
Grrrrh ...!
Geram seekor makhluk mengejutkan kesendirian Taja.
Belum sempat berpikir, seekor mahkluk besar, bertaring dan berkuku tajam sedang merangkak di belakangnya.
”Siapa kamu?" tanya Taja pada makhluk yang belum pernah dijumpainya itu. Tetapi, makhluk itu hanya menggeram tanpa bisa menjawab bahasa yang sama.
”Kamu bukan penghuni Gunggali ....”
Sekali makhluk itu mengaum lantang dan langsung menerkam.
Grrrrrrgh ....
Taja terguling bersama makhluk buas itu.
Makhluk itu mengaum lebih lantang, mengundang koloninya berdatangan.
Taja tercekam ketakutan. Terlepas sebentar dari cengkeraman makhluk itu, ia berlari secepat mungkin, menghindar dari kejaran makhluk-makhluk kelaparan liar. Tanpa pikir lagi, terpaksa ia melantangkan satu mantera.
”Gur-Daraguh ...!”
Pemukaan tanah yang ditunjuk mantera, menggunduk dan semakin menggunduk lalu menjelma serdadu-serdadu pasukan peri berwujud batu campur tanah dan bercorak hijau-hijau. Serentak, mereka menyerbu dan menggulung makhluk-makhluk itu hanya dalam waktu singkat sebelum kembali menggumpal jadi tanah dan merata.
Suasana sesaat hening. Taja masih terpaku ke hamparan tanah yang sekilas lalu telah mengubur makhluk-makhluk itu.
Belum terlepas dari ketakutannya, Taja dikejutkan suasana langit yang tiba-tiba berubah. Secepat itu awan-awan gelap muncul dan membentuk puluhan makhluk berbulu tebal dengan moncong dan ekor besar. Mereka saling melolong ke angkasa.
Taja terpaku di tempat. Seluruh tubuhnya gemetar dan nafasnya terasa lemas. Tak kuasa ia merentangkan lengan apalagi merapal mantera. Dari angkasa, seekor di antara koloni makhluk itu, menghempas tubuh Taja.
Tiba-tiba ia merasa tubuh sangat ringan dan semua suara seperti hilang. Pandangan matanya meredup. Sementara puluhan makhluk itu berlewaran dan menyusul ke satu arah ke tempat Taja tergolek lemas.
Seberkas sinar matahari merasuk di antara celah atap berbelit ribuan akar, menerpa dua kelopak mata terbuka perlahan disertai nafas terdengar lelah. Ia melihat ke sekeliling tempat yang hangat tetapi asing. Cukup mengejutkannya saat tersadar tengah berada di atas tumpukan sutra empuk setebal lebih dari enam jengkal kaki. Ada anyaman bulu merak yang lembut menyelimuti tubuhnya.
”Kamu sudah sadar!” terdengar suara perempuan belia menyambut.
__ADS_1
Terbelalak. Taja tersentak.
”Aku ... di mana?” sepasang matanya memperhatikan keadaan sekeliling rongga besar dan cerah. Sinar matahari merasuk di antara celah-celah dinding akar. Wajah perempuan belia mengejutkan Taja. Matanya sipit, hidung dan bibirnya berada dalam rahang depan agak moncong. Ia mengenakan gaun putih. Sementara tangan-tangannya lembut menyentuh jemari Taja.
”Taja, kamu berada di Euryn. Kamu aman sekarang ...,” jawabnya, mengalihkan seluruh ingatan terakhir di balik mata bening perempuan belia di depannya.
Taja berdelik, ”Apa ... yang sudah terjadi padaku?” ingatannya belum sepenuhnya kembali dari kejadian sebelum tak sadar diri.
”Senja kemarin kau melarikan diri melewati perbatasan utara! Sangat celaka! Nyaris saja kamu menjadi mangsa Arroragh!” jawab perempuan belia itu.
”Arroragh ...?” Taja bergidik sebentar saat mengulang nama itu dengan nada suara lirih. Sekilas ingatannya kembali pada senja kemarin ketika akan makhluk-makhluk pemangsa peri yang baru sekali dilihatnya dari jarak sedekat itu.
”Untung saja saat itu aku sedang menyisir area sekitar perbatasan. Kamu pasti telah memakai salah satu sihir membangkitkan empat unsur! Aku bisa melihat cahaya mantera dari luar perbatasan Gunggali. Akhirnya menemukanmu,” kata perempuan belia itu.
Melihat wajahnya yang agak menyerupai kera, Taja teringat akan sesosok kera putih yang sekilas terlihat olehnya sebelum menyeberangi laguna.
