The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
19. Latih Tanding (3)


__ADS_3

Pandangan Taja mendadak kabur, manakala Bintani mendekat padanya. Sosok tegap praja itu berbadan tinggi bongsor, sepintas mengingatkan Taja pada sosok dari Gunggali.


”Dakka ...,” sebut Taja lirih sambil perlahan-lahan bangkit. Sosok Bintani seolah menjadi Dakka. Seseorang yang pernah merundung Taja di hunian Gunggali.


Tersadar penuh. Taja kembali siaga menghadapi cara Bintani menyerang, serupa dengan yang dilakukannya pada Raojhin. Ia menggunakan jurus tubruk perut dan mengangkat tubuh lawan, Taja sudah hafal trik yang satu ini. Tubuh bongsor Bintani memudahkan aksi jurusnya.


”Heeaaah ...!” Bintani mengerahkan tenaga ekstra. Terlatih seperti apa, hanya sebelah tangan sejurus menghantam Taja, namun berhasil ditahan.


"Ugh!" Taja kewalahan menahan bobon lengan Bintani sekuat banteng liar. Tak cukup kuat, tangkisan berbalik mengunci lengan Taja. Ditambah seruduk kepala Bintani menghujam perut Taja.


Cengkeraman Bintani mengunci pertahanan Taja. Kedua lengan sulit lepas. Taja terdorong mundur beberapa langkah sepatu menimbulkan ngilu.


”Eaarh ...," Taja mengerang, menahan kuatnya dorongan Bintani berbadan lebih besar. Sejengkal lagi melewati garis merah, kaki Taja menekan lantai. Bintani terhenti.


Tak menyia-nyiakan, Taja mengeluarkan jari akar, mencengkeram balik kedua lengan sekaligus melepas kuncian, lalu sekuat tenaga membalik punggung Bintani hingga tersungkur jatuh. Praja senior itu terjungkal.


Brug ...!!!


Bintani mendarat layaknya banteng jatuh ke tanah. Semua orang menyaksikan itu.


Tidak dapat terduga, akhir duel antara tiga murid praja berbeda tingkat. Suasana semula tegang, berganti sorak riuh dan tepuk tangan penonton disertai siul-siulan melengking.


Bintani jatuh, keluar batas garis merah. Sangat tak disangka-sangka. Wasit menabuh gong tanda adu tarung berakhir. Taja ambruk di tempat dan menghela nafas lemas lega.


"Praja itu ... Banteng liar," pikir Taja, melirik pada Bintani yang berusaha bangkit dengan marah luar biasa. Sampai ia memukul tanah.


Bintani selama ini hampir tidak pernah ditaklukkan. Namun kali ini kalah telak. Ia bangkit, lalu memungut pedang tergeletak tidak jauh darinya dan berniat kembali ke arena tarung. Namun sesosok Ketua Sujinsha yang tegap dan tinggi besar lebih dulu menghadang Bintani.


”Kekalahan adalah hal yang paling sulit, tetapi jika kamu tidak berbesar hati menerimanya dan berniat kembali ke arena tarung yang sudah usai, maka kamu akan berhadapan denganku!” kata Ketua Sujinsha tegas


Bintani menatap perlahan sosok berdiri di depannya, "Ampun, Tuan!” ujarnya dan mengurungkan niat. Ia bersimpuh lutut di depan Ketua Sujinsha.


”Pelatih, ajak Bintani kembali pada regu!” perintah Ketua Sujinsha dan dilaksanakan seorang pelatih. Setengah berat hati, Bintani meninggalkan arena tarung.


Selanjutnya, Ketua Sujinsha menaiki tangga arena tarung.

__ADS_1


”Tabib!” teriaknya pada barisan paramedis untuk segera ambil tindakan.


”Bawa praja ini ke Graha Tabib. Dia terluka,” perintah Ketua Sujinsha pada sekelompok tabib dan menunjuk ke arah Taja meringkuk.


”Sebutkan skor mereka!” Ketua Sujinsha beralih perintah pada para juri dirasa lamban mengumumkan.


Ketua Sujinsha bersungut-sungut merampas lembaran penilaian dari tangan juri.


”10 poin untuk Bintani, 10 poin untuk Raojhin dan 1000 poin untuk Taja!!!” dengan kesal, Ketua Sujinsha mengambil alih kendali pengumuman skor nilai.


