
Suasana pelabuhan hiruk pikuk. Di tengah-tengah kesibukan sepanjang sore di pesisir pantai, Radhit melongok ke sana kemari. Sesuatu yang dicarinya belum ditemukan. Ini sekian kali ia mendatangi para nelayan. Sementara orang-orang sedang sibuk-sibuknya memasang layar-layar besar, sebagian perahu-perahu merapat ke pantai setelah berhari-hari melaut. Para awak kapal tertawa-tawa sembari menjinjing jala-jala yang gemuk berisi ikan-ikan.
"Siapa kamu? Tampaknya kamu orang dari kawasan pusat?" seseorang tua baya, badannya hitam kusam, penuh keringat dan pakaian yang membalut badannya tampak lusuh. Apalagi bau keringatnya yang bercampur amis ikan.
"Saya, Radhit!"
"Oh, apakah namamu bisa menjual ikan-ikanku lebih mahal?" si Tua Baya menyeringai tanpa arti, berlalu begitu saja dari hadapan Radhit.
"Tunggu, Tuan! Mmm, saya mencari seseorang," kata Radhit agak bingung, buru-buru menyusul si Nelayan Tua Baya yang menyapanya itu. Selama setangah hari, baru orang itu yang peduli pada Radhit.
"Siapa yang kamu cari?" tanya si Tua Baya.
"Saya tidak tahu pasti, adakah seorang pelaut di sekitar sini?" tanya Radhit justru ditertawai si Tua Baya itu di sela-sela teriaknya kepada segerombolan nelayan lain di sekitarnya.
"Ha..ha..ha...! Anak ini mencari seorang pelaut!" serunya ke sekeliling disambut tawa celoteh sekawanan yang lain.
__ADS_1
"Tuan bisa menolong saya atau hanya sekedar menertawakan saya?" kata Radhit berarti sindiran.
"Mmm, apakah aku harus membantumu? Apa yang akan 'kudapat? Emas?!" si Tua Baya menyedot cerutunya yang seukuran setengah jempol.
"Hei, Tua Bau! Hati-hati berbicara, anak itu seorang Mahalintang!!" muncul seorang pria turun dari perahu yang barusaja ditambatkan, menghardik si Tua Baya yang sok. Mendengar sebutan Mahalintang, si Tua Baya itu langsung beringsut pergi. Di hadapan Radhit sekarang, berganti seorang pria yang cukup tegap, tetapi agak lusuh pakaiannya sama seperti kebanyakan nelayan lain. Kecuali lengan-lengan pria itu masih tampak kuat, simbol ular kobra menyeringai di sela-sela sebelah lengan kiri yang terselimut pakaian lusuhnya.
"Putra Mahalintang, aku cukup mengenal ayahmu. Lima tahun lalu, kami pernah menjadi Satu Kesatuan Angkatan Praja, sebelum aku dikeluarkan dari Kesatuan Praja Bahari, lalu jadilah aku seperti sekarang ini!" ucap singkat pria itu cukup mengisahkan masa lalunya.
"Jika yang kamu cari adalah seorang pelaut, kamu bisa bertemu dengan mereka saat awal bulan Saka. Bahkan kamu bisa melihat Sang Laksamana dari jauh. Sudah pasti tempat ini penuh iringan prajurit istana menyambut mereka. Ada perlu apa kamu dengan pelaut?"
"Saya mengira pelaut dan nelayan sama. Kalian sama-sama bekerja di laut," kata Radhit di sela-sela pikirannya. Pria itu tertawa sebentar. Sembari mengangkat peti-peti basah yang sarat ikan, memasukkannya satu persatu ke dalam kereta kuda. Radhit terus mengikuti orang itu bergerak kemanapun, "Kamu masih bocah, belum tahu tentang dunia di luar Penjara Emas yang kamu huni itu!"
