The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)

The Chronicle Of Jawata (Edisi Trial Kompilasi)
26. Balada Murid Nakal


__ADS_3

Senja tak berubah.


Seperti biasanya, gelap dan suram sepanjang jalur menuju kawasan pemandian wanita di Istana Tanapura. Kawasan terjaga, sangat luas dan terbentuk alami dari aliran sungai, dikelilingi dinding batu setinggi puluhan kaki.


Empat sudut mengalir sumber air. Kemudian di tengah-tengah ruang itu, berjejer puluhan mulai dari bilik-bilik ukuran besar sampai sedang bersalut tirai pada dindingnya yang terbuat dari bambu-bambu. Suara gemercik puluhan pancuran air melalui saluran buatan mengarah ke luar area pemandian. Sejuk dan bening airnya sangat menggoda siapapun ingin mandi. Belum lagi pemandangan sekitarnya di rancang menyerupai taman.


Di bawah cahaya remang-remang obor berderet di tepian selasar menuju area pemandian, samar-samar tampak tiga bayangan tengah mengendap-endap ke arah pintu masuk area tempat itu. Suasana gelap nyaris menyembunyikan keberadaan sosok mereka. Karena juga penjagaan di sekitar area itu tidak cukup ketat seperti pada tempat-tempat resmi lain.


Tiga sosok dalam kegelapan mendekati ambang pintu. Terdengar bisik-bisik mereka penuh hati-hati dan waspada.


”Aku masuk, kalian berjaga-jaga di pintu!” sesosok menyuruh kepada dua rekannya.


”Biasanya, saat-saat begini dia sedang mandi ...,” bisiknya lagi pada yang lain.


”Ya, aku pernah melihatnya mandi pada saat petang begini. Mungkin dia malu karena tubuhnya pasti  penuh bulu kera!”


”Ssst .... Jangan berisik!” seorang dari mereka menghentikan langkah.


”Bagaimana jika gagal?” seseorang ragu.


”Tenang, bukan Seruni jika tidak berhasil!” dari bawah cahaya obor, muka antusias.


”Seruni. Keponakan Ketua Jenewa, tidak akan mudah menyerah setelah dipermalukan!” kata Seruni dengan berdecak.


”Jadi, apa yang akan kita lakukan?” kata seorang temannya. Seruni menunjukkan sesuatu di keranjang.


”Apa itu?” tanya dua temannya. Seruni menunjukkan sesuatu dari dalamnya.


”Daun-daun gatal? Untuk apa?” seseorang dari temannya tampak heran, melihat daun sebanyak itu dibawa Seruni. Mereka belum tahu apa yang direncanakannya.


”Kalian benar! Aku akan menebar daun-daun ini saat dia akan mandi. Setelah itu, apa yang akan kita lihat adalah hal yang menyenangkan! Lalu esok harinya, ia tidak akan pernah mau masuk sekolah dan selama berminggu-minggu mengurung diri dalam kamar,” belum-belum Seruni tertawa disambut tawa yang lain.


”Sst ...," seketika dia menutup mulutnya sendiri sekaligus mengingatkan yang lain.


”Bagaimana jika ketahuan?” cemas temannya.


”Aku tidak takut, selama Seruni adalah keluarga Jenewa. Maka aku tidak takut pernah kalah," membanggakan nama keluarganya, Seruni sangat percaya diri.


”Bagaimana terhadap Tuan Putri Alingga? Juga tidak ada rasa takut padanya?” seorang lagi mempertimbangkan perkataan Seruni.


”Alingga! Dia beruntung karena dilahirkan sebagai putri, tetapi tetap saja aku yang terpandai dan paling populer di kelas Tabib Tingkat Pemula. Semua harus mengakui itu!” Seruni bersungut-sungut pada dua temannya. Kemarahannya akibat perlakuan Putri Alingga siang tadi di kelas masih terbayang jelas, sangat sulit dilupakan sampai-sampai mendendam.


”Lihat saja nanti, putri Alingga juga akan mengakui itu!” lanjut Seruni dan mulai melangkahkan kaki masuk area pemandian.


Kriiiiet ....


Pelan-pelan suara pintu bambu didorong tiga gadis belia. Kebetulan sekali pintu utama memasuki area pemandian itu tak pernah terkunci, sedang tidak terpasang palangnya. Semakin mereka masuk ke dalam, terdengar makin keras suara gemercik air mengalir deras ke seluruh area berpagar dinding bebatuan cadas.


”Itu pasti dia! Kalian tunggu di sini saja!” bisik Seruni dibalas anggukan dua temannya itu dan ia terus melangkah ke sederetan bilik.


”Dapat!” pekik Seruni tertahan di tenggorokan setelah melintasi puluhan bilik bambu. Sepasang matanya dalam kegelapan cukup cepat menangkap bayangan tembus pandang dari dalam sebuah bilik di deretan ujung dan paling dekat dengan air terjun yang menjorok ke dalam area pemandian.


