
Di bawah langit Gunggali yang kelam. Kelopak-kelopak bunga meranggas, terbawa hembusan angin dan berjatuhan ke tanah, sungai, bebatuan juga padang rumput.
Isak lirih di tepian Sungai Ruthian. Gemercik arus sungai mematahkan keheningan.
Dakka tengah meringkuk di atas bebatuan berlumut. Kedua matanya runcing, sembab karena terlalu lama menangis. Semua tangan dan kaki ditumbuhi rambut abu-abu dan memanjang. Pada selangkangannya mencuat ekor besar. Ia menangisi tubuhnya yang sedang berubah dari bentuk semula.
”Aku ... tidak ingin ... menjadi siluman ...,” rintih Dakka di sela-sela isak tangis.
"Aku tidak sengaja ... membunuhnya ...."
Tidak jauh darinya, Elkas melihat tubuh Dakka menggigil, berangsur berubah wujudnya, menjadi makhluk berbulu tebal di sekujur tubuhnya dan ukuran tidak lazim lagi. Bahkan ia sudah tidak bisa berdiri tegak. Sepasang tangannya sejajar dengan kaki.
”Dakka, apa yang terjadi padamu?!” Elkas menyeringai ngeri selama memperhatikan saudaranya semakin berubah wujud dari sebelumnya. Sekarang, ia lebih menyerupai binatang berkaki empat.
"Menjauh dariku ...," rintih Dakka.
”Aku tidak mau menjadi siluman!” Dakka histeris. Suaranya berat disertai geram menakutkan. Dengus marah terhembus dari hidung Dakka, sekarang menjadi moncong setiap kali ia menghela nafas.
"Orang keturunan Jawata itu ... Taja, yang membuatku menjadi seperti ini ...," tak jua hilang, benci dan marah dalam jiwa Dakka. Bahkan menyalahkan Taja sebagai penyebab semua yang terjadi sekarang.
Elkas tersentak mundur.
”Alam sedang mengutuk dirimu, Dakka!” Elkas bergidik takut. Manakala wujud Dakka semakin membengkak sampai-sampai pakaian dikenakannya terkoyak. Punggungnya mengeras dan tebal pula penuh bulu. Otot-otot bermunculan di sekitar muka dan leher.
Setelah itu, ia mendongakkan kepala serta membusungkan dada. Tanpa dapat berbicara lagi kecuali jeritan Dakka menjadi lolongan panjang layaknya serigala.
”Arroragh!” Elkas terkesiap. Matanya melotot tajam. Menyadari makhluk dilihat mata kepala sendiri. Dakka menjelma seekor makhluk ditakuti kaum Gunggali.
Arroragh. Pemangsa Jiwa bagi kaum Gunggali yang memiliki Kultivasi Peri. Seseorang awalnya kaum Gunggali, justru menjadi musuh alami, pembunuh Kaum Gunggali.
"Kutukan Pembunuh!" Elkas mundur. Takut kalau-kalau makhluk gubahan sosok Dakka, tiba-tiba menyerang.
Sepasang sorot mata makhluk serigala jelmaan Dakka, memerah setajam kemarahannya. Wujud cakar makhluk itu sibuk melepas sisa pakaian yang menempel di badan.
Arroragh jelmaan Dakka, merangkak semakin dekat ke arah Elkas.
”Dakka ...,” Elkas gemetar tubuhnya, ”Ini aku ....”
Elkas terdorong ke belakang, hingga terjungkal.
__ADS_1
Moncong Arroragh meneteskan air liur dan mengendus-endus tubuh Elkas terjerembab di tanah.
”Ini aku ... Elkas ... saudaramu ... masih ingatkah?” Elkas gemetaran.
Auuuuuuuung ...!
Lolongan Arroragh menjawab Elkas, meraung sekencang jerit serigala, menggema ke mana-mana.
Elkas mengambil kesempatan untuk menjauhinya. Namun Arroragh mengejar dan hampir menerkam.
Auuuuuuuung ...!
