
”Aku ... di mana?”
Setengah tersadar, Taja merasa lunglai. Melihat sekeliling hamparan kering tampak asing. Tersadar penuh, Taja mendapati dirinya tergeletak di tanah, beratap langit. Sejauh matanya melihat sekeliling, terbentang akar-akar kering mencuat ke permukaan tanah kering. Ada bangkai pohon-pohon tampaknya sudah lama mati. Tercium aroma anyir.
”Calpera ...,” terdengar suara menyambutnya terjaga. Rupanya Dakka muncul, berdiri bersama sekawanan orang di belakangnya.
“Sudah sejak dulu tempat ini dijuluki Serambi Gunggali, Kota Peri Menari. Serambi hutan paling hijau dan bahagia.”
”Tetapi, lihatlah sekarang yang tersisa hanya hamparan tanah busuk dan air beracun. Ratu menutup kawasan ini karena sudah tidak layak huni,” lanjut Dakka tanpa lepas memandang seluruh tempat itu. Tak perlu angkat bicara, sekawanan-nya melempar rasa tidak suka seperti Dakka.
”Orang Jawata membuat Gunggali menyempit!” timpal semuanya bersahutan.
”Apa hubungannya denganku?” Taja heran.
Sekali lagi Dakka menghempas tubuhnya ke tanah kering.
”Hubungannya denganmu?!” matanya mendelik tajam. Dalam sesaat, angin berhembus kencang akibat pengaruh kemarahan Dakka.
”Teman-teman, seret dia ke sana!” perintah Dakka dan langsung dilakukan oleh empat kawannya. Mereka menarik Taja dengan paksa sampai ke tengah lembah dan meninggalkannya di sana.
Rerimbunan pohon kering di atas tanah lengket, tergenang cairan hijau, berbau sangat busuk, meluas hingga jarak puluhan kaki.
”Apa ini? Kenapa kalian membawaku kemari?” Taja terlepas dari bekapan empat peri yang usia mereka lebih tua. Lalu mereka cepat-cepat menyingkir dari sana.
”Itu makam ibumu!” Dakka berteriak dari kejauhan bersama sekawanannya.
”Apa? Makam ibuku?” sangat tidak percaya mendengar itu, Taja terpaku pada satu pemandangan tragis di hadapannya.
Cairan hijau ternyata jejak racun masa silam, menggenangi permukaan tanah sampai jarak seluas ini. Persis di tengah-tengahnya, hamparan tanah retak, tampak pohon-pohon mati menyisakan dedaunan mengering.
”Tidak! Kalian pembohong!” Taja histeris.
”Ini kenyataan! Kamu Orang Jawata, pembawa petaka!” teriak Dakka.
Tatap mata Taja kembali pada pohon-pohon mati di sana.
”Kembalilah kamu ke tempat asalmu!” lagi-lagi teriak Dakka lantang.
”Hampir senja, kita tidak bisa berlama-lama di sini,” seseorang mengingatkan Dakka.
“Awan mulai gelap, kita harus segera pergi dari sini!”
”Lalu bagaimana dengan dia?” yang lain ikut menyahut.
”Tinggalkan saja dia!” kata Dakka.
”Bagaimana jika Ratu mencarinya?” Beberapa yang lain agak keberatan.
”Kalian masih iba padanya?” tatap marah Dakka menyurutkan kawan-kawannya.
”Biarkan anak Jawata itu enyah dari Gunggali!” rasanya Dakka belum puas melampiaskan kekesalan pada Taja. Tapi melihat suasana mulai gelap, terpaksa ia harus segera hengkang dari tempat itu.
”Ayo kita pergi!” ajak Dakka pada sekawanannya. Kemudian mereka meninggalkan tanah Calpera, membiarkan Taja tertinggal sendiri di lembah kelam itu.
Awan gelap berarak menyelimuti langit-langit Calpera seluas mata memandang. Hembusan angin dingin menyeruak ilalang-ilalang kering setinggi tubuhnya.
Taja masih bersimpuh di depan makam ibunya tanpa berhenti menangis. Selama ini sama sekali dia tidak tahu sebelum Dakka membawanya ke tempat itu. Sempat terbersit dalam pikirannya tentang kabar itu memang benar. Tidak seharusnya ia yang berdarah manusia tinggal di Gunggali. Selama ini, tidak ada yang pernah mengatakan tentang jati diri Taja yang sebenarnya, kecuali Dakka. Meskipun itu memperingatkannya pada kebenaran yang membuatnya sangat tidak bahagia.
Gumpalan tanah bercampur cairan hijau kental diraihnya erat-erat. Cairan itu bersumber dari sebilah benda seukuran jengkal tangan menancap pada sulur-sulur rumbai daun-daun membusuk.
“Menyedihkan sekali ….”
“Benarkah ini makam ibuku?”
“Apa yang telah terjadi pada ibuku. Aku tidak pernah tahu sebelumnya,” tangan Taja menggapai serpihan daun-daun kering melekat di dahan. Air matanya berlinang.
Tiba-tiba sesuatu entah darimana menarik kaki Taja hingga terseret.