Tidak banyak kata lagi, Seruni mendekati bilik yang dituju. Selangkah demi selangkah, akhirnya sampai juga di dekat dinding bambu bilik itu. Ketika sempat ia mengintai ke dalam, yang tampak olehnya hanya punggung seseorang sedang setengah berendam sambil mengusap leher dan tubuhnya dengan air busa yang mulai memudar dalam genangan air. Dan sama sekali belum disadarinya akan kehadiran seseorang lain yang berniat tidak baik.

__ADS_1


Seruni lebih mendorong pintu bilik yang tak terkunci agar bisa lebih jelas melihat sosok di dalam bilik. Lalu suatu pemandangan tampak olehnya, seketika membuat sepasang matanya terbelalak.


Terkesiap ia sambil menahan teriak, karena yang sedang dilihatnya nyaris tak dapat dipercaya. Terlalu terkejutnya ia sampai-sampai terpeleset. Refleks! Sekantung keranjang berisi daun-daun gatal, rencananya akan ditaburkan melalui pancuran air buluh bambu yang mengarah masuk ke bilik, terlempar ke atas, lalu jatuh persis ke mukanya dalam keadaan terbalik dan terbuka.


”Argh!”


Sebuah suara tak tertahankan lagi muncul juga saat daun-daun tak terhitung jumlahnya berhamburan ke muka Seruni. Selanjutnya, suara orang jatuh.


Tentu saja suara itu menarik perhatian seseorang dari dalam bilik mandi. Karena merasa ada yang mengintai, sosok itu cepat-cepat berbenah pakaian.


”Siapa itu?” serunya lalu bergegas keluar. Sebelum orang itu sempat mendatangi asal suara, Seruni cepat-cepat kabur.


”Ternyata dia Lanting!” pekik Seruni melintasi dua teman yang berjaga-jaga di sekitar pintu. Melihat aksi langkah seribu Seruni, tentu mereka tidak tinggal diam. Ketiganya lari tunggang langgang menuju pintu keluar.


Namun seseorang lain kebetulan baru saja datang dari pintu masuk, menangkap sekilas arah yang dituju tiga sosok berlarian itu.


Daun-daun berserakan mulai dari sepertiga jalan sepanjang pemandian hingga sampai di ambang pintu belakang. Seseorang dari dalam bilik terburu-buru keluar dan mengikuti jejak daun-daun itu. Terakhir, ia berdiri di hadapan murid perempuan yang muncul dan tampaknya berniat akan mandi.


”Shaninka?” agak heran, orang itu melihat kedatangan Shaninka dari arah pintu masuk.


”Lanting?” ekspresi tidak begitu berbeda dari raut Shaninka saat melihat seseorang yang sudah dikenalnya juga berada di tempat yang sama pada saat-saat senja seperti itu.


Padahal biasanya, tidak ada yang selarut ini datang ke tempat itu. Yang lebih mengherankan adalah wajah panik Lanting dengan nafas terengah-engah dan pakaian sedikit amburadul seperti terburu-buru saat mengenakannya.


”Jadi, kau yang mengintaiku tadi?” tiba-tiba Seruni mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak mengerti oleh Shaninka.


”Aku mengintipmu? Yang benar saja!” Semula kedengarannya aneh, tetapi Shaninka jadi terkikik geli. Padahal Lanting sangat serius dan was-was. Memang aneh, untuk tujuan apa murid graha tabib mengintainya mandi.


”Jika bukan kamu, lalu siapa?” tanya Lanting.


Lanting tercengang melihat gadis muda 10 tahun itu membuka lapisan luar pakaiannya. Lalu yang tersisa hanya kain membalut dada sampai bawah kaki.


”Mau mandi bersama?” tanya Shaninka tanpa basa-basi. Lanting bungkam saja, terus melihat gadis belia itu menenggelamkan diri dalam air kolam yang tampak jernih ke dasarnya dan hanya sedalam perut.


”Kenapa?” tanya Shaninka, cukup lama Lanting tercengang.


”Tidak. Aku sudah mandi...,” jawab Lanting kelihatan salah tingkah, ”... aku keluar saja,” kata dia, berbalik arah.


”Aneh. Ada tiga murid kulihat berlarian," Shaninka asal bicara, membuat Lanting berbalik padahal hampir keluar pintu.


"Tiga murid?! Apa kau melihat jelas, siapa mereka? Kemana mereka pergi?” muncul serentetan pertanyaan Lanting bercampur cemas dan takut.


Sejak tadi Shaninka heran melihat ada kepanikan di wajah Lanting namun tanpa alasan jelas. Kalimat yang baru saja dikatakannya bukan sesuatu yang serius, tetapi senior itu sangat ingin tahu.


"Ke arah pintu belakang, memangnya ada apa?” tanya Shaninka balik. Tanpa menjawab apalagi permisi, Lanting bergegas ke arah yang ditunjuknya.