”Jangan!” teriak Elkas dan terjatuh tepat di bawah sosok makhluk itu.
Beruntung, dari balik rerimbunan pohon, tiba-tiba muncul para laskar bersayap sambil meluncurkan patahan sinar perak ke arah Arroragh.
Arroragh jelmaan Dakka, merangkak mundur.
Auuuuuuuung ...!
Kemudian laskar bersayap sebagian besar mengejar makhluk Arroragh.
Datang lagi, beberapa laskar mengepakkan sayap, mendarat di tanah dan berhenti di dekat Elkas. Satu di antara mereka bertanya.
”Di mana Taja?”
Elkas menjawab dengan raut ketakutan, ”Aku tidak tahu ...,” ujarnya gemetaran pula.
Kemudian gerombolan laskar bersayap menyusul pergi ke arah matahari menyingsing ke barat.
Elkas berbalik arah, menelusuri tepian bakau hingga ke seberang Sungai Ruthian. Tidak jelas tujuannya. Sampai kebetulan ia melihat jejak-jejak kaki dan bercak-bercak cairan merah kental sejauh arah menuju lembah. Jejak-jejak itu semakin jelas mengarah ke satu pohon besar yang batangnya meliuk dan akar-akar mencuat ke permukaan air.
Elkas menatap ke puncak pohon. Sesosok sedang meringkuk di antara dahan-dahan lebat. Tampaknya, ia sama sekali tidak berkutik. Corak rambutnya hitam kecoklatan, Elkas bisa menduga sosok itu.
Segesit serangga, Elkas merayap ke puncak pohon, mendekati sosok meringkuk yang dilihatnya.
"Taja ...," semua orang mencarimu," ujar Elkas.
Sosok meringkuk di kedalaman rimbun dedaunan, tidak lain Taja yang sedang bersembunyi.
__ADS_1
Elkas terkejut.
”Taja ...,” jari-jari akar tangannya menyusut sebelum sampai menyentuh pundak Taja.
Tanpa diduga, Taja langsung mencengkeram tangan-tangan Elkas.
”Bunuh aku!” gertak Taja.
Elkas tersentak melihat kondisi Taja berlumuran cairan merah di dadanya.
”Taja, apa yang terjadi padamu ...?!” Elkas memperhatikan keadaan Taja saat itu.
Dahan-dahan terguncang hingga patah. Keduanya jatuh dan tercebur ke aliran sungai di bawah pohon itu.
”Bunuh aku jika kalian sangat membenciku!” terakhir kali, Taja mencengkeram leher Elkas sekuat tenaga raut. Tidak peduli darah semakin merembas dari luka di dadanya.
”Aaargh ...!” Taja mengerang mundur, kemarahannya memuncak namun tak sanggup membunuh Elkas.
”Taja ...,” Elkas memanggil dan ingin menggapainya.
”Jangan sentuh aku!”
Taja lebih dulu menghardik. Ia segera menyingkir ke seberang sungai kecil dengan tertatih langkahnya.
"Kamu dan saudaramu, Dakka, telah menyebabkan kematian Merald," desis Taja.
"Taja," Elkas mencoba mendekati.
"Tidak ada niatku membunuh Merald," Elkas menyesali apa yang terlanjur terjadi.
"Aku juga tidak mengerti, kenapa saat itu Merald sangat menyerupai dirimu," Elkas tampak sangat menyesal.
"Puas kalian, Merald menjadi salah sasaran?" Taja membuang muka.
"Taja ..., aku di posisi yang sulit. Membela Dakka dan dirimu. Aku serba salah ...," Elkas tak sanggup lagi hendak menjelaskan apa.
"Bertanggung jawablah, Elkas! Kebencian Dakka terhadapku, akhirnya membawa petaka pada diri kalian sendiri!" Taja bergegas pergi dari hadapan Elkas.
"Seharusnya, kalian dapat lebih awal menyadarkan Dakka, bukan malah ikutan membenci aku. Sekarang sudah terlambat!" sosok Taja melesat hilang di balik rerimbunan pohon bakau.
__ADS_1
...* * *...