"Sangkanaya! Apalagi kalau bukan Penjara Emas sebutannya?! Selama menyinggung tentang harta dan martabat, apapun yang kalian inginkan terpenuhi. Kecuali kata hatimu yang berbicara, kalian untuk apa, atau menginginkan ketenangan seperti apa, apakah kamu pernah mendapatkannya? Jika memang demikian, tidak mungkin kamu datang ke pesisir yang terik ini hanya untuk mencari keberadaan seorang pelaut!" lanjut pria bertato ular kobra sembari terus bergerak membelakangi Radhit, lalu berlaih untuk membereskan tali-tali pengikat peti-peti di atas perahu. Radhit terus mengikutinya bergerak kemanapun.
"Aku melihat raut mukamu yang gelisah! Tidak bisa disembunyikan dari jarak sedekat ini! Bahkan tercium aromanya!" Pria bertato ular kobra itu asal bicara, bisajadi sedikit meledek atau sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Bantu aku mengangkat semuanya hingga selesai. Sebagai imbalannya, aku akan bercerita tentang pelaut dan nelayan, bahkan semua yang ingin kamu tentang negeri ini yang disebut-sebut Negeri Permata Hijau seperti yang dikata bangsa luar!" lanjut pria itu lagi.
Radhit tak punya pilihan, peti-peti berat di atas perahu itu lebih menggoda daripada terik matahari yang mulai surut. Sebagai pemula, ia mengaku kewalahan saat mengangkat peti-peti itu. Tak peduli juga pria bertato ular kobra di lengannya itu seringkali mentertawakannya.
Saat senja, Radhit melihat lingkaran perkemahan yang mendadak ramai. Api unggun dipasang sana sini. Orang-orang berdatangan, sebagian membakar sebagian ikan-ikan hasil tangkapan, sebagian melonjak-lonjak sambil memamerkan tangkapan hari itu. Mereka menjadikan sebagian hasil laut sebagai santapan malam yang lezat.
Pria bertato ular kobra pun melahap bagiannya, "Dimulai darimana?" tanya dia sambil menadah sepiring makanan dan kendi sedang.
"Yang berhubungan dengan Sanfoon?" tanya Radhit balik.
Pria bertato ular berkerut kening, "Sanfoon?! Mmm...," lalu melanjutkan kalimatnya, "Nelayan hanya berburu ikan, tapi pelaut lebih dari itu, meskipun sama-sama bekerja di laut. Ekspedisi, armada, kesatuan perang bahari, barulah disebut pelaut," sesekali pria bertato ular kobra berkecap lantaran rasa pedas yang mengusik lidahnya untuk menambah lagi. Mimik mukanya menawarkan kelezatan yang sama untuk mengajak Radhit agar menyantap bagiannya juga, "Makanlah meskipun sedikit! Ini nikmat sekali!"
"Terima kasih, tapi aku sudah tidak sabar mendengar ceritanya!" pinta Radhit tak peduli sepiring jatahnya.
Pria bertato ular duduk di sebelah Radhit yang sudah tidak sabar segera mendengar semua yang ingin diketahuinya, "Nama saya, Anseno Gawungliat. Seno panggilanku. Dulu saya seorang pelaut, lebih tepatnya lagi Prajurit Angkatan Bahari sektor Perbatasan Maritim Utara Kertanayam. Tetapi sekarang, saya hanya nelayan yang tinggal di pesisir perkampungan sempit di mata dunia ini! Jika kamu ingin bertemu dengan pelaut...maksudku mantan pelaut, maka kamu sudah menemukan jawabannya. Lalu apa yang ingin kamu ketahui tentang Sanfoon?"
__ADS_1
"Di manakah itu?" tanya Radhit. Pria yang mengaku bernama Seno, menaham tawa saat melihat mimik Radhit yang memelas, "Tuan Seno, di mana itu?" tanya ulang Radhit menyurutkan tawa si Pria bertato ular kobra yang mengaku bernama Seno.
...* * *...