi, kepala pengawal ketakutan dan ikut ambil langkah kabur bersama yang lainnya. Tinggal Ketua Jenewa sendiri dalam hamparan bertebaran debu.

__ADS_1


Angin kacang menghempas keadaan luar bangunan kawasan kerajaan. Halilintar mulai bergemuruh namun tanpa hujan.


Sementara Taja sedang berlari di antara koridor ke koridor lain, kembali ke bangsal pengobatan. Tersadar dari situasi yang sedang terjadi membuatnya ketakutan setengah mati. Nafas memburu dan degup jantung berdebar kencang membuat pikirannya jadi kacau. Sejauh manapun ia berlari, rasanya tak sampai-sampai juga ke tempat yang ditujunya. Terakhir kali tersadar, ia telah tersesat di sepanjang koridor, koridor, dan koridor lagi, suatu tempat selalu gelap dan masih asing baginya.


Terkesiap ia mendengar halilintar menggelegar di langit-langit, susulan kilat sekejap mata menerangi sekitarnya, ada bayangan awan berbentuk seperti serigala raksasa, berkelebat di atap-atap bangunan kerajaan.


”Arroragh!” pekiknya tersedak.


Dalam keadaan demikian, tak sengaja ditemukannya suatu pintu tak terkunci di ujung koridor.


Kriiiit ....


Dibukanya pintu itu dan terpaksa masuk ke dalam gelapnya entah ruangan apa.


Blaarrrrr!


Halilintar paling keras diiringi kilatan sekejap mata menerangi isi ruangan. Tatap mata Taja terpaku dalam ruangan yang kembali gulita.


’Kamar mayat!’ pekiknya dalam hati.


”Arrgg ...!” rintih Taja, tiba-tiba rasa sakit di ulu hati muncul. Tersimpuh dirinya ke lantai. Ruangan sunyi dan gelap, sebuah suara mengeram dari arah tak pasti membuatnya waspada.


Grrrr ....


Taja memasang pandangannya ke segala arah, tak ada sosok mencurigakan apapun dari sana. Tetapi dirasakannya sesuatu mendengus sampai ke tengkuknya.


Grrr ....


Sekali lagi, suara geraman terdengar jelas dari balik pintu masuk yang sedikit terbuka. Taja tak bergeming di sudut ruangan, semakin takut ketika matanya menangkap bayangan gelap mondar-mandir di balik sana.


”Tidak. Jangan kemari!” bisiknya sendiri dengan ketakutan. Namun yang tak diharapkan sungguh terjadi, sosok bayangan besar tampak dari pintu itu berhenti dan mendekat.


”Tidaaak!” menahan takut, Taja berteriak. Satu pintu didobrak seseorang.


”Taja!” tampak bayangan mendekat, suara tak asing membuat Taja lega.


”Lorr ...," Taja lemas.


”Kenapa kamu berada di tempat ini?” tanya Lorr En, hampir membuat Taja pingsan saking kagetnya.

__ADS_1


Taja banyak kehabisan tenaga, Lorr En memapahnya. Baru beberapa langkah, suara-suara geram kembali muncul. Dinding ruangan semula tenang, tampak bergerak-gerak.


...* * *...


__ADS_2