__ADS_1
”Aargh! Lepas! Lepaskan aku!” pekik Taja dalam kesunyian yang mulai gelap, semakin merapat ke pohon besar dirayapi. Ada bayangan besar menjuntai, melibas bangkai pohon-pohon yang tersisa seluas tanah tandus dan terjal, tertuju padanya.
Grakk ...!!!
Brutal sekali dan terlalu tiba-tiba, pohon tempatnya merayap terhempas oleh sekali libasan hebat, ia pun terpental jauh bersama puing-puing batang. Setelah itu, terdengar raungan menyeruak kesunyian Calpera. Disusul akar-akar raksasa muncul di depannya.
”Lepaskan aku!” Taja terbelit akar-akar bergerak di kedua kakinya. Sebentar ia meronta di tanah, bergelut dengan akar-akar besar tak terhitung jumlahnya, mencuat dari tanah dan semakin bermunculan.
Tidak jauh dari ia terjebak, sebidang tanah menggunduk semakin tinggi dan ambrol.
Bongkah tanah berhamburan ke atas. Dari kedalaman tanah muncul kepala makhluk itu. Tak terduga wujudnya seperti umbi raksasa yang menggumpal sambil berbicara keras.
”Siapa kamu?!”
Taja agak gemetaran melihat makhluk asing yang baru kali ini dilihatnya.
”Aku Changgala, satu yang tersisa di Calpera. Ratu masih memerintahkan aku untuk menjaga kawasan ini, sejak dulu sampai lembah ini lenyap sekalipun. Tempat ini kekuasaanku, termasuk makam itu.”
”Changgala! Kamu hampir saja menghancurkan makam ibuku!” Taja semakin terlilit erat.
”Aku tidak akan meloloskan siluman menginjak tanah ini! Aku akan mencabik-cabik tubuhmu!”
”Tunggu! Aku bukan siluman!” Taja tak berkutik, sedangkan makhluk itu semakin meregangkan akar-akarnya.
”Bukan siluman? Lalu siapa kamu berani memasuki perbatasan! Apa yang 'kau lakukan di tempat ini?!” Changgala mengembangkan sebagian akar-akarnya tinggi, selain yang lain membelit Taja.
”Aku adalah penghuni Gunggali!” Taja tak kuasa lagi meronta dan akar-akar Changgala yang berduri sampai menusuk kulit.
”Krrrrgh ...!” Changgala agak mengendur, lalu mengendus-endus tubuh Taja sesaat, ”Rupanya kau peri daun...siapa namamu dan apa maumu ke sini! Cepat katakan!!!” Changgala mengangkatnya tinggi-tinggi.
”Lepaskan aku dulu! Aku ... tidak bisa bernafas ...,” suara Taja semakin lemah.
Akar-akar Changgala terjuntai ke atas dan ke bawah, sesekali bersatu dan terberai lagi.
Taja terbanting.
”Aku Taja ...,” setengah terbata dan menatap mata lapuk Changgala di antara ruas-ruas kepala makhluk itu yang menggumpal.
”Apa yang 'kaulakukan di lembah ini?!” tubuh Changgala menyusut dan menyatu. Taja yang terbelit di bawahnya sampai terbatuk-batuk karena debu bertaburan ke mana-mana.
”Itu ... makam ibuku. Hampir saja kamu menghancurkannya,” jawabnya di sela-sela batuk.
”Makam ibumu?” tanya Changgala.
”Orang Jawata,” jawab Taja tanpa meskipun tanpa bisa menunjuk arah kemanapun karena posisinya berada dalam gumpalan akar-akar.
”Dari mana aku yakin jika kamu, putra dari wanita yang dikubur itu?” Changgala tampak ragu.
”Aku Taja. Lihat saja tangan-tanganku!” Taja menunjukkan rumbai daun-daun bermunculan dari sela-sela jemari telapak tangan dan kakinya.
”Hmm. Kamu, Peri Setengah Manusia, atau Manusia Setengah Peri?”
“Apa yang membuatmu berani datang ke Calpera?!” Changgala mengendurkan akar-akarnya setelah mengenali Taja sebagai jenis Challius.
”Mereka membawaku kemari!” kata Taja.
”Dasar!” Changgala terpekik setelah memperhatikan Taja, akar-akarnya kembali menegang, ”Mereka telah memperdayaimu!”
”Jadi, kamu juga menganggapku seperti itu! Tidak 'kusangka kabar itu sampai ke perbatasan Gunggali. Sebaliknya, aku dibuat tuli sampai tidak mengetahui semua ini! Bisakah kau menceritakan semua yang 'kautahu tentang aku, Changgala?!” Taja mengikuti arah gerak kepala Changgala yang menyusut dan menjauh.
Changgala meraung-raung tidak seperti sebelumnya. Suaranya terdengar sedih dan meratap.
”Changgala, kenapa kau?” Taja heran melihat makhluk itu langsung meringkuk setengah tenggelam dalam tanah. Sebentar-sebentar terdengar raungannya membahana disertai kelebat akar-akar merasuk ke tanah.