Heran, tetapi tidak banyak peduli, Shaninka hanya melihat sosok murid senior itu berlari ke kegelapan sana.


...* * *...


Selang waktu tidak lama kemudian, di rumah singgah keluarga besar Jenewa, Graha Pualam Biru, nama kediamannya. Ada suatu pembicaraan serius antara keluarga yang sedang berkumpul.


Ketua Jenewa, pemimpin kesatuan praja yang mengepalai empat divisi penting di Tanapura. Ia menyempatkan hadir dalam pertemuan mendadak itu. Sudah pasti keberadaannya yang bukan memiliki sembarangan pangkat sangat berpengaruh.

__ADS_1


”Kau tidak sedang bermain-main dengan kelinci, keponakanku Seruni?” masih tak yakin ia setelah hampir satu jam membicarakan hal aneh dari kesaksian gadis cilik 10 tahun itu dalam pelukan ibunya.


”Benar,” jawabnya dengan mengangguk untuk ke sekian kalinya. Hampir setengah tubuhnya penuh bentol-bentol kemerahan mulai dari leher sampai pergelangan tangan, sebentar-sebentar mengerang dan menangis karena gatal luar biasa yang dirasakannya.


Sementara tidak jauh dari setengah keluarga besar yang mengerumuni Seruni, tampak Razel, sepupu lelaki, duduk mengangkat kaki ke meja. Meskipun sejak awal mengikuti pembicaraan itu, ia masih diam saja.


”Seruni masih 13 tahun, tidak mungkin ia berbohong. Semua yang dikatakannya pasti benar!” kata si Ibu membela, ”Anak-anak itu telah mencelakainya, sungguh tidak bisa dimaafkan!” lanjutnya dan yang lain membenarkan serupa.


”Harus ada perhitungan atas perlakuan mereka!” kali ini pihak laki-laki berbicara.


”Bagaimana mungkin? area pemandian bukan kawasan yang seharusnya menjadi daerah perlindunganku. Apa kata orang nanti bila aku harus turun tangan hanya karena masalah mandi!” balasnya mengungkapkan keberatannya.


”Lihatlah Seruni! Ia jadi begini karena ulah mereka! Butuh sebulan penuh untuk sembuh dan pulih dari gatal-gatal akibat daun-daun gatal!” Ibunya menegaskan berulang kali dan karena Ketua Jenewa masih memberi jawaban sama, akhirnya ia nekad mengambil tindakan sendiri, ”Kalau kau tidak sanggup menangani masalah ini, maka aku sendiri yang akan menghadap Kepala Tabib!”


Semua melotot bersamaan, terutama Seruni. Tiba-tiba ia berteriak di sela-sela tangisannya.


"Jangan!”


”Mengapa, Seruni?” tanya yang lain.


”Aku takut ...,” rintih Seruni sebagai jawaban.


”Mengapa harus takut, Seruni? Ini pasti ulahmu sendiri!” tiba-tiba Razel yang sejak tadi diam saja, angkat bicara.


”Apa maksudmu?” Seruni heran terhadap Razel sepupunya.


”Dia pasti telah membuat rencana dan gagal, Ayah! Jangan percaya padanya begitu saja apalagi berbuat sesuatu yang membahayakan jabatan ayah hanya karena ulah konyol Seruni!”


”Diam kamu!” Seruni marah melihat Razel yang jarang sependapat dengannya.


”Diam, kalian!” Ketua Jenewa melerai sebelum adu mulut terjadi.


”Begini saja, aku akan membicarakan masalah ini dulu pada Kepala Tabib. Tetapi bukan berarti pengaduan. Setelah jelas-jelas Lanting yang melakukan semua ini, maka akau akan ambil tindakan untuk menghukumnya,” akhirnya Ketua Jenewa mengambil keputusan.


”Lebih dari itu, Paman ...,” Seruni berdiri. Semua mengarah pada Seruni.


”Apa maksudmu?” kata Ketua Jenewa, ”Paling tidak, dia layak dihukum membersihkan 100 toilet umum!”


”Lebih dari itu!” kata Seruni lebih keras.


Ketua Jenewa mengangkat alis, ”Jangan berharap hukuman pengusiran untuk murid kesayangan Kepala Sekolah Tabib!”


”Lebih dari itu!” gigi Seruni bergemeletuk menahan marah. Semua orang memandang ke arah Seruni terheran-heran.


”Memangnya ada apa dengan Lanting?” tanya Ketua Jenewa tak mengerti melihat air muka Seruni hendak mengutarakan sesuatu.


"Lanting bukan perempuan,” ujar Seruni disambut raut muka kaget semua keluarga yang berkumpul.


”Dia adalah laki-laki yang menyamar murid Pengobatan,” lanjut Seruni.


"Apa?!"


Semua tercengang.

__ADS_1


...* * *...


__ADS_2