”Kamu yang menolongku?” alis Taja terangkat, mengenali perempuan belia itu. Antara ingat dan tidak, ia merasa lebih dari sekali pernah melihatnya, ”Kamu ...,”
”Neirra!” perempuan belia itu lebih dulu menyebut namanya sendiri, ”Kamu ingat?”
”Kera Tabib! Gunggali menyebutmu begitu, 'kan?” ujar Taja, sesekali beralih pandang ke sekeliling rongga besar dalam pohon berdinding lilitan akar-belukar yang bertautan lekat satu sama lain. Ternyata dinding akar itu bergerak, meregang dan menyusut, dan membentuk celah-celah pintu keluar masuk.
”Bagaimana perasaanmu sekarang?” Neirra bertanya lagi. Siapapun ia, usianya hampir sebaya dengan Taja.
”Aku ...,” Taja duduk di pembaringan, merasa kikuk berada di tempat tidak biasanya, ”Merasa lebih baik ....”
”Kamu sedang berada di Kediaman Pohon Nilau,” kata Neirra sudah lebih dulu mengatakan keberadaan Taja sekarang.
”Pohon Nilau?” setengah tidak yakin Taja mendengarnya. Selama ini menurutnya, pohon Nilau adalah satu tempat yang hanya bisa dibicarakan sebelum tidur. Kasur sutra empuk dengan memandang langit berbintang dan diiringi nyanyian pelantun tidur sepanjang malam. Bunga atau buah apapun bisa tumbuh di dinding-dindingnya.
”Tidak mungkin ...,” Taja menyentuh pelipis kanan yang masih membekas luka, ”Aku pasti bermimpi.”
”Sebagian peri mengatakan bahwa ... Kamu sengaja ingin melarikan diri dari Gunggali. Entah kemarahan apa yang mendorongmu berbuat demikian,” Neirra menggenggam tangan-tangan Taja yang lemah.
Tiba-tiba Taja merasa bersalah.
__ADS_1
”Aku hanya ingin membuktikan diriku,” katanya lirih dalam penyesalan.
”Untuk membuktikan apa?” tanya Neirra itu ingin tahu.
”Bahwa sepenuhnya diriku adalah darah keturunan Gunggali, bukan Orang Jawata ...,” jawab Taja.
”Apa beratnya jika kamu memang Orang Jawata? Siapapun yang lahir tidak bisa menentukan akan jadi apa?” kata Neirra. Tatap matanya berubah tajam dan menyiratkan kurang suka akan sikap Taja yang seperti itu.
”Ini takdir! Lihat saja aku, Neirra, Kera Tabib! Itulah yang mereka tahu. Semua makhluk Gunggali juga tahu itu. Kecuali Ratu Shachini saja yang tahu tentang jati diriku sesungguhnya,” lanjutnya.
”Aku hanya akan mengatakan sesuatu padamu, agar kau tidak merasa sendiri sebagai satu-satunya yang berbeda,” kalimat Neirra berakhir di ujung senyuman.
Taja diam. Neirra mendoyongkan muka ke dekat telinganya sembari berbisik lembut, ”Aku juga bukan seutuhnya keturunan Gunggali.”
Pengakuan Neirra sangat mengejutkan. Ia yang selama ini dianggap peri, ternyata mengakui dirinya adalah manusia. Dan ia tidak pernah tampak menyesal akan hal itu.
Taja melotot.
”Ada apa?” Neirra menangkap keheranan di raut muka Taja.
”Kapan-kapan, aku akan menceritakan kisahku sehingga sampai ke tempat ini. Tetapi hari ini bukan saat yang tepat untuk bercerita,” ujar Neirra setelah membenahi ramuan yang tersisa.
”Ratu sangat menyayangimu. Jika harus menyerahkan bintang paling bersinar sekalipun, ia akan merelakannya,” bisik Neirra dengan lembut ke dekat telinga Taja, sedikit membocorkan suatu rencana yang tengah menyibukkan hampir semua penghuni Euryn malam ini.
"Kamu akan mendapat kejutan luar biasa. Semua penghuni Gunggali tak akan menduganya!” kata Neirra.
”Kejutan?!”
Memancing penasaran, Taja menyingkap selimut bulu merak.
"Kejutan apa?" tanya Taja, sambil mengintip dari balik celah ruangan, tampak kesibukan orang-orang berlalu lalang.
"Seperti akan ada pesta."
Kata Taja.
__ADS_1
...* * *...