”Aku sedang menangis! Kamu mana mengerti apa arti menangis?” Changgala menyibakkan air yang mengalir dari kelima matanya yang berada di tiap ruas berserabut.
”Akhir-akhir ini aku sering mengalaminya juga,” gumam Taja.
__ADS_1
”Kami hampir tidak pernah menangis. Jika ada yang sampai menangis, itu artinya ia sangat tidak bahagia. Itu kelemahan kami,” Changgala terdengar menggorok.
”Kalian? Siapa yang kamu maksud?” Taja tak mengerti.
”Kamu dan ibumu!” jawab Changgala. Taja tercengang, sementara makhluk berbentuk gumpalan akar itu menangis tersedu-sedu.
”Sebagian dari diriku menyayangi kalian, sebagian diriku juga membenci kalian. Ibumu, Orang Jawata itu, telah membawa petaka bagi tanah ini. Aku jadi membencimu,” sebentar-sebentar Changgala mengusap air mata dengan bantuan akar-akarnya yang paling dekat dengan kepala.
”Petaka apa maksudmu?” Taja jadi penasaran.
”Pusaka Beracun!” jawab Changgala.
”Wanita itu, ibumu. Datang dengan luka parah. Racun di tubuhnya menyebar hingga seluruh Calpera. Semua yang hidup di sini ikut mati. Tidakkah kamu merasakan kesedihanku?” lanjut Changgala semakin menggumpal. Akar-akarnya menggulung rapat membentuk bulatan raksasa seukuran dua kali mulut gua.
”Ternyata bayi itu adalah kamu,” akar-akar Changgala ikut menggeliat seiring tangisnya.
”Sebagian omonganmu hanya bual, bukan? Sama seperti mereka yang tidak membenciku!” Taja menghardik karena tak percaya sehingga Changgala marah besar seiring akar-akarnya meregang dan suaranya menggelegar lagi.
”Beraninya kamu! Aku sudah hidup sejak ratusan tahun di sini!”
Nyali Taja ciut jadinya, menghadapi makhluk tak terduga emosinya itu akhirnya menampakkan kegagahan wujudnya lebih menjulang tinggi.
”Bencilah aku seperti yang mereka lakukan,” ujar Taja pasrah saja. Sedangkan Changgala tak berkata apa-apa lagi. Meraung tangisannya.
Changgala beringsut ke tanah.
”Tunggu!” Taja sempat menarik salah satu akar Changgala. Namun karena terlalu kuat, akibatnya Taja terjungkal ke tanah.
”Jangan membuatku tergoda untuk membunuhmu, Orang Jawata!”
“Aku tidak mau menjadi siluman!” Changgala menggelegar sebelum seluruh tubuhnya raib ke dalam tanah dan meninggalkan jejak lubang besar. Hanya Taja dalam kesunyian Calpera yang luas. Sampai kedua matanya melihat pegunungan di kaki langit yang berawan gelap.
”Orang Jawata?” gumam Taja menatap ke sana.
“Jika memang demikian, aku akan membuktikan sendiri setelah berada di balik perbatasan Gunggali itu, sehingga aku bisa melihat langsung seperti apa manusia di luar sana!” pikirnya. Lantas Taja bergerak melesat ke satu arah di seberang laguna diapit dua lereng di sana.
Embun malam makin tebal menyelimuti hingga sejauh mata memandang kaki langit. Laguna di antara dua lereng menjulang dan menyempit puncaknya sangat tinggi. Di bawahnya, samar-samar celah tertutup kabut tebal.
”Celah menuju samudra lepas. Akhirnya aku sampai juga!” Taja melompati permukaan laguna bening. Sesekali hinggap ke bongkahan bebatuan di sana.
”Perbatasan Gunggali. Mungkin ini yang sering dibicarakan para Laskar Penjaga,” pikirnya.
”Aku akan menyeberang ke sana!” Tekad Taja bulat. Sayup-sayup, terdengar suara menggema ke segala arah, sebentar menahannya.
”Jangan lakukan itu!” suara itu bergema dari mana-mana.
Taja mencari-cari asal suara itu ke semua arah. Sekali matanya menangkap bayangan kera berkelebat dari satu arah di pegunungan sekeliling laguna.
”Jangan melewati perbatasan itu!” suara itu terdengar lagi.
”Siapa di sana?” teriak Taja membalas.
”Di luar sana, berbahaya!” Sebuah bayangan dengan suara lantang.
”Siapa di sana?!” Balas Taja dan memasang penglihatan. Hanya pegunungan menghijau tampak di seberang sana.
”Sebelah sini!”
“Seberang laguna. Sebelah sini!” bayangan kera dengan suara serak membalas.
”Aku tidak melihatmu!” seru Taja dan tidak ingin peduli lagi. Di balik kabut ujung laguna itu, mulai tampak sulur-sulur raksasa menutupi celah diapit dua tebing.
”Tidak ada apa-apa di sana selain kabut dan hutan!” pikir Taja.
”Perbatasan di sana, menipu mata!” lagi-lagi suara itu menggema.
...* * *...
__ADS_1