Sekawanan ahli medis membawa Taja ke Graha Tabib. Sesampainya di bangsal pengobatan, beberapa perawat membantu memberikan pertolongan pertama untuk Taja karena pelipis tergores cukup lebar, tulang sendi tangan kanan retak. Sementara itu, tampaknya Raojhin lebih dulu berada di pembaringan satu bangsal itu juga. Ia melihat kedatangan Taja.


"Bintani meremukkan tulangmu?" Raojhin menghampiri Taja sedang ditangani dua orang perawat.


"Dia mengalahkan Bintani," jawab seorang perawat.


"Apa?!" Raojhin terbelalak. Menyaksikan Taja terkulai lemas.


”Hati-hati membuka jirah!” kata perawat saat melepas jirah pelindung. Seragam berlapis anyaman keping besi, tampak memar di siku Taja sangat parah, bengkak dan membiru.


”Arrgh!” Taja kesakitan.


”Sakit sekali?” tanya perawat, menghentikan balutan sejenak.


”Kepalaku pusing, aku tidak bisa merasakan apa-apa pada tanganku,” suara Taja terdengar lemah disertai nafas terpatah-patah.


”Panggil tabib!” pinta perawat itu pada rekannya. Keempat perawat kebingungan, sesekali melihat kondisi Taja mulai di ambang tak sadarkan diri.


”Jika tidak segera tertolong, darah yang tersumbat akan menjalar sampai nadi, itu dapat mengakibatkan kelumpuhan!”


”Cepat panggil tabib ahli saraf dan tulang!" kata perawat itu.


”Baiklah, tunggu di sini sebentar!” sahut rekannya bergegas meninggalkan ruangan. Sementara perawat lain hanya menunggu tanpa bisa memberikan pertolongan lebih.


”Dia berkeringat dingin!” seseorang perawat melihat kondisi gawat.

__ADS_1


Tiba-tiba dari arah pintu, seorang perawat bercadar masuk tanpa permisi. Terburu-buru menghampiri Taja.


"Apa lukanya parah?!” tanya perawat bercadar itu tidak sabar.


Taja tersisa kesadarannya, melihat seseorang dikenalnya datang, ”Shaninka ...,” ujar Taja lirih perawat bercadar itu. Seseorang lagi bersamanya, yaitu murid pengobatan bernama Lanting.


”Coba kulihat lukanya,” pinta Lanting. Tanpa menunggu diijinkan. Sejenak menganalisa seberapa parah memar saraf dan tulang lengan Taja.


”Selain retak dan terkilir, persendiannya geser. Belum lagi, urat saraf remuk parah," jelasnya membuat Shaninka panik.


”Lalu bagaimana? Bisakah kau menolongnya?” Shaninka tampak cemas.


”Ambilkan air es, serbuk herbal akar dosis tinggi dan lada hitam. Jangan lupa ditambah minyak zaitun!” pinta Lanting dan cepat-cepat dilakukan ketiga perawat beserta  Shaninka. Beberapa saat kemudian. Mereka kembali dengan bahan-bahan tersebut.


”Apa yang sedang kau lakukan, Lanting?” tanya seorang ketua perawat. Dua lainnya hanya memperhatikan apa yang dilakukan Lanting. Murid pengobatan itu tak banyak bicara, fokus meluruskan tulang lengan Taja dari pergelangan sampai pangkal lengan, lalu memutar sedikit ke arah berlawanan. Taja sebentar berteriak kesakitan.


”Apa yang kau rasakan sekarang?” tanya Lanting.


Taja menggeleng pelan, ”Tidak ada.”


”Bagaimana yang ini?” Pijatnya beralih ke belakang punggung sampai leher. Sekali lagi Taja menggeleng sebagai jawaban.


”Yang ini?” kali ini Lanting berpindah area pijat di sekitar lekukan siku dan sedikit menekuknya.


”Aagh! Sakit sekali!!” ternyata Taja merespon kesakitan.


”Persendian tulangmu bergeser hampir 90 derajat, remuk tulang rawan. Aku harus cepat melakukan ini karena jika terlambat ... kau bukan hanya lumpuh. Jaringan sel saraf dapat menjalar sampai leher dan punggung, jaringan saraf akan mati dan membusuk, itu artinya ... harus diamputasi!”


Taja lemas mendengar itu, orang-orang terperangah. Shaninka terkejut, jadi kelabakan. Tetapi tidak bisa melakukan apa-apa selain berharap Lanting menolong.


”Ini akan sakit sekali, kau harus tahan!” kata Lanting. Taja meronta.


”Aaargh ...!